Di sudut tergelap Distrik Kumuh Oakhaven, Ren bertahan hidup sebagai pelayan di sebuah rumah bordil sekaligus tempat penampungan anak-anak telantar. Di balik fisiknya yang tampak biasa dan otaknya yang encer, Ren menyembunyikan kutukan sekaligus berkah: ia adalah keturunan Vampir terakhir yang murni, terpaksa menahan dahaga darah agar tidak memicu kecurigaan Gereja Suci.
Dunia Ren runtuh ketika sekelompok Ksatria Suci berzirah perak—yang seharusnya menjadi simbol kehormatan—membantai tempat tinggalnya demi menutupi skandal korupsi ordonya. Di ambang kematian, Ren merangkak ke ruang bawah tanah rahasia dan menemukan Crimson, roh pedang kuno yang haus darah. Demi membalaskan dendam dan mengubah takdirnya, Ren memulai jalannya sebagai Sword Master yang tidak biasa: memadukan teknik pedang legendaris dengan kekuatan darah yang terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19.di atas Kolam Logam
Kemenangan kilat Ren atas Gideon mengirimkan gelombang kejut yang merambat cepat ke seluruh penjuru Odelia. Tujuh detik. Bagi para petarung veteran, angka itu bukan sekadar catatan waktu, melainkan sebuah pernyataan dominasi mutlak. Nama Ren yang sebelumnya hanya dianggap sebagai kebetulan geopolitik, kini dicatat dengan tinta merah di buku strategi setiap delegasi.
Di ruang tunggu khusus Kekaisaran, atmosfernya sangat kontras dengan gemuruh di luar. Para murid faksi bawah berdiri berbaris dengan punggung tegak, menyambut kepulangan pemimpin mereka dengan tatapan yang penuh dengan fanatisme murni.
*Sreet.*
Lyra muncul dari balik tirai besi pembatas, memegang sebuah penggulung mekanis kecil yang biasa digunakan oleh para intelijen Veridonia.
"Kau baru saja merusak taruhan besar di kota ini, Ren," Lyra tersenyum sinis, melempar gulungan itu ke atas meja. "Faksi militer Veridonia sedang meradang. Mereka tidak menyangka aset terbaik mereka di tingkat satu akan ditumbangkan seperti samsak pasir. Tapi... ada satu hal yang harus kau waspadai."
Ren duduk di kursi logam panjang, meluruskan kaki kirinya dengan santai. Rambut perak abu-abunya yang sedikit basah oleh sisa uap mekanis arena membingkai wajahnya yang tenang. Sambil mengaktifkan *Blood Circulation* tiruan untuk menyerap energi sisa pertarungan tadi, ia melirik Lyra.
"Siapa?" tanya Ren datar.
"**Aria dari faksi Kerajaan Hutan Levant**," Lyra menjelaskan, nadanya berubah sedikit lebih serius. "Dia memenangkan pertandingan keduanya dalam waktu sepuluh detik. Bukan dengan kekuatan fisik murni seperti Gideon, tapi dengan teknik manipulasi angin berfrekuensi tinggi yang bisa memotong zirah tanpa menyentuhnya. Dan yang paling penting... informanku melihat dia memperhatikanmu dengan sangat detail saat kau menghantam rahang Gideon."
**"Hmph! Pengguna angin lagi? Membosankan,"** Crimson mendengus di dalam kepala Ren, tato hitam di lengan bawah Ren memancarkan pendaran merah redup. **"Tapi setidaknya, gadis itu sepertinya tahu cara menggunakan otak, tidak seperti si bodoh berzirah batu tadi. Potong dia di babak berikutnya, Ren!"**
Ren menarik sudut bibirnya, menampilkan seulas *smug* dingin yang dipenuhi kalkulasi cerdas. "Memperhatikanku? Baguslah. Biarkan mereka menganalisis gerakan yang sengaja kuperlihatkan."
### Malam Sebelum Badai
Malam harinya, Ren memilih untuk mengasingkan diri dari perjamuan sekunder. Ia berjalan di sepanjang jembatan penyeberangan logam yang menghubungkan menara-menara tinggi Odelia. Di bawah sana, lampu-lampu minyak dan uap mesin menciptakan siluet kota yang distopian.
"Berdiri di tempat terbuka tanpa pengawalan... kau benar-benar percaya diri, Juru Pedang Kekaisaran."
Sebuah suara yang jernih namun dingin terdengar dari ujung jembatan.
Ren tidak membalikkan badannya dengan terkejut. Langkah kakinya berhenti dengan santai. Penglihatan vampirnya sudah mendeteksi kehadiran sosok itu sejak lima menit yang lalu melalui fluktuasi angin yang tidak alami di sekitarnya.
Sesosok gadis dengan pakaian tempur ringkas berbahan kulit rusa dan jubah hijau tua melangkah maju. Rambut hitamnya diikat tinggi, dan sepasang mata hijaunya menatap Ren dengan ketajaman seekor elang. Dialah Aria, sang jenius dari Levant.
"Kau sengaja membiarkan Gideon menyerang lebih dulu untuk memancing tumpuan berat badannya bergeser," Aria berkata, berjalan mendekat hingga menyisakan jarak lima langkah di antara mereka. "Teknik sarung pedangmu... itu bukan bela diri standar akademi Kekaisaran. Siapa kau sebenarnya, Ren?"
Ren perlahan membalikkan tubuhnya. Jubah hitamnya berkibar pelan diterpa angin malam Odelia yang membawa bau karat. Ia menatap Aria dengan tatapan datar yang menusuk, lalu sebuah *dangerous smirk* yang tipis terukir di wajah tampannya.
*Dug.*
Jantung Ren berdenyut sekali secara terkontrol. Di bawah bayangan tiang lampu mekanis, salah satu mata merah Ren berkilat intens seutuhnya, melepaskan guratan energi streaks merah yang sangat tajam dan mematikan, langsung menekan aura angin halus yang samar-samar menyelimuti tubuh Aria.
"Siapa aku tidak penting bagi orang yang akan segera kalah, Aria," Ren berbisik, suaranya halus namun sarat akan tekanan mental predator yang mencekik. "Jika kau hanya datang untuk memuaskan rasa ingin tahumu... sebaiknya simpan energimu untuk arena besok. Karena di sana... anginmu tidak akan cukup kuat untuk menerbangkan jubahku."
Aria merasakan embusan hawa dingin yang luar biasa mendadak merayapi tengkuknya, membuat insting bertarungnya berteriak untuk segera menarik pedang. Tekanan energi yang dikeluarkan Ren barusan terasa begitu pekat dan asing—jauh lebih berbahaya daripada apa yang diperlihatkan pemuda itu di arena siang tadi.
Gadis itu menahan napasnya sesaat, sebelum akhirnya mundur satu langkah dan menyipitkan mata. "Kita lihat saja besok, Ren. Apakah kesombonganmu itu sekeras pedangmu."
Aria berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan jembatan dengan bantuan riak anginnya.
Ren tetap berdiri di sana, menatap tempat kosong yang ditinggalkan Aria, lalu menyentuh tato Crimson-nya yang mulai menghangat penuh gairah. Babak semifinal besok akan menjadi panggung pertumpahan darah yang jauh lebih indah.