NovelToon NovelToon
Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Neng tiya

Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.

Aku nggak sengaja di sini.

Klik.

"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"

Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.

Jantungku berhenti.

Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.

Kraaak.

"Menangkap."

Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ujian kunci

Jam 3 pagi. Kunci laci masih di meja. 80cm dari jangkauan rantaiku.

Aku duduk di lantai, punggung nempel meja. Rantai 50cm dingin nusuk tulang. Tapi yang lebih dingin kepala aku yang muter terus sejak baca tulisan Bu Sari kemarin “Untuk Axel, Naga Kecilku. Love, Mama.”

Jadi bener. Bu Sari itu bibi kandungku. Kakaknya Mama Elena. Mama kandungku mati 13 tahun lalu. Aku anak Elena Pramesti Pak Pramesti.

Darahku dingin. Jadi dendam Axel ke keluarga Pramesti dendam ke Mama Papa aku. Tapi Bu Sari... Bu Sari sayang Axel. Sayang aku juga. Makanya Axel bingung sendiri.

Aku ngelirik kunci di meja Axel bilang “Kalau kau mau bukunya, curi. Itu ujian.”

Ujian apa? Ujian nurut jadi aset baik... atau ujian berani ngebuka rahasia dia?

Aku ambil sendok makan dari nampan kosong. Sendok stainless, gagangnya panjang. Pak Bara lupa beresin. Lalu aku sobek benang dari ujung selimut tipis. Iket sendok ke benang. Jadi kayak pancingan.

Tanganku gemetar. Bukan takut ketauan. Takut kalau isi buku itu... ngancurin sisa harapan aku tentang Mama Elena.

Klitik. Rantai ketarik pas aku ngulur tangan aku nahan napas. Sendok nyentuh kunci. Seret pelan. Kunci geser 1cm. 2cm.

Klek. Langkah kaki. Cepet. Berat.

Pintu kebuka. Axel masuk. Jasnya setengah kebuka, rambut berantakan. Mata merah. Dia ga tidur lagi.

Dia liat aku. Liat sendok dan benang di tanganku. Liat kunci yang udah geser 5cm ke arah aku.

Dia diem 2 detik. Rahangnya ngeras. Aku siap kena bentak. Siap dirantai lebih kenceng. Siap dihukum.

Tapi yang keluar dari mulutnya malah. “Bodoh.”

Suara serak. Bukan marah. Panik.

Axel jalan 3 langkah, langsung jongkok di depan aku. Dia nyambar pergelangan kiriku yang dirantai. Bukan kasar. Tapi cepet. Dia cek lecetnya. Kulit udah merah dan berdarah dikit karena ketarik pas aku ngulur tangan.

“Rantai ini bisa ngelukain urat kalau kau maksa,” desisnya. Napasnya berat di kupingku. “Kau mau tanganmu putus demi buku itu?”

Aku nunduk. “Saya... saya mau tau. Bu Sari itu bibi saya, kan? Tulisan ‘Mama’ itu...”

Axel motong. Dia ngelepas sendok + benang dari tanganku. Lempar ke lantai. “Brak”. Suaranya nyaring di kamar sepi.

Lalu dia ambil kunci dari meja. Kunci laci. Dia buka laci. Ambil buku resep.

Aku merem, siap buku itu disita lagi. Atau dibakar di depan aku.

Tapi Axel malah duduk di lantai. Sejajar sama aku. Jarak 30cm. Jarak paling deket sejak aku masuk mansion.

Dia buka halaman 7. Halaman “Untuk Axel, Naga Kecilku. Love, Mama.”

Jempolnya ngusap tulisan itu. Lama. Kayak orang buta ngeraba wajah orang yang dirinduin.

“Bu Sari itu bibi kau,” katanya pelan. Ga nengok. Suaranya pecah dikit. “Kakaknya Elena. Ibumu.”

Jantungku copot. Dia ngaku. Dia ngaku kalau dia tau Mama Elena ibuku.

Aku nahan tangis. “Tuan... kenal Mama Elena?”

Axel ketawa. Ketawa tanpa suara. Bahunya getar. “Kenal? Aku manggil dia Mama 7 tahun. Sampai dia nikah sama bapakmu. Sampai bapakmu...”

