Empat belas hari.
Hanya selama itu Ghazi Farhan dan Adzra Hanum saling mengenal sebelum akhirnya menikah melalui proses ta'aruf.
Siapa sangka, pernikahan yang awalnya dipenuhi ketenangan justru berakhir dengan satu talak setelah sepuluh bulan bersama.
Sejak hari itu, Adzra meyakini bahwa dirinya hanyalah perempuan yang pernah gagal menjadi istri.
Sementara Ghazi memilih memikul penyesalan yang bahkan tidak pernah berani ia jelaskan.
Sepuluh tahun berlalu.
Mereka sama-sama belum menikah.
Bukan karena belum ada yang datang, tetapi karena ada luka yang belum benar-benar selesai.
Ketika sakit sang ibu mempertemukan mereka kembali, Ghazi tidak meminta Adzra kembali menjadi istrinya.
Ia hanya meminta satu kesempatan.
"Bolehkah... kita mengulang empat belas hari itu?"
Namun, apakah ta'aruf kedua mampu menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh satu talak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Permintaan
Pemeriksaan kesehatan hari kedua berakhir menjelang waktu Asar.
Tidak ada lagi antrean panjang di ruang tunggu.
Para petugas mulai merapikan meja registrasi, sementara tim laboratorium menyusun kembali peralatan yang sejak pagi digunakan tanpa henti.
"Alhamdulillah."
Rina mengembuskan napas lega.
"Semua peserta sudah selesai."
Nabila ikut tersenyum.
"Dan tidak ada keadaan darurat."
"Itu yang paling penting."
Di ruang konsultasi, Adzra masih memeriksa beberapa berkas terakhir.
Setiap hasil pemeriksaan kembali ia cocokkan dengan data laboratorium.
Ia ingin memastikan tidak ada satu pun dokumen yang tertukar.
"Kamu belum selesai juga?"
Nabila meletakkan dua gelas teh hangat di atas meja.
"Hampir."
"Kalau semua beres hari ini, besok kita bisa kembali melayani pasien seperti biasa."
Nabila menggeleng kecil.
"Kamu memang perfeksionis."
Adzra hanya tersenyum tipis.
"Amanah harus selesai dengan baik."
***
Sementara itu, di halaman klinik, Ja'far membantu beberapa relawan memindahkan kursi lipat ke dalam gudang.
Ghazi berdiri tidak jauh dari sana, memperhatikan suasana yang perlahan kembali lengang.
"Mas."
Ja'far menghampiri.
"Semua perlengkapan sudah dibereskan."
"Alhamdulillah."
"Pak Salman juga sudah membuat janji dengan dokter spesialis jantung."
Ghazi mengangguk lega.
"Semoga hasilnya baik."
"Aamiin."
Belum sempat percakapan mereka berlanjut, ponsel Ghazi berdering.
Di layar tertera nama yang sangat ia kenal.
Ummi.
Ghazi segera menerima panggilan itu.
"Assalamu'alaikum, Ummi."
"Wa'alaikumussalam."
Suara Siti Maryam terdengar sedikit lemah.
"Ghazi..."
"Kapan kamu pulang?"
"Insyaallah sebentar lagi, Mi."
"Kalau begitu..."
"...Ummi ingin mampir sebentar ke klinik."
Ghazi langsung berdiri lebih tegak.
"Ummi sedang di mana?"
"Di rumah."
"Jangan ke sini sendiri."
"Nanti Ghazi jemput."
"Tidak usah."
"Ummi sudah minta Pak Rahmat mengantar."
Ghazi menghela napas pelan.
"Baik."
"Tapi jangan berjalan terlalu banyak."
"Iya."
Sambungan telepon pun berakhir.
Ja'far yang melihat perubahan wajah Ghazi langsung bertanya,
"Ummi?"
Ghazi mengangguk.
"Beliau ingin ke klinik."
"Mungkin kontrol?"
"Sepertinya bukan."
"Beliau hanya bilang ingin bertemu Dokter Adzra."
Ja'far tampak berpikir.
"Kalau begitu saya beri tahu pihak klinik?"
"Jangan."
Ghazi menggeleng.
"Biarkan saja."
"Kalau memang Ummi ingin bertemu..."
"...biar beliau menyampaikannya sendiri."
***
Sekitar dua puluh menit kemudian, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan klinik.
Ghazi segera berjalan menghampiri.
Begitu pintu terbuka, ia membantu ibunya turun dengan hati-hati.
"Pelan, Mi."
"Ummi tidak selemah itu."
Meski berkata demikian, Siti Maryam tetap menerima uluran tangan putranya.
"Kamu ini..."
"...kalau sama Ummi terlalu khawatir."
Ghazi tersenyum kecil.
"Itu sudah tugas Ghazi."
Mereka berjalan memasuki klinik.
Rina yang sedang membereskan meja administrasi langsung berdiri.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Ibu Maryam, silakan duduk dulu."
"Terima kasih."
"Dokter Adzra masih ada?"
"Masih, Bu."
"Sedang menyelesaikan laporan."
