NovelToon NovelToon
Satu Bulan Menunda Cerai

Satu Bulan Menunda Cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.

Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 31: Tamu Tak Diundang di Pintu Depan

Melodi megah Piano Concerto No. 1 dari gramofon tua sore itu sempat menghubungkan rasa aman yang semu di kediaman Arthur.

Pengakuan cinta yang tulus dan janji rahasia Gisella untuk menjadi perisai masa depan Adrian telah mengunci keharmonisan baru di antara mereka.

 Namun, di dunia yang dibangun di atas fondasi narasi fiksi, kedamaian sering kali hanyalah sebuah jeda singkat sebelum tirai konflik berikutnya ditarik tinggi-tinggi.

Minggu pagi di minggu ketiga bergulir dengan sisa-sisa kehangatan.

Sesuai dengan lini masa yang dicatat Gisella dalam jurnal cokelat rahasianya, mereka kini hanya memiliki waktu dua belas hari tersisa sebelum batas akhir tiga puluh hari kontrak awal mereka terpenuhi.

Adrian melewatkan pagi itu di ruang makan dengan suasana hati yang jauh lebih ringan.

Sembari menikmati potongan buah kiwi dan cangkir teh krisan yang disiapkan Gisella, mata elangnya tidak lepas dari jemari istrinya yang sedang merapikan taplak meja linen.

"Rapat dengan dewan rektor kemarin berjalan sesuai estimasi, Gisella," buka Adrian, suaranya bariton dan tenang.

"Paten formula biokimia itu kini sepenuhnya atas namaku, bebas dari segala sengketa luar. Berkat analisis risiko yang kau berikan lewat dokumen grafologi tempo hari, tim hukum kita bisa bergerak dua kali lebih cepat."

Gisella tersenyum manis, mengambil tempat duduk di samping Adrian.

"Aku senang mendengarnya, Profesor. Berarti satu variabel pengganggu dalam hidupmu sudah musnah."

"Ya, satu variabel sudah selesai,"

jawab Adrian. Dia mengulurkan tangannya di atas meja, perlahan menggenggam jemari Gisella, memberikan remasan lembut yang menyalurkan rasa kepemilikan.

"Tinggal satu tugas lagi yang tersisa: memastikan wanita yang memegang tanganku ini tidak memikirkan cara untuk melarikan diri saat hari ketiga puluh tiba."

"Aku sudah berjanji di perpustakaan, Adrian. Berhentilah bersikap terlalu waspada,"

kekeh Gisella, wajahnya merona merah muda yang segar.

Tepat saat atmosfer di ruang makan itu menghangat, sebuah interupsi kasar menghancurkan ketenangan mereka.

"Ting-tong! Ting-tong!"

Suara bel pintu depan kediaman Arthur berbunyi bertubi-tubi dengan ritme yang sangat tidak sabar, bahkan cenderung tidak sopan. Itu bukan ketukan ritmis dari kurir atau bel tenang dari kolega universitas Adrian.

Ketukan dan pencetan bel itu terdengar seperti sebuah tuntutan yang mendesak.

Gisella dan Adrian saling berpandangan.

Alis Adrian langsung bertaut rapat, topeng kaku sang profesor seketika terpasang kembali di wajah tampannya.

Bibi Martha tampak berjalan tergesa-gesa dari arah koridor belakang menuju pintu depan.

Namun, sebelum pelayan senior itu sempat memutar kenop pintu, suara gedoran keras dari luar terdengar menggelegar.

"Brak! Brak!"

"Buka pintunya! Aku tahu kau ada di dalam, Gisella! Jangan bersembunyi di balik punggung suamimu yang kaku itu!"

Suara lengkingan seorang wanita paruh baya, bernada tinggi, penuh amarah, dan sarat akan arogansi bergema menembus pintu ek tebal kediaman Arthur.

Mendengar suara tersebut, seberkas memori gelap yang terpendam di sudut terdalam otak tubuh asli mendadak bangkit, menyengat kesadaran Gisella seperti sengatan lebah yang beracun.

 Jantung Gisella mendadak berdegup kencang, memicu rasa mual yang instan di ulu hatinya.

"Nyonya Catherine."

