Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cawan yang Menagih Nyawa
*"Jangan pernah mengira bahwa kematian adalah jalan keluar yang paling mudah, Marie. Karena di dunia ini, bahkan kematian pun harus meminta izin padaku sebelum berani menyentuh apa yang sudah menjadi milikku."*
Suara Julius terdengar begitu jauh, seolah-olah dia sedang berbicara dari dasar sumur yang sangat dalam. Tubuhku terasa dingin, lalu tiba-tiba terbakar hebat. Tato hitam yang merayap di lenganku kini terasa seperti goresan pisau panas yang diukir langsung ke saraf-sarafku. Aku mencoba berteriak, namun suaraku tertahan di tenggorokan, tercekik oleh energi pekat yang mulai mengambil alih alur napasku.
Di dalam kesadaranku yang mulai memudar, aku melihat pemandangan yang mengerikan. Ballroom yang tadinya megah kini berubah menjadi hamparan kabut abu-abu. Orang-orang di sekitarku berdiri mematung seperti patung lilin yang membeku. Hanya Julius yang bergerak, melangkah mendekatiku dengan ketenangan seorang dewa yang sedang menyaksikan ciptaannya hancur.
*Apa yang kau lakukan padaku?* batinku menjerit, namun tak ada kata yang terucap.
Julius meraih tanganku—tangan yang masih terjebak di dalam permukaan Cawan Hitam yang kini menyerupai lubang hitam tanpa dasar. Dia tidak terlihat cemas; sebaliknya, dia justru tampak memuja pemandangan itu. Tangannya yang dingin membelai tato hitam yang terus menjalar ke leherku.
*"Kau bertanya tentang harga, bukan?"* bisiknya, tatapan matanya mengunci pandanganku yang mulai kabur. *"Pemurnian Nectar yang kau lakukan tadi bukanlah sekadar teknik alkimia biasa. Itu adalah upacara pengorbanan darah. Ayahmu bodoh karena mencoba memurnikan Nectar dengan rasa kasihan. Tapi kau? Kau memurnikannya dengan dendam. Dan bagi Cawan Hitam ini, dendam adalah nutrisi terbaik."*
Dunia di sekitarku bergetar hebat. Aku bisa merasakan sesuatu yang sangat besar, sesuatu yang kuno dan haus, mulai terbangun dari dasar cawan itu. Itu bukan monster buatan atau eksperimen manusia. Itu adalah residu dari sihir murni yang terkumpul selama berabad-abad di Oakhaven—energi yang menuntut keseimbangan. Dan aku, dengan segala amarah dan dendam dari jiwaku yang asing, baru saja menjadi magnet bagi energi itu.
*"Lepaskan!"* aku berhasil memaksakan suara keluar, meski hanya berupa bisikan parau.
*"Aku tidak bisa melepaskanmu, istriku,"* Julius tertawa pelan. *"Kontrak darah yang kita buat di kamar itu bukan sekadar formalitas untuk mengikatmu. Itu adalah kunci. Darahmu sekarang adalah segel. Dan segel ini... sedang retak."*
Tiba-tiba, sebuah ledakan energi murni meledak dari dalam cawan. Lantai marmer *Grand Ballroom* pecah berkeping-keping. Para tamu yang tadi membeku mulai berjatuhan, jatuh pingsan karena tekanan sihir yang begitu kuat. Elara, yang berdiri di kejauhan, mencoba mendekat namun terpental jauh oleh gelombang kejut yang dihasilkan oleh aura hitam yang kini melingkupiku.
Aku merasa diriku ditarik. Bukan ke arah Julius, melainkan ke dalam. Ke dalam kehampaan di dalam cawan itu.
*Aku akan mati di sini,* pikirku. *Aku baru saja pindah ke tubuh ini, dan sekarang aku akan mati untuk kedua kalinya?*
Namun, tepat saat jiwaku hampir tercabut sepenuhnya, aku teringat koin perak yang masih ada di dalam genggaman tanganku yang satunya—koin dari pria bertopeng burung hantu. Tanpa berpikir panjang, aku menghancurkan koin itu dengan sisa tenaga terakhirku.
