Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.
Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.
Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Kediaman Rooseveltp
Pukul tiga sore.
Emma keluar dari kamarnya dengan langkah mantap.
Ia tetap mengenakan pilihannya sendiri.
Bukan gaun berlapis renda seperti yang telah disiapkan para pelayan.
Melainkan gaun panjang sederhana berwarna hitam dengan potongan elegan yang mengikuti bentuk tubuhnya tanpa banyak hiasan.
Rambut pirang sebahunya dibiarkan lurus.
Riasannya tipis.
Tetap cantik.
Tetap mencolok.
Namun jauh dari kesan bangsawan Inggris yang berlebihan.
Begitu Emma menuruni tangga utama...
Semua pelayan menoleh.
Mr. Howard memejamkan mata sejenak.
Setidaknya...
Ia memakai gaun.
Meski bukan gaun yang telah dipilihkan keluarga Alexander.
Ralph yang sedang menunggu di ruang depan perlahan menoleh.
Tatapannya berhenti beberapa detik.
Emma berjalan mendekat.
"Apa?"
Ralph menggeleng pelan.
"Tidak ada."
Emma mengangkat sebelah alis.
"Kalau tidak ada, berhenti menatap ku seperti itu."
Tanpa menjawab, Ralph membuka pintu mobil lebih dulu.
Emma masuk tanpa mengucapkan terima kasih.
Ralph menyusul duduk di sampingnya.
Mobil perlahan meninggalkan kediaman Alexander .
Perjalanan berlangsung hampir empat puluh menit.
Keheningan kembali menguasai kabin.
Emma memandangi pemandangan di balik jendela.
Hamparan padang rumput.
Pepohonan tua.
Beberapa kastel kecil milik keluarga bangsawan.
Sangat berbeda dengan New York.
"Kau gugup?"
Suara Ralph memecah keheningan.
Emma tetap menatap keluar.
"Tidak."
"Kau terlihat seperti pertama kali menghadiri jamuan keluarga bangsawan."
Emma akhirnya menoleh.
"Aku tidak pernah gugup bertemu siapa pun."
Ralph mengangguk tipis.
"Itu sangat terlihat."
Emma menyilangkan kedua tangan.
"Ada aturan yang harus kuketahui?"
"Ada."
"Katakan."
"Jangan mempermalukan keluarga Alexander."
Emma tertawa pelan.
"Terlambat sayang."
Ralph menatapnya.
"Sejak aku datang ke rumahmu, para pelayan sudah menganggapku pembuat masalah."
"Itu karena kau lambat dalam menangkap semua kebiasaan mereka."
Emma menatap lurus ke depan.
"Karena kebiasaan mereka tidak masuk akal."
"Itu semua hanya etika dasar meski kau bukan bangsawan kau pasti memilikinya."
"Itu sangat membuang waktu."
Ralph menghela napas pelan.
"Bagi bangsawan, etika mencerminkan kehormatan."
Emma langsung membalas.
"Bagiku, tindakan mencerminkan seseorang."
"Kau selalu bertemu banyak keluarga terpandang."
Emma mengangguk.
"Lalu?"
"Sebagian besar mengenalmu."
Emma membalas tanpa ragu.
"Sayangnya aku tidak mengenal mereka."
Ralph memandang Emma selama beberapa detik.
"Jangan berbicara sembarangan."
Emma tersenyum tipis.
"Aku selalu berbicara seperlunya."
Jawaban itu membuat Ralph tidak bisa membantah.
Karena memang benar.
Istrinya...
Atau lebih tepatnya wanita yang kini berdiri di hadapannya...
Jarang berbicara.
Tetapi setiap kalimatnya selalu tajam.
Mobil akhirnya memasuki gerbang besi tinggi.
Di baliknya berdiri sebuah rumah bangsawan bergaya klasik yang megah.
Halaman depannya dipenuhi taman mawar yang tertata rapi.
Air mancur berdiri di tengah halaman.
Beberapa mobil mewah telah lebih dulu terparkir.
Emma memandang bangunan itu tanpa banyak ekspresi.
