**INI ADALAH BOOK KE 2 DARI SEMBILAN GULUNGAN NAGA LEGENDARIS.**
Ketika seluruh semesta terancam, satu pemuda harus memilih: menjadi monster yang menyelamatkan dunia, atau tetap manusia dan membiarkan semua musnah.
Lin Tian, kehilangan segalanya, karena invasi entitas misterius yang melahap dimensi. Kini, sebagai pewaris teknik "Orkestrasi Sembilan Naga," ia melintasi batas dimensi untuk berburu Master mereka: Pemangsa Dimensi yang mengancam 30 dimensi sekaligus.
Di Dimensi Asura, dimensi pejuang brutal, Lin Tian menemukan kekuatan... tapi hampir kehilangan kemanusiaannya. Antara latihan mematikan, pertarungan melawan entitas cerdas, dan persahabatan yang tak terduga, ia belajar kebenaran paling sulit: kekuatan tanpa hati adalah tirani, tapi hati tanpa kekuatan adalah kehancuran.
Bisa kah ia menyelamatkan alam semesta tanpa kehilangan jiwanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Murid Murid Lain
Kali ini, Lin Tian tidak dibawa ke area latihan brutal seperti sebelumnya. Kharos justru membawanya ke wilayah khusus yang digunakan untuk melatih pengendalian teknik dan kestabilan kekuatan.
Meski begitu, tempat itu tetap terasa mengintimidasi.
Arena latihan dipenuhi tekanan energi spiritual yang berat, dengan berbagai formasi dan target penghancur tersebar di seluruh area. Tempat ini jelas dirancang bukan untuk meningkatkan kekuatan mentah, melainkan untuk menyempurnakan kendali.
Saat Lin Tian tiba di area tersebut, ia langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda.
Kharos tidak sendirian, sementara tiga sosok lain berdiri di belakangnya.
Lin Tian sedikit terdiam.
Murid lain?
Berarti selama ini Kharos memang memiliki lebih banyak murid selain dirinya.
Sebenarnya hal itu tidak aneh, tetapi tetap terasa sedikit tidak nyaman baginya.
Kharos memperhatikan reaksinya sebelum berbicara.
"Lin Tian. Mulai sekarang, fokusmu bukan lagi meningkatkan kekuatan, tapi menyempurnakan kendali."
Ia lalu menunjuk ketiga sosok di belakangnya.
"Dan kali ini, pelatihanmu tidak dilakukan sendirian."
"Ketiganya adalah muridku."
"Dan semuanya cukup penasaran terhadap orang luar yang berhasil membuat kekacauan dalam waktu singkat."
Ketiga Asura itu mulai melangkah maju satu per satu.
Murid Pertama — Khor'sal “Yang Tak Tergoyahkan”
Sosok pertama langsung menarik perhatian.
Tubuhnya bahkan lebih besar dibanding kebanyakan Asura lain. Tingginya hampir tiga meter dengan otot besar seperti benteng hidup.
Kulit merah gelapnya dipenuhi bekas luka pertempuran, sementara matanya yang berwarna oranye memancarkan kesombongan dan sifat kompetitif yang sangat jelas.
Di punggungnya tergantung pedang raksasa sepanjang tiga meter.
Aura yang keluar dari tubuhnya terasa agresif dan penuh tekanan.
Kultivasinya berada di Ranah Transformasi Jiwa Lapisan Kelima puncak.
Dan begitu tatapannya bertemu dengan Lin Tian, permusuhan langsung terasa jelas.
"Asal usulmu sudah sering kudengar." Nada suaranya berat dan dingin. "Lin Tian, Orang luar yang mencapai Lapisan Keempat hanya dalam satu minggu."
Ia mendengus kecil.
"Kharos terus memujimu, dan Itu sangat menjengkelkan."
Lin Tian tetap tenang mendengarnya.
"Khor'sal," lanjut pria itu sambil menepuk dadanya sendiri. "Murid Kepala Perang selama tiga tahun."
Tatapannya menyipit.
"Dan aku tidak suka melihat orang luar mendapatkan perhatian khusus." Rasa iri dalam suaranya sangat jelas.
"Bakat tanpa pengalaman tidak berarti apa-apa. Kalau kau memang pantas berada di sini… buktikan."
Suasana di sekitar mereka langsung terasa sedikit tegang. Namun Lin Tian tidak terpancing. Ia sudah terlalu sering menghadapi orang seperti ini.
"Khor'sal." Lin Tian menjawab dengan nada tenang. "Aku tidak keberatan membuktikan diriku. Waktu akan menjawab semuanya."
Jawaban datar itu justru membuat Khor'sal sedikit mengernyit.
Ia tampaknya berharap Lin Tian membalas dengan emosi.
Murid Kedua — Mira'tok “Pedang Kilat”
Berbeda jauh dari Khor'sal, murid kedua memiliki aura yang jauh lebih ringan.
Tubuhnya lebih kecil dibanding Asura lain, sekitar dua setengah meter, dengan bentuk tubuh ramping dan fokus pada kecepatan.
Kulit merah mudanya memiliki jauh lebih sedikit luka, menunjukkan bahwa usianya mungkin lebih muda dibanding murid lainnya.
Dua pedang melengkung tergantung di pinggangnya.
Dan berbeda dari tatapan tajam Khor'sal, mata kuning miliknya justru dipenuhi rasa penasaran dan semangat.
Begitu maju, ia langsung menyeringai lebar.
"Jadi kau Lin Tian!" Nada suaranya penuh antusias. "Aku sudah dengar semua ceritanya. Satu minggu langsung mencapai Lapisan Keempat!"
