Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.
Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Suami Menghilang
Amaia mempercepat langkah, sedikit lagi akan sampai di pintu utama rumah Tedjakusuma. Hatinya sudah teriris-iris sejak terbang dengan pesawat menuju Indonesia. Tujuannya tidak langsung ke rumah sang ibu, tetapi rumah keluarga Rakha untuk meminta penjelasan.
Pintu utama rumah keluarga Tedjakusuma menjeblak ketika Amaia mendorong dari luar. Pasang demi pasang mata yang berada di ruang tengah langsung tertuju ke arahnya. Untung tamu Sasti tidak terlalu banyak sore itu.
“Amaia?” Sasti terkesiap dan meletakkan gelas minumannya ke meja. "Ada apa ini? Kenapa kamu di sini? Bukannya kamu di Jepang?"
"Di mana Kak Rakha, Tante?" tanya Amaia.
Sorot heran terlihat di binar mata Sasti. Sebelum menjadi ramai, ia menarik Amaia keluar menuju lorong yang menghubungkan dengan halaman belakang rumah. "Apa yang kamu bicarakan? Rakha pergi bersama kamu." Sasti melanjutkan begitu mereka menjauh dari para tamu.
"Tante, Kak Rakha ...."
Kalimat Amaia tertahan seiring tenggorokan dan matanya yang terasa sakit. Mendadak lehernya tercekat. Melihat Amaia tak bisa bekata-kata, Sasti refleks memeluknya. Dalam pelukan itu Amaia akhirnya pasrah, air matanya kembali berlinang membasahi pipi.
"Kak Rakha ... aku nggak ngerti, Tante. Aku udah coba hubungi dia, tapi nomornya nggak aktif."
"Duduk dulu dan ceritakan ke Tante," kata Sasti meminta Amaia duduk di bangku kayu yang tersedia di lorong.
Walapun agak ragu, Amaia mulai bercerita. Rasanya seperti menghujam kembali belati tajam saat menceritakan kejahatan Rakha pagi tadi; meninggalkan Amaia dengan sepucuk surat pembatalan rencana pernikahan.
"Ya Tuhan ...." Sasti kehabisan kata-kata, mengelus punggung Amaia dengan pelan. "Apa yang anak itu lakukan?"
"Tolong, kalau Tante tau di mana Kak Rakha, tolong kasih tau aku. Aku nggak bisa menghubungi dia. Ini ... aku nggak ngerti, aku butuh penjelasan dan alasan dia melakukan semua ini. Tante tau aku sangat mencintainya. Aku nggak mau ...."
Kalimat Amaia tertahan saat Sasti membawanya ke dalam pelukan. "Iya, Tante mengerti. Tante akan coba menghubungi dia. Sekarang kamu ke atas dan istirahat dulu. Penerbangan kamu cukup lama dan kamu pasti lelah."
"Aku pulang aja, Tante. Tapi, tolong kabari aku kalau Kak Rakha pulang," ucap Amaia sembari melepas pelukan.
"Iya. Tante juga nggak paham kenapa Rakha seperti ini dan Tante jelas akan memarahinya begitu dia muncul," ujar Sasti, "Tante minta maaf, ya. Tante benar-benar gagal mendidik Rakha."
Tanpa Amaia ketahui, Sasti memasang wajah tanpa ekspresi saat memeluknya. Sementara itu, sepasang mata Denara memperhatikan mereka sejak tadi dari balik pilar lebar di dekat pintu yang terhubung dengan dapur.
—oOo—
"Batal?!" Atika sangat terkejut begitu mendengar penuturan sang putri.
Amaia tiba-tiba pulang dalam keadaan yang sangat berantakan; sepasang matanya sembab, bibirnya agak pucat, sorot matanya kosong, dan langkahnya lunglai. Melihat kondisi sang anak Atika langsung meraih Amaia ke dalam pelukan. Lantas membawanya ke kamar dan membantunya bebaring. Begitu agak tenang, Amaia mulai bercerita tentang kejadian yang menimpanya.
"Apa maksudnya, Mai? Apa kamu dan Rakha bertengkar hebat?" Atika bertanya lagi.
"Kami baik-baik aja di malam sebelumnya. Aku nggak ngerti kenapa Kak Rakha seperti ini."
Amaia merapatkan tubuh, memeluk lututnya sendiri. Masih terasa sisa kenangan semalam yang menusuk-nusuk perasaan. Nyeri ketika mengingat Rakha menciumnya, tetapi dalam sekejap semuanya berubah. Pikiran Amaia terasa penuh, teringat kembali tentang liburan mereka.
"Di mana Rakha sekarang?" tanya Atika.
"Aku nggak tau. Kak Rakha menghilang. Ponselnya nggak aktif dan dia nggak ada di rumah Tante Sasti," kata Amaia.
"Ya Tuhan! Amaia, kenapa bisa seperti ini?"
"Mana aku tau! Aku juga nggak tau kenapa aku dibuang kayak gini. Mama pikir aku mau semuanya seperti ini? Aku mencintai Kak Rakha! Aku nggak pernah sekalipun ingin bertengkar dengannya. Aku nggak ngerti kenapa dia ...."
Kalimat Amaia tertahan, mendadak teringat Rakha berbicara dengan seseorang saat acara makan malam keluarga Tedjakusuma. Mungkinkah Rakha berbicara dengan seorang wanita? Apa dia berselingkuh?
Kamu nggak punya wanita lain, kan, Kak?