*PRAKK!*
Bunyi koin yang hancur itu terdengar seperti lonceng gereja di tengah badai. Seketika, cahaya putih yang sangat menyilaukan membelah kabut hitam yang menyelimutiku. Itu bukan sihir biasa. Itu adalah sihir murni, murni seperti salju yang belum pernah tersentuh oleh polusi kota noir ini.
Julius mundur selangkah, matanya memicing, wajahnya yang tenang mulai menunjukkan ekspresi frustrasi yang jarang ia perlihatkan. *"Sihir dari Tanah Utara? Bagaimana kau bisa memiliki akses ke kekuatan mereka?"*
Cahaya putih itu memukul tangan Julius, memaksanya melepaskanku. Aku terjerembap ke lantai, terlepas dari tarikan magnetis Cawan Hitam. Napasku memburu, paru-paruku terasa seperti terbakar oleh oksigen yang terlalu murni. Aku melihat tato hitam di lenganku perlahan memudar, meski masih menyisakan bekas luka yang tampak seperti jalinan rantai.
Aku tidak membuang waktu. Dengan sisa tenaga yang ada, aku merangkak menjauh dari cawan itu. Namun, kepalaku berdenyut hebat. Ingatan Marie asli—ingatan tentang malam di mana ayahnya dibunuh—mulai membanjiri otakku seperti banjir bandang.
*Aku melihatnya...*
Aku melihat seorang pria bertopeng emas—pria yang sama dengan yang tadi kulihat di pesta—berdiri di atas tubuh ayah Marie. Dia tidak membunuh ayahnya dengan racun. Dia membunuhnya dengan cara mencuri setiap tetes sihir dari darahnya, mengosongkannya hingga ayahnya menjadi cangkang kosong.
*Itu dia,* pikirku dengan kebencian yang mendarah daging. *Pria bertopeng emas itu. Dia yang mencuri rahasia alkimia keluarga Vance.*
Aku mendongak, mataku bertemu dengan Julius yang kini berdiri di tengah kekacauan, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia tidak lagi marah karena rencana pengorbanannya gagal. Dia malah tampak... kagum.
*"Kau selamat,"* ucapnya datar. *"Kebanyakan orang akan kehilangan kewarasan mereka setelah bersentuhan dengan Cawan Hitam. Tapi kau... kau justru membawa kembali sesuatu dari dalam sana, bukan?"*
Aku tidak menjawab. Aku berdiri, meskipun kakiku masih gemetar. Aku menatapnya dengan tatapan yang kini lebih dingin dari sebelumnya. Aku tidak lagi memandang Julius sebagai musuh yang harus kuhindari, melainkan sebagai bidak catur yang perlu kutaklukkan.
*"Kau ingin aku menjadi istrimu?"* kataku dengan suara yang tenang, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhku. *"Maka jadikan aku istrimu yang sesungguhnya. Berikan aku akses penuh ke jaringan Syndicate, dan berikan aku informasi tentang setiap transaksi yang dilakukan oleh pria bertopeng emas itu. Jika kau ingin aku menjadi wadah bagi kekuatanmu, maka pastikan wadah ini cukup tajam untuk memotong leher musuh-musuhmu."*
Julius terdiam. Dia menatapku cukup lama, lalu perlahan, senyum miring yang sangat mematikan terbentuk di wajahnya. Dia tidak menyangka bahwa alih-alih hancur, aku justru kembali sebagai predator yang lebih berbahaya.
