NovelToon NovelToon
Istri Seksi Gus Ibra

Istri Seksi Gus Ibra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elma Grace

​"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"


Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.

​Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.

Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.

​​Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

​Malam semakin larut, dan suasana di dalam rumah terasa begitu tenang setelah Umi pamit masuk ke kamar tamu untuk beristirahat dan membaca wirid malamnya. Di area dapur bersih, Bita berdiri sendirian di depan wastafel, mencoba mencuci beberapa piring dan peralatan memasak sisa makan malam tadi. Tangannya yang berbalut busa sabun sesekali bergerak lambat; ia sedikit meringis ketika merasakan pegal yang mulai menjalar di sekitar pergelangan dan lengan kanannya akibat memaksakan diri mengulek bumbu sore tadi.

​"Kalau pegal, tidak usah dipaksakan. Taruh saja, biar saya yang selesaikan."

​Bita sedikit tersentak, lalu menoleh. Gus Ibra sudah berdiri di sampingnya. Pria itu telah mengganti kemejanya dengan kaus oblong hitam yang santai, namun pancaran wajahnya yang bersih setelah berwudhu selalu berhasil membuat suasana di sekitar mereka terasa teduh. Ibra tidak hanya sekadar menyuruh; tangan kekarnya langsung bergerak mengambil alih spons dan piring dari genggaman Bita, lalu menaruhnya kembali ke dalam wastafel.

​"Gak usah, Gus. Gue bisa kok, tinggal dikit lagi juga," tolak Bita, mencoba meraih kembali piringnya karena merasa tidak enak. Gengsi tingginya masih sedikit berontak jika harus terlihat lemah di depan suaminya.

​Ibra tidak membalas dengan kata-kata tegas atau wajah kaku. Pria itu justru mematikan keran air sejenak, lalu meraih tangan kanan Bita yang masih basah. Dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian, Ibra membilas sisa busa di tangan Bita di bawah kucuran air yang ia nyalakan kembali dalam volume kecil. Setelah bersih, ia mengambil kain lap bersih di dekat meja bar, lalu mengeringkan jemari tangan istrinya dengan gerakan yang teramat telaten.

​"Tangan kamu sampai merah begini karena belum terbiasa mengulek," ucap Ibra pelan, suaranya terdengar sangat lembut dan sarat akan perhatian. Ia memijat perlahan pangkal ibu jari Bita dengan tekanan yang pas, membuat rasa pegal yang tadi di rasa perlahan-lahan berkurang. "Umi pasti akan sangat maklum kalau kamu memilih beristirahat malam ini. Kamu sudah berusaha keras seharian ini untuk menyenangkan Umi, dan saya sangat menghargai itu."

​Bita terpaku, menatap jemari tangannya yang berada dalam genggaman hangat Ibra. Nada bicara suaminya yang selalu sabar, tidak pernah sekalipun memojokkannya meskipun ia penuh dengan kekurangan, perlahan-lahan mengetuk relung hati Bita yang paling dalam.

​"Gue... gue cuma gak mau kelihatan payah di depan Umi, Gus," bisik Bita jujur, suaranya merendah, kehilangan nada ketusnya yang biasa. "Gue tahu Umi itu lembut banget, beda sama Mama yang selalu menuntut banyak hal dari gue. Tapi justru karena Umi baik banget, gue merasa makin minder. Gue takut kalau nanti Umi tahu menantunya ini sebenarnya gak bisa apa-apa, Umi bakal kecewa."

​Ibra menghentikan pijatan tangannya, lalu mendongak untuk menatap langsung ke dalam sepasang mata bulat milik Bita yang malam ini tampak begitu rapuh. Senyuman hangat yang teramat teduh terukir di wajah tampannya, melenyapkan kesan dingin yang selama ini ditakuti orang-orang luar dari sosok seorang Gus.

​"Umi tidak pernah mencari menantu yang sempurna, Tsabita," tutur Ibra dengan suara baritonnya yang menenangkan, seolah menjadi penawar bagi segala kegelisahan di dalam dada istrinya. "Sebelum kita menikah, Umi pernah berpesan kepada saya. Beliau bilang, 'Ibra, istrimu nanti adalah amanah. Dia bukan orang yang lahir di lingkungan yang sama dengan kita, jadi bimbing dia dengan kelembutan, jangan pernah membandingkannya dengan siapa pun.' Jadi, kamu tidak perlu merasa terbebani. Bagi Umi, dan juga bagi saya... fakta bahwa kamu mau belajar dan menerima kehadiran kami di sini, itu sudah lebih dari cukup."

​Kata-kata Ibra mengalir begitu tenang, meresap ke dalam hati Bita dan meruntuhkan sisa-sisa rasa cemasnya. Bita menarik napas dalam-dalam, merasakan kehangatan menjalar di pipinya. "Lo... kenapa bisa sesabar ini sih ngadepin gue?"

​Ibra terkekeh rendah, sebuah suara tawa yang terdengar sangat renyah di keheningan dapur malam itu. Ia melepaskan tangan Bita secara perlahan, lalu kembali melanjutkan cucian piring yang tertunda. "Sebab saya tahu, di balik sifat keras kepalamu, ada seorang gadis baik yang hanya sedang butuh dimengerti. Sekarang, kamu naik ke kamar duluan. Bersihkan diri, lalu istirahat."

