NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20: Pergolakan di Balik Meja

Lantai lima belas Menara Thamrin masih sedingin biasanya saat Andreas melangkah masuk ke ruang kerjanya pada Jumat pagi.

Ruangan berlantai parket jati dengan pemandangan langsung ke Bundaran Hotel Indonesia itu adalah simbol harga diri yang baru ia bangun.

Sambil membawa secangkir kopi hitam tanpa gula, ia menghempaskan tubuhnya ke kursi kulit, bersiap memeriksa laporan berkala yang dikirim dari berbagai sektor proyek jalan tol PT Santoso Karya.

Namun, ketenangannya terusik saat matanya tertumbuk pada sebuah amplop cokelat tebal yang diletakkan tepat di tengah meja kacanya.

Di sudut kiri atas amplop tersebut tertulis nama pengirim dengan huruf cetak yang tegas: Doni Salman – Operasional Logistik Sektor Utara.

Andreas mendengus pelan, seulas senyuman meremehkan muncul di wajah klimisnya.

"Baru tiga hari kerja di lapangan, anak gudang ini sudah berani mengirim laporan khusus."

"Paling-paling isinya keluhan soal truk mogok atau permintaan tambahan dana operasional karena dicekik preman pelabuhan,"

gumamnya sinis.

Ia merobek ujung amplop itu dengan pemotong kertas perak, lalu menarik keluar selembar kertas memo dan lampiran tabel laporan keuangan harian yang dicetak rapi.

Andreas menyandarkan punggungnya, bersiap membaca kalimat-kalimat keluhan yang ia harapkan.

Namun, baru saja matanya membaca baris ketiga dari tabel rangkuman biaya operasional, tubuh Andreas seketika menegak kaku.

Cangkir kopi yang dipegangnya bergetar tipis, hampir membuat cairannya tumpah ke atas meja kaca mahal tersebut.

Sepasang matanya melebar, bergerak naik-turun dengan kecepatan penuh menyusuri deretan angka digital di atas kertas putih itu.

LAPORAN REALISASI ANGGARAN DISTRIBUSI SEKTOR UTARA (HARI 1 - HARI 3)

• Rute Utama Pelabuhan: Dinonaktifkan (Efisiensi Pungutan Liar: 100%)

• Rute Alternatif (Jalur Timur Beton): Aktif

• Waktu Tempuh Rata-Rata: 35 Menit (Sebelumnya 120 Menit)

• Total Pemotongan Anggaran Berjalan: 24,8%

• Status Pengiriman Material: Zero-Delay (Semen & Besi Baja)

"Dua puluh empat koma delapan persen...?"

suara Andreas tercekat di tenggorokan, berubah menjadi bisikan yang serak. Tangannya yang memegang kertas mulai terasa dingin.

"Bagaimana mungkin? Ini tidak masuk akal!

"Jalur utara itu lubang hitam anggaran!"

"Bagaimana bisa anak ini memotong hampir seperempat biaya logistik hanya dalam tiga hari?!"

Andreas langsung meraih gagang telepon kabel di mejanya, menekan nomor ekstensi tim keuangan dengan terburu-buru.

"Halo? Periksa laporan arus kas dari Sektor Utara sekarang juga!"

"Apakah angka penghematan dua puluh empat persen itu riil atau manipulasi dokumen?!"

"Sekarang!" bentaknya tanpa memedulikan kesopanan korporat.

Tiga menit menunggu terasa bagai tiga tahun bagi Andreas.

Ketika suara gemetar dari kepala bagian keuangan mengonfirmasi bahwa seluruh nota bensin, slip timbangan besi, dan biaya operasional yang keluar dari

Sektor Utara memang turun secara drastis tanpa ada satu pun laporan denda keterlambatan vendor, Andreas perlahan meletakkan gagang teleponnya kembali.

Wajahnya yang biasanya dipenuhi rasa percaya diri kini tampak sedikit pucat.

Ketakutan terbesar Andreas bukan terletak pada uang yang berhasil dihemat, melainkan pada implikasi hukum dari kontrak yang baru ditandatangani di atas kertas segel dua hari lalu.

Jika Doni Salman berhasil mempertahankan performa gila ini hingga hari ke-sembilan puluh, maka dua persen opsi saham kosong PT Santoso Karya akan aktif secara hukum.

Doni akan resmi menjadi salah satu pemilik saham di perusahaan keluarga calon mertuanya sebuah pencapaian gila bagi seorang mantan buruh gudang pudar yang tidak memiliki modal sepeser pun.

"Sialan!"

"Anak itu menyembunyikan sesuatu dariku!"

Andreas bangkit dari kursinya, berjalan mondar-mandir di balik meja kacanya dengan napas yang memburu.

Otaknya yang licik mulai berputar mencari celah.

Ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi memandang Doni sebagai pion murah yang bisa ia manfaatkan untuk menaikkan reputasinya di hadapan Devan Santoso.

Doni Salman telah berubah menjadi ancaman nyata yang sedang merayap masuk ke dalam benteng kekuasaannya.

Tanpa membuang waktu, Andreas menyambar map dokumen tersebut, melangkah keluar dari ruangannya dengan tergesa-gesa, dan menuju ke ujung koridor tempat ruang kerja Direktur Utama berada.

Ia harus melaporkan anomali ini kepada Devan Santoso sebelum Doni memperkuat cengkeramannya di lapangan.

Sementara itu, di saat yang sama di dalam bilik sebuah taksi yang sedang membelah kemacetan jalan layang menuju pinggiran kota Tangerang,

Doni Salman duduk tenang sambil menatap layar telepon seluler lamanya.

Sebuah pesan singkat masuk dari Joko, mengonfirmasi bahwa suasana di gerbang pelabuhan utara pagi ini bersih total dari preman pasca-penggerebekan polisi kemarin siang.

Doni menutup ponselnya, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap deretan ruko dan pusat perbelanjaan yang mulai ramai.

Hari ini adalah hari Jumat, dan fokus kepalanya sudah beralih dari urusan kepailitan keluarga Santoso.

Ia sedang menuju ke pabrik garmen tempat Zahra bekerja.

Ia telah berjanji untuk menjemput wanita itu di akhir pekan ini, membawa belahan jiwanya menikmati makan malam sederhana yang jauh dari intrik busuk dunia korporat.

Bagi Doni Salman, guncangan ketakutan yang saat ini sedang melanda Andreas di Menara Thamrin hanyalah riak kecil dari skenario besar yang telah ia tulis.

Umpan telah ditelan, ketakutan musuh telah dipicu, dan sang singa kini sedang melangkah dengan santai untuk menemui ratunya, meninggalkan para ular yang mulai saling mencurigai di dalam sangkar emas mereka sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!