NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

⚠️⚠️TIDAK ADA UNSUR LGBT, NAMANYA JUGA DEWI RUBAH, YANG PALING DISUKAI ADALAH JIWA DAN TUBUH MEREKA⚠️⚠️

Bagaimana kalau seorang Dewi rubah yang dihukum malah melarikan diri? kucingnya yang selama ini seperti kucing biasa ternyata kucing dunia. bersenang-senang? tentu saja hal itu yang paling disukai nona rubah kita ini. bagaimana kesenangan nona rubah di dunia manusia dan pelarian nya? di setiap cerita akan beda judul utama karena dia tidak hanya melarikan diri, tetapi juga menjadi sistem kesenangan diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

menunggu

Tiga hari.

Tiga hari penuh Lucy habiskan hanya untuk menunggu kucing putih kecilnya bangun dari tidur panjang. Pagi pertama, dia masih bisa menerima. Pagi kedua, dia mulai melempar kerikil ke kolam teratai. Pagi ketiga, dia hampir saja mencoba membangunkan Lili dengan mengguncang-guncang tubuhnya—hampir.

"Kau beruntung aku sayang padamu," gumam Lucy pada gumpalan bulu putih yang meringkuk di bantal beludru dekat kolam.

Taman belakang kastilnya memang dirancang untuk kemalasan sempurna. Kolam teratai luas dengan air sebening kristal, dihuni oleh ikan-ikan koi berwarna emas dan perak dan tentu saja, karena Lucy tidak akan memelihara ikan dengan warna yang tidak berkilau. Pohon-pohon sakura ilahi bermekaran sepanjang tahun, kelopaknya berguguran pelan tertiup angin. Dan di tengah semua itu, kursi malas tempat Lucy sekarang duduk bersila, satu tangannya menaburkan pakan ikan sambil matanya menatap kosong ke arah Lili.

Satu ikan koi emas melompat, menangkap remah pakan sebelum jatuh kembali ke air dengan cipratan kecil.

"Kalian beruntung," kata Lucy pada ikan-ikan itu. "Setidaknya kalian tidak perlu menunggu sistem dunia tidur dua puluh jam sehari."

Ikan-ikan itu, tentu saja, tidak menjawab.

Di penghujung hari ketiga, tepat ketika Lucy mulai mempertimbangkan untuk menjelajahi dunia ungu ini sendirian, sepasang telinga putih bergerak. Lalu ekor. Lalu akhirnya, mata biru Lili terbuka perlahan.

"Akhirnya!" Lucy hampir melompat dari kursinya. "Kau bangun juga! Tiga hari, Lili. Tiga hari!"

Lili menguap lebar, memperlihatkan deretan gigi kecilnya yang runcing. "Energiku sudah penuh. Itu yang penting."

"Penuh? Bagus. Ayo kita mulai." Lucy sudah berdiri, ekornya bergerak-gerak tidak sabar. "Aku sudah bosan setengah mati di sini. Bahkan ikan-ikanku sudah kuhafal namanya satu per satu."

"Kau memberi nama pada ikan?"

"Tentu saja. Yang paling gemuk itu Gerald. Yang suka melompat itu Isabella. Yang—"

"Baik, baik, aku mengerti kau bosan." Lili meregangkan tubuhnya, melengkungkan punggung seperti kucing normal meskipun dia sama sekali bukan kucing normal. "Tapi sebelum kita berangkat, ada satu hal yang perlu kuberitahu."

Lucy menghentikan langkahnya. "Apa lagi?"

"Selama aku tidur, aku menerima... panggilan." Lili duduk tegak, ekornya melingkar rapi di sekitar kakinya. "Ternyata bukan hanya kita yang membutuhkan bantuan. Beberapa dewa-dewi dari dunia paralel juga mengirimkan permintaan."

Alis Lucy terangkat. "Permintaan? Untuk apa?"

"Mereka memiliki masalah dengan manusia-manusia di dunia mereka. Beberapa antagonis pria memiliki nilai kejahatan yang terlalu tinggi dan mengacaukan keseimbangan alur cerita. Beberapa karakter wanita antagonis juga hidup terlalu menderita hingga energi negatifnya mencemari dunia mereka." Lili menjilat kakinya sebentar sebelum melanjutkan. "Mereka ingin kita membantu menurunkan nilai kejahatan para antagonis pria, dan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk para antagonis wanita. Sebagai gantinya, kau akan mendapatkan hadiah dari mereka."

