NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Pelakor / Kelahiran kembali menjadi kuat / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.

Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Tepuk tangan menggema memenuhi ballroom ketika keluarga Wijaya melangkah masuk. Pak Wijaya dan Bu Wijaya berjalan di depan, sementara Karin mengikuti di samping ibunya dengan langkah anggun. Gaun hijau zamrud yang dikenakannya membuat banyak tamu spontan menoleh. Senyum dan bisikan kagum mulai terdengar dari berbagai sudut ruangan.

"Itu Putri Wijaya?"

"Baru kali ini aku melihatnya secara langsung."

"Benar-benar anggun."

Di sisi lain ballroom, wajah Dimas membeku. Bu Ratna yang berdiri di sampingnya langsung mengepalkan tangan, sedangkan senyum Vina perlahan menghilang.

"Bagaimana dia bisa datang?" bisik Vina panik.

Bu Ratna menggeleng pelan. "Ibu juga tidak tahu."

Dimas menarik napas panjang, lalu berjalan menghampiri keluarga Wijaya. Sebagai menantu, ia tidak mungkin mengabaikan kedatangan mereka.

"Selamat malam, Ayah. Selamat malam, Ibu."

Bu Wijaya tersenyum tipis.

"Selamat malam, Dimas."

Pak Wijaya hanya menganggukkan kepala.

"Malam."

Dimas kemudian menoleh ke arah Karin.

"Karin..."

Namun Karin sama sekali tidak membalas sapaan itu. Ia tetap berdiri tenang di samping kedua orang tuanya, seolah menunggu apa yang akan terjadi.

Pak Wijaya menatap Dimas dengan sorot mata tajam.

"Ayah cukup heran melihatmu malam ini."

Dimas mengernyit.

"Heran kenapa, Ayah?"

Pak Wijaya menjawab dengan tenang.

"Setahuku, seorang suami menghadiri acara resmi bersama istrinya. Tapi malam ini putriku justru datang bersama kami."

Dimas memaksakan senyum.

"Sebenarnya saya berniat mengajak, Karin. Tapi Karin sepertinya sedang tidak enak badan."

Pak Wijaya menggeleng pelan.

"Kalau memang begitu, kenapa Karin harus meneleponku dan memintaku datang menemaninya?"

Ucapan itu membuat wajah Dimas berubah kaku. Beberapa tamu yang berada di dekat mereka mulai menghentikan percakapan dan diam-diam memperhatikan.

Pak Wijaya melanjutkan dengan nada tetap tenang.

"Dimas, aku mempercayakan putriku kepadamu karena aku yakin kamu mampu membahagiakannya. Jangan sampai kepercayaan itu berubah menjadi penyesalan."

Suasana mendadak hening. Bu Ratna buru-buru maju dengan senyum yang dipaksakan.

"Pak Wijaya, sepertinya hanya terjadi kesalahpahaman. Setelah acara selesai, kita bisa membicarakannya baik-baik."

Pak Wijaya menoleh kepadanya.

"Saya juga berharap begitu, Bu Ratna. Tapi satu hal yang perlu Anda ingat. Putri saya bukan perempuan yang pantas diabaikan."

Kalimat itu membuat Bu Ratna kehilangan senyum. Di sampingnya, Vina menundukkan kepala sambil mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak menyangka malam yang seharusnya menjadi kesempatannya tampil di sisi Dimas justru berubah menjadi panggung bagi Karin.

Karin tersenyum tipis, lalu menatap ayahnya dengan lembut.

"Sudahlah, Ayah. Jangan sampai persoalan seperti ini merusak suasana. Bukankah malam ini kita datang untuk menghadiri acara amal? Biarkan saja mereka menikmati acaranya."

Pak Wijaya menoleh kepada putrinya. Raut wajahnya yang semula dingin perlahan melunak.

"Kamu yakin?"

Karin mengangguk pelan.

"Aku baik-baik saja, Ayah. Masih banyak waktu untuk membicarakan hal lain. Malam ini, aku hanya ingin mendukung acara yang diselenggarakan yayasan."

Pak Wijaya menghela napas pelan sebelum akhirnya mengangguk.

"Baik. Ayah menghargai keputusanmu."

Mendengar itu, Dimas diam-diam mengembuskan napas lega. Namun ia tidak menyadari, ketenangan Karin malam itu bukan karena mengalah.

Pak Wijaya kemudian menoleh kepada beberapa relasi bisnis yang sejak tadi menunggu untuk menyapanya.

"Permisi sebentar. Ada beberapa tamu yang harus kami temui."

Bu Wijaya mengangguk.

"Karin, Ibu tinggal dulu. Nanti kita bertemu lagi."

"Baik, Bu."

Pak Wijaya dan Bu Wijaya pun berjalan meninggalkan mereka. Beberapa pengusaha besar langsung menghampiri pasangan itu untuk berbincang dan berjabat tangan.

Kini, hanya Karin dan Dimas yang berdiri saling berhadapan. Suasana di antara keduanya terasa canggung. Bu Ratna dan Vina berdiri sedikit jauh dari mereka.

Dimas memastikan tidak ada orang yang cukup dekat untuk mendengar percakapan mereka. Ia kemudian melangkah mendekat dan berbicara dengan suara pelan.

"Sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan, Karin?"

Karin menoleh dengan tenang.

"Maksudmu?"

