NovelToon NovelToon
The Chosen Soul

The Chosen Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Time Travel
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: kyc_ibell

Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.

Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.

Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.

Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

Begitu selesai para pemburu elit memasuki aula dan menarik sebagian besar perhatian, suasana belum sempat benar-benar kembali tenang.

Karena tak lama kemudian, hal yang ditunggu tunggu Tuan Yamato tiba. Dan kali ini, yang muncul bukan aura medan tempur. Melainkan aura yang berbeda.

Jinsei melangkah masuk.

Pakaian yang dia kenakan jelas bukan pilihan sembarangan. Elegan, rapi, dan memiliki potongan bangsawan modern yang halus. Setiap detailnya seolah dirancang untuk menonjolkan wibawa tanpa terlihat berlebihan.

Dan hasilnya…

Berhasil terlalu baik.

Beberapa bangsawan langsung terdiam. Beberapa lainnya tanpa sadar menatap lebih lama dari seharusnya.

"Siapa dia…? Kenapa baru sekarang aku menyadari ada orang sekharismatik itu di istana?" ucap salah satu bangsawan.

"Dia adalah Tuan Muda Jinsei... putra Menteri Keuangan.." sahut salah satu bangsawan.

Beberapa putri bangsawan mulai saling berbisik, tidak mampu menyembunyikan reaksi mereka. Ada yang menunduk sedikit karena gugup, ada yang tersenyum kecil, bahkan ada yang dengan berani melambaikan kipas kecil ke arah Jinsei sebagai bentuk godaan halus khas bangsawan.

Putri bangsawan ke 1 berkata, "Dia tampan sekali…”

Putri bangsawan ke 2 setengah bercanda, tapi gugup berkata, "Ini tidak adil… kenapa orang yang pintar politik juga setampan ini?”

Putri bangsawan 1 tertawa kecil, gugup dan berkata, “Kalau dia seperti itu dari awal, aku bisa pingsan tadi di pintu…”

Namun bukan hanya soal penampilan. Nama Jinsei sendiri sudah lama dikenal di kalangan tertentu. Reaksi bangsawan senior.

Tuan Satoshi mengamati dengan tenang, lalu mengangguk kecil.

“Dia datang juga…”

Tuan Yamato menatap Jinsei lebih lama dari biasanya, ekspresinya sulit dibaca.

Bangsawan senior berbisik, "Itu dia… Jinsei yang sering terlibat dalam urusan strategi dan administrasi kerajaan itu?”

Bangsawan senior 2 menjawab, “Ya. Meskipun masih muda, dia sudah sering diminta memberi pendapat dalam keputusan penting.”

"Dia bukan hanya wajah yang menarik perhatian… tapi juga otak yang diam-diam berpengaruh."

Di tengah riuh bisik kagum para bangsawan yang masih terpaku pada Jinsei, suasana di sudut aula terasa berbeda bagi Yuna.

"Jinsei?? dia kan tadi yang..." ucap Yuna dengan suara lirih.

Mata Yuna sedikit membesar saat ingatan pagi itu muncul kembali dengan jelas.

"Dia kan yang tadi pagi bersama wanita itu di kios kue… yang mereka terlihat seperti… pasangan?" batin Yuna.

Jari Yuna tanpa sadar sedikit menegang di samping gaunnya. Pikirannya langsung menyambung satu hal ke hal lain.

"Jadi orang itu… yang ayah maksud…?" ucap Yuna lirih.

Yuna menatap Jinsei sekali lagi dari kejauhan. Sekarang berbeda. Bukan lagi sekadar “pria yang terlihat tampan di aula”. Tapi seseorang yang dua sisi kehidupannya baru saja bertabrakan di dalam pikirannya sendiri.

Di sisi lain, Ryujin bahkan sempat melirik Jinsei dan tersenyum kecil, seperti sudah menduga reaksi ini akan terjadi.

Yua sendiri hanya menatap lurus, ekspresinya tetap tenang meski ada sedikit perubahan halus di matanya, seperti memastikan pilihannya tidak salah.

