Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Malam itu, suasana ruang makan utama Adhitama Mansion terasa begitu tegang, kontras dengan kilau lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya mewah di atas meja makan kayu jati panjang.
Setelah insiden pelarian di tengah badai malam sebelumnya, yang ternyata dipicu oleh sabotase sistem siber luar, Devran bertindak cepat mengetatkan keamanan.
Siska Lorenza, yang dibebaskan sementara dengan jaminan oleh pengacara ayahnya atas tuduhan penyusupan taman, malam ini diizinkan menghadiri makan malam keluarga formal terakhir sebelum proses hukumnya benar-benar berjalan.
Kehadirannya di sana tak lain atas tuntutan paksa Devran untuk menyelesaikan segala urusan secara tatap muka di depan tetua keluarga.
Siska duduk di ujung meja dengan gaun hitam ketat, wajahnya yang cantik dilapisi riasan tebal untuk menutupi rona pucat akibat rasa malu dan panik.
Matanya berkilat penuh dendam, menatap lurus ke arah Alana yang duduk dengan anggun di sebelah Devran. Di samping Alana, Leo sibuk memainkan sendok kecilnya dengan wajah tanpa dosa.
"Silakan dinikmati hidangannya," ucap pelayan senior mansion sembari menyajikan sepiring truffle risotto hangat di hadapan Alana.
Siska tersenyum sinis, jemarinya yang dihiasi kuku akrilik merah meremas selembar tisu di bawah meja. Di dalam tas kecilnya, sebuah botol mini berisi cairan pencahar dosis tinggi cair tanpa warna dan rasa sudah kosong.
Saat semua orang sibuk menyambut kedatangan paman Devran di selasar tadi, Siska telah menyuap salah satu pelayan magang untuk meneteskan racun perut itu tepat di atas piring milik Alana.
'Aku tidak bisa memenjarakanmu sekarang, jalang. Tapi aku akan memastikan malam ini kamu merangkak di lantai toilet dan mempermalukan dirimu sendiri di depan seluruh keluarga besar Adhitama!' batin Siska kejam.
"Alana," suara Siska memecah keheningan, terdengar manis yang dipaksakan.
"Makanlah yang banyak. Kamu terlihat sangat pucat setelah... yah, insiden pelarian konyol semalam. Sebagai desainer, kamu pasti tidak terbiasa dengan tekanan tinggi keluarga kami, kan?"
Alana mendongak, menatap Siska dengan tenang. "Terima kasih atas perhatiannya, Nona Lorenza."
"Saya rasa kesehatan saya jauh lebih baik daripada seseorang yang harus berurusan dengan kepolisian resor Jakarta Selatan sejak tadi pagi."
"Kamu...!" Siska menahan geramnya, giginya berkatup rapat.
Devran yang baru saja memotong daging steaknya meletakkan pisau dengan dentingan tajam.
"Siska. Jaga bicaramu jika kamu masih ingin keluar dari ruangan ini dengan kedua kakimu sendiri. Makan makananmu, lalu pergi."
Siska mendengus, mencoba mengontrol emosinya yang hampir meledak.
Tiba-tiba, ia merasakan getaran aneh di perutnya sendiri, mungkin karena stres sejak pagi. "Aku harus ke toilet sebentar. Permisi."
Dengan langkah angkuh, Siska bangkit dari kursinya dan berjalan cepat menuju toilet yang terletak di lorong samping ruang makan.
Begitu sosok Siska menghilang di balik pintu lorong, Leo yang sejak tadi diam mendadak menegakkan tubuhnya. Mata bulatnya melirik piring risotto di depan ibunya, lalu melirik ke arah piring steak milik Siska yang baru tersentuh sedikit.
Insting tajam bocah lima tahun itu bergolak. Ia mengingat gerak-gerik mencurigakan Siska dan pelayan magang di dekat meja saji beberapa menit sebelum makan malam dimulai.
"Mommy," bisik Leo, menarik-narik ujung lengan baju Alana.
"Ya, Sayang? Ada apa? Kamu tidak suka supmu?" tanya Alana lembut, mencondongkan tubuhnya ke arah Leo.
