NovelToon NovelToon
Top 1%

Top 1%

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Kota Veridian

Rangkaian kereta magnetik bawah tanah berkecepatan tinggi melesat tanpa suara menembus terowongan vakum kedap udara yang membelah jalur bawah laut benua Australia. Di dalam gerbong eksekutif bermaterial komposit putih minimalis, lima puluh siswa yang baru saja tersaring duduk terisolasi dari dunia luar. Tujuan mereka hanya satu: Kota Veridian, sebuah megacity mandiri semi-terisolasi yang dibangun khusus oleh Veritas Lux Fortuna sebagai pusat teknologi, riset, dan peradaban masa depan tempat kompleks utama Nexus Academy berdiri.

Di dalam gerbong, kompetisi yang tadinya mencekam perlahan mencair, digantikan oleh rasa penasaran yang besar saat jendela digital gerbong mulai menampilkan proyeksi panorama Kota Veridian dari ketinggian.

"Kecepatan konstan empat ratus dua puluh kilometer per jam tanpa adanya getaran propulsi lateral," gumam Nareswara, matanya melacak refleksi lampu indikator terowongan pada kaca jendela sambil mengetukkan jemarinya pada sandaran kursi, mengalkulasi efisiensi energi kereta. "Sistem navigasi otomatis mereka benar-benar berada di luar standar sipil saat ini."

Di barisan kursi tengah, beberapa peserta faksi elite mulai mencoba membangun jaringan aliansi dan mengenal satu sama lain secara taktis. Kirana Safira, yang kini telah sepenuhnya menguasai kembali senyum lembutnya, tampak berpindah kursi mendekati kelompok kecil faksi beasiswa. Dengan keanggunan yang terlatih, ia menyodorkan sebungkus tablet suplemen glukosa premium kepada Nabila.

"Minumlah, Nabila. Wajahmu masih sangat pucat sejak kita meninggalkan Gedung Kompetisi tadi," kata Kirana, suaranya terdengar begitu hangat dan penuh perhatian. "Perjalanan ke Veridian memakan waktu dua jam. Kita harus memastikan kondisi fisik kita prima sebelum tiba di kompleks asrama."

Nabila mendongak, merasa agak sungkan namun akhirnya menerima tablet tersebut dengan anggukan kecil. "Terima kasih, Kirana. Kamu... tidak seperti anak faksi elite lainnya."

"Di dalam gerbong ini, kita semua adalah siswa Nexus, bukan?" Kirana tertawa kecil, sebuah nada rendah yang sangat menenangkan. Namun, di balik binar matanya, Kirana secara kalkulatif mencatat: Subjek 050 menunjukkan penurunan tingkat kewaspadaan sebesar empat puluh persen saat diberikan stimulasi empati kecil. Sangat mudah didekati.

Di sudut seberang, Raka Elang sedang bersandar dengan satu kaki diangkat, memperhatikan pergerakan Kirana dengan senyum sinis. Raka tahu persis apa yang sedang dilakukan gadis itu. Ia memilih tidak bergabung dan lebih tertarik mengamati Gavin Arsenio yang duduk diam di dekat pintu penghubung gerbong, membersihkan lensa kacamata taktisnya dengan sepotong kain mikrofiber.

"Hei, Gavin," Raka memanggil dengan nada santai namun memprovokasi. "Kudengar nilaimu di babak analisis taktis hampir menyamai Atharva. Kenapa kamu memilih diam saja di sudut seperti pengawal pribadi?"

Gavin memakai kembali kacamatanya, menatap Raka dengan sorot mata sedingin es melalui lensa tipisnya. "Karena berbicara dengan orang yang menggunakan sembilan puluh persen energinya hanya untuk mengintimidasi orang lain adalah pemborosan kapasitas otak, Raka."

Raka terkekeh, tidak merasa tersinggung sedikit pun. "Terserah kamu saja. Kita lihat seberapa lama sifat angkuhmu itu bertahan di Veridian."

Sementara itu, di gerbong bagian paling belakang yang lebih sepi, Atharva duduk dengan pandangan lurus menatap layar digital di dinding kereta yang menampilkan hitung mundur waktu kedatangan. Di sampingnya, Keisya Aurellia melipat kedua tangannya, memperhatikan distorsi cahaya di luar jendela dengan pikiran yang berkecamuk.

"Kamu tidak mencoba mencari informasi tentang faksi lain?" tanya Keisya tanpa menoleh ke arah Atharva. "Kirana sudah mengamankan tiga anak beasiswa, dan Raka mulai mengumpulkan anak-anak faksi militer di gerbong depan."

"Informasi yang mereka bagikan di dalam kereta ini adalah informasi yang sengaja mereka pamerkan untuk menutupi kelemahan," jawab Atharva datar, suaranya tetap konstan tanpa intonasi emosi. "Melihat bagaimana mereka mencoba berteman hanya menunjukkan seberapa besar rasa takut yang mereka sembunyikan."

Keisya terdiam sejenak, membenarkan ucapan Atharva dalam hati. Di tempat ini, menjaga jarak bukan berarti sombong, melainkan sebuah metode pertahanan diri yang paling logis.

“Peringatan kepada seluruh penumpang,” suara asisten virtual kereta bergema, diikuti oleh perubahan warna lampu gerbong menjadi biru redup. “Kereta maglev Nexus-01 akan segera memasuki stasiun sentral Kota Veridian dalam tiga puluh detik. Harap persiapkan lencana NX kalian untuk proses otorisasi gerbang masuk kota.”