Siti Maryam mengangguk pelan.
"Kalau begitu..."
"...bolehkah saya menemuinya sebentar?"
"Tentu."
Rina mengetuk pintu ruang konsultasi.
"Dok."
"Iya?"
"Ada yang ingin bertemu."
"Silakan."
Beberapa detik kemudian, Siti Maryam melangkah masuk.
Begitu melihat perempuan paruh baya itu, Adzra segera berdiri.
"Assalamu'alaikum, Bu."
"Wa'alaikumussalam."
"Silakan duduk."
Siti Maryam tersenyum hangat.
"Maaf mengganggu waktu istirahatmu."
"Tidak apa-apa."
"Ada yang bisa saya bantu?"
Perempuan itu memandang Adzra beberapa saat.
Tatapannya lembut.
Seolah sedang mencari keberanian untuk mengatakan sesuatu.
Di luar ruangan...
Ghazi memilih tidak ikut masuk.
Ia berdiri di dekat jendela koridor.
Memberikan ruang bagi ibunya.
Ia tahu...
Ada pembicaraan yang mungkin lebih baik tidak didengarnya.
Sementara di dalam ruang konsultasi...
Siti Maryam menggenggam kedua tangannya sendiri.
Lalu berkata lirih,
"Dokter Adzra..."
"Sebenarnya..."
"...kedatangan saya hari ini bukan hanya untuk kontrol kesehatan."
Adzra memandangnya dengan penuh perhatian.
"Kalau begitu..."
"...ada keperluan lain, Bu?"
Siti Maryam menarik napas panjang.
"Ya."
"Saya ingin..."
"...meminta sesuatu."
Kalimat itu menggantung di udara.
Dan entah mengapa...
Hati Adzra mendadak berdebar tanpa alasan yang jelas.
***
Ruangan konsultasi mendadak terasa lebih tenang setelah kalimat itu terucap.
"Saya ingin meminta sesuatu."
Adzra menatap Siti Maryam dengan penuh perhatian.
"Silakan, Bu."
Perempuan paruh baya itu tersenyum kecil.
Namun sebelum menyampaikan maksudnya, ia justru lebih dulu melihat sekeliling ruangan.
Beberapa map masih bertumpuk di atas meja.
Kotak alat kesehatan belum sepenuhnya dirapikan.
Dan di wajah Adzra, kelelahan setelah dua hari pemeriksaan masih terlihat meski berusaha disembunyikan.
"Sebelum itu..."
"...saya ingin mengucapkan terima kasih."
Adzra sedikit terkejut.
"Terima kasih?"
Siti Maryam mengangguk.
"Iya."
"Saya mendengar banyak cerita dari para jemaah."
"Mereka bilang seluruh tim klinik melayani dengan sangat baik."
"Itu memang sudah tugas kami, Bu."
"Mungkin."
Siti Maryam tersenyum hangat.
"Tapi tidak semua orang menjalankan tugas dengan hati."
Kalimat itu membuat Adzra terdiam sesaat.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Selama menjadi dokter, ia sudah terbiasa menerima keluhan, pertanyaan, bahkan protes.
Namun menerima ucapan terima kasih yang tulus seperti itu selalu membuatnya canggung.
"Alhamdulillah kalau para jemaah merasa terbantu."
"Itu yang paling penting."
Siti Maryam mengangguk.
"Dan saya juga ingin berterima kasih karena sudah memeriksa saya beberapa waktu lalu."
"Bagaimana kondisi Ibu sekarang?"
"Jauh lebih baik."
"Obatnya rutin diminum?"
"Insyaallah."
Adzra tersenyum.
"Nah, itu yang paling penting."
Untuk beberapa saat, percakapan mereka mengalir ringan.
Tentang kesehatan.
Tentang pentingnya menjaga pola makan.
Dan tentang para lansia yang sering merasa baik-baik saja padahal kondisi tubuhnya membutuhkan perhatian lebih.
Hingga akhirnya Siti Maryam kembali terdiam.
Tatapannya turun ke kedua tangannya sendiri.
Seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Dokter Adzra."
"Iya, Bu?"
"Saya boleh bercerita sedikit?"
"Tentu."
Siti Maryam tersenyum tipis.
"Kadang seorang ibu hanya ingin ada yang mendengarkan."
Adzra ikut tersenyum.
"Saya akan mendengarkan."
Perempuan itu menarik napas perlahan.
"Setelah suami saya meninggal..."
"...Ghazi banyak berubah."
Adzra tidak memberikan tanggapan.
Ia hanya mendengarkan.
"Sebelumnya dia anak yang tidak terlalu memikirkan banyak hal."
"Masih suka bercanda."
"Masih sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya."
Siti Maryam tertawa kecil mengingat masa lalu.
"Tapi setelah ayahnya tidak ada..."
"...dia seperti memutuskan untuk memikul semuanya sendiri."
Adzra tetap diam.
Matanya fokus kepada perempuan di depannya.
"Usaha keluarga."
"Tanggung jawab kepada karyawan."
"Keperluan rumah."
