NovelToon NovelToon
Balas Dendam Nyonya Cha

Balas Dendam Nyonya Cha

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mayraa Ibnurafa

Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.

​Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Payung di Bawah Gerimis Hannam-dong

​Pagi itu, Seoul disambut oleh gerimis tipis yang membasahi kaca-kaca jendela penthouse Hannam-dong. Suasana yang dingin di luar sangat kontras dengan kehangatan di dalam kamar utama.

​Ji-an baru saja selesai mengancingkan kemeja kerja Jin-wook ketika pria itu tiba-tiba melingkarkan lengan di pinggangnya, menariknya begitu dekat hingga napas mereka berbaur. Jin-wook menatap Ji-an dengan mata elangnya yang melunak, mengabaikan dasi di tangannya yang belum terikat rapi.

​"Jangan pergi ke galeri hari ini. Tetaplah di rumah bersamaku," bisik Jin-wook parau, suaranya yang berat terdengar sangat manja—sisi rahasia yang hanya dimiliki oleh Han Ji-an.

​Ji-an tertawa kecil, jemarinya bergerak lincah merapikan dasi suaminya. "Presdir Cha, kau punya rapat dewan direksi pukul sembilan pagi. Kau tidak bisa bolos hanya karena gerimis."

​"Aku bisa membeli seluruh papan direksi itu jika mereka berani mengganggu waktuku bersamamu," gurau Jin-wook, namun tatapannya sama sekali tidak bercanda. Ia menunduk, mengecup bibir Ji-an dengan lembut namun dalam, sebuah ritual pagi yang tak pernah absen. Ciuman hangat itu berlangsung lama, menyalurkan rasa kepemilikan yang posesif sebelum akhirnya Jin-wook melepaskannya dengan helaan napas berat. "Tunggu aku pulang malam ini. Kita makan malam di luar, hanya berdua."

​Ji-an mengangguk manis, mengantar suaminya sampai ke lobi lift pribadi dengan senyuman yang merekah.

​Sore harinya, gerimis berubah menjadi hujan yang cukup deras. Ji-an baru saja melangkah keluar dari sebuah butik perhiasan di Cheongdam-dong setelah memesan hadiah ulang tahun untuk ibu angkat Jin-wook. Dua pengawalnya bersiap membuka payung, namun sebuah mobil sedan hitam yang familier mendadak berhenti tepat di depan undakan tangga.

​Pintu belakang terbuka. Bukan pengawal yang turun membawa payung, melainkan Cha Jin-wook sendiri.

​Pria itu mengabaikan setelan jas mahalnya yang mulai terkena percikan air hujan. Ia berjalan cepat menaiki tangga, membuka sebuah payung hitam besar, dan langsung menaungi tubuh Ji-an.

​"Jin-wook ya? Kenapa kau di sini? Bukankah rapatmu selesai jam lima?" tanya Ji-an terkejut.

​Jin-wook tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik tubuh Ji-an ke dalam dekapannya di bawah payung, melindunginya sepenuhnya dari angin dingin musim semi. Dengan tangan yang bebas, ia menyelipkan seuntai syal kasmir hangat ke leher Ji-an yang terekspos.

​"Aku melihat ramalan cuaca buruk, dan pikiranku langsung tertuju padamu," ujar Jin-wook, matanya menatap lekat bibir Ji-an yang sedikit pucat karena dingin. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitar butik mewah itu, Jin-wook menunduk dan mengecup kening Ji-an lama. "Aku tidak suka membayangkan istriku kedinginan tanpa aku di sisinya."

​Ji-an merasakan pipinya memanas. Perlakuan manis ala drakor yang dilakukan Jin-wook selalu sukses membuat jantungnya berdebar seperti remaja, menghapus semua memori buruk tentang pernikahan masa lalunya yang dingin.

​Namun, kehangatan itu seketika terusik saat mobil mereka mulai memasuki gerbang kompleks Hannam-dong. Di seberang jalan, di bawah guyuran hujan tanpa payung, berdiri seorang wanita dengan pakaian lusuh dan rambut basah kuyup. Di sampingnya, Kang Min-woo berdiri dengan jaket logistiknya, memegangi pundak wanita itu seolah memberi kekuatan.

​Wanita itu memegang sebuah kertas usang—sebuah sertifikat kelahiran dari rumah sakit Swiss.

​Saat mobil Bentley milik Jin-wook melintas lambat melewati gerbang, wanita itu berteriak histeris, "Kembalikan anakku! Cha Jin-wook! Kau menculik putraku dari Swiss!"

