"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 (Badai di atas singgasana)
Kilatan lampu kilat dari kamera para wartawan sudah mengintai bahkan sebelum mobil Rolls-Royce hitam milik Mike menyentuh lobi utama gedung Raharja Group. Berita utama di seluruh stasiun televisi swasta dan portal media digital nasional sejak dua jam lalu hanya menayangkan satu hal: dokumen medis asli sang CEO muda yang membuktikan dirinya tidak mandul, serta bocornya draf kontrak pernikahan fiktifnya dengan Anita. Jagat maya gempar. Reputasi Raharja Group yang dikenal bersih dan penuh integritas mendadak diguncang isu manipulasi publik terbesar abad ini. Saham perusahaan bahkan terus merosot hingga menyentuh angka minus lima belas persen di papan bursa efek Jakarta.
Di kursi belakang mobil, Alisha memegangi jemarinya yang gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi, matanya tidak berani menatap keluar jendela di mana puluhan jurnalis sedang berdesakan dengan mikrofon di tangan mereka, siap mencecar dengan pertanyaan-pertanyaan yang menghancurkan.
Di sampingnya, Mike duduk dengan keheningan yang mengerikan. Rahangnya mengatup rapat, gurat-gurat urat kemarahan tercetak jelas di pelipis dan tangan kanannya yang mencengkeram erat ponsel pintar miliknya. Namun, begitu ia menyadari ketakutan yang menjalar di tubuh Alisha, Mike melonggarkan cengkeramannya. Ia menarik napas panjang, lalu mengulurkan tangannya yang besar untuk membungkus jemari Alisha yang dingin.
"Jangan melihat ke luar, Alisha," suara bariton Mike terdengar begitu rendah namun penuh dengan otoritas yang menenangkan. "Cukup tatap mataku. Selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu pun jurnalis kotor yang boleh menyentuhmu atau menyudutkanmu dengan pertanyaan mereka."
Alisha mendongak, menatap sepasang mata elang Mike. Di tengah badai yang siap meruntuhkan kerajaan bisnisnya, pria ini masih menempatkan keselamatan dirinya sebagai prioritas utama. Rasa takut di dada Alisha perlahan terkikis, digantikan oleh tekad baru yang membara. Ia teringat akan pesan Anita di *rooftop* tempo hari: *Percayalah padanya, bahkan saat seluruh dunia meragukannya.*
"Aku tidak takut, Mike," bisik Alisha, membalas genggaman tangan suaminya dengan kekuatan penuh. "Aku bersamamu. Kita hadapi ini bersama-sama."
Mike menyunggingkan senyuman tipis—sebuah senyuman tipis penuh kebanggaan yang langka. Mobil akhirnya berhenti. Pintu mobil dibuka dengan sigap oleh barisan pengawal ketat berpakaian hitam yang dipimpin langsung oleh Kevin. Mereka membuat barikade hidup, menghalau puluhan wartawan yang merangsek maju bagai kawanan serigala kelaparan. Mike turun terlebih dahulu, lalu berbalik untuk membimbing Alisha keluar, melindunginya di bawah dekapan lengannya yang kokoh saat mereka berjalan membelah kerumunan menuju lift privat perusahaan.
Ruang rapat pleno di lantai paling atas kini berubah menjadi medan perang yang sesungguhnya. Seluruh anggota dewan komisaris, perwakilan pemegang saham mayoritas, serta Paman Hardi sudah duduk mengitari meja panjang dengan ekspresi wajah yang siap mengeksekusi posisi Mike.
Begitu pintu besar ruang rapat terbuka, menampilkan kedatangan Mike dan Alisha, Paman Hardi langsung berdiri dengan senyuman kemenangan yang memuakkan terukir jelas di wajah tuanya.
"Hebat sekali, Keponakanku!" suara Hardi menggelegar di dalam ruangan, sarat akan sarkasme yang tajam. "Kamu datang dengan membawa gadis yang menjadi alasan di balik runtuhnya harga saham kita hari ini? Lihat papan bursa, Mike! Gara-gara sandiwara mandul dan pernikahan kontrak bodohmu itu, perusahaan kita kehilangan triliunan rupiah dalam hitungan jam! Apakah ini caramu memimpin warisan mendiang kakakku?!"
Mike tidak langsung menjawab. Ia menuntun Alisha untuk duduk di salah satu kursi di barisan belakang yang aman, lalu ia sendiri berjalan dengan langkah tenang dan angkuh menuju kursi kebesarannya di ujung meja rapat. Aura intimidasi yang biasa ia miliki tidak berkurang sedikit pun, justru terasa semakin pekat dan berbahaya.