Mata Lucy berbinar. "Hadiah? Hadiah seperti apa?"

"Tergantung dewanya. Bisa berupa artefak, kekuatan tambahan, atau... akses ke dunia-dunia tertentu yang biasanya tertutup."

"Artefak dan kekuatan tambahan?" Senyum lebar mengembang di wajah Lucy. "Kenapa tidak kau katakan dari awal? Tentu saja aku setuju!"

"Kau bahkan tidak bertanya detailnya."

"Lili, sayangku." Lucy berjongkok dan mengusap kepala kucing putih itu. "Aku ini Dewi Rubah yang sedang dalam pelarian. Semakin banyak koneksi dengan dewa-dewi dari dunia lain, semakin banyak tempatku bersembunyi. Ditambah lagi... hadiah." Matanya berkilat. "Aku suka hadiah."

Lili menghela napas dan kali ini benar-benar terdengar seperti helaan napas. "Baiklah. Jadi selain misi utama kita mengumpulkan nilai suka dan nilai kebencian, kita juga punya misi sampingan: menurunkan nilai kejahatan antagonis pria, dan memberikan kehidupan yang layak untuk antagonis pria maupun wanita."

"Kedengarannya mudah."

"Kedengarannya rumit, tapi kau tidak pernah peduli dengan kerumitan."

"Tepat." Lucy berdiri kembali. "Sekarang, dunia apa yang pertama?"

Lili mengangkat cakarnya. Sebuah layar transparan muncul di udara, memperlihatkan deretan teks berpendar. "Dunia pertama adalah dunia novel berjudul 'Cinta untuk Nona Muda'. Setting-nya sekolah menengah atas, kelas dua."

"SMA? Serius?" Lucy memiringkan kepala. "Berapa umur mereka? Tujuh belas? Delapan belas?"

"Kira-kira begitu."

"Hmm... muda sekali." Lucy menyeringai. "Tapi tidak apa. Aku suka energi anak muda. Mereka sangat... bersemangat."

Lili melanjutkan, mengabaikan komentar itu. "Cerita aslinya tentang seorang nona muda yang dulunya adalah anak terlantar, lalu ditemukan oleh keluarga kaya. Bukan kasus anak tertukar atau palsu tetapi dia benar-benar anak kandung yang hilang dan akhirnya kembali. Dia menjadi kesayangan keluarga."

"Kedengarannya manis. Lalu di mana konfliknya?"

"Ada protagonis pria, antagonis pria, dan antagonis wanita. Mereka semua berada di kelas dua SMA yang sama. Protagonis wanita yaitu si nona muda itu menjadi pusat perhatian, dan tentu saja, kecemburuan muncul."

"Klasik." Lucy melipat tangan di depan dada. "Lalu tubuh siapa yang akan kumasuki?"

Lili menggeser layar, memperlihatkan potret seorang gadis dengan kacamata tebal, rambut dikepang longgar, dan seragam sekolah yang terlihat sedikit kusam. Wajahnya tidak jelek, tapi ada sesuatu yang lelah di matanya seperti seseorang yang sudah terlalu lama menyerah pada keadaan.

"Ini Lucy. Menariknya, nama tubuh ini sama dengan namamu."

"Lucy?" Dewi Rubah itu terkekeh. "Lucu sekali."

"Dia adalah tokoh tragis dalam cerita ini. Seorang kutu buku miskin yang selalu sendirian. Dalam alur asli, dia mati karena didorong oleh antagonis wanita saat insiden perundungan terhadap protagonis wanita."

Senyum Lucy menghilang. "Dia mati... hanya karena berada di tempat yang salah?"

"Dia mencoba membantu protagonis wanita. Antagonis wanita tidak menyukainya dan mendorongnya dari tangga. Kepalanya terbentur, dan... selesai."

Keheningan singkat. Lalu Lucy mendengus bukan dengusan marah, tapi sesuatu yang lebih dingin. "Jadi dia mati karena berusaha berbuat baik?"

"Begitulah."

"Dan misi kita?"