"Cukup besar."
Ralph membuka pintu mobil.
"Keluarga Roosevelt sudah tinggal di sini selama beberapa generasi."
Emma turun.
"Bagus."
Hanya itu komentarnya.
Ralph sempat meliriknya sekilas.
Wanita ini benar-benar sulit ditebak.
Sebagian orang pasti akan terpukau melihat kemewahan rumah itu.
Emma justru terlihat biasa saja.
Begitu memasuki aula utama...
Seorang kepala pelayan keluarga Roosevelt membungkukkan badan.
"Selamat datang, Lord Alexander."
Ralph mengangguk singkat.
"Lady Alexander."
Emma hanya membalas dengan anggukan kecil.
Mereka dipersilakan menuju ruang utama.
Di sana sudah berkumpul beberapa keluarga bangsawan.
Percakapan terhenti sesaat ketika Ralph dan Emma masuk.
Beberapa pasang mata langsung memperhatikan Emma.
Rambut pirangnya.
Potongan rambut sebahunya.
Cara berjalannya yang penuh percaya diri.
Sangat berbeda dengan Ella Alexander yang mereka kenal.
Bisik-bisik pelan mulai terdengar.
"Lady Alexander mengubah penampilannya..."
"Cukup berani."
"Dia terlihat berbeda."
Emma mendengarnya.
Namun ia tidak peduli.
Ia tetap berjalan tanpa sedikit pun menoleh.
Sementara Ralph berjalan di sampingnya dengan langkah tenang.
Seolah komentar-komentar itu memang sudah biasa terdengar di lingkungan bangsawan.
Tak lama kemudian...
Seorang wanita bergaun hijau zamrud berjalan mendekat dengan senyum anggun.
"Kita bertemu lagi."
Lusiana Roosevelt.
Tatapannya pertama kali tertuju pada Ralph.
Kemudian beralih kepada Emma.
Senyumnya masih sama.
Namun kali ini...
Ia mengamati Emma jauh lebih lama daripada saat makan malam di kediaman Alexander beberapa hari lalu.
"Lady Alexander..."
ucapnya lembut.
"Perubahanmu benar-benar berbeda."
Emma membalas tatapannya tanpa tersenyum.
"Begitu juga reaksimu."
Senyum Lusiana nyaris membeku.
Sementara Ralph menoleh pelan ke arah Emma.
Ia mulai menyadari satu hal.
Istrinya...
Benar-benar tidak pandai berbasa-basi.
Dan entah mengapa...
Itu membuat sore mereka di kediaman Roosevelt terasa jauh lebih menarik daripada yang ia bayangkan.
Ruangan kembali dipenuhi percakapan.
Namun beberapa pasang mata masih sesekali melirik ke arah Lady Alexander.
Perubahan penampilannya menjadi bahan pembicaraan kecil di antara para tamu.
Emma sama sekali tidak peduli.
Ia justru memperhatikan ruangan itu.
Semua serba mewah.
Lukisan keluarga bangsawan tergantung di setiap dinding.
Piala-piala tua memenuhi lemari pajangan.
Orkes kecil memainkan musik klasik dengan pelan.
"Membosankan."
Itulah kesimpulan pertama Emma.
"Ralph."
Suara Lusiana terdengar kembali dan terdengar lembut.
"Ayah ingin bertemu denganmu."
Ralph mengangguk.
"Aku akan ke sana."
Ia kemudian menoleh kepada Emma.
"Kau ikut?"
"Tidak."
Ralph mengernyit.
Emma menambahkan dengan nada datar,
"Aku tidak tertarik."
"Itu Duke Roosevelt."
"Lalu?"
"Sudah sewajarnya kita menyapa tuan rumah."
Emma menghela napas pelan.
"Kalau begitu kau saja yang mewakili."
Lusiana langsung tersenyum menengahi.
"Tidak apa-apa."
"Aku bisa menemani Lady Alexander."
Emma langsung menoleh.
"Tidak perlu Nona Lusi."
Lusiana sedikit terkejut.
"Aku hanya.."
