NovelToon NovelToon
THE SILENT SECTOR

THE SILENT SECTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:13.8k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .



_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Pagi buta sebelum fajar menyingsing di hari Kamis yang sakral itu, kediaman Daneswara masih diselimuti embun dingin. Di dalam kamarnya, Eliza baru saja selesai mengaji untuk beberapa lembar mushaf setelah salat Subuh. Jantungnya sudah berdegup kencang, memikirkan beberapa jam lagi ia akan dirias dan bersanding di depan penghulu bersama Faas.

​Namun, ketukan pelan di pintu kamarnya membuyarkan lamunan Eliza. Saka melangkah masuk dengan wajah yang tidak biasa,ada gurat keharuan sekaligus ketegasan di matanya.

​"Eliza, ikut Kakak ke ruang tengah sekarang. Ada seseorang yang ingin menemuimu sebelum perias datang," bisik Saka pelan, sembari mengelus bahu adiknya.

​Eliza mengernyit bingung." Siapa yang datang sepagi ini? "Dengan gamis rumahannya, Eliza melangkah mengikuti Saka menuju ruang tengah yang remang. Di sana, di bawah pendar lampu gantung, Kakek Horison duduk tegak ditemani dua orang petugas sipir wanita berpakaian preman yang berdiri berjaga di dekat pintu.

​Dan di tengah ruangan, duduk seorang wanita paruh baya dengan pakaian bersahaja. Wajahnya yang dihiasi kerutan halus tampak pucat, namun tatapan matanya begitu teduh, memancarkan penyesalan mendalam sekaligus rasa rindu yang tak terbendung.

​"Ma-mama...?" suara Eliza tercekat di tenggorokan.

​Wanita itu adalah Seina, mama kandung Eliza yang saat ini masih berstatus sebagai narapidana.

​Seina langsung berdiri, air matanya luruh seketika melihat putri kecilnya kini telah tumbuh menjadi gadis berhijab yang sangat cantik dan anggun. Eliza berlari kecil, langsung menghambur ke pelukan hangat sang ibu yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan...setiap Eliza menjenguk ibunya, selalu ada batasan dinding kaca tebal yang selalu memisahkan, membuat Eliza dan Seina tidak bisa berpelukan...,kini Tangis keduanya pecah di keheningan subuh itu.

​"Putriku... Eliza... maafkan Mama, Nak. Maafkan kesalahan Mama di masa lalu," bisik Seina parau, mengecup puncak kepala Eliza berkali-kali dengan tangan gemetar.

​Sebenarnya, dengan kekuasaan dan jaringan yang dimiliki oleh Maudi dan Kakek Horison, sangat mudah bagi mereka untuk mengurus pembebasan bersyarat atau bahkan membebaskan Seina sepenuhnya dari jeruji besi. Kakek Horison dan Maudi bahkan sudah berniat melakukan itu sebagai hadiah pernikahan untuk Eliza.

​Namun, Seina dengan tegas menolaknya. Di dalam sel tahanan, Seina telah benar-benar bertaubat. Ia menolak dibebaskan sebelum waktunya karena ia ingin menebus setiap butir dosa masa lalunya dengan adil di sisa akhir hidupnya, agar ia bisa menghadap Sang Pencipta dengan tangan yang bersih.

​Setelah beberapa menit meluapkan rindu, Seina perlahan mengurai pelukan mereka. Ia mengusap air mata di pipi Eliza dengan ibu jarinya yang kasar.

​"Mama tidak bisa berlama-lama di sini, Eliza. Petugas hanya memberikan izin sebentar sebelum jalanan macet," ucap Seina dengan senyuman tegar yang dipaksakan.

​"Tapi, Ma... acara akad nikahnya baru jam sembilan pagi nanti. mama tidak mau melihat Eliza memakai baju pengantin? Tidak mau melihat Kak Faas mengucapkan ijab qobul?" tanya Eliza terisak, memegangi erat jemari ibunya.

​Seina menggeleng pelan, pandangannya beralih menatap Kakek Horison dan Maudi dengan rasa terima kasih yang tak terhingga. "Tidak, Sayang. Mama sengaja datang subuh-subuh dan harus pergi sekarang. Mama tidak ingin tamu-tamu melihat ada seorang narapidana di acara pernikahanmu. Mama tidak ingin membuatmu atau keluarga suamimu malu karena masa lalu Mama."

​"Mama..." Eliza menggeleng, hatinya tersayat melihat pengorbanan perasaan ibunya yang begitu besar demi menjaga kehormatannya di hari bahagia ini.

​Seina menangkup wajah Eliza, menatapnya dengan penuh rasa puas dan bangga. "Melihatmu sehat, berhijab rapi, serta kakakmu saka berada di tengah keluarga yang menyayangimu seperti ini... itu sudah lebih dari cukup bagi Mama nak, Perasaan Mama sudah sangat puas dan tenang sekarang."

​Seina berbalik menatap Maudi yang berdiri tak jauh dari sana. "Maudi... Ibu titip Eliza, ya. Dan... tolong, nanti kirimkan video rekaman akad nikahnya ke tempat Ibu. Ibu ingin melihat senyum anak Ibu saat sah menjadi seorang istri."

​Maudi mengangguk mantap, matanya ikut berkaca-kaca. "Pasti, Bu. Maudi akan rekam setiap momennya dengan baik untuk Ibu."

