Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.
Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.
Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.
Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.
Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian Alya.
Suara langkah Arlan seperti tergesa, dari lantai bawah Erika memperhatikan sikap anaknya yang tidak seperti biasanya. Erika berjalan menghampirinya, namun tanggapan Arlan begitu kurang setuju dengan langkah ibunya yang mencoba menghentikannya.
"Lan, pagi seperti ini mau kemana?" tanya Erika.
Arlan mengerutkan keningnya tumben sekali ibunya bertanya aneh-aneh seperti ini. "Aku ada urusan penting Ma," sahut Arlan.
Namun Erika tidak percaya begitu saja, wanita itu seolah paham jika ada yang disembunyikan dari anaknya itu.
"Jangan bohongi Mama, kau mau kerja apa mencari perempuan itu lagi," telisik Erika.
Arlan terdiam raut wajahnya terlihat gugup, dari situlah Erika bisa menduga. "Mama sudah feeling."
"Tapi Ma," bantah Arlan.
"Jangan mau dibohongi sama mimpi itu. Mimpi itu hanya bunga tidur mana mungkin seorang yang meninggal memikirkan kehidupan di dunia, itu hanya ketakutanmu sendiri Lan," ujar Erika.
Arlan menghempaskan napas kasar, kali ini ia semakin bingung untuk melangkah, apalagi menyangkut keputusan menikahi Amara yanh terlalu cepat ia buat dan kepergian Alya yang menghantui mimpinya.
"Aku bingung Ma, setiap malam mimpi itu selalu datang," sahut Arlan mengakui.
"Itu karena kamu terlalu memikirkan tentang nenekmu dan perempuan itu, coba kamu fokus saja sama masadepanmu. Ingat sebentar lagi kamu mau menikah dan keputusanmu membawa perempuan itu lagi ke sini akan menambah masalah, lagian untuk apa dia dibawa ke sini sudah mantan pula," jelas Erika yang memang sedari dulu tidak menyetujui hubungan anaknya dengan Alya.
Arlan memijat pelipisnya yang semakin pusing. Sejak kapan ia bertingkah bodoh seperti ini. Hanya karena sebuah mimpi ia sampai-sampai mengabaikan acara pernikahannya yang tinggal menghitung hari saja. Namun percaya atau tidak semakin ia mengabaikan mimpi itu, semakin besar pula rasa bersalahnya.
Arlan memejamkan mata sejenak, mungkin semua orang menganggapnya bodoh, atau terlalu takut, tapi tanpa mereka sadari ia memang ada di fase merasa tertekan dan dihantui oleh mimpi itu, bahkan sangking tidak bisa tidur dengan nyenyak pria itu mengonsumsi obat penenang.
"Sudah Ma, jangan cegah Arlan, mungkin Arlan tidak akan menikahi Alya lagi, karena fokus Arlan hanya pada Amara, tapi Arlan hanya mau Alya tinggal di rumah ini seperti keinginan Nenek, kita tidak boleh membuangnya begitu saja," bantah Arlan.
Ucapan itu sontak memancing amarah Erika. "Apa maksudnya, tinggal di sini?" sinis Erika. "Enggak... Mama gak sudi satu atap lagi dengan perempuan itu," tolaknya mentah-mentah.
"Mau Mama setuju atau enggak Arlan tetap mencari Alya," pungkasnya lalu memilih pergi meninggalkan ibunya.
Erika mendengus kesal ia sedikit mengacak rambutnya yang sudah di tata rapih, entah makhluk apa yang memasuki tubuh anaknya itu hingga dia begitu keras kepala dan percaya dengan sebuah mimpi yang menurutnya aneh.
"Dasar bodoh!" umpatnya kesal.
Seketika tatapan Erika penuh telisik, wanita paruh baya itu mulai keinget dengan wajah polos Alya. "Oh jangan-jangan perempuan kampung itu guna-guna anakku, bayangkan saja setelah ia pergi Arlan mendadak seperti ini, awas saja!" ancamnya pada seseorang yang bahkan tidak tahu menahu tentang masalah ini.
☘️☘️☘️☘️☘️
Mobil Arlan melaju dengan kecepatan tinggi, sejak perdebatan tadi waktunya sedikit terlambat, bahkan anak buahnya sudah meneleponnya beberapa kali.