Lili membuka daftar baru. "Pertama, membalas dendam pada orang yang membunuh orang tua tubuh ini. Kedua, lulus ujian sarjana di universitas yang dia impikan. Itu keinginan pribadi si pemilik tubuh."

"Balas dendam dan pendidikan. Kombinasi yang menarik."

"Lalu untuk misi sistem: menarik nilai suka dari protagonis pria, dan pada akhirnya... menjadi protagonis wanita sendiri."

Mata Lucy membulat, lalu menyipit dengan senyum licik. "Jadi aku harus mengambil alih peran utama wanita dalam cerita ini?"

"Tidak harus mengambil alih secara jahat. Lebih seperti... menggeser fokus cerita. Membuat dirimu sendiri menjadi pusat perhatian, bukan nona muda yang asli."

"Dan nona muda aslinya?"

"Dia akan tetap baik-baik saja. Bahkan mungkin hidupnya akan lebih damai tanpa tekanan sebagai pusat perhatian." Lili mengibaskan ekornya. "Lalu misi tambahan dari dewa-dewi dunia itu: turunkan nilai kejahatan antagonis pria, dan berikan kehidupan yang baik untuk antagonis pria maupun antagonis wanita."

Lucy mengangguk pelan, mencerna semua informasi. "Jadi intinya, aku masuk ke tubuh kutu buku miskin, perlahan-lahan menjadi pusat perhatian, membalas dendam pada pembunuh orang tuanya, mengumpulkan nilai suka, menurunkan nilai kejahatan antagonis pria, dan membuat hidup antagonis wanita menjadi lebih baik... padahal antagonis wanita itu yang membunuh tubuh ini di alur asli?"

"Ya."

Untuk sesaat Lucy terdiam. Lalu dia tertawa renyah bagaikan kerupuk rengginang yang menggema di seluruh taman.

"Lili, ini gila. Dan aku menyukainya!"

"Aku tahu kau akan menyukainya."

"Tapi ada satu hal." Lucy berhenti tertawa dan menatap Lili dengan serius. "Aku bisa saja langsung menggunakan kekuatanku untuk membuat diriku cantik luar biasa dalam sekejap. Tapi... itu tidak menyenangkan."

"Tidak menyenangkan?"

"Di mana serunya kalau aku langsung jadi cantik tanpa usaha?" Lucy memutar-mutar ujung rambut birunya. "Aku suka keindahan, Lili. Tapi keindahan yang diperoleh dengan instan itu membosankan. Aku ingin melihat reaksi mereka para manusia-manusia itu saat melihatku berubah perlahan-lahan. Hari demi hari. Minggu demi minggu. Sampai akhirnya mereka bertanya-tanya, 'Sejak kapan dia menjadi secantik ini?'"

Lili mengangkat alis atau setidaknya, bagian di atas matanya bergerak sedikit. "Itu... sangat perhitungan."

"Aku Dewi Rubah, sayangku. Kami selalu perhitungan." Lucy mengedipkan mata. "Lagipula, tubuh asliku sangat miskin. Aku harus menggunakan uang untuk membeli barang-barang perawatan. Itu bagian dari 'usaha' yang kumaksud."

"Tapi dari mana kau dapat uang? Tubuh itu miskin."

"Aku akan mencari cara. Mungkin meminjam sedikit dari simpananku sendiri." Lucy memandang cincin penyimpan di jarinya. "Tidak banyak. Hanya cukup untuk memulai. Anggap saja... modal investasi."

Lili menggelengkan kepala. "Kau benar-benar sudah merencanakan semuanya."

"Tentu saja. Sekarang, satu hal lagi." Lucy mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Lili tepat di matanya. "Aku tidak akan berputar di antara satu manusia saja. Aku Dewi. Aku bebas dengan siapa pun yang kuinginkan, kapan pun kuinginkan. Tanpa romansa kalau aku tidak mau."

"Itu sudah tercantum dalam kebebasan kontrakmu. Kau tidak terikat pada satu orang."

"Bagus." Lucy menegakkan tubuh. "Karena sejujurnya, Lili, aku tertarik pada jiwa-jiwa yang menarik. Tidak peduli laki-laki atau perempuan. Aku suka melihat apa yang membuat mereka bergetar seperti apa yang membuat mereka bahagia, sedih, marah, atau jatuh cinta."