​Seina memberikan satu pelukan perpisahan yang singkat namun sarat akan kehangatan ibu kandung, lalu melangkah tegas menuju pintu keluar didampingi kedua petugas sipir dan Saka yang ikut mengantar ibunya keluar. Di ambang pintu, ia sempat menoleh sekali lagi, tersenyum manis menatap Eliza sebelum akhirnya menghilang di balik kegelapan sisa malam.

​Eliza terduduk di sofa, menutup wajahnya sembari menangis haru. Kakek Horison mendekat, menepuk bahu cucunya dengan lembut. "Ibumu adalah wanita yang kuat, Eliza. Dia pergi dengan hati yang tenang. Sekarang, hapus air matamu. Jangan sampai periasmu bingung karena matamu sembap. Sebentar lagi suamimu akan datang untuk menjemputmu menuju ibadah terpanjang."

​Maudi memeluk Eliza dari samping, menenangkan emosi saudara nya yang sempat terguncang. Subuh itu, di balik air mata perpisahan dengan sang ibu, pondasi batin Eliza justru semakin dikuatkan. Ia siap melangkah ke atas pelaminan, siap menghadapi apa pun drama yang menantinya di mansion Abrari nanti, karena ia tahu ia diberkahi oleh doa-doa tulus yang mengetuk pintu langit di sepertiga malam terakhir.

___

Sementara kehangatan subuh yang penuh air mata tobat menyelimuti kediaman Daneswara, kondisi yang bertolak belakang terjadi di mansion utama keluarga Abrari. Pagi itu, atmosfer di ruang tengah tidak ubahnya seperti medan perang yang siap meledak.

​Jihan berdiri di dekat meja makan dengan dada naik turun menahan geram. Topeng lembut nya retak berantakan. Matanya yang biasa memancarkan keangkuhan kini berkilat penuh kekesalan saat menatap Husen yang sudah rapi mengenakan jas formal terbaiknya.

​"Mas! Kamu benar-benar keterlaluan!" cecar Jihan, suaranya melengking tajam memecah keheningan pagi. "Anak itu sudah membangkang padamu, dia menolak Abrari Group, dan sekarang kamu malah mau merendahkan harga dirimu untuk datang ke pernikahan sirkus yang tidak jelas itu?! Hanya karena mbak Diana menangis?!"umpatnya dengan wajah kesal dan cemburu menjadi satu.

​Husen yang sedang membetulkan jam tangannya hanya diam dengan rahang mengeras. Ia tidak menjawab, namun tatapan matanya yang dingin kepada Jihan sudah cukup menunjukkan bahwa keputusannya tidak bisa diganggu gugat. Cintanya pada Diana mengalahkan segalanya pagi ini.

​Di sofa ruang tengah, Jenita duduk bersedekap dada dengan wajah ditekuk dalam. "Jenita gak sudi ikut! Mau ditaruh di mana muka Jenita kalau kolega kampus tahu abang Jenita nikah di gang sempit sama cewek udik? Bikin malu!"

​Tak jauh dari Jenita, Gavin duduk dengan tatapan kosong yang membeku. Wajahnya yang biasa angkuh kini tampak sangat dingin dan mati rasa. Di sampingnya, Megan duduk mepet sembari sesekali menggelayut manja di lengan Gavin, memasang wajah pura-pura polos dan keibuan, seolah-olah dia adalah menantu paling menderita yang tertindas di rumah itu . Setiap kali Megan mencoba memegang tangannya, Gavin langsung menariknya kasar dengan gurat muak yang kentara.

​Di tengah perdebatan panjang dan ketegangan yang menyesakkan itu, suara langkah kaki yang tegas bergaung dari arah tangga....

1
suti markonah
lanjut thorr🙏🙏🙏
Sri Supriatin
tks upnya Thor 💪💪💪
Sri Supriatin
semakin seruuuu belum kejutan bos Faas🤭🤭🤭
Susi C
ceritanya saya suka👍👍 semngat terus buat up ya thor💪
Xin
Tidak terbayangkan apa saja yang akan terjadi nantinya, Semngat Eliza💪👍.
Sri Supriatin
Jaa di gantung 🤭 penasaran 😄😄
Sukarti Wijaya
ayyooo semangat eliza...💪💪💪
Sri Supriatin
wah palang.merah, tiwas ikut degdrgan 🤣🤣🤣
suti markonah
sabar faas mlm pertamanya tertunda~nanti ketika sudah prg tamu tinggal gempur siang dan malam🤭🤭jangan lupa nanti ketika sudah di rumah abrari jangan jadi wanita lemah ya~
Yasmin Natasya
lanjut thor,🙏 semangat up💪😍
Sri Supriatin
Selamat menempuh hidup baru, bu Diana taulah isi hati anak laki2 nya💪💪💪kejutan demi kejutan menyusul, gimana sama ibu mertua Thor 🙏🙏🙏🙏
suti markonah
lebih terkejut lagi klo hussen tahu bahwa APEX CORE perusahaan milik faas
suti markonah
selamat faas, eliza semoga samawa
Xin
Alhamdulillah , selamat buat Faaz dan Eliza.
Sukarti Wijaya
alhamdulillah ssahhh...👍
Sri Supriatin
Tks upnya thor, wah sy jadi deg deg an kaya Husein🤭🤭
Xin
Terkejut kan pak Husen?🤭
suti markonah
piye pak hussen?.mati kutu kowe..keluarga daneswara saja nerima faas dengan tangan terbuka dan nerima apa ada nya lha kowe seorang ayah yg tidak tahu menahu anak kandungnya
Sukarti Wijaya
hampir mendekati malah digantung thor🤭😄🤣
Lovita BM
bab itu ditunggu² readers faas 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!