​Ji-an tersentak di dalam mobil. Ia menoleh ke arah luar jendela, matanya menangkap sosok Kang Min-woo yang sedang menatap ke arah mobil mereka dengan senyuman licik yang penuh kemenangan.

​Ji-an beralih menatap suaminya. Ia bisa melihat rahang Jin-wook mengencang sempurna, dan cengkeraman tangannya pada kemudi memutih. Riak badai yang direncanakan oleh Min Chae-rin dan Kang Min-woo kini telah sampai di depan pintu rumah mereka, siap mengoyak kebahagiaan yang baru saja mereka rajut.

​KEBENARAN DIBALIK PELUKAN HANGAT

​Suasana di dalam penthouse Hannam-dong mendadak sunyi senyap. Hyun-woo dan Seo-ah sudah tertidur lelap di kamar mereka di bawah pengawasan ketat pengasuh dan tambahan lima pengawal di depan pintu.

​Ji-an berjalan mendekati Jin-wook yang duduk di tepi ranjang besar mereka. Pria itu menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan. Bahunya yang biasa tegak bagai batu karang, kini tampak bergetar samar. Kehadiran wanita fasik di depan gerbang tadi jelas telah membuka kotak pandora yang selama ini Jin-wook kunci rapat-rapat.

​Ji-an tidak berteriak. Ia tidak menuntut penjelasan dengan amarah.

​Wanita itu perlahan berlutut di atas karpet, tepat di hadapan Jin-wook. Ia meraih kedua tangan besar suaminya, menurunkannya dari wajah, lalu menggenggamnya erat. Ji-an mendongak, menatap mata elang Jin-wook yang kini dipenuhi rasa bersalah dan ketakutan yang mendalam—ketakutan bahwa Ji-an akan memandangnya sebagai pembohong.

​"Jin-wook ya, tatap aku," kata Ji-an, suaranya selembut sutra, menenangkan badai di dalam kepala pria itu.

​Jin-wook menatap istrinya dengan mata yang memerah. "Ji-an... Hyun-woo... dia memang bukan darah dagingku." Suaranya parau, nyaris berbisik. "Lima tahun lalu, mendiang kakak lakilakiku mencintai wanita itu—seorang wanita manipulatif yang hanya menginginkan uang keluarga Cha. Saat kakakku tewas dalam kecelakaan, wanita itu melahirkan Hyun-woo di Swiss lalu menelantarkannya di rumah sakit karena kakekku menolak memberikan uang tebusan. Aku... aku memalsukan dokumen kelahirannya sebagai anak kandungku demi melindungi hak asuh Hyun-woo agar tidak jatuh ke tangan paman-pamanku yang kejam, atau wanita serakah itu."

​Jin-wook mencengkeram tangan Ji-an lebih erat, tubuhnya condong ke depan. "Aku minta maaf karena merahasiakannya darimu. Aku hanya... aku takut kau akan merasa terbebani membesarkan anak dari wanita sekejam itu."

​Mendengar kejujuran itu, air mata Ji-an menetes, namun bukan karena marah. Ia memajukan tubuhnya, merangkak naik ke pangkuan Jin-wook, dan memeluk leher suaminya dengan sangat erat. Ji-an menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Jin-wook, menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki.

​"Bodoh," bisik Ji-an di tengah isakannya, jemarinya bergerak lembut mengusap tengkuk Jin-wook. "Kau pikir aku ini wanita seperti apa? Sejak hari pertama aku menggendong Hyun-woo, dia adalah anakku. Aku yang menyusuinya, aku yang terjaga saat dia demam. Darah atau bukan, Hyun-woo adalah putra sah dari Han Ji-an."

​Jin-wook tertegun. Kalimat Ji-an seperti aliran air hangat yang mencairkan seluruh rasa takutnya. Ia membalas pelukan Ji-an dengan kekuatan penuh, membenamkan wajahnya di rambut harum istrinya, menghirup dalam-dalam aroma yang menjadi candu baginya.

​"Terima kasih... Terima kasih, Ji-an," gumam Jin-wook parau.

​Jin-wook melepaskan pelukannya sedikit, menatap wajah cantik Ji-an yang basah oleh air mata. Dengan gerakan yang sangat intim dan romantis, ia menyeka air mata di pipi Ji-an dengan bibirnya, mengecup kelopak mata istrinya bergantian, sebelum akhirnya mengunci bibir Ji-an dalam sebuah ciuman yang sarat akan rasa syukur, gairah, dan komitmen mutlak. Malam itu, di bawah saksi bisu hujan Seoul, aliansi hati mereka semakin tak tergoyahkan.