"Mommy, lihat itu! Di langit-langit dekat lampu kristal ada laba-laba besar sekali! Kakinya panjang dan berbulu!" seru Leo dengan ekspresi ketakutan yang sangat meyakinkan, tangannya menunjuk ke arah sudut atas yang berlawanan dari posisi piring mereka.
"Hah? Laba-laba? Di mana, Leo?" Alana seketika panik dan refleks menoleh ke atas, mencari-cari hewan yang dimaksud anaknya.
Bahkan Devran pun ikut mengalihkan pandangannya ke langit-langit mansion, mencari gangguan yang membuat anaknya terusik.
"Itu, Om seram! Dekat hiasan emas yang sebelah kanan!" seru Leo lagi untuk mengulur waktu.
Hanya butuh waktu tiga detik bagi jemari mungil dan gesit Leo untuk bertindak. Dengan kecepatan tangan yang terlatih dan tanpa menimbulkan suara sedikit pun, Leo menukar piring risotto milik Alana dengan piring steak milik Siska yang berada di kursi sebelah.
Setelah piring berpindah posisi dengan sempurna, Leo kembali duduk tegak sembari memakan sesendok supnya dengan santai.
"Tidak ada apa-apa di sana, Leo. Mungkin hanya bayangan dari lampu kristal," ucap Devran setelah memeriksa langit-langit dengan saksama. Pria itu kembali menatap anaknya dengan dahi berkerut.
"Ah, mungkin Leo salah lihat, Om seram. Maaf," sahut Leo polos, memberikan senyuman termanisnya.
Alana menghela napas lega dan mengusap dada. "Mommy kaget sekali, Sayang. Ya sudah, ayo dimakan lagi." Alana meraih garpunya dan bersiap memakan hidangan di depannya yang kini sebenarnya adalah piring asli milik Siska.
Tak lama kemudian, Siska kembali dari toilet dengan dagu terangkat sombong. Ia kembali duduk di kursinya, matanya langsung tertuju pada piring di depan Alana yang tampak sudah berkurang satu sendok. Senyum kemenangan langsung merekah di bibir Siska.
"Wah, Alana, tampaknya kamu sangat menyukai risottonya ya? Habiskan saja, itu sangat bagus untuk energi wanita... miskin sepertimu," ejek Siska, lalu dengan penuh kemenangan ia menyendok makanan di hadapannya sendiri, yang ia yakini sebagai steak miliknya, padahal itu adalah risotto yang sudah ia racuni dengan obat pencahar dosis tinggi.
"Makanan di mansion ini selalu luar biasa, Nona Lorenza. Sangat disayangkan jika tidak dinikmati," balas Alana dengan senyuman tenang, memakan potongan daging di piringnya.
Leo memperhatikan Siska yang menyuap risotto itu dengan rakus. Bocah itu menopang dagunya dengan kedua tangan mungilnya, menatap Siska dengan pandangan penuh minat, seolah sedang menonton pertunjukan komedi di televisi.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu, anak haram?" desis Siska lirih saat pandangannya bertemu dengan Leo.
"Aku hanya suka melihat Tante ular makan," sahut Leo dengan nada riang yang menggemaskan.
"Kakek buyut di Swiss pernah bilang, ular kalau makan mangsanya selalu langsung ditelan bulat-bulat. Tante mirip sekali."
"Leo, jaga sopan santunmu," tegur Alana pelan, meskipun dalam hati ia ingin tertawa mendengarnya.
Devran hanya diam, namun sudut bibirnya menahan senyum. Mata elangnya sempat melirik posisi piring yang agak bergeser dari garis taplak meja, lalu melirik ke arah Leo yang mengedipkan sebelah matanya secara rahasia pada sang ayah.
Devran seketika paham. Sebuah kilat geli dan bangga melintas di matanya. 'Anak pintar,' batin Devran.
Lima menit berlalu dalam keheningan yang tegang, sampai tiba-tiba...
Glek.
Wajah Siska mendadak berubah drastis. Warna kulitnya yang tadi dilapisi bedak mahal kini berubah menjadi putih pucat, lalu perlahan berubah menjadi kehijauan. Tangannya yang memegang garpu mendadak gemetar hebat.
"Siska? Kamu baik-baik saja?" tanya paman Devran yang duduk di seberangnya, menyadari perubahan ekspresi wanita itu.