Ryujin berdiri santai di sisi aula, tangannya terlipat di belakang. Matanya mengikuti arah pandang Yua yang sejak tadi tak lepas dari Jinsei.

Sudut bibirnya terangkat kecil, seolah ada sesuatu yang lucu sedang dia saksikan.

“Heh...” Ryujin mengeluarkan suara pelan, nyaris seperti gumaman yang sengaja dibuat cukup terdengar oleh Yua.

Yua menoleh sedikit, menangkap nada itu.

Ryujin tidak langsung menjawab. Dia malah mengalihkan pandangan ke arah Jinsei yang kini sedang dikelilingi beberapa tatapan para putri bangsawan. Lalu, dengan nada santai tapi sengaja menusuk, dia berkata,

“Jinsei itu… benar-benar menarik perhatian ya.”

Yua tidak merespons, tapi tatapannya sedikit mengeras.

Ryujin melanjutkan, kali ini dengan senyum tipis yang jelas-jelas berniat memancing reaksi.

“Lihat saja… dia baru saja berjalan beberapa langkah, tapi sudah ada yang mulai mendekat. Para putri bangsawan itu… hm, terlalu antusias, atau aku yang salah lihat?”

Dia menghela napas kecil, lalu menambahkan seolah-olah bercanda, tapi jelas tidak sepenuhnya.

“Kalau dipikir-pikir, Jinsei itu memang tipe yang mudah ‘tebar pesona’ tanpa sadar. Tenang, sopan… dan itu justru yang paling berbahaya.”

Ryujin melirik Yua sekilas.

“Wajar sih kalau banyak yang tertarik."

Dia berhenti sejenak, lalu menutup dengan nada ringan yang sengaja dibuat lebih tajam,

“Sepertinya dia sedang jadi pusat perhatian malam ini… bukan hanya para bangsawan, tapi juga para putri yang kelihatannya cukup genit.”

Suasana hening sepersekian detik.

Ryujin tersenyum kecil, seperti seseorang yang baru saja melempar batu kecil ke permukaan air yang tenang, lalu diam menunggu riaknya.

Sementara Haru tetap tenang, tapi tatapannya sekilas menunjukkan pengamatan yang tajam.

Dan di tengah semua perhatian itu, Jinsei melangkah lebih jauh ke dalam aula. Sesekali dia melirik ke arah Yua. Sebaliknya Yua juga membalas lirikan itu.

Tak lama Jinsei menghampiri Tuan Yamato.  Aula masih riuh oleh bisik-bisik para bangsawan, tapi di sekitar Tuan Yamato, suasananya sedikit mengerucut seolah ruang itu ikut memberi hormat pada percakapan yang akan dimulai.

Tuan Yamato lebih dulu menegakkan posturnya, lalu tersenyum tipis saat Jinsei tiba di sampingnya.

“Jinsei,” suara Yamato tenang namun tegas. “Kemarilah. Ada seseorang yang ingin kuperkenalkan padamu.”

Jinsei mengangguk sopan. Tatapannya sekilas menyapu Tuan Satoshi yang berdiri tak jauh dari situ, wibawanya terasa kuat, khas seorang pejabat tinggi yang terbiasa memegang kendali.

“Ini Tuan Satoshi,” lanjut Tuan Yamato. “Menteri Pertahanan Kerajaan.”

Satoshi menatap Jinsei dari atas ke bawah, bukan dengan merendahkan, tapi seperti menilai sebuah pedang yang baru ditempa.

“Aku sudah mendengar banyak hal tentangmu Jinsei.” ujar Tuan Satoshi akhirnya.

Jinsei sedikit menunduk. “Saya belum melakukan sesuatu yang pantas disebut ‘banyak hal’ Tuan.”

Yamato terkekeh pelan, lalu menyelipkan tangan di balik lengan bajunya.

“Rendah hati seperti biasa. Tapi justru itu yang membuatnya berbeda dari kebanyakan anak bangsawan.”

Satoshi mengangguk pelan, lalu menatap Yamato.

“Kau tidak melebih-lebihkan Yamato. Aura tenangnya bukan sesuatu yang mudah dimiliki di usia seperti dia.”

