NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suamiku

Hadiah Terakhir Untuk Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Pelakor / Poligami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Susanti 31

Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.

Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.

Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.

Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Obat dan Luka

Alya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia berusaha mengontrol dirinya agar tidak terbawa suasana apapun, apalagi di tempat umum seperti ini.

Tangannya mengenggam erat plastik berisi alat-alat melukis, dan kukunya kembali melukai permukaan kulit. Respon alami tubuhnya jika berusaha untuk tenang dan menekan segala rasa dalam dirinya.

Keheningan tercipta dan hembusan angin kencang menerbangkan rambut Alya ke kiri dan kekanan, tidak lama gerimis turun membuat wanita itu mundur satu langkah merapatkan dirinya pada tembok.

Ada mantan suaminya yang berdiri tepat di sampingnya.

"Aku antar pulang ya?" bujuk Adrian.

"Seseorang akan menjemputku." Alya berbohong, dia hanya tidak ingin Adrian tahu rumahnya.

Padahal pria itu mengikutinya dari rumah, bukan hanya sekedar bertemu di jalan.

"Beri aku kesempatan sekali lagi Alya demi anak kita," pinta Adrian pelan.

Alya mengelengkan kepalanya, dia mendongak dan menatap Adrian. "Jika boleh jujur hatiku hancur setiap kali melihatmu. Duniaku selalu nggak baik-baik saja melihatmu. Aku nggak pernah menyangka orang yang begitu peduli, perhatian, cinta dan sayang padaku tega selingkuh. Hampir satu tahun, itu bukan kekhilafan tetapi kesengajaan."

"Mas minta maaf." Adrian melirik kanan kiri kemudian mulai merundukkan dirinya, menyentuhkan lututnya pada lantai teras toko alat melukis tersebut. "Maaf dan beri mas kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Jangan egois memisahkan ayah dengan anaknya Alya."

Lantas air mata Alya terjatuh

"Apa berusaha membahagiakan diri setelah dikhianati terlihat egois dimatamu? Aku seperti ini karena nggak mau gila Adrian!"

"Sentuh ...." Alya menarik tangan Adrian untuk menyentuh perutnya. "Sentuh anakmu untuk terakhir kalinya, karena aku akan tetap egois memisahkan kalian demi kebahagianku."

Alya terisak, dan membiarkan tangan Adrian berada di perutnya.

Tidak lama Alya ikut berlutut tetapi hanya sebentar karena Adrian tidak membiarkannya.

"Aku mohon untuk nggak ikut campur urusanku lagi Adrian. Atau baik aku atau pun anakmu nggak akan kamu lihat untuk selamanya!"

"Alya apa kamu gila?"

"Benar aku bisa gila dan membahayakan anakmu jika kamu terus memaksaku untuk kembali. Kamu mencariku karena anak ini kan? Bagaimana jika aku membunuhnya?"

"Alya jangan ucapanmu. Dia nggak bersalah jadi kamu ...."

"Justru karena dia nggak bersalah berhenti libatkan dia dalam masalah kita mas!" bentak Alya dan menatap nanar Adrian.

"Pergi dari hadapanku sekarang!" Kali ini bukan lagi bentakan, melainkan teriakan bercampur tangis yang mengambil perhatian beberapa pengunjung.

Adrian memundurkan langkahnya, terus mundur sampai akhirnya menghilang dari padangan Alya. Dia takut mantan istrinya membuktikan ancaman itu.

Sedangkan Alya? Dia menatap satu persatu orang-orang yang menatapnya kasihan dan ibah sampai dia tidak tahan berada di sana.

Tidak peduli hujan, dia terus berjalan. Air hujan menyamarkannya air matanya dia terus melangkah dan tiba di halte. Dia bersandar di sana dalam diam. Kukunya terus beraksi melukai permukaan kulit.

***

"Biar saya antar pulang," ujar Pradipta ketika bertemu Sena di depan gedung Golden Promise.

"Pasti mau ketemu mbak Alya."

"Kamu memang adik yang pengertian." Dipta tersenyum tipis.

Dia langsung membuka pintu mobil dan duduk dengan tenang di jok belakang. Sedangkan Sena duduk tepat di samping Arkana.

"Sebagai orang yang lebih berpengalam saya hanya ingin menyarankan untuk bapak berhati-hati mendekati wanita yang baru saja patah hati. Resikonya terlalu besar," celetuk Arkana sembari melirik Pradipta.

"Saya bisa mengurus diri sendiri."

Pradipta tetap fokus pada ponselnya. Mengetik pesan, menghapusnya lagi. Begitu seterusnya sampai dia benar-benar tidak mengirim apapun pada Alya. Dia terlalu ragu, terlebih perpisahan terakhir mereka dia melakukan hal konyol.

"Nanti kalau sampai di rumah Sena, tangan kamu tiba-tiba keram dan nggak bisa menyetir."

"Maksudnya saya disuruh sandiwara Pak?" Arkana tidak percaya dengan atasannya. Licik sekali otaknya.

"Biar ada alasan buat tinggal. Sekalian mampir beli makanan, kita makan malam bersama."

"Kayak keluarga aja makan bersama," celetuk Arkana, namun tetap melaksanakan perintah Dipta untuk mampir beli makan.

Berbeda dengan Sena yang tampaknya tidak merespon rencana licik dua pria di dalam mobil itu. Dia juga banyak diam dan hanya terpaku pada ponselnya.

Beberapa pesan dia kirimkan tetapi centang satu, pertanda ponsel Alya tidak aktif. Dia khawatir, apalagi terakhir berkabar, Alya sedang di luar rumah.