"Bahkan urusan kesehatan saya."
"Semuanya dia urus."
Nada suara Siti Maryam tidak terdengar membanggakan.
Justru terdengar seperti seorang ibu yang khawatir.
"Kadang saya ingin dia beristirahat."
"Tapi dia selalu bilang baik-baik saja."
Adzra mengangguk pelan.
Ia mengenal tipe orang seperti itu.
Orang yang terbiasa menanggung beban sendirian sampai lupa bahwa dirinya juga manusia.
"Menjadi tempat bergantung banyak orang memang tidak mudah, Bu."
"Itulah yang selalu saya khawatirkan."
Siti Maryam tersenyum tipis.
"Laki-laki itu sering terlihat kuat."
"Padahal belum tentu."
Kalimat itu menggantung sesaat di udara.
Kemudian perempuan itu menggeleng pelan.
"Maaf."
"Saya malah banyak bercerita."
"Tidak apa-apa."
"Kadang bercerita memang membantu."
Siti Maryam mengangguk.
Lalu akhirnya menyampaikan tujuan kedatangannya.
"Dokter Adzra..."
"...kalau tidak merepotkan..."
"...bolehkah saya sesekali berobat ke sini?"
Adzra sempat berkedip beberapa kali.
Permintaan itu jauh lebih sederhana dari yang ia bayangkan.
"Tentu boleh, Bu."
"Saya justru senang jika Ibu rutin kontrol."
Wajah Siti Maryam langsung terlihat lega.
"Benarkah?"
"Tentu."
"Kondisi kesehatan Ibu memang lebih baik, tetapi tetap perlu dipantau."
"Kalau begitu saya tenang."
Perempuan itu tersenyum hangat.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
***
Beberapa menit kemudian, pembicaraan mereka berakhir.
Siti Maryam berdiri perlahan dari kursinya.
Adzra ikut berdiri untuk mengantarnya keluar.
Namun baru dua langkah berjalan menuju pintu...
Perempuan itu mendadak menghentikan langkah.
Tangannya bergerak mencari pegangan.
Tubuhnya sedikit oleng.
"Ibu!"
Adzra refleks bergerak cepat.
Tangannya menahan lengan Siti Maryam sebelum perempuan itu kehilangan keseimbangan.
Di saat yang hampir bersamaan, pintu ruang konsultasi terbuka.
"Ummi!"
Ghazi yang sejak tadi menunggu di luar langsung masuk.
Wajahnya berubah tegang.
"Ummi tidak apa-apa?"
"Saya..."
Siti Maryam memegang pelipisnya.
"Kepala saya sedikit pusing."
Adzra segera kembali menjadi dokter.
"Silakan duduk dulu, Bu."
Ghazi membantu ibunya duduk di kursi pemeriksaan.
Sementara Adzra dengan cepat mengambil tensimeter.
"Sejak kapan pusingnya?"
"Tadi tidak terlalu terasa."
"Tapi saat berdiri mendadak agak berkunang-kunang."
Adzra mulai memeriksa tekanan darahnya.
Ghazi berdiri di samping kursi.
Tidak mengganggu.
Tetapi jelas terlihat cemas.
Beberapa detik kemudian, hasil pemeriksaan keluar.
Adzra menatap angkanya.
Lalu mengembuskan napas lega.
"Tekanan darahnya sedikit turun."
"Mungkin karena kelelahan dan belum cukup minum."
Ghazi langsung bertanya,
"Perlu ke rumah sakit?"
"Tidak."
"Untuk saat ini tidak."
"Tapi Ibu harus istirahat."
Adzra kemudian menoleh kepada Siti Maryam.
"Hari ini jangan banyak aktivitas dulu."
"Setelah sampai rumah, makan yang cukup dan perbanyak minum."
"Baik, Dok."
Siti Maryam tersenyum malu.
"Sepertinya saya membuat semua orang panik."
Ghazi menghela napas.
"Ummi memang membuat Ghazi panik."
Perempuan itu tertawa kecil.
"Maaf."
Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan, suasana terasa lebih ringan.
Adzra memperhatikan interaksi ibu dan anak itu dalam diam.
Ada sesuatu yang hangat di sana.
Sesuatu yang sederhana.
Namun tulus.
Dan entah mengapa...
Untuk sesaat, ia melihat sisi Ghazi yang jarang diperlihatkan kepada orang lain.
Bukan sebagai pemilik perusahaan.
Bukan sebagai pemimpin.
Melainkan hanya seorang anak laki-laki yang sangat menyayangi ibunya.
Sementara Ghazi sama sekali tidak menyadari tatapan itu.
Perhatiannya hanya tertuju kepada satu hal.
Memastikan ibunya benar-benar baik-baik saja.
— Bersambung —
Selamat membaca!!!
Jangan lupa berikan ulasan yang baik ya, dan tinggalkan jejak dengan like, komen novel ini. Bantuan kecil ini menjadi penyemangat othor. Thank you all.
Jangan lupa follow Instagram dan tiktok othor: @Duyung_Indahyani123