Jinsei tidak menjawab, hanya berdiri tenang.

Yamato lalu sedikit mengangkat dagunya, nada suaranya berubah lebih bangga.

“Selain itu, Jinsei juga memiliki kemampuan yang tidak bisa dianggap remeh. Dalam beberapa latihan terakhir, dia menunjukkan kontrol yang bahkan sulit dicapai oleh prajurit dewasa.”

Satoshi mengangkat alisnya, kini benar-benar tertarik. Satoshi menatap Jinsei lebih tajam, lalu tiba-tiba sudut bibirnya naik.

“Menarik,” katanya singkat.

Dia lalu melangkah setengah lebih dekat, membuat jarak antara mereka bertiga menjadi lebih intim.

“Aku sudah melihat banyak anak bangsawan yang dipuji sejak kecil. Tapi kebanyakan… pujian itu menjadi beban.” ucap Tuan Satoshi.

Dia lalu mengalihkan pandangannya ke Jinsei.

“Tapi kau berbeda. Kau tidak terlihat seperti orang yang terbebani.”

Jinsei akhirnya menjawab pelan, “Saya hanya mencoba tidak menjadi orang yang mengecewakan harapan.”

Satoshi terdiam sejenak, lalu tertawa kecil bukan mengejek, tapi seperti seseorang yang menemukan sesuatu yang sesuai dengan ekspektasinya.

“Bagus... Jawaban yang tidak sombong, tapi juga tidak lemah.” ucap Tuan Satoshi.

Tuan Yamato menyela dengan nada puas, “Itu sebabnya aku memperkenalkannya kepadamu hari ini.”

Satoshi mengangguk perlahan, lalu menepuk ringan bahu Jinsei singkat, tapi penuh makna.

“Kalau begitu Jinsei. Aku ingin melihat sendiri sejauh apa ‘tidak mengecewakan’ itu dalam dirimu.” ucap Tuan Satoshi.

Tuan Satoshi mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat kepada pelayan di dekat pintu samping.

“Panggil putriku ke sini,” ucapnya tenang, namun tegas.

Tak lama kemudian, seorang gadis melangkah mendekat. Sikapnya tenang, namun jelas terlihat dia berusaha menjaga wibawa di tengah banyaknya mata yang mulai memperhatikannya.

Satoshi menoleh ke arah Yamato.

“Maafkan saya Tuan Yamato. Izinkan saya memperkenalkan putri saya.”

Dia lalu menoleh pada putrinya.

Putrinya melangkah lebih dekat dan memberi salam mereka hormat yang anggun. Tuan Satoshi memperkenalkannya dengan nada bangga namun tetap formal.

Sesaat udara di aula itu terasa sedikit berubah.

Jinsei menahan ekspresinya, meski kejutan jelas sempat melintas di matanya. Dia menatap putri di hadapannya lebih lama dari yang seharusnya dilakukan seorang tamu terhadap bangsawan.

Di sisi lain, Yuna juga tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Dia tetap berdiri anggun, tangan terlipat sopan di depan tubuhnya, senyum tipis yang terlatih di wajahnya. Namun ada sesuatu di sorot matanya, sebuah kilatan singkat yang hanya muncul sepersekian detik, seolah dia juga mengenali.

Tuan Satoshi tanpa menyadari ketegangan kecil itu, melanjutkan dengan bangga.

“Ini putriku.Yuna. Dia baru saja kembali dari pelatihan luar istana.”

Nama itu disebut dengan jelas. Jinsei akhirnya mengerti.

"Senang bertemu dengan nona Yuna." ucap Jinsei dengan tenang.

"Jadi wanita di kios kue tadi pagi… adalah putri dari Menteri Pertahanan." Batin Jinsei.

Yua menunduk sedikit, memberikan salam yang sempurna.

“Senang juga bertemu dengan Tuan Muda.”

Suaranya tenang. Terlalu tenang. Seolah mereka benar-benar baru pertama kali bertemu.

Namun Jinsei menangkap sesuatu yang lain. Cara jari Yua sedikit menegang saat ujung kata itu selesai diucapkan. Hampir tak terlihat. Hampir tidak mungkin disadari orang lain.