"Tumben diam," celetuk Pradipta, terlebih hanya mereka berdua di dalam mobil.

"Anu Pak, saya khawatir sama mbak Alya. Tadi sore dia keluar beli sesuatu tapi sekarang nggak aktif."

"Mungkin ponselnya lagi di cas, mikirnya jangan negatif," balas Pradipta.

"Iya kali pak ya? Semoga saja." Sena berusaha untuk tenang, tetapi ia tidak ikut menimpali setiap candaan Arkana dan Dipta.

Dan wajah Sena berubah pucat ketika sampai di kontrakan mendapatinya gelap, pertanda tidak ada orang di rumah.

"Pak tunggu sebentar ya, takutnya mbak Alya nggak ada di rumah. Saya nggak tau mau minta tolong sama siapa," ujar Sena sebelum turun dari mobil.

Alih-alih menunggu di dalam mobil, Dipta ikut masuk ke kontrakan dan memeriksa rumah yang lampunya telah dinyalakan. Alya benar-benar belum pulang.

"Saya akan mencarinya." Pradipta menuju mobil, menyuruh Arkana turun dan dia melajukan benda beroda empat itu dengan kecepatan di atas rata-rata.

Namun, dia melupakan sesuatu karena terburu-buru.

"Tadi keluar rumahnya mau ngapain?" tanyanya pada Sena setelah sambungan telepon terhubung.

"Beli peralatan melukis Pak."

"Oke."

Sambungan terputus, Dipta mencari toko perlatan melukis di mulai dari yang terdekat. Tetapi sudah dua yang dia datangi dan tidak menemukan Alya. Sialnya lagi hujan semakin deras sehingga menganggu penglihatan.

Dari kejauhan Dipta melihat seorang wanita duduk di halte, dia menepikan mobilnya dan turun.

Darahnya berdesir melihat wanita yang selalu tersenyum hangat padanya duduk dalam keadaan berantakan. Tatapannya kosong, matanya bengkak dan tangannya telah berdarah.

"Alya?" Dipta lancang memegang pundaknya.

"Ah ya?" Alya langsung merespon dengan wajan linglung.

"Benar kata bapak kamu pandai menutupi luka," lirih Pradipta.

Dia melepas jasnya dan membungkus tubuh Alya yang entah kesadaran dan pikirannya ada di mana. Hanya duduk seperti patung.

Dipta berjongkok di depan Alya yang sedang duduk. Mengeluarkan plaster obat yang selalu ada di saku celananya sebab dia sendiri sering kali terluka karena ceroboh.

"Kebiasan seperti ini nggak bisa disepelakan, bisa bahaya," ujarnya sembari membersihkan jari telunjuk Alya yang terkelupas di sekitar kuku. Setelahnya membalut plaster obat.

"Sena khawatir padamu, kita pulang ya," ucap Pradipta hati-hati sebab dia tidak tahu apa yang membuat Alya seperti ini.

"Terimakasih mas karena sudah mengobati tangan saya."

"Sama-sama."

Dipta membantu Alya berdiri, dan mengambil jasnya untuk dijadikan alat berteduh menuju mobil.

.

.

.

Jangan lupa like, komen dan subscribe. Dukungan kalian semangat author.

1
ken darsihk
Syukoorrr lo Sapi perah sok tauu sihhhh , marah kan Adrian nya 😠😠😠
ken darsihk
Ha ha sarkas bngt jawaban nya Alya nggak kenal 🤔🤔
Maria Kibtiyah
bener2 gk tau diri tuh pelakor
Maria Kibtiyah
gk tau malu tuh pelakor
julia elisabeth rien
pengen ikutan gaplok si sapri deh.... gemesshh akunya...
julia elisabeth rien: ayok kak kita gaplok in bareng2 si sapi itu 🤣🤣
total 2 replies
Rahma Inayah
malu dong pelakor niat manasi tp dia yg panas
julia elisabeth rien
malu ga tuh si pelakorrr..... niat pamer malah ketiban siall.. emang enakk..emang dasar pelakor muka tembok .. semoga cepat kena karma apa gitu deh ...
Rahma Inayah
SM sya juga sebel SM Safira dan Adrian
ken darsihk
Mama Adrian saluttt ❤❤
falea sezi
egois amattt pakkk😒
Linda Yohana
Bagus novelnya
julia elisabeth rien
aku juga sebelll sama kayak kau adrina, setiap adrian baik2 sama si pelakorrr ituhhhhh .....
makin besar kepala aja diaa....
Anonim: SI ALYA NYA MASOKIS
total 1 replies
Rahma Inayah
trm aja Alya to ank mu juga tanggung jwb Adrian ayah biologis ank mu .uang persiapan persalinan BS km gunakan utk keperluan baby mu nnt
Rahma Inayah
walau Adrian menjauh GK ggu alya tp rasa bersalah nya selalu menghantui dan membuat hidupnya TDK tenang sllu ada byg2 Alya
Devi ana Safara Aldiva
salut dengan cara Adrian membantu mantan istrinya itu... dan bertanggung jawab atas anaknya
Maria Kibtiyah
lanjut kak
ken darsihk
Semoga Alya baik2 sajah setelah dia mengetahui kalau Adrian yng membiayai persalinan nya nanti
ken darsihk
Biarkan Alya , Adrian
Biarkan Alya dengan kebahagiaan nya
Azril Ali
pa Safira jg hamil,ktnya telat..smga g BS hamil LG..
Ma Em
Untung Adrian pengertian dan benar tdk mau mengganggu Alya cuma melihat Alya dari kejauhan , semoga Alya dan bayi yg dikandungnya sehat .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!