Saat menghadiri perayaan kelulusan sang senior, Yurika dengan sengaja pura-pura mabuk dan mengakui perasaannya pada senior yang selama ini ia sukai.
Meski ia tahu bahwa ia harus menahan malu jika senior itu menolaknya, namun setidaknya ia harus menyelesaikan perasaannya.
Lalu.. tanpa di sangka..
"Oke.."
Yurika tak menyangka ia menyetujuinya, namun sesaat kemudian..
"Bisakah kita mengobrol di tempat lain? Ada banyak orang disini.."
Hari itu, saat sang senior mengantarkannya pulang, Yurika akhirnya sadar bahwa ia hanya menjaga martabatnya, tidak mungkin ia menyukai Yurika.
"Sepertinya perasaan ini memang harus berhenti disini.."
Dengan yakin Yurika memblokir seluruh kontak dari pria yang ia sukai.
Namun bagaimana jika ternyata pria itu menyukainya?
"Sial! Apa dia memblokirku setelah menyatakan cinta? Apa ia hanya bercanda?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Austin mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung rapi hingga siku dan celana panjang hitam yang membuat tubuh tingginya terlihat semakin mencolok. Potongan celana jas yang lurus membentuk garis kaki panjang yang hampir sempurna.
Begitu masuk, ia menyapu ruangan dengan tatapan tenang.
Tatapannya bergerak perlahan melewati semua orang lalu berhenti tepat pada Yurika.
Hanya sesaat tetapi cukup membuat jantung Yurika berdetak aneh.
Berbeda dengan dirinya yang langsung tegang, Austin terlihat sangat santai. Tidak ada ekspresi terkejut di wajahnya seolah kehadiran Yurika memang sesuatu yang sudah ia perkirakan.
Ia hanya berjalan menuju kursi kosong dan duduk dengan tenang.
Orang-orang di ruangan itu jelas mengenalnya dengan baik.
Begitu Austin duduk, beberapa orang langsung mulai menyapanya. Namun perhatian mereka segera teralihkan pada satu hal.
Bekas goresan samar di rahang Austin.
Seketika suasana menjadi sedikit berbeda.
Lingkaran pertemanan mereka memang terkenal suka bercanda dan membaca situasi dengan cepat. Hanya dengan sekali lihat, mereka sudah bisa menebak bahwa bekas itu jelas bukan luka biasa.
Seorang pria di samping Austin menuangkan wine ke gelasnya sambil tersenyum penuh arti.
“Tuan Austin..”
Ia menatap luka di dagu Austin lalu tertawa kecil.
“Bekas di dagu itu.. jangan-jangan dicakar anak kucing peliharaan di rumah?”
Kalimat itu langsung memancing senyum beberapa orang lain.
Makna tersembunyinya terlalu jelas.
Yurika yang mendengar itu langsung merasa tengkuknya panas. Tanpa sadar ia ikut melirik ke arah Austin.
Dan sialnya.. saat itu juga Austin juga sedang menatapnya.
Tatapan pria itu tenang, dingin, dan terlalu tajam untuk dihindari.
Yurika langsung memalingkan wajah dengan rasa bersalah yang muncul begitu saja.
Ia pikir Austin akan mengabaikan candaan itu atau sekadar menjawab seadanya. Namun pria itu justru mengambil gelas wine di depannya dengan santai.
Jemarinya yang panjang memutar gelas kristal itu perlahan sebelum ia menyesap sedikit anggur merah di dalamnya.
Jakunnya bergerak naik turun dengan jelas. Lalu dengan nada tenang ia menjawab, “Ya.”
Ruangan langsung hening sesaat. Austin menyandarkan tubuhnya malas ke kursi sebelum melanjutkan, “Memang agak sulit diatur.”
Kalimat itu terdengar sangat ambigu dan entah kenapa, setelah mendengarnya, telinga Yurika langsung memanas sepenuhnya.
Sementara di sisi lain ruangan suasana justru semakin ramai.
Orang-orang mulai bersiul, tertawa, dan melempar candaan satu sama lain seolah baru saja menemukan bahan gosip terbaik malam itu.
Minum berlangsung hingga tiga ronde sebelum suasana mulai sedikit lebih santai.
Gerson meletakkan gelas anggurnya di atas meja, lalu menoleh ke pria di sampingnya.
“Aku dengar Yurika bekerja di tempatmu?”
Austin mengangkat alis tipis. “Informasimu cepat juga.”
“Tentu saja.” Gerson tersenyum bangga. “Bagaimanapun juga, dia junior sekaligus teman sekolah lamaku.”
Austin hanya melirik sekilas tanpa banyak komentar.