​Dua puluh menit kemudian, Bita sudah berada di dalam kamar utama. Ia duduk di tepi tempat tidur setelah mengganti pakaiannya dengan piyama satin panjang berwarna biru dongker yang longgar.

​Ketika pintu kamar terbuka dan Gus Ibra melangkah masuk, suasana canggung yang sempat mereda di dapur kembali terasa, namun kali ini rasanya tidak semencekam malam pertama. Ibra berjalan menuju sisi kanan kasur, membawa sebuah botol kecil berisi minyak esensial beraroma lavender yang menenangkan.

​"Sini tangan kamu," ujar Ibra setelah merebahkan tubuhnya dalam posisi duduk, bersandar pada headboard ranjang.

​Bita mengerjap bingung, namun kakinya tetap bergerak mendekat, menggeser tubuhnya di atas kasur king size itu hingga jarak mereka kini hanya terpaut jarak satu bantal guling. "Buat apa?"

​"Minyak ini bisa membantu melemaskan otot yang tegang dan membuat tidurmu lebih nyenyak," jawab Ibra sabar. Ia menuangkan sedikit cairan bening itu ke telapak tangannya sendiri, menggosoknya hingga hangat, lalu kembali meraih pergelangan tangan kanan Bita.

​Dengan gerakan yang sangat lembut, Ibra mulai memijat lengan Bita, mengurutnya perlahan dari arah pergelangan hingga ke siku. Aroma lavender yang menenangkan seketika menguar di antara mereka, berbaur dengan wangi maskulin khas tubuh Ibra yang selalu membuat Bita merasa aman.

​Bita hanya bisa diam mematung, menikmati sentuhan tangan suaminya yang terasa begitu tulus. Matanya bergerak memperhatikan profil samping wajah Ibra dari jarak sedekat ini—garis rahangnya yang tegas, hidung mancungnya, dan sorot matanya yang selalu fokus memberikan perhatian penuh pada apa yang sedang ia lakukan untuk Bita.

​"Gus," panggil Bita pelan di tengah keheningan kamar.

​"Ya? Ada yang sakit?" tanya Ibra langsung, menghentikan gerakannya sejenak karena takut tekanannya terlalu keras.

​"Enggak, pas kok," sergah Bita cepat. Ia menggigit bibir bawahnya sejenak sebelum melanjutkan. "Makasih ya... buat yang di dapur tadi. Dan buat semuanya."

​Ibra kembali melanjutkan pijatannya, namun kali ini ia menyempatkan diri untuk menoleh dan menatap Bita dengan binar mata yang teramat hangat. "Sama-sama, Istriku. Sudah menjadi kewajiban saya untuk memastikan kamu merasa nyaman dan aman di rumah ini."

​Panggilan 'Istriku' yang diucapkan Ibra dengan nada selembut itu kembali memicu debaran aneh di dalam dada Bita. Namun kali ini, Bita tidak lagi berusaha menutupinya dengan wajah ketus atau omelan panjang. Ia membiarkan rasa hangat itu menjalar, menyadari bahwa di balik sosok Gus yang terpandang dan berwibawa, pria di hadapannya ini memiliki hati yang luar biasa luas untuk menampung segala kekurangannya.

​Setelah selesai, Ibra menutup botol minyak tersebut dan meletakkannya di meja nakas. Ia menarik selimut tebal mereka, lalu memosisikan tubuhnya telentang dengan kedua tangan bersedekap di atas dada, memberikan ruang yang sangat luas di sisi kiri untuk Bita.

​"Sekarang tidur, Tsabita. Besok kita harus bangun awal lagi untuk menemani Umi sebelum beliau kembali ke pondok," ucap Ibra lembut sebelum memejamkan sepasang matanya perlahan.

​Bita mengangguk, ikut merebahkan tubuhnya di sisi kiri kasur. Kali ini, ia tidak lagi tidur di ujung pembatas yang sempit hingga hampir terjatuh. Bita memosisikan tubuhnya menghadap ke arah Ibra, memandangi wajah tenang suaminya yang sudah terlelap di bawah temaram lampu tidur. Sambil menarik selimutnya hingga sebatas dada, Bita memejamkan matanya dengan seulas senyuman tipis yang tulus. Malam itu, di dalam kamar yang hangat, Bita akhirnya tahu... bahwa ia telah menemukan tempat bersandar terbaik yang dikirimkan Tuhan untuk menjaganya.

1
Anita Rahayu
kapan ni buat dedek bayi yg gemoy
Elma Grace: eh tenang aja. ada kok nanti. tunggu yaa, bikin sedikit konflik biar makin deket dulu merekanyaa
total 1 replies
merry
kyky reno ngk bergerak sndrian dehh,, x Safira itu terlibat krn iri sm bita x y
Clarisa Putri: aku juga mikir gini
total 1 replies
Sri Jumiati
apa safira suka sm gus ibra ya
Elma Grace
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!