Wanita di luar itu adalah ibu kandung dari Gisella yang asli—seorang wanita manipulatif, gila harta, dan sosok yang dalam plot novel asli Belenggu Cinta di Aethelgard bertanggung jawab atas rusaknya mental Gisella sejak kecil hingga menjadikannya wanita yang egois dan materialistis.

Dalam novel, Catherine adalah orang yang memaksa Gisella asli untuk terus memeras uang dari keluarga Arthur demi membiayai gaya hidup mewahnya di kota seberang.

"Bibi Martha, biar aku yang buka,"

ucap Adrian, suaranya mendadak berubah sedingin es kutub. Dia berdiri dari kursinya, melepaskan genggaman tangannya dari Gisella.

"Adrian, tunggu,"

Gisella ikut bangkit berdiri, menahan lengan kemeja Adrian.

 Wajahnya sedikit pucat, namun matanya memancarkan ketegasan manajer humas yang siap menghadapi krisis tak terduga.

"Ini urusan masa lalu keluargaku. Biarkan aku ikut menghadapi wanita itu."

Adrian menatap Gisella ragu sejenak, melihat keteguhan di mata istrinya, dia akhirnya mengangguk.

"Tetap di belakangku."

Ketika pintu depan dibuka oleh Adrian, sosok seorang wanita paruh baya dengan gaun beludru ungu menyala, mantel bulu rubah yang berlebihan, dan tumpukan perhiasan emas di leher serta jemarinya berdiri di sana.

Wajahnya dipenuhi riasan tebal, namun tidak bisa menyembunyikan guratan keserakahan dan amarah di sudut matanya.

Di belakangnya, dua orang pria berbadan besar pembawa koper besar tampak berdiri menjaga barang-barangnya.

Itu adalah Catherine, sang tamu tak diundang yang merusak hari Minggu mereka.

"Ah, menantuku yang jenius dan sombong," cibir Catherine begitu melihat Adrian.

 Dia langsung melangkah masuk tanpa diundang, sepatu hak tingginya menghentak kasar di atas lantai marmer ruang tengah yang bersih.

"Kau membiarkan ibu mertuamu berdiri di luar seperti pengemis? Sungguh tidak punya tata krama akademis."

Mata Catherine kemudian berputar, mencari objek utamanya, dan langsung terkunci pada sosok Gisella yang berdiri di samping Adrian.

"Gisella! Jalang kecil tidak tahu diuntung!"

pekik Catherine, langsung berjalan cepat berniat melayangkan tamparan ke wajah Gisella.

"Kudengar kau menjebloskan Julian ke penjara?! Kau berani mengkhianati rencana kita?! Di mana otakmu, hah?!"

Namun, sebelum telapak tangan Catherine yang dipenuhi cincin berlian itu sempat menyentuh kulit Gisella, pergelangan tangannya telah dicengkeram di udara dengan kekuatan yang sangat masif.

Adrian menahan tangan Catherine dengan cengkeraman besi, matanya berkilat memancarkan amarah mematikan di balik kacamata peraknya.

"Jaga tindakanmu di rumahku, Nyonya Catherine,"

desis Adrian, suaranya begitu rendah dan berbahaya hingga membuat dua pria berbadan besar di depan pintu ragu untuk maju.

"Satu gerakan kasar lagi terhadap istriku, dan aku akan memastikan pengawal sewaanmu menyeretmu keluar dari pagar ini dalam hitungan detik."

Catherine meringis kesakitan, mencoba menarik tangannya dari cengkeraman Adrian.

Begitu Adrian melepaskannya dengan sentakan kasar, Catherine mundur dua langkah, memijat pergelangan tangannya dengan wajah berang.

"Istri? Kau membelanya sekarang, Adrian?"

Catherine tertawa melengking, suara tawa yang membuat telinga Gisella berdenging.

"Jangan bodoh! Anak perempuan yang berdiri di sampingmu itu adalah ular! Dia datang kepadaku sebulan lalu, menangis karena tidak tahan hidup bersamamu yang dingin seperti mayat, dan dia sendiri yang menyusun rencana untuk menguras hartamu demi melarikan diri denganku dan Julian!"

Valerie yang baru saja turun dari lantai dua karena mendengar keributan, terpaku di anak tangga terakhir.

