NovelToon NovelToon
DURI YANG TERSEMBUNYI

DURI YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Meindah88

Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.

Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 6

Pagi yang dingin itu datang perlahan diselimuti embun yang bergantun manja di ujung dedaunan. Udara begitu terasa begitu lembut sekaligus menggigit. Cahaya menembus kain tipis, sementara angin berhembus pelan membuat setiap orang malas untuk beranjak tempat tidur empuknya.

“Mbak... Mbak Anna, bangun!” Suara ketukan keras di pintu mengusik tidur Anna. Jantungnya berdebar kencang saat ia terbangun. Matanya menyapu ruangan, tapi tak terlihat siapa pun. “Dari mana suara itu berasal?” gumamnya pelan dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Tangannya mengucek mata yang belum terbuka sempurna.

“Mbak Anna, tolong buka pintu,” suara itu kembali terdengar, nafasnya tersengal-sengal seperti habis berlari maraton.

“Eliz? Kenapa kamu membangunkanku sepagi ini? Ada apa, sih?” Anna bergumam lagi dalam hati.

Anna menyadari suara itu berasal dari adik manja yang memanggilnya. Perlahan, ia menggeser daun pintu dan membukanya dengan pelan.

“Sepagi ini kamu udah bangun? Ada kabar apa? Tumben,” canda Anna. Eliz menyambut dengan senyum cerah yang membuat Anna semakin curiga.

“Ayo masuk,” ucap Anna kembali sambil membuka pintu lebih lebar, lalu mendorong kursi roda adiknya ke dalam kamar. Rasa penasaran Anna kian menguat melihat sikap Eliz yang begitu ceria. Tak bisa dipungkiri, ia pun ikut merasa bahagia. Rasa tak sabar semakin membuncah. “Cepat ceritakan, ada apa?” Anna duduk di sudut kasur sambil mendesak Eliz.

“Mama sudah bertemu dengan seorang dokter pria tampan yang bersedia merawatku sampai sembuh, Mbak,” ucap Eliz dengan semangat membara.

Anna menangkap kilau harapan di mata adiknya. Ia tersenyum tipis, berharap kesehatan Eliz segera membaik.

“Oh ya? Mama tidak pernah cerita ke aku,” jawab Anna santai. Namun, bagi Yusi, nada itu terasa aneh.

“Dokternya siapa?” tanya Anna penasaran. “Masih dirahasiakan,” potong Yusi tiba-tiba sambil muncul dari balik pintu.

“Mama,” seru keduanya serempak, saling bertatapan sebelum kembali menatap ibu mereka dengan penuh keheranan.

“Kenapa harus dirahasiakan, Ma?” tanya Anna, tanpa menaruh curiga.

"Tidak ada apa-apa, nanti kalian juga akan tahu," balas Yusi dengan wajah tenang. Anna tak terlalu peduli siapa pun dokternya, yang penting Eliz bisa sembuh. Dia bahkan sudah berencana membatalkan janjinya dengan Alvaro menandatangani Elizabeth. Apalagi ibunya sudah menemukan dokter yang tepat untuk Eliz.

***

" Mama sudah bilang, jangan ceritakan apa pun sama mbakmu," Yusi mengomeli Eliz di kamarnya. Ia kesal karena Eliz terlalu banyak bercerita. Yusi takut rencananya gagal akibat kecerobohan anaknya.

"Masalahnya apa, Ma? Aku dan mbak Anna selama ini saling terbuka. Aku selalu berbagi kebahagiaan dengannya," Eliz membela diri, ikut tersulut emosi. Ia tak setuju ibunya membatasi hubungannya dengan kakak yang selalu menyayanginya.

"Mama tidak melarang kamu berbagi kebahagiaan, tapi ini soal kesembuhanmu dan masa depanmu," jawab Yusi tegas.

Kedua ibu dan anak di kamar itu saling berdebat sesaat. Melihat Eliz yang mulai kesal, Yusi segera membujuk putrinya, berusaha memberinya pengertian bahwa semua yang dilakukannya sebenarnya demi kebaikan Eliz.

Dalam keheningan itu, keduanya saling merenung tanpa ingin saling menyalahkan. Sesekali, Yusi kembali menasehati putrinya agar mengikuti rencana yang telah dibuat. Baginya, hal itu tidak merugikan siapa pun. “Baiklah, Ma, aku setuju, tapi aku ingin tahu siapa dokternya?”

“Itu tidak penting, Sayang. Yang terpenting kamu harus sembuh.” Eliz menarik napas dalam-dalam, mencoba menerima sikap keras kepala ibunya yang masih merahasiakan identitas dokter yang akan menangani dirinya.