"A-Aku... perutku..." Siska menggigit bibir bawahnya dengan sangat kencang.
Di dalam perutnya, rasanya seperti ada badai topan yang sedang mengaduk-aduk seluruh organ dalamnya. Efek obat pencahar cair dosis militer yang ia beli dari pasar gelap itu bekerja dengan kecepatan dan kekuatan yang mengerikan.
Preeet...
Sebuah suara desisan halus namun sangat jelas terdengar dari arah kursi Siska, memecah keheningan ruang makan yang sunyi.
Alana langsung mengerutkan keningnya, mencium bau yang mendadak tidak sedap. "Nona Lorenza? Apakah Anda... sehat?"
"T-Tidak... ini tidak mungkin..." Siska melotot, matanya hampir keluar. Ia menatap piring di depannya, lalu menatap Leo yang kini sedang tersenyum lebar menampilkan deretan gigi susunya yang rapi.
"Tante ular, kalau perutnya sakit, sebaiknya cepat lari ke toilet di basemen," ujar Leo dengan suara yang sengaja dikeraskan agar seluruh pelayan dan anggota keluarga mendengar.
"Toilet di lantai ini sedang diperbaiki sistem pembuangannya karena rusak semalam. Kalau Tante tidak tahan... bisa gawat!"
"K-Kamu... kamu yang melakukan ini, kan?!" jerit Siska, mencoba berdiri, namun gerakannya justru membuat tekanan di perutnya semakin tidak tertahankan. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bercucuran di pelipisnya.
"Aku melakukan apa, Tante? Aku kan dari tadi cuma makan sup di sebelah Mommy," jawab Leo dengan wajah paling polos.
"Devran! Anak ini...Ugh!" Siska tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
Rasa mulas yang teramat dahsyat menghantamnya hingga ia harus membungkuk dalam-dalam, memegangi perutnya dengan kedua tangan.
"Reno," panggil Devran dengan nada dingin yang mutlak.
"Bawa Nona Lorenza keluar dari ruang makan ini sekarang juga. Baunya mulai mengotori kualitas udara di mansionku."
"Baik, Tuan Besar," sahut Reno sigap. Dua petugas keamanan langsung mendekati kursi Siska.
"Jangan sentuh aku! Ugh...m-maaf... permisi!" Siska akhirnya menyerah pada harga dirinya.
Dengan posisi tubuh yang membungkuk aneh dan tangan yang menjepit bagian belakang gaunnya, ia berlari sekencang mungkin keluar dari ruang makan, meninggalkan suara langkah kaki yang panik dan aroma yang membuat semua orang di meja makan menutup hidung mereka.
Setelah Siska menghilang, ruang makan itu mendadak meledak oleh tawa kecil dari para pelayan yang menahan diri sejak tadi. Alana menatap anaknya dengan pandangan menyelidik.
"Leo... katakan pada Mommy. Apa yang sebenarnya terjadi dengan piring Nona Siska?" tanya Alana setengah berbisik.
Leo hanya mengangkat bahunya dengan santai sembari meminum jus melonnya. "Leo tidak tahu, Mommy. Mungkin Tante ular lupa kalau dia sendiri yang menaruh bumbu rahasia di atas piringnya, tapi salah mengambil piring saat kembali dari toilet."
"Senjata makan tuan, kan, Om seram?" Leo mengedipkan matanya pada Devran.
Devran tidak bisa lagi menahan tawa rendahnya. Pria itu mengulurkan tangan kekarnya, mengacak-acak rambut lebat milik Leo dengan penuh rasa sayang.
"Ya. Senjata makan tuan yang sangat indah, Nak. Mulai besok, aku akan memastikan menu makananmu ditambah dengan es krim terbaik di kota ini."
"Hore! Terima kasih, Papa kaku!" seru Leo kegirangan, secara tidak sengaja menyebut Devran dengan panggilan Papa untuk pertama kalinya.
Kata itu membuat Devran dan Alana seketika tertegun, saling bertatapan dalam keheningan yang kini dipenuhi oleh kehangatan sebuah keluarga yang perlahan namun pasti mulai menyatu kembali, sementara Siska Lorenza harus menghabiskan malam terakhirnya sebelum dipenjara di dalam bilik toilet dengan penderitaan yang ia ciptakan sendiri.