"Aku bisa sendiri, silahkan lanjutkan pekerjaanmu."
Jawabannya singkat.
Tegas.
Tanpa nada permusuhan.
Namun cukup membuat suasana kembali canggung.
Ralph memperhatikan Emma beberapa detik.
"Lima belas menit."
Emma mengangkat sebelah alis.
"Apa?"
"Tunggu di sini."
Emma tidak menjawab.
Ralph pun berjalan pergi bersama Lusiana.
Begitu keduanya menghilang...
Emma mengambil segelas air putih dari meja prasmanan.
Belum sempat ia meminumnya...
Dua wanita bangsawan mendekat.
"Lady Alexander."
Emma menoleh.
"Kami hampir tidak mengenalimu."
Emma hanya mengangguk singkat.
"Sungguh perubahan yang berani."
"Hm."
"Kudengar kau baru kembali dari liburan?"
"Ya."
"Kemana saja?"
Emma menyesap airnya.
"Keliling Eropa."
"Oh..."
Salah satu wanita tersenyum.
"Pantas saja kau tampak lebih segar."
Emma tidak menjawab.
Keheningan mulai terasa.
Wanita pertama kembali mencoba membuka percakapan.
"Lord Alexander pasti terkejut melihat perubahanmu."
Emma menjawab datar.
"Kurasa begitu."
"Lalu bagaimana pendapatnya?"
"Aku tidak bertanya."
Kedua wanita itu saling berpandangan.
Percakapan kembali terhenti.
Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka...
Mereka kesulitan mengobrol dengan seseorang.
Emma memang tidak kasar.
Namun setiap jawabannya begitu singkat hingga tidak menyisakan ruang untuk melanjutkan pembicaraan.
Untungnya seorang pelayan datang menawarkan minuman.
Kedua wanita itu memilih mengundurkan diri dengan senyum canggung.
Emma mengembuskan napas pelan.
"Akhirnya."
Di sisi lain ruangan...
Ralph sedang berbicara dengan Duke Roosevelt.
Namun pandangannya beberapa kali beralih ke arah Emma.
Ia melihat istrinya berdiri sendirian.
Tidak berusaha mencari teman.
Tidak pula berusaha menyenangkan siapa pun.
Ia hanya menikmati segelas air putih sambil mengamati taman di luar jendela.
Duke Roosevelt mengikuti arah pandangan Ralph.
"Lady Alexander berubah."
Ralph menjawab singkat.
"Ya."
"Menurutmu juga begitu?"
Ralph terdiam beberapa detik.
"Lebih sulit ditebak."
Duke Roosevelt tertawa kecil.
"Itu bukan jawaban."
Ralph tetap tenang.
"Aku belum punya jawaban."
Sementara itu...
Di sudut lain ruangan.
Lusiana memperhatikan Emma dari kejauhan.
Ia mengenal Ella hampir lima tahun.
Ella yang dulu...
Selalu berusaha menjaga percakapan.
Mudah gugup.
Sering tersenyum sopan.
Tidak pernah menolak ketika diajak berbincang.
Sedangkan wanita yang berdiri di sana sekarang...
Memilih diam.
Tatapannya tajam.
Bahkan caranya berdiri memancarkan rasa percaya diri yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Liburan..."
"Benarkah hanya karena liburan?"
Lusiana mulai merasa ada sesuatu yang ganjil.
Bukan karena penampilan.
Tetapi...
Kepribadiannya.
Dan instingnya mengatakan...
Perubahan sebesar itu tidak mungkin terjadi hanya dalam waktu seminggu.
Namun ia segera mengusir pikiran tersebut.
Bagaimanapun...
Mustahil seseorang berubah menjadi orang lain.
Yang bisa berubah hanyalah sikapnya.
Bukan identitasnya.
Tanpa disadari siapa pun...
Keraguan kecil mulai tumbuh di dalam hati Lusiana.
Keraguan yang suatu hari nanti bisa menjadi ancaman terbesar bagi rahasia Emma dan Ella.
mulai ngikuti sepertinya menarik