Gerson melanjutkan dengan antusias, “Sebenarnya aku menemukan Yurika lagi gara-gara video di Weibo. Dia ternyata blogger seni juga. Aku suka lihat hal-hal unik, terus tanpa sengaja aku nemu video cloisonné enamel buatan tangan. Pas kubuka.. eh ternyata itu dia.”
Ia tertawa kecil sambil menatap Yurika.
“Anak-anak Nanda memang penuh bakat. Yurika, kamu ini cantik dan berbakat, kenapa dulu nggak pernah pamer?”
Yurika langsung merasa sedikit malu dipuji seperti itu.
“Cuma hobi kok.. nggak sehebat itu.”
“Masih rendah hati lagi.” Gerson menggeleng sambil terkekeh. “Nih, lihat sendiri.”
Dia langsung mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan video itu pada Austin.
Yurika langsung terdiam pasrah.
Kebiasaan Gerson yang terlalu bersemangat rupanya memang tidak berubah sedikit pun sejak dulu.
Saat video diputar, Austin sedikit memiringkan kepala. Tatapannya jatuh pada layar ponsel dengan ekspresi tenang.
“Bagus sekali, kan?” ujar Gerson puas.
Austin meletakkan gelas anggurnya perlahan. Reaksinya tetap datar.
“Lumayan.”
Gerson mengambil kembali ponselnya sebelum kembali menatap Yurika dengan rasa penasaran.
“Aku dengar kamu putus?”
Yurika sempat terpaku beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan.
“Iya.”
“Kenapa bisa?”
“Setelah lulus.. tujuan hidup kami berbeda.”
“Wajar sih.” Gerson melambaikan tangan santai. “Tapi kamu harus lebih hati-hati cari pasangan berikutnya. Kamu cantik, berbakat, masa asal pilih.”
Setelah mengatakan itu, dia sengaja melirik Austin di sampingnya.
“Senior Austin punya banyak kenalan berkualitas. Suruh dia kenalin beberapa pria bagus buatmu.”
Austin mengangkat alis samar. Tatapannya berpindah ke Gerson dengan malas.
“Aku tidak punya.”
“Hah? Mana mungkin?”
Austin bersandar santai di kursinya. Wajah tampannya terlihat tenang dan dingin saat berkata,
“Siapa yang mau kau suruh kuperkenalkan?”
Gerson langsung merasa suasananya sedikit aneh.
Austin memang terkenal tidak suka ikut campur urusan orang lain, apalagi urusan percintaan bawahan sendiri.
Melihat percakapan mulai canggung, Yurika buru-buru berdeham kecil. Dia tersedak minuman hingga matanya sedikit memerah.
“Tidak perlu,” katanya cepat sambil menggeleng. “Aku lebih ingin fokus kerja dulu.”
“Nah itu baru benar.” Gerson tertawa puas.
Tak lama kemudian Yurika pamit pulang. Namun baru beberapa langkah, Gerson memanggilnya lagi sambil membawa sebuah kotak hitam-merah elegan.
“Yurika, tunggu.”
Yurika menoleh bingung.
“Ini buatmu.”
“Apa ini?”
“Hadiah. Dua botol wine bagus buat diminum di rumah.”
Yurika langsung menolak halus. “Nggak usah, aku nggak enak menerimanya.”
“Kamu sopan sekali sih.”
“Bukan begitu.."
Gerson terkekeh lalu melirik ke arah belakang.
“Tenang saja. Ada orang yang sudah membayarnya.”
Yurika sempat tidak mengerti, sampai Gerson menjelaskan dengan santai, “Austin yang beli.”
Yurika langsung terdiam.
Gerson buru-buru menambahkan, “Jangan kepikiran. Hari ini semua orang memang beli barang untuk dukungan acara pembukaan bisnisku. Dua botol wine itu bukan masalah besar.”
Pada akhirnya Yurika tetap membawa kotak itu pulang.
yg banyak atuhhhh kak othor update babnya 😁😁
lanjuuutttt 💪💪💪💪👍
yg banyaaakkkk banyaaakkkk 😁👍
ada mantan yg lagi sok pamer bang Austin... berasa dia cwo yg paling diminati para kaum hawa🤣🤣🤣🤣
padahal kesuksesan dia karna domplengan cwe dengan status anak manager. baru manager dah berasa CEO 🤣🤣🤣🤣🤣
gemesss liat pasangan ini
aku yg cengengesan 🤣🤣
kok aku loh yg malah jadinya baperan 😁😁😁
modus mu austin😄😄
makanya kali suka yonthe poin aja
gasssssssss
ntar Embay cwo lain murka lagi😁😁😁
🤭
terlalu kaku🙏