Kereta mulai melambat dengan deselerasi yang sangat halus. Ketika dinding terowongan vakum berakhir, gerbong tersebut mendadak diterangi oleh limpahan cahaya lampu kota yang luar biasa megah. Di balik jendela transparan, Kota Veridian akhirnya terbentang nyata di depan mata mereka sebuah kota masa depan yang menakjubkan, sekaligus penjara emas benderang yang siap menguji batas akhir dari kemanusiaan mereka.

...****************...

Kereta maglev akhirnya berhenti sepenuhnya dengan bunyi klik magnetik yang halus. Dinding gerbong bergeser ke atas, membuka akses langsung ke peron stasiun yang terbuat dari material komposit hitam mengkilap. Saat kaki Atharva menyentuh lantai peron, sensor inframerah di langit-langit stasiun langsung memancarkan sinar laser tipis yang memindai lencana NX-001 di kerah bajunya.

“Otorisasi diterima. Selamat datang, Peserta Akhir Atharva,” suara robotik stasiun menyambutnya.

Udara di Kota Veridian terasa sangat berbeda sangat bersih, dengan kelembapan yang diatur secara artifisial, namun menyisakan aroma ozon dan logam yang samar. Di luar stasiun, kompleks kubah kaca raksasa menaungi jalan-jalan kota yang sepi dari kendaraan konvensional. Sebagai gantinya, pod-pod otonom bergerak dalam jalur-jalur geometris yang efisien di antara gedung-gedung pencakar langit yang menjulang seperti menara pengawas.

Nabila melangkah keluar dari gerbong dengan mata melebar, terpaku melihat kemegahan distopia di hadapannya. "Tempat ini... rasanya tidak seperti berada di bumi," bisiknya ke arah Dimas yang berjalan di sebelahnya.

"Ini adalah wilayah kedaulatan penuh Veritas Lux Fortuna," sahut Nareswara yang mendadak muncul di belakang mereka, matanya sibuk memetakan menara-menara pemancar sinyal kuantum di puncak-puncak gedung. "Secara hukum internasional, tempat ini memiliki kekebalan diplomatik. Apa pun yang terjadi di dalam kota ini, pemerintah luar tidak akan pernah bisa mengintervensinya."

Kalimat Nareswara kembali mengingatkan mereka pada kenyataan pahit: mereka kini sepenuhnya berada di bawah kekuasaan yayasan.

Di ujung peron, beberapa instruktur senior berpakaian seragam militer kelabu abu-abu sudah menunggu dengan barisan pod otonom raksasa yang siap mengangkut mereka. Salah satu instruktur, seorang pria paruh baya dengan bekas luka bakar di pelipisnya, melangkah maju dengan pandangan yang mengintimidasi.

"Kalian memiliki waktu lima belas menit untuk memasuki pod masing-masing," ujar instruktur itu tanpa basa-basi, suaranya menggelegar di langit-langit stasiun. "Pod ini akan membawa kalian langsung ke Sektor Delta, kompleks asrama Nexus Academy. Peringkat satu hingga sepuluh akan menempati Penthouse Sektor Atas, sementara peringkat sebelas hingga lima puluh akan dialokasikan ke Blok Barak Sektor Bawah. Pahami posisi kalian, dan jangan membuat kekacauan di hari pertama."

Mendengar pengumuman itu, perubahan atmosfer langsung terasa di antara para peserta yang lolos. Aturan peringkat yang disebutkan Profesor Adrian sebelum mereka berangkat kini langsung diterapkan secara fisik dalam pembagian fasilitas hidup.

Kirana Safira, yang berada di peringkat 8, melirik lembut ke arah Nabila yang berada di peringkat paling buncit. Ada kilat kepuasan yang sangat tipis di matanya saat menyadari jarak sosial yang kini membentang di antara mereka, meskipun ia tetap mempertahankan senyum ramah di wajahnya. "Sayang sekali kita tidak bisa berada di blok yang sama, Nabila. Tapi kita masih bisa bertemu di kelas taktis besok, bukan?"

Nabila hanya bisa mengangguk kaku, merasakan tekanan tak kasatmata yang mulai mengotak-kotakkan mereka berdasarkan angka di lencana masing-masing.

Atharva melangkah masuk ke dalam pod otonom pertama yang dikhususkan untuk peringkat teratas. Keisya mengikuti di belakangnya, mengambil tempat duduk di seberang pemuda itu. Saat pintu pod menutup dan kendaraan tanpa pengemudi itu meluncur mulus membelah jalanan Kota Veridian yang benderang namun sunyi, Keisya menatap lurus ke arah jendela yang menampilkan distrik asrama yang mulai mendekat.

"Pembagian sektor ini sengaja dirancang untuk memicu kecemburuan dan gesekan sejak malam pertama," kata Keisya dingin, tangannya mengepal di atas lutut. "Sektor Atas dan Sektor Bawah... mereka ingin anak-anak di bawah bergerak agresif untuk merebut posisi kita."

"Membiarkan musuh bergerak adalah cara terbaik untuk melihat strategi mereka," jawab Atharva, wajahnya tetap datar saat pod mereka mulai memasuki gerbang besi masif bertuliskan Nexus Academy — Sector Delta. "Biarkan mereka menyerang. Di tempat seperti ini, posisi puncak hanya aman jika semua penyerangnya telah kehabisan energi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!