*"Itu adalah tawaran yang menarik, Marie,"* katanya sambil berjalan mendekat, kini dia tidak lagi mencoba untuk mengintimidasi, melainkan menghormatiku sebagai sekutu. *"Baiklah. Mulai malam ini, pintu-pintu Black Cup terbuka untukmu. Tapi ingat, setiap rahasia yang kau buka akan menambah beban kontrak darahmu. Kau tidak akan pernah bisa lepas dari bayang-bayangku."*
*"Aku tidak berniat untuk lepas,"* jawabku tajam. *"Aku berniat untuk menguasainya."*
Kami berdiri di tengah ballroom yang berantakan, dikelilingi oleh para tamu yang mulai siuman dan menatap kami dengan ketakutan. Aku telah menunjukkan kekuatanku. Aku telah selamat dari Cawan Hitam. Namun, aku tahu ini hanyalah awal.
Saat kami berjalan keluar dari ballroom, aku merasa ada mata yang memperhatikan kami dari balik tirai di lantai dua. Itu adalah Elara. Dia tidak menatapku dengan kebencian lagi, melainkan dengan ketakutan. Dia tahu bahwa wanita yang dia coba bakar tadi pagi sudah mati, dan wanita yang berdiri di samping Julius sekarang adalah sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Namun, saat kami melewati lorong gelap menuju kereta kuda, tiba-tiba Julius menghentikan langkahnya. Dia menarik tanganku dan membawaku ke sudut yang gelap, di mana tidak ada lampu neon yang menjangkau.
*"Sebelum kita pergi,"* bisiknya, suaranya kini berubah menjadi sangat serius. *"Ada sesuatu yang harus kau tahu tentang pria bertopeng burung hantu yang kau panggil tadi dengan koin itu. Dia bukan sekadar sekutu. Dia adalah 'Pembersih'. Dan kehadirannya di sini berarti satu hal: Oakhaven tidak lagi aman. Mereka sudah tahu bahwa kau adalah wadah yang bangkit."*
*"Mereka? Siapa mereka?"* tanyaku waspada.
*"Dewan Langit,"* jawab Julius singkat. *"Mereka tidak menginginkan Nectar. Mereka menginginkan jiwamu untuk dikembalikan ke tempat asalnya. Jadi, Marie, apakah kau siap untuk melawan dunia yang bahkan tidak menginginkan keberadaanmu?"*
Aku menatap Julius, dan untuk pertama kalinya, aku melihat keraguan di matanya. Dia takut. Pria yang menguasai seluruh distrik gelap Oakhaven ini merasa terancam. Dan itu berarti, posisiku sekarang menjadi jauh lebih krusial bagi kelangsungan hidupnya sendiri.
Aku tersenyum—sebuah senyum manis yang penuh dengan racun.
*"Dunia ini sudah mencoba membunuhku sekali,"* kataku sambil menatap lampu-lampu neon yang menggantung di kejauhan. *"Jika mereka ingin mengambil jiwaku lagi, mereka harus siap melihat kota ini terbakar sampai ke dasar neraka."*
Tiba-tiba, kereta kuda kami berhenti dengan mendadak. Suara ringkikan kuda terdengar sangat nyaring, bercampur dengan suara ledakan di depan sana. Seseorang telah memblokir jalan kami.
Saat pintu kereta terbuka, seorang pria dengan pakaian serba hitam berdiri di sana, memegang pedang perak yang memancarkan aura sihir murni yang sangat kuat. Dia tidak memakai topeng. Wajahnya... wajahnya adalah wajah yang sangat kukenal dari kehidupan lamaku. Wajah orang yang mengkhianatiku di laboratorium tempat aku mati dulu.
*Itu tidak mungkin.*
Dia menatapku, matanya membulat sempurna, dan dia menjatuhkan pedangnya ke tanah dengan suara dentingan yang keras.
*"...Marie Nahzfreo?"* bisiknya dengan suara yang bergetar. *"Apakah itu benar-benar kau? Setelah apa yang kulakukan padamu... apakah kau kembali untuk menuntut balas?"*
Dunia di sekitarku seolah runtuh untuk kedua kalinya. Pria itu bukan hanya musuh dari kehidupan masa laluku; dia adalah alasan kenapa aku ada di sini, di tubuh Marie Vance. Dan dia baru saja menemukan bahwa aku masih hidup.