NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Menunggu Kepulanganmu

Malam terasa begitu panjang bagi Rubi.

Jarum jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tetapi matanya sama sekali tidak bisa terpejam.

Hujan di luar masih turun deras.

Sesekali suara petir menggema di langit, membuat suasana malam terasa semakin mencekam.

Rubi duduk di dekat jendela kamar dengan selimut yang menyelimuti tubuhnya.

Tatapannya terus mengarah ke gerbang depan mansion.

Meski tahu Alexander tidak mungkin pulang secepat itu, ia tetap tidak bisa berhenti melihat ke sana.

Seolah berharap pria itu tiba-tiba muncul.

"Kenapa lama sekali..."

gumamnya pelan.

Tangannya tanpa sadar mengusap perut yang kini semakin besar.

Bayi dalam kandungannya bergerak perlahan.

Tidak seaktif biasanya.

Seolah ikut merasakan kegelisahan ibunya.

Rubi tersenyum kecil.

"Kita sama-sama menunggunya ya?"

bisiknya.

Entah sejak kapan kata "menunggu" menjadi sesuatu yang begitu penting baginya.

Dulu tidak pernah ada orang yang ia tunggu pulang.

Tidak ada orang yang membuatnya khawatir seperti ini.

Namun sekarang ada.

Alexander.

---

Sementara itu di pelabuhan utara.

Gudang tua yang sudah lama tidak digunakan menjadi saksi pertemuan dua pria paling berbahaya di Eropa.

Alexander Dimitri.

Dan Viktor Romanov.

Puluhan pria bersenjata berdiri di belakang masing-masing pemimpin mereka.

Suasana begitu tegang.

Tidak ada yang berani bergerak sembarangan.

Karena satu kesalahan kecil saja bisa memicu baku tembak.

Viktor tersenyum santai sambil memasukkan kedua tangan ke saku jasnya.

"Aku mulai berpikir kau tidak akan datang."

ucapnya.

Alexander tidak membalas senyum itu.

Tatapannya dingin.

"Dengar, Viktor."

suaranya rendah.

"Aku sedang tidak ingin bermain-main."

Viktor tertawa pelan.

"Kau masih sama."

"Dan kau masih suka membuang waktuku."

balas Alexander.

Senyuman Viktor perlahan menghilang.

Kedua pria itu saling menatap.

Seolah sedang mengukur siapa yang akan menyerang lebih dulu.

Kemudian Viktor berkata,

"Aku hanya penasaran."

"Penasaran apa?"

Tatapan Viktor berubah tajam.

"Seberapa jauh kau akan melindungi wanita itu."

Seketika suasana berubah.

Alexander tidak menunjukkan ekspresi apa pun.

Namun semua anak buahnya tahu.

Kalimat itu adalah kesalahan besar.

Karena hanya ada satu orang yang bisa membuat Alexander kehilangan kesabarannya.

Dan orang itu adalah Rubi.

---

Di mansion.

Rubi akhirnya keluar dari kamar.

Ia tidak tahan hanya duduk sendirian.

Malam yang biasanya terasa tenang kini justru membuatnya semakin gelisah.

Koridor mansion terlihat sepi.

Sebagian besar pelayan sudah beristirahat.

Hanya beberapa petugas keamanan yang masih berjaga.

Saat melewati ruang keluarga, Rubi melihat lampu masih menyala.

Di sana duduk kepala pelayan sambil membaca sesuatu.

Wanita paruh baya itu langsung berdiri saat melihat Rubi.

"Nyonya muda."

"Maaf aku belum tidur."

ucap Rubi.

Kepala pelayan tersenyum lembut.

"Saya tahu."

Rubi duduk di sofa.

Lalu menatap api kecil di dalam perapian.

"Apa aku terlihat sangat khawatir?"

tanyanya.

Kepala pelayan tertawa kecil.

"Sangat."

Rubi langsung menunduk malu.

Namun wanita itu kemudian berkata,

"Itu berarti Anda mencintainya."

Kalimat sederhana itu membuat Rubi membeku.

Biasanya ia selalu menghindari mengakui perasaannya.

Bahkan kepada dirinya sendiri.

Tetapi malam ini berbeda.

Karena tidak ada lagi alasan untuk menyangkal.

"Iya."

jawab Rubi pelan.

"Saya mencintainya."

Untuk pertama kalinya kalimat itu keluar dari bibirnya.

Dan anehnya, setelah mengatakannya, dadanya terasa lebih ringan.

---

Di pelabuhan.

Pertemuan antara Alexander dan Viktor semakin memanas.

"Kau terlihat berbeda."

ucap Viktor.