​Keesokan paginya, badai media yang diprediksi Min Chae-rin akhirnya pecah.

​[HOT] Foto Eksklusif: Seorang Wanita Mengaku Ibu Kandung Pewaris Cha Group Muncul di Hannam-dong, Menuduh CEO Cha Jin-wook Melakukan Penculikan Anak!

​Di kantor Shinhwa Hotel, Min Chae-rin sedang menyesap espresso-nya dengan senyum kepuasan yang mengembang lebar. Di hadapannya, Cha Tae-sung, sang paman, tertawa puas melihat pergerakan saham Cha Group yang mulai berfluktuasi.

​"Kerja bagus, Chae-rin ah. Dewan direksi sudah mulai mendesak diadakannya rapat darurat untuk meminta klarifikasi Jin-wook sore ini," ujar Cha Tae-sung licik.

​"Ini baru permulaan, Paman," jawab Chae-rin arogan. "Saat Jin-wook sibuk dengan direksi, Han Ji-an pasti sedang menangis ketakutan di rumahnya karena posisinya sebagai ibu tirinya terbongkar."

​Namun, senyum Chae-rin seketika lenyap ketika pintu ruang kerjanya diketuk dengan keras. Sekretarisnya masuk dengan wajah pucat pasi.

​"Direktur Min! Anda harus melihat siaran langsung konferensi pers saat ini!"

​Chae-rin dengan cepat menyalakan televisi besar di dinding ruangannya. Di layar, tampak aula konferensi pers Cha Group yang dipadati ratusan jurnalis.

​Di atas panggung, bukan Cha Jin-wook yang berdiri untuk membela diri. Melainkan Han Ji-an.

​Ji-an berdiri dengan anggun mengenakan setelan blazer hitam formal dengan bros berlian Cha Group di dadanya. Wajahnya tenang, memancarkan aura dominasi seorang Nyonya Besar yang sesungguhnya. Di sampingnya, tim hukum terbaik Korea mendampingi.

​"Saya, Han Ji-an, Nyonya Besar dari Cha Group, berdiri di sini untuk menanggapi rumor miring mengenai putra pertama kami, Cha Hyun-woo," suara Ji-an terdengar jernih dan tegas di seluruh penjuru negeri melalui mikrofon.

​Ji-an menatap lurus ke arah kamera, seolah sedang menatap langsung ke mata Min Chae-rin dan Kang Min-woo yang menontonnya.

​"Kami memiliki seluruh dokumen adopsi legal internasional yang telah disetujui oleh pengadilan Swiss sejak lima tahun lalu, yang menyatakan bahwa hak asuh penuh berada di tangan suami saya, Cha Jin-wook, setelah ibu kandungnya menelantarkan bayi tersebut demi uang tebusan," Ji-an mengangkat sebuah map dokumen resmi berkepala surat pemerintah Swiss.

​"Dan untuk wanita yang berteriak di depan rumah kami kemarin, serta pihak-pihak di balik layar yang mendanai aksi pencemaran nama baik ini..." Ji-an tersenyum dingin, senyuman mematikan yang ia pelajari dari Jin-wook. "Firma hukum kami telah resmi mengajukan gugatan pidana atas pemerasan internasional dan percobaan penculikan anak. Kami tidak akan memberikan ruang negosiasi atau pengampunan apa pun. Siapa pun yang menyentuh anak saya... akan saya pastikan membusuk di penjara."

​Plakkk!

​Min Chae-rin menjatuhkan cangkir espressonya hingga pecah berantakan di lantai. Wajah cantiknya berkerut penuh amarah dan rasa tidak percaya. Han Ji-an tidak hancur; wanita itu justru menggunakan badai ini untuk mengukuhkan posisinya sebagai pelindung mutlak keluarga Cha.

1
Mutia Kim🍑
Seneng banget deh Ji-An dapat pengganti yg jauh lebih baik🥰
Mutia Kim🍑
Memang lebih baik kamu pergi saja dari keluarga toxic itu Ji-an😌
Mayraa_Tapaa: makasih ka udah mampir
total 1 replies
Mayraa_Tapaa
Mampir ya readers readers yg baik dan keren-keren, udah up banyak episode loh jadi enak bacanya...setiap hari juga bakal up min 4 episode sehari ya....
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!