Siapa yang menyangka malam yang begitu bahagia besoknya berakhir menyakitkan? Sejak kapan Rakha merencanakan pembatalan pernikahan itu? Apa dia sudah lama ingin mencampakkannya? Memangnya apa salah Amaia?
Perasaan Amaia kembali nyeri, teriris-iris oleh luka yang diberikan Rakha. Mendadak saja Rakha Tedjakusuma menjelma iblis paling jahat yang pernah Amaia kenal.
"Ma, apa mungkin Kak Rakha udah merencanakan ...." Kalimat Amaia tertahan. Ia menarik diri dari pelukan sang ibu.
"Ada apa, Mai?" tanya Atika.
Sepasang mata Amaia berubah diselimuti kemarahan. Ia bangkit dari kasur, meraih jaket dan merampas kunci mobil. Melihat putrinya mendadak mendapatkan energi lagi, Atika mengejarnya.
"Mau ke mana kamu? Jangan nekat menyetir dalam kondisi seperti ini," kata Atika mencegahnya.
Namun, Amaia tidak mendengarkan sang ibu. Bahkan Atika tak bisa mencegah meski dibantu oleh seorang pembantu untuk menahan Amaia. Mobil Atika yang dikendarai oleh Amaia melaju membelah jalanan ibu kota yang ramai. Ia menginjak gas, menyalip mobil dan truk-truk besar di jalan yang tidak terlalu padat.
Sekitar tiga puluh menit berkendara, Amaia tiba di sana; di kediaman lama Widitama.
"Pak Widi sedang sibuk," kata seorang pembantu yang menyambutnya. "Anda tidak bisa masuk sembarangan."
"Minggir!" sergah Amaia.
"Maaf, Non Amaia, Anda nggak bisa ...."
"Biarkan." Suara Widitama terdengar dari balkon lantai dua. Pria itu berdiri di sana seraya menautkan tangan ke belakang tubuh. Untung saja pria itu ada di rumah.
Melihat Widitama tersenyum ramah, Amaia ingin sekali menghajar wajahnya. Ia tampak santai, seolah-olah tahu Amaia akan datang. Amaia bergegas naik ke lantai dua, menuju ruangan Widitama setelah si pemilik masuk ke sana.
Pintu terbuka lebar, Amaia mengamati Widitama dengan tatapan yang penuh percikan api murka. Langkahnya cepat mendekati sang calon kakak ipar yang berdiri di depan balkon.
"Kamu tau sesuatu, kan, Mas? Apa ini ulah kamu?!" teriak Amaia.
"Apa-apaan ini? Datang tanpa permisi, lalu menuduh seenaknya. Saya nggak paham apa yang kamu bicarakan, Amaia."
"Hari itu kamu bilang ada kejutan besar. Lalu sekarang semua ini terjadi. Mas pasti tau sesuatu!" Amaia menjerit seperti manusia kesetanan.
Meski begitu Widitama tampak santai. Pria beralis rapi itu bergerak ke sofa dekat meja kerjanya, duduk di sana dengan kaki kanan yang dinaikkan ke paha kiri. Sorot matanya lekat menatap Amaia yang masih berapi-api.
"Apa yang kamu katakan sampai-sampai Kak Rakha membuat keputusan seperti ini? Kamu pasti tau sesuatu, Mas Widi," imbuh Amaia.
"Dengar, pertama saya nggak mengerti kamu membicarakan apa? Memangnya apa yang terjadi antara kamu dan Rakha? Kedua, saya nggak pernah bicara dengannya. Ketiga, saya nggak pernah ikut campur hubungan kamu dan Rakha."
"Tapi, kamu aneh!" Amaia berseru lagi. Ia mendekati Widitama, berdiri di dekat kaki sofa sehingga pria itu mendongak padanya. "Kamu pasti tau sesuatu, makanya kamu membicarakan hal gila seperti hari itu. Sekarang Kak Rakha menghilang dan menbatalkan rencana pernikahan kami!"
Widitama berdiri dan menampilkan senyum yang begitu singkat. Diraihnya kedua bahu Amaia. Meski sempat memberontak karena tak mau disentuh, akhirnya perempuan itu diam.
"Kalau kamu bisa tenang, saya akan memberitahu hal yang lebih penting dari tuduhan kamu ke saya," ucapnya. Sepasang mata Widitama menatap Amaia lekat-lekat. "Apa kamu mau menenangkan diri dulu?"
"Jangan mengulur waktu dan katakan saja!"
"Kalau kamu nggak tenang, saya akan diam."
"Mas?!"
Tak tahan oleh teriakan Amaia, Widitama menarik dan menggenggam erat pergelangan kirinya. Amaia tersentak, memberontak meski tak bisa lepas karena pegangan Widitama lebih kuat. Melihat tatapan Widitama yang berubah tanpa ekspresi, Amaia sedikit ketakutan.
"Terima saja pembatalan pernikahan itu dan menikah dengan saya. Tawaran saya masih berlaku, Mai Kecil," bisik Widitama.
Amaia mengangkat tangan kanan, mendaratkan satu tamparan kasar ke pipi Widitama. "Kamu pasti tau sesuatu, kan? Makanya kamu bicara seenaknya terus, Mas."
Bhanuaka menyeringai seraya mengusap pipinya yang sedikit panas oleh tamparan Amaia. "Kamu salah orang, Amaia. Kalaupun saya tau, saya nggak akan memberitahu apa pun ke kamu sampai kamu sendiri yang merangkak dan memohon agar saya menceritakannya." Widitama melepas kasar lengan Amaia, lalu bergegas keluar dari ruangan itu.