"Jangan pura-pura tidak tahu." Tatapan Dimas mulai menajam. "Kamu sengaja datang ke sini bersama Ayah dan Ibu, bukan?"

Karin tersenyum tipis.

"Aku hanya datang menghadiri acara amal."

"Karin." Nada suara Dimas semakin rendah. "Kamu tahu yang sedang aku maksud."

Karin menatap lurus ke dalam mata suaminya.

"Kalau memang tahu, kenapa kamu masih bertanya?"

Rahang Dimas mengeras.

"Kamu ingin mempermalukanku di depan semua orang?"

Karin terkekeh pelan, tetapi matanya tetap dingin.

"Mempermalukanmu?" tanya Karin. "Aku bahkan belum melakukan apa pun."

"Kamu datang tanpa memberi tahuku dulu. Kamu malah datang bersama keluargamu. Dan sekarang semua orang memperhatikan kita." Dimas mengertakkan rahangnya. "Kamu sengaja melakukan semua ini, ya?"

Karin menatapnya tanpa sedikit pun gentar.

"Aku sengaja?"

Ia tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

"Yang sengaja itu bukan aku, Dimas. Kamulah yang sengaja tidak mengajakku."

Dimas terdiam.

"Tadi pagi, di rumah, kamu dan Ibumu mengatakan hanya akan menghadiri pertemuan kecil yayasan. Kalian membuatku percaya kalau acara itu tidak penting."

Karin melirik sekilas ke arah Vina yang berdiri tidak jauh dari mereka.

"Tapi sekarang aku melihat sendiri, kamu, Ibumu, dan selingkuhanmu justru datang ke acara amal sebesar ini."

Suara Karin tetap pelan, cukup untuk didengar Dimas, tetapi setiap katanya membuat wajah pria itu semakin tegang.

"Lalu sekarang kamu bertanya kenapa aku ada di sini? Bukankah seharusnya aku yang bertanya... kenapa kalian berbohong kepadaku?"

Dimas mengepalkan kedua tangannya.

"Karin, turunkan suaramu."

Karin tersenyum tipis.

"Tenang saja. Aku bahkan belum berniat mempermalukanmu. Aku hanya ingin mendengar penjelasanmu. Kenapa istrimu sendiri harus dibohongi, sementara perempuan lain justru kamu ajak menghadiri acara sebesar ini?"

Dimas mengembuskan napas panjang. Ia melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada tamu yang mendengar percakapan mereka.

"Kamu salah paham."

"Salah paham yang mana?"

"Kehadiran Vina hanya untuk menemani Ibu."

Karin terkekeh pelan.

"Benarkah?"

"Iya."

"Kalau hanya menemani Ibu, kenapa namanya yang didaftarkan sebagai pendampingmu?"

Wajah Dimas langsung berubah.

"Kamu tahu dari mana?"

Karin tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Dimas dengan senyum yang sulit diartikan.

"Jadi itu benar."

Dimas baru menyadari dirinya telah terpancing.

"Karin, dengarkan dulu penjelasanku."

"Aku sedang mendengarkan. Tapi sampai sekarang, yang kudengar hanya alasan."

Dimas mulai kehilangan kesabaran.

"Aku melakukan semua ini supaya tidak terjadi keributan."

Karin mengangguk pelan.

"Keributan?"

"Iya. Kalau kamu ikut, aku khawatir kamu dan Vina akan bertengkar di acara ini."

Karin tertawa pelan. Tawanya singkat, tetapi cukup membuat Dimas semakin tidak nyaman.

"Kamu menyembunyikan acara ini dariku, lalu sekarang mengatakan semua itu dilakukan demi menghindari keributan." Tatapan Karin berubah dingin. "Dimas, keributan bukan terjadi karena aku ikut datang. Keributan terjadi karena kamu memilih membawa wanita lain ke tempat yang seharusnya dihadiri oleh istrimu."

Dimas terdiam. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar tidak memiliki jawaban.

Saat itulah terdengar suara langkah kaki mendekat.

"Mas Dimas."

Vina berjalan menghampiri dengan senyum yang dipaksakan. Ia melirik Karin sekilas, lalu kembali menatap Dimas.

"Panitia bilang sebentar lagi sesi foto bersama para donatur akan dimulai."

Dimas mengangguk singkat.

"Iya."

Vina kemudian menoleh kepada Karin.

"Kak Karin... syukurlah Kakak jadi datang. Tadi aku sempat khawatir karena kata Ibu, Kakak kurang enak badan."

Karin menatap Vina beberapa detik sebelum tersenyum tipis.

"Begitu?"

"Iya."

"Kalau begitu, nanti setelah acara selesai, kita tanyakan saja langsung kepada Ibu. Aku juga penasaran, sejak kapan aku sakit sampai-sampai tidak mengetahuinya sendiri."

Senyum di wajah Vina langsung membeku. Ia tidak menyangka Karin akan membalas dengan tenang, tetapi justru membuat kebohongan mereka terdengar begitu jelas.

Dimas memijat pelipisnya pelan. Ia mulai sadar. Malam ini bukan lagi tentang menghadiri acara amal. Melainkan tentang bagaimana mempertahankan kebohongan yang satu per satu mulai terbongkar.

1
Thewie
sikarin kayak jadi bodoh. keluar dr rmh itu kenapa. bawa smua berkas2 penting. ini pake acara belanja belanja . bodoh bodoh
Irma
puas banget 🤣🤣🤣 lanjut Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!