Kalimatnya kepotong. Dia ngepal buku itu kenceng banget sampai sampulnya penyok.

Aku berani megang ujung bajunya. Pelan. “Tuan Axel. Kalau Tuan benci Papa saya... kenapa Tuan sayang Bu Sari? Kenapa Tuan simpen buku ini?”

Axel mendongak. Matanya merah semua. Ada air di pelupuknya. Tapi ga jatuh. Naga ga nangis.

“Karena Bu Sari ga salah,” bisiknya. “Dia yang nyuapin aku pas demam. Dia yang ngajarin aku nulis nama aku sendiri. Dia yang bilang naga kecil harus kuat. Dia ga tau bapakmu bakal...”

Lagi-lagi kepotong. Dia ngelepas bajuku. Berdiri. Punggungnya ke aku lagi. Kayak kemarin.

“Ujian kau gagal,” katanya datar. Dia naruh buku resep di pangkuanku. “Buku ini milikmu. Tapi kalau kau baca halaman 12... kau bakal benci aku lebih dari sekarang.”

Lalu dia jalan ke pintu. Langkahnya goyah. Ga setegas biasanya.

Aku buru-buru buka halaman 12. Tangan gemetar.

Di situ ada foto polaroid lama. Udah kuning. Foto 4 orang.

Pak Pramesti muda, Bu Sari muda, Axel kecil umur 7 tahun kurus demam, dipeluk Bu Sari. Dan di pojok... ada bayi digendong Elena. Bayi itu aku. Umur 6 bulan.

Di belakang foto ada tulisan tangan Bu Sari.

“Untuk Axel kecil. Jaga adikmu Aira ya, Nak. Dia penakut, tapi hatinya anget kayak kamu. Love, Mama Sari 15 Juni 2013”

Aku ngelepas napas. Air mata jatuh ke foto. Jadi Axel udah kenal aku sejak aku bayi. Dia janji ke Bu Sari buat “jaga adiknya Aira”.

Tapi sekarang dia yang nyiksa aku. Dia yang rantai aku. Dia yang bilang aku harus mati di tangan sendiri.

Klek. Pintu kebuka lagi. Axel balik. Dia liat aku nangis sambil megang foto. Dia diem di ambang pintu 5 detik.

Lalu dia jalan ke aku. Jongkok lagi. Kali ini dia ambil ujung selimut, ngelap air mataku. Kasar, tapi hati-hati.

“Berhenti nangis,” perintahnya pelan. “Naga kecil ga nangis depan orang.”

Aku ketawa di sela tangis. “Tuan yang bilang saya naga kecil tadi.”

Axel kaku. Dia sadar dia kelepasan lagi. Dia ngelepas selimut, berdiri.

“Rantai di kakimu besok aku pasang,” katanya. Ancaman. Tapi suaranya ga ada tekanan. “Biar kau ga bisa curi kunci lagi jam 3 pagi. Bodoh.”

Dia keluar. Klek. Kali ini pintunya ga ditutup rapat. Kasih celah 5cm. Kayak sengaja.

Aku meluk buku resep + foto itu. Rantai di pergelangan bunyi klitik pas aku guncang pelan.

Jadi ujian Axel bukan kau berani curi apa nggak. Ujian dia...kau kuat ga liat bukti kalau aku sebenernya mau jaga kau, bukan hancurin kau?”

Dia marah aku nyuri kunci karena takut aku nyakitin diri pake rantai. Bukan karena takut rahasianya kebuka.

Axel Reynard... naga yang dendamnya segede gunung, tapi kalah sama tulisan “Love, Mama” dari bibi aku.

Aku nyender ke meja. Bisik ke foto. “Mama Sari... Mama Elena... Papa... Axel janji jaga saya. Tapi dia lupa caranya. Jadi saya yang ajarin dia ya?”

Di luar pintu, langkah kaki berhenti 3 detik. Lalu menjauh.

Tapi aku denger dia gumam pelan sebelum belok. “Jaga dirimu dulu, naga kecil bodoh. Baru ajarin aku.”

1
Alia Chans
lanjut, like + 🌹✍️😉🤭


kalo berkenan mmpir juga thor😉
Ti Ara: siap kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!