Alexander tidak menjawab.

Namun Viktor tetap melanjutkan.

"Dulu kau tidak punya kelemahan."

Tatapan Alexander semakin dingin.

"Jangan membicarakan dia."

"Oh?"

Viktor tersenyum tipis.

"Berarti aku benar."

Beberapa anak buah Alexander langsung menggenggam senjata mereka.

Namun Alexander mengangkat tangan.

Menyuruh mereka tetap tenang.

Viktor tertawa pelan.

"Kau tahu apa yang lucu?"

"Tidak."

"Pria sepertimu ternyata bisa jatuh cinta."

Kalimat itu menggema di dalam gudang.

Membuat suasana menjadi sunyi.

Dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan dimulai, Alexander benar-benar marah.

Bukan kemarahan yang ditunjukkan lewat teriakan.

Melainkan kemarahan yang jauh lebih berbahaya.

Tatapannya berubah tajam.

Mengerikan.

"Aku peringatkan sekali lagi."

ucap Alexander.

"Sebut namanya lagi dan aku akan mengakhiri semuanya malam ini."

Viktor tersenyum.

Namun kali ini senyumnya terlihat dipaksakan.

Karena bahkan dirinya tahu.

Alexander tidak sedang bercanda.

---

Pukul tiga pagi.

Rubi masih belum tidur.

Ia kembali ke kamarnya.

Namun tetap tidak bisa memejamkan mata.

Setiap kali mencoba berbaring, pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

Bagaimana jika terjadi baku tembak?

Bagaimana jika Alexander terluka?

Bagaimana jika...

Tidak.

Rubi segera menggeleng.

Ia tidak ingin memikirkan hal-hal buruk.

Namun semakin berusaha menghindar, semakin banyak bayangan menakutkan muncul di kepalanya.

Air mata mulai menggenang di sudut matanya.

Bukan karena lemah.

Bukan karena takut.

Melainkan karena ia sadar satu hal.

Jika sesuatu terjadi pada Alexander, dirinya tidak akan baik-baik saja.

Sama sekali tidak.

---

Menjelang subuh.

Langit mulai sedikit terang.

Hujan akhirnya berhenti.

Mansion kembali sunyi.

Rubi yang duduk di dekat jendela tiba-tiba melihat sesuatu.

Sorot lampu kendaraan.

Matanya langsung membesar.

Sebuah mobil hitam memasuki gerbang mansion.

Disusul beberapa mobil lainnya.

Jantung Rubi langsung berdegup kencang.

Tanpa berpikir panjang, ia segera berdiri.

Lalu berjalan cepat keluar kamar.

"Berlari" mungkin lebih tepat.

Meski beberapa pelayan langsung panik melihatnya.

"Nyonya muda!"

"Pelan-pelan!"

Namun Rubi tidak peduli.

Ia terus menuju pintu utama.

Dan saat pintu itu terbuka—

Alexander baru saja turun dari mobil.

Pria itu terlihat lelah.

Sangat lelah.

Namun ia berdiri dengan baik.

Tidak terluka.

Tidak apa-apa.

Dan saat melihatnya, seluruh beban di dada Rubi langsung menghilang.

Tanpa sadar air mata jatuh dari matanya.

Alexander yang melihat itu langsung terkejut.

"Rubi?"

Wanita itu tidak menjawab.

Ia hanya berjalan mendekat.

Lalu berhenti tepat di depan Alexander.

Pria itu langsung mengangkat tangannya.

Menghapus air mata yang membasahi pipinya.

"Ada apa?"

tanyanya pelan.

"Kamu lama sekali."

suara Rubi bergetar.

Alexander membeku.

Karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang menangis hanya karena menunggunya pulang.

Dan perasaan hangat yang muncul di dadanya hampir membuatnya kehilangan kendali.

"Aku pulang."

ucapnya lembut.

Rubi mengangguk.

Meski air matanya masih terus mengalir.

Dan tanpa sadar, Alexander menarik wanita itu ke dalam pelukannya.

Pelukan pertama yang benar-benar terjadi karena keinginannya sendiri.

Bukan karena melindungi.

Bukan karena keadaan.

Melainkan karena ia ingin memeluk Rubi.

Dan untuk pertama kalinya, Rubi membalas pelukan itu.

Menggenggam bagian belakang jas Alexander erat-erat.

Tak ingin melepaskannya.

Sementara jauh di dalam hatinya, Alexander akhirnya mengakui sesuatu.

Bahwa dirinya sudah jatuh terlalu dalam.

Terlalu dalam hingga tidak mungkin lagi kembali.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!