"Jaga bicaramu, Paman Hardi," ucap Mike, suaranya terdengar begitu datar namun mampu membungkam seluruh gumaman sinis di dalam ruangan. Ia mengempaskan tubuhnya ke kursi, menopang dagunya dengan kesepuluh jari yang bertautan. "Fluktuasi saham adalah hal yang biasa terjadi akibat spekulasi publik. Mengatakan bahwa perusahaan runtuh hanya karena masalah pribadiku adalah bukti betapa dangkalnya analisis bisnismu selama menjabat sebagai komisaris."
"Masalah pribadi?!" seorang komisaris senior dari kubu Hardi ikut menggebrak meja. "Kamu menipu publik, Mike! Kamu memalsukan dokumen medis dan menggunakan pernikahan kontrak untuk memanipulasi keputusan Kakek Surya mengenai hak waris utama! Ini adalah pelanggaran kode etik berat! Kami, atas nama dewan komisaris, memiliki hak penuh untuk menjatuhkan mosi tidak percaya dan mencopot jabatanmu sebagai CEO hari ini juga!"
Paman Hardi tersenyum semakin lebar, ia melemparkan selembar draf surat resmi ke tengah meja. "Tanda tangani surat pengunduran dirimu, Mike. Selamatkan sisa harga dirimu sebelum kami memproses ini secara hukum."
Alisha yang menyaksikan hal itu dari kejauhan merasa jantungnya mencelos. Tangannya mencengkeram ujung gaunnya dengan erat. Ia ingin berdiri, ingin membela Mike, namun ia tahu di dunia bisnis seperti ini, kata-kata emosional tidak akan mempan tanpa adanya bukti yang konkret.
Namun, alih-alih panik atau meraih pena untuk menandatangani surat tersebut, Mike justru menyunggingkan sebuah tawa rendah yang dingin. Tawa yang membuat bulu kuduk beberapa komisaris meremang.
"Mencopot jabatanku?" Mike menaikkan sebelah alisnya, menatap Hardi dengan pandangan meremehkan seolah paman kandungnya itu hanyalah seekor serangga kecil. "Paman, apakah kamu benar-benar berpikir aku akan membiarkan dokumen medis aslimu yang tersimpan rapat di rumah sakit Singapura bocor begitu saja jika aku tidak mengizinkannya?"
Pertanyaan Mike seketika membuat senyuman di wajah Hardi membeku. "Apa... apa maksudmu?"
Mike menjentikkan jarinya ke arah pintu. Detik berikutnya, Alvin melangkah masuk ke dalam ruang rapat, diikuti oleh Anita yang mengenakan setelan blazer formal berwarna merah marun yang menyala. Di tangan Alvin, terdapat sebuah proyektor jinjing yang langsung dihubungkan ke layar besar di ruang rapat.
"Silakan dinikmati, para Tuan Komisaris yang terhormat," ujar Alvin dengan nada jenaka yang menyebalkan bagi kubu Hardi.
Layar besar di ruang rapat seketika menampilkan deretan data log transaksi digital, rekaman kamera pengawas rahasia di sebuah restoran mewah, hingga salinan bukti transfer bank lepas pantai senilai jutaan dolar Amerika.
"Dua minggu yang lalu, Paman Hardi secara pribadi menemui seorang peretas dan oknum staf administrasi rumah sakit di Singapura untuk membeli dokumen medismu yang asli, Mike," Anita membuka suara dengan kelantangan seorang konsultan hukum papan atas. "Dan tiga hari yang lalu, akun bank atas nama perusahaan cangkang milik Pak Hardi mengirimkan sejumlah dana besar kepada beberapa pimpinan portal media digital untuk menyebarkan berita skandal ini secara serentak pagi ini."
Anita menatap Hardi dengan senyuman dingin. "Dengan kata lain, dalang utama di balik runtuhnya harga saham Raharja Group hari ini bukan karena skandal pribadi Mike, melainkan karena aksi sabotase sengaja yang dilakukan oleh salah satu anggota dewan komisaris sendiri demi memicu kepanikan pasar dan merebut kekuasaan."
"Ini... ini fitnah! Dokumen itu palsu!" teriak Hardi dengan wajah yang mulai memerah, panik karena seluruh kedok kotornya dibongkar secara instan di depan puluhan pasang mata dewan direksi.