Berawal dari tabrakan di koridor sekolah saat terlambat, hidup Alya yang tenang mendadak berubah jadi penuh drama gara-gara Raka, si kapten basket populer yang hobi mengganggunya. Situasi makin kacau saat foto candid Alya tak sengaja masuk ke story Instagram Raka dan membuat satu sekolah gempar.
Namun, dari benci jadi chattingan. Di balik sikap usil Raka, Alya pelan-pelan menemukan sisi rapuh cowok itu yang tersembunyi dari dunia.
Sayangnya, saat benih perasaan mulai tumbuh, kehadiran Kevin—murid baru yang mendekati Alya—menyalakan api cemburu Raka. Ditambah rumor sekolah dan kesalahpahaman masa lalu, Alya mulai ragu dengan perasaan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon grayen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minta Maaf
Sejak hari hujan itu, Alya dan Raka benar-benar seperti dua orang yang sedang berjalan di jalur berbeda.
Mereka masih bertemu setiap hari di sekolah, masih saling menyapa kalau tidak sengaja berpapasan, tapi hanya sebatas anggukan kecil atau senyum tipis. Tidak ada lagi obrolan panjang di kantin, tidak ada lagi chat receh tengah malam, dan tidak ada lagi candaan yang biasanya membuat Nadya dan Dion geleng-geleng kepala.
Alya beberapa kali mengambil ponselnya, membuka ruang obrolan dengan Raka, lalu menutupnya lagi.
Ia ingin bertanya, “Sebenarnya ada apa?”
Tapi setiap kali jari-jarinya mulai mengetik, ia malah menghapus semua kata yang sudah ditulis.
Di sisi lain, Raka melakukan hal yang sama.
Ia sadar dirinya yang memilih menjauh, tapi sekarang justru merasa kehilangan kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu dianggap sepele.
Ia rindu dipanggil “Rak” dengan nada datar khas Alya.
Ia rindu melihat Alya sibuk memotret lalu mengomel saat ada yang sengaja masuk ke depan kamera.
Dan yang paling ia rindukan, senyum kecil yang selalu muncul setiap kali mereka saling mengejek.
---
Hari Kamis sore, kelas mereka mendapat tugas membersihkan ruang penyimpanan perlengkapan untuk persiapan lomba antarsekolah.
Semua siswa dibagi ke beberapa kelompok.
Secara tidak terduga, Alya dan Raka ditempatkan di tim yang sama.
“Lya, kamu sama Raka rapikan rak sebelah sana ya,” ujar wali kelas.
“Baik, Bu.”
“Iya, Bu,” jawab Raka hampir bersamaan.
Mereka berjalan ke pojok ruangan tanpa banyak bicara.
Alya mulai menyusun kotak-kotak arsip, sementara Raka mengangkat beberapa kardus yang lebih berat.
Suasana canggung terasa jelas.
Biasanya mereka akan saling bercanda soal debu atau mengeluh karena pekerjaan terlalu banyak.
Sekarang hanya terdengar suara kardus yang dipindahkan.
Saat Alya berdiri di atas bangku kecil untuk mengambil map di rak paling atas, salah satu kotak di sampingnya bergeser.
“Lya, awas!”
Raka refleks menahan kotak itu sebelum jatuh mengenai Alya.
“Aman?”
“Iya… makasih.”
“Untung nggak kena.”
Alya mengangguk pelan.
Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap tanpa bicara.
Akhirnya Raka menarik napas panjang.
“Maaf ya.”
Alya terlihat bingung.
“Maaf buat apa?”
“Belakangan ini gue berubah.”
“Kenapa?”
“Gue pikir kalau sedikit menjauh, semuanya bakal lebih gampang.”
“Terus?”
“Ternyata malah bikin keadaan jadi aneh.”
Alya menurunkan map yang dipegangnya lalu duduk di bangku kecil.
“Jujur aja, gue sempat mikir gue punya salah sama lo.”
“Enggak. Salahnya di gue.”
Raka tersenyum tipis, meski wajahnya masih terlihat bersalah.
“Gue terlalu banyak mikir. Takut bikin hubungan kita rusak, jadi malah bikin jarak sendiri.”
Alya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ikut tersenyum.
“Kalau ada yang ganggu pikiran lo, bilang aja. Jangan tiba-tiba ngilang.”
“Iya.”
“Serius.”
“Serius.”
Lalu Raka mengulurkan tangan kecil ke arah Alya.
“Damai?”
Alya melihat tangan itu sebentar, lalu menyambutnya.
“Damai.”
Jabat tangan sederhana itu terasa seperti menghapus kecanggungan yang sempat tumbuh di antara mereka.
---
Selesai membersihkan gudang, mereka berjalan keluar bersama.
Dion yang melihat dari kejauhan langsung menyenggol Nadya.
“Kayaknya udah baikan.”
“Syukurlah. Gue capek lihat mereka saling diem.”
Saat Alya dan Raka mendekat, Nadya pura-pura bertanya, “Eh, kalian habis rapat rahasia ya?”
Raka menjawab santai, “Iya.”
“Bahas apa?”
“Rahasia.”
“Yaudah, nggak jadi nanya.”
Mereka semua tertawa.
Sudah lama suasana seringan itu tidak terasa.
---
Malam harinya, Alya menerima pesan dari Raka.
«Raka:
Makasih ya.»
«Alya:
Buat?»
«Raka:
Udah mau dengerin dan nggak marah.»
«Alya:
Teman kan emang begitu.»
Beberapa detik kemudian balasan masuk.
«Raka:
Semoga kita tetap begitu.»
Alya membaca pesan itu sambil tersenyum.
Ia tidak tahu bagaimana hubungan mereka akan berkembang di masa depan.
Yang ia tahu, hari ini mereka memilih untuk memperbaiki jarak yang sempat tercipta.
Dan terkadang, satu kata sederhana seperti “maaf” sudah cukup untuk mengembalikan dua orang ke tempat yang seharusnya.
Di luar kamar, hujan turun pelan membasahi halaman rumah.
Namun kali ini, tidak ada lagi perasaan menggantung di hati Alya maupun Raka.
Karena mereka sama-sama menyadari, hubungan yang baik bukan tentang tidak pernah salah paham, melainkan tentang keberanian untuk meminta maaf dan memilih kembali saling mendekat.