"Pak tolong tambah lajunya," pinta Arlan pada sopirnya.
"Ini sudah mentok Tuan," sahut sopir itu.
Arlan pun memijat pelipisnya yang terasa pusing akibat beban yang ia pikul saat ini. Tidak semua orang memahami tentang pikiran dan juga isi hatinya, tapi entah kenapa dalam mimpi itu wajah Nek Ratih nampak nyata, entah pesan apa yang tersimpan dibalik semua ini.
Setelah dua jam menempuh jalur darat akhirnya Arlan sampai ke kota yang ditinggali oleh Alya, sudut bibirnya terangkat. Ternyata praduganya benar, Alya masih tinggal satu kota dengan panti asuhan yang dulu membesarkan perempuan itu.
Ya meskipun panti itu sudah tutup namun Arlan yakin ada tempat lain yang menaungi Alya, siapa lagi kalau bukan Eyang Cintami sahabat dari neneknya.
"Syukurlah Al, kamu masih ditolong Eyang, kalau seperti ini pencarianku tidak akan sesulit yang aku pikirkan," monolognya begitu percaya diri.
Mobil berhenti di depan toko kerajinan tangan, Arlan turun dengan langkah tegas dan wajah yang penuh dengan kepercayaan diri, tanpa berpikir jika wanita sepuh pemilik Cintami Carf begitu kecewa dengan dirinya.
Sesampainya di depan pintu utama, pria itu terlihat tegas dengan sopir dan para pengawal di belakangnya seketika tatapan para karyawan Cintami Craft mulai tertuju ke arahnya.
Namun dari banyaknya karyawan mata Arlan menelisik satu persatu tak nampak sedikitpun keberadaan Alya di tempat itu. Arlan mencoba untuk percaya. Mungkin Alya masih belum datang, atau mungkin wanita itu berada di ruang yang lain.
Dan saat salah satu karyawan mulai menghampiri, pria itu pun dengan tegas ingin bertemu dengan Eyang Cintami.
"Selamat Pagi Pak, ada yang bisa saya bantu," ujar salah satu karyawan Cintami Carf.
"Selamat pagi juga," sahut Arlan ramah. "Mbak kalau boleh tahu, apa Eyang Cintai sudah datang?" tanyanya.
"Oh Eyang, sebentar lagi beliau datang Pak," sahut karyawan itu.
Arlan pun mengangggukan kepalanya, saat karyawan itu menyuruhnya untuk duduk di kursi tamu, aroma lem tembak menyeruak, seketika ia teringat akan sosok perempuan satu itu. Tiga tahun membersamainya, bukan berarti tak ada rasa. Namun Arlan sendiri yang menolak rasa itu. Karena dihatinya sudah terisi wanita lain.
Seketika tatapannya mulai menyapu pada beberapa buket dan ia tahu persis buket mana hasil dari tangan Alya.
"Mbak," panggil Arlan.
"Iya Pak ada yang bisa saya bantu?"
"Buket di etalase dua itu sudah ada yang mesan?" tanya Arlan.
Karyawan itu mengangguk dengan cepat. "Buket itu pesanan, tapi masih belum diambil saja."
"Oh, rangkaiannya bagus dan rapi," puji Arlan.
"Iya Pak, tapi sayang yang buat sedang tidak masuk kerja dua hari ini," sahut karyawan itu.
Arlan mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
"Katanya sedan hamil mudah."
Deg!
Entah kenapa dada Arlan mendadak terguncang, padahal karyawan itu tidak menyebut nama. Seketika tatapan Arlan beralih pada buket di etalase dua itu lalu beralih lagi pada Mbak karyawan tadi.
"Mbak serius pembuat buket yang itu sedang hamil?" tanya Arlan penuh hati-hati.
Karyawan itu seolah sadar jika dirinya terlalu jauh menceritakan kepribadian seseorang. "Dengar-dengar sih begitu Pak.
Arlan pun mencoba memastikan kembali, kali ini ia memberanikan diri untuk bertanya lebih detail lagi.
"Mbak apa pembuat buket di etalase dua itu bernama Alya?
..........
Bersambung ....
Selamat pagi dan semoga suka 🥰🥰🥰🥰 tetap semangat menemani perjalanan Alya.
Sudah 20 bab gak terasa semoga saja lolos retensi ya kak 🤲🤲🤲🤲🤲