"Kau terdengar seperti pengamat yang haus sensasi."

"Karena memang itu aku." Lucy menyeringai. "Aku Dewi yang haus sensasi kehidupan manusia. Itu alasan aku diadili oleh Kakak Pertama, ingat?"

Lili mendengus. "Baiklah. Kalau begitu, apakah kau siap?"

Lucy mengangguk. "Siap."

Lili melompat dari bantal beludrunya. Tubuhnya mulai bersinar, bulu putihnya memancarkan cahaya lembut yang semakin lama semakin terang. "Aku akan mentransportasi kita ke dunia novel 'Cinta untuk Nona Muda'. Begitu masuk, kau akan langsung menempati tubuh Lucy kutu buku. Kesadarannya akan menyatu denganmu dan kamu akan memiliki semua ingatannya, semua emosinya, semua keinginannya."

"Aku mengerti."

"Dan ingat," Lili menambahkan, "jangan gunakan kekuatan dewi secara mencolok. Perlahan saja. Nikmati prosesnya."

"Itu sudah rencanaku dari awal."

Cahaya semakin terang, menyelimuti seluruh taman. Ikan-ikan koi di kolam berhenti berenang sejenak, seolah merasakan sesuatu yang besar akan terjadi. Kelopak sakura berguguran lebih deras.

"Lili," panggil Lucy tiba-tiba.

"Ya?"

"Nama dunia ini..." Dia tersenyum. "'Cinta untuk Nona Muda'. Menurutmu, apakah aku akan menemukan cinta di sana?"

Lili menatapnya datar. "Kau tidak butuh cinta. Kau hanya butuh nilai suka."

"Itu tidak menjawab pertanyaanku."

"Itu jawaban yang paling jujur."

Lucy tertawa. Tawanya masih menggema ketika cahaya menelannya sepenuhnya.

Ketika cahaya memudar, Lucy tidak lagi berada di tamannya. Dia berdiri di sebuah kamar sempit dengan dinding mengelupas, langit-langit rendah, dan satu jendela kecil yang membiarkan cahaya matahari pagi masuk dengan malas. Bau debu dan kertas tua memenuhi udara.

Dia menatap tangannya yang kurus, pucat, dengan kuku yang tidak terawat.

Dia berjalan ke cermin kecil yang tergantung miring di dinding.

Wajah yang menatapnya adalah wajah Lucy kutu buku. Kacamata tebal. Rambut cokelat kusam dikepang longgar. Kulit pucat tanpa cahaya. Tapi di balik lensa kacamata itu, sepasang mata biru menatap balik bukan mata cokelat pemilik tubuh asli.

Ah, ternyata warna mataku tetap biru, pikir Lucy. Setidaknya ada satu yang tidak berubah.

Dari sudut ruangan, seekor kucing putih kecil muncul entah dari mana. Matanya biru, sama seperti mata Lucy.

"Bagaimana rasanya?" tanya Lili.

Lucy menatap dirinya lagi di cermin. Perlahan, sebuah senyum terbentuk di bibirnya bukan senyum kutu buku yang lelah, tapi senyum seorang Dewi yang baru saja menemukan taman bermain baru.

"Rasanya... menyenangkan."

Dia berbalik, menatap tumpukan buku pelajaran di sudut kamar, seragam sekolah yang tergantung kusam di balik pintu, dan kalender tua yang menunjukkan hari ini adalah hari pertama masuk sekolah.

"Hari pertama," gumamnya. "Hari pertama menjadi Lucy kutu buku. Hari pertama misi nilai suka."

Lili melompat ke atas tumpukan buku. "Masih ada waktu sebelum sekolah mulai. Kau mau mendengarkan detail karakter yang akan kau temui?"

"Tentu." Lucy duduk di tepi ranjangnya yang berderit. "Ceritakan padaku tentang protagonis pria, antagonis pria, antagonis wanita... dan nona muda yang menjadi pusat cerita ini."

Lili mulai menjelaskan, suaranya tenang seperti seorang sekretaris yang membacakan laporan. Dan Lucy mendengarkan dengan mata berbinar, sembilan ekor ilahinya yang sekarang tersembunyi di dimensi berbeda bergerak-gerak penuh antisipasi.

Ini akan menjadi permainan yang sangat, sangat menyenangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!