Wajah gadis muda itu kembali menegang, rasa trauma masa lalu saat Gisella asli bersikap jahat mendadak terpicu kembali melihat kehadiran Catherine.

Gisella menyadari situasi ini mulai eskalasi menjadi pembunuhan karakter dan penghancuran reputasi di dalam rumah.

Dia menarik napas dalam-dalam, melangkah maju melewati tubuh Adrian, memposisikan dirinya sebagai tameng komunikasi yang kokoh.

"Cukup omong kosongnya, Nyonya Catherine,"

ucap Gisella, suaranya terdengar sangat jernih, tenang, dan sarat akan wibawa yang dingin—sebuah nada suara yang belum pernah didengar oleh Catherine dari anak perempuannya yang biasanya penakut dan histeris.

Catherine tertegun, menatap Gisella dari atas ke bawah.

"Kau... kau memanggilku apa? Nyonya Catherine? Aku ini ibumu, Gisella!"

"Ibu yang menjual anak perempuannya sendiri ke dalam pernikahan kontrak demi melunasi utang belanja pribadinya di kota seberang?"

balas Gisella dengan senyuman meremehkan yang amat menawan namun mematikan.

Gisella melipat kedua tangannya di depan dada, menatap wanita paruh baya itu dengan pandangan mata seorang manajer profesional yang sedang menghadapi klien korup.

"Mari kita perjelas satu hal di rumah ini. Julian dijebloskan ke penjara karena dia melakukan tindakan kriminal: pemerasan, perjudian ilegal, dan percobaan pencurian data riset universitas. Jika kau datang ke sini untuk membelanya atau menuntut sisa uang yang kau klaim sebagai 'rencana kita', maka kau salah alamat."

Gisella melirik dua koper besar di dekat pintu.

"Dan melihat koper-koper itu... kau tampaknya sedang melarikan diri dari penagih utang di kota asalmu dan mencoba menumpang di sini, bukan?"

Analisis Gisella yang tepat sasaran dan begitu dingin seketika menusuk harga diri Catherine.

 Wajah wanita tua itu memerah padam karena malu sekaligus murka.

Rencananya untuk memanipulasi Gisella agar memberikannya perlindungan finansial di kediaman Arthur hancur total dalam hitungan menit oleh karakter baru anak perempuannya.

"Kau... kau anak durhaka! Kau sudah dicuci otak oleh keluarga Arthur ini?!"

teriak Catherine histeris, menunjuk wajah Gisella dengan jari yang gemetar.

"Adrian! Kau pikir wanita ini tulus kepadamu?! Dia memiliki salinan rahasia formula risetmu di dalam kamarnya! Dia menuliskannya di sebuah buku catatan cokelat! Aku sendiri yang melihatnya saat dia merencanakannya bulan lalu!"

Mendengar kata

"buku catatan cokelat",

 jantung Gisella mendadak berhenti berdetak selama satu detik.

"Jurnal rahasia itu."

Catherine secara tidak sengaja menyebutkan objek yang persis sama dengan buku catatan yang baru saja dibeli dan ditulis oleh Gisella semalam.

Meskipun Catherine merujuk pada rencana Gisella masa lalu, keberadaan buku catatan cokelat yang nyata di dalam laci kamar nomor dua saat ini bisa menjadi bukti konfirmasi yang fatal jika Adrian melakukan penggeledahan.

Gisella melirik Adrian dengan sudut matanya.

Di balik lensa kacamata perak itu, mata elang Adrian menyipit, fokus pada reaksi wajah Gisella yang sempat menegang selama sepersekian detik.

Variabel kecurigaan yang baru saja dihancurkan semalam, kini mendadak kembali terbit karena provokasi sang tamu tak diundang.

Tamu tak diundang telah berdiri di pintu depan, membawa badai masa lalu yang jauh lebih kompleks.

Di minggu ketiga yang krusial ini, rahasia kecil Gisella tentang masa depan dan plot novel kini terancam terbongkar di bawah tatapan penuh selidik dari suami yang baru saja menyerahkan seluruh kepercayaannya.

Permainan takdir di kediaman Arthur kembali memasuki zona bahaya yang mematikan.

1
Mar lina
lanjut Thor ceritanya
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...
Mar lina
Aku mampir, Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!