"Bahkan bisa bertarung imbang melawan Thal'rok!" Ia tertawa kecil sambil menyilangkan tangannya. "Itu benar-benar gila."
"Mira'tok. Lapisan Keempat puncak. Aku sudah berlatih dua tahun di bawah Kepala Perang."
Ia lalu menunjuk Khor'sal dengan ibu jarinya.
"Dan tidak seperti orang pemarah itu, aku tidak iri. Aku justru penasaran denganmu" Tatapannya berbinar. "Bakat seperti milikmu sangat menarik."
Ia mengulurkan lengannya dalam salam khas prajurit Asura.
"Jadi bagaimana?"
"Nanti kita bertarung santai?"
"Saling belajar?"
"Kelihatannya akan menyenangkan."
Lin Tian sedikit terkejut dengan keramahan itu.
Di Dimensi Asura, sikap seperti ini cukup jarang ia temui.
Namun instingnya mengatakan Mira'tok benar-benar tulus.
Lin Tian menerima salam tersebut. "Aku setuju, kita bisa saling belajar."
Mira'tok langsung tertawa puas. "Bagus. Kupastikan kau tidak akan bosan di sini."
Murid Ketiga — Zhen'ar “Badai Sunyi”
Sosok terakhir melangkah maju dengan tenang.
Tingginya sekitar dua koma tujuh meter, dengan tubuh seimbang antara kekuatan dan kecepatan. Tidak sebesar Khor'sal, tetapi juga tidak seringan Mira'tok.
Kulit merah gelapnya memberi kesan misterius, sementara mata peraknya terasa tajam seolah mampu melihat langsung ke dalam pikiran lawan.
Namun yang paling mencolok adalah auranya.
Tenang.
Terkendali.
Dan sangat berbahaya.
Berbeda dari aura agresif Asura lain, kekuatan Zhen'ar tersembunyi jauh di dalam dirinya. Semakin sulit dibaca, semakin menakutkan rasanya.
Di tangannya terdapat tombak panjang dengan desain elegan, senjata yang cukup jarang digunakan bangsa Asura.
Dan saat Lin Tian mencoba membaca kultivasinya, ia langsung membeku sejenak.
Ranah Transformasi Jiwa Lapisan Keenam.
Jauh lebih kuat dibandingkan dirinya. Bahkan mungkin yang terkuat di antara seluruh murid Kharos.
Zhen'ar hanya mengangguk kecil sebagai salam.
"...Lin Tian." Suaranya rendah dan tenang.
"Aku sudah mengamatimu, dan potensimu jelas terlihat." Tatapan peraknya sedikit menyipit.
"Tapi karaktermu… masih belum pasti. Seiring waktu, semuanya akan terlihat." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"...Zhen'ar. Lapisan Keenam. Murid tertua Kepala Perang."
Tatapannya tetap tenang.
"...Aku akan terus mengawasimu...Penilaianku belum selesai."
Lin Tian bisa langsung merasakan tekanan dari pria itu.
Bukan tekanan kekuatan semata. Tetapi tekanan dari seseorang yang sangat sulit ditebak.
Lin Tian membalas anggukan tersebut dengan tenang.
"Aku mengerti. Aku akan membuktikannya lewat tindakan."
Zhen'ar tidak menjawab lagi.
Namun entah kenapa, Lin Tian merasa pria itu cukup menghargai jawaban tersebut.
Kharos akhirnya melangkah maju sambil menyilangkan tangan besar nya di depan dada.
"Tiga murid."
"Tiga kepribadian berbeda, dan Tiga cara bertarung yang berbeda."
Ia menunjuk Khor'sal terlebih dahulu.
"Khor'sal."
"Angkuh, keras kepala, dan terlalu menyukai pertarungan."
"Tapi kekuatannya nyata. Dan dia memahami arti kehormatan."
Lalu tatapannya beralih pada Mira'tok.
"Mira'tok."
"Cepat, dan paling mudah bekerja sama." Ia tersenyum tipis. "Kadang terlalu ramah untuk ukuran Asura."
Mira'tok tertawa keras mendengarnya.
Terakhir, Kharos melihat Zhen'ar.
"Zhen'ar."
"Tenang."
"Mematikan, dan memiliki kendali terbaik di antara kalian semua."
Tatapan emasnya lalu menyapu keempat muridnya.
"Kalian akan belajar satu sama lain, dan juga belajar bersama."
Aura berat perlahan memenuhi area latihan.
"Karena penguasaan teknik sejati tidak bisa dicapai sendirian. Kerja sama adalah bagian penting dari kekuatan."
Lin Tian sedikit terdiam mendengarnya.
Kerja sama.
Konsep itu jarang digunakan dalam budaya kultivasi di Alam Rendah yang lebih individualis.
Namun Dimensi Asura tampaknya memandang kekuatan dengan cara berbeda.
Kharos melanjutkan penjelasannya.
"Metode latihan kalian selama tiga bulan ke depan terdiri dari empat hal."
"Pertama, pertarungan formasi."
"Kedua, pertukaran teknik."
"Ketiga, pertarungan bergilir."
"Dan keempat… diskusi filosofi."
Tatapannya menyipit.
"Kalian akan bertarung bersama."
"Belajar bersama, dan cepat atau lambat, kalian akan terikat satu sama lain."
Sudut mulutnya sedikit terangkat.
"Semoga saja menjadi persahabatan." Khor'sal mendengus kecil mendengar kata itu.
Sementara Mira'tok justru terlihat semakin bersemangat.