Hari itu Yusi tampak sibuk menelpon, tapi suaranya terdengar sangat pelan hingga ia mencari tempat yang lebih sunyi. Sesekali terdengar cekikan kecil dari telepon. Anna yang kebetulan melintas di ruang itu mengerutkan kening sejenak, tapi ia memilih melanjutkan langkahnya, enggan ikut campur urusan ibunya. Ia tak ingin terjebak dalam perdebatan sepele lagi.

"Bantuin Eliz bersiap-siap, Anna," pintanya saat matanya tak sengaja menangkap Anna yang sedang lewat.

"Eliz mau ke mana, Ma?" tanya Anna, penasaran.

"Berobat. Hari ini aku ingin membawa Eliz menemui dokter."

Anna hanya mengangguk pelan tanpa bertanya lebih lanjut, tapi ia masih menunggu penjelasan selanjutnya dari ibunya.

" Aku sudah membatalkan janjiku dengan dokter Alvaro, Ma. Tidak apa-apa, kan?" kata Anna sambil melangkah menuju pintu keluar. "Eh, iya-iya, tidak apa-apa," jawab Yusi tergesa, suaranya terdengar gugup.

Namun Anna tak peduli. Baginya, itu bukan hal penting. Yang terpenting adalah adiknya bisa pulih kembali. Sejak kecelakaan itu, rasa bersalah terus menghantuinya. Anna bertekad bertanggung jawab agar Eliz tidak merasa ditinggalkan.

“Mau aku bantu?” Senyum tulus selalu terpancar di wajah Anna. Suaranya memecah kesunyian di kamar yang luas itu. Eliz, yang sejak tadi sibuk memilih baju, akhirnya tersenyum sumringah melihat perhatian Anna padanya.

“Bagaimana dengan baju ini, Mbak?”

“Cantik, tapi ini yang lebih cocok untukmu,” jawab Anna sambil meraih baju yang tampak anggun adiknya tersayang.

“Pilihan Mbak Anna juga cantik, ya. Aku suka,” kata Eliz. Wajah kedua saudara itu terlihat penuh kasih sayang, tanpa sedikit pun rasa saing.

“Kapan Mbak Anna akan membawa pacarnya ke rumah? Mama pasti senang,” ucap Eliz tiba-tiba, entah mengapa membahas hal itu. Anna hanya membalas dengan senyuman hangat. Memang ia ingin mengenalkan Alvaro pada keluarganya, tapi bukan sekarang.

“Aku menunggu waktu yang tepat, tapi bukan dalam waktu dekat,” jawabnya dengan wajah tenang. Anna adalah wanita yang tak suka mengambil keputusan terburu-buru. Ia selalu memperhatikan situasi, apalagi saat ini ibunya tampak ingin fokus pada kesembuhan Eliz.

Tak butuh waktu lama, Eliz sudah tampak rapi dengan gaun hitam bermotif bunga-bunga yang dipilihkan adiknya. Penampilannya sungguh menawan. Anna terlihat bangga dengan pilihannya. Rambut hitam panjang Eliz dan kulitnya yang putih, seolah tak pernah tersentuh sinar matahari, membuat kecantikannya terpancar lembut.

"Kamu cantik banget, Eliz," puji Anna sambil menatap adiknya dengan takjub.

"Jangan memujiku berlebihan, Mbak. Lagipula aku tidak sempurna," jawab Eliz.

"Jangan bilang begitu lagi, ya. Tidak lama lagi kamu pasti sembuh."

"Oh iya, aku penasaran dengan dokter yang kamu temui nanti. Jangan-jangan dia jatuh cinta sama kamu," goda Anna dengan senyum nakal.

"Mbak bisa saja. Masih adakah pria yang mau menerima aku dalam kondisi seperti ini?" ucap Eliz sambil menunduk, merasa kecil hati.

Anna sempat merasa bersalah atas ucapannya, meski sebenarnya ia tak bermaksud menyakiti perasaan adiknya. Ia bahkan rela kehilangan perhatian ibunya demi adiknya. Namun, sejak kecil Anna merasa tak pernah mendapatkan perhatian penuh dari ibunya. Kadang, ia berpikir bahwa kehadirannya di tengah keluarga ibunya tidak pernah benar-benar diinginkan.

"Mama pasti menunggu di luar," kata Anna sambil mengajak Eliz keluar dari kamar. Benar saja, ibunya sudah berdandan cantik. Di benak Anna, dandanan ibunya yang berlebihan itu menandakan bahwa kali ini bukan untuk membawa adiknya berobat.

1
Novi Tasa
ceritany bgus
Meindah88: Terimakasih..🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!