Tatapan mereka kembali bertemu. Hanya sesaat. Tapi cukup untuk membuat keduanya sadar hal yang sama, mereka sama-sama memilih untuk tidak mengakuinya.

Yuna lebih dulu memalingkan pandangan. Jinsei menyusul sepersekian detik setelahnya.

Dan Tuan Satoshi, masih tersenyum bangga, sama sekali tidak menyadari bahwa di antara dua orang itu… ada rahasia kecil yang baru saja terkunci rapat tanpa kata.

“Yuna tidak hanya dididik dalam etika bangsawan, tetapi juga memiliki ketertarikan dan keahlian dalam ilmu pengobatan.”

Satoshi melanjutkan, suaranya sedikit lebih hidup dibanding sebelumnya.

“Sejak ikut saya di beberapa perjalanan medan perang, dia sering membantu para tabib. Dia mempelajari ramuan obat, mengenali luka, bahkan memahami dasar penanganan darurat di lapangan.”

"Tatapan mereka… semua seperti menilai. Tapi aku tidak boleh goyah. Aku bukan hanya putri seorang menteri. Aku harus bisa membuktikan bahwa aku berguna di luar istana yang sempit ini." batin Yuna.

Tuan Yamato mengamati dengan tenang, lalu mengangguk kecil. Senyum tipis muncul di wajahnya, bukan senyum basa-basi, tetapi senyum yang mengandung pengakuan.

“Tidak banyak putri bangsawan yang memiliki pengalaman langsung di medan seperti itu.” ucap Yamato akhirnya.

Dia menatap putri Tuan Satoshi lebih saksama.

“Ilmu pengobatan di medan perang bukan sekadar teori. Itu membutuhkan ketenangan, keberanian, dan ketelitian. Kau telah mendidiknya dengan baik Satoshi.” puji Tuan Yamato.

Tuan Satoshi sedikit menunduk, tidak berlebihan namun penuh rasa hormat.

“Itu hanya usaha kecil. Dia yang melakukannya dengan tekun.”

Tuan Satoshi kembali melanjutkan penjelasannya, kali ini dengan nada yang sedikit lebih bangga.

“Selain kemampuan dalam pengobatan, putriku juga memiliki bakat dalam seni lukis.”

Jinsei melirik singkat ke arah Yuna, lalu kembali ke Tuan Satoshi.

“Dia sering melukis saat berada di perjalanan atau di sela waktu istirahat. Bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk mengamati detail struktur tubuh manusia, tumbuhan obat, bahkan lanskap medan yang kami lewati.”

Yuna sedikit menunduk, seolah merasa diperhatikan lebih dari biasanya.

"Ayah selalu menyebutkannya seperti itu… tapi bagiku, melukis bukan sekadar bakat. Itu caraku mengingat dunia ketika aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata." ucap Yuna.

Tuan Yamato tampak sedikit mengangkat alis, tertarik.

“Jarang sekali seorang bangsawan muda menggabungkan seni dengan pengalaman lapangan.” ucap Tuan Yamato perlahan.

Dia mengusap dagunya pelan, lalu menatap putri Tuan Satoshi lebih lama.

“Itu bukan sekadar bakat estetika… itu bentuk observasi yang tajam.”

Senyum tipis muncul di wajahnya.

“Kadang seorang pelukis justru melihat hal-hal yang tidak dilihat oleh prajurit atau tabib.”

Tuan Satoshi mengangguk kecil.

“Dia tidak hanya melukis keindahan, tetapi juga realitas.”

"Yuna ini… bukan hanya simbol keluarga bangsawan. Jika diarahkan dengan benar, dia bisa menjadi aset penting bagi kerajaan. Bahkan mungkin lebih dari itu." batin Tuan Yamato.

Di kejauhan, Yua masih memandang ke arah mereka. Lirikan Jinsei yang sempat dia tangkap tadi belum hilang dari pikirannya, sementara aula terus dipenuhi gema pesta yang belum sepenuhnya memahami arah percakapan kecil yang baru saja mengubah suasana di sudut itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!