Dunia yang tidak hanya dihuni oleh manusia, kini juga terdapat "Astra" yang dapat membantu setiap orang mencapai kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEBAKAN DI SEKTOR NERAKA
Papan pengumuman digital utama di aula besar akademi mendadak memancarkan pendaran cahaya biru, menampilkan pengumuman resmi yang membuat seisi gedung utama bergetar oleh sorak-sorai murid tingkat satu. Ujian Tengah Semester (UTS) kali ini bukanlah ujian tertulis di dalam kelas, melainkan sebuah ekspedisi perburuan beregu di Rawa Mangrove Purba.
Area tersebut dikenal sebagai labirin berlumpur yang penuh dengan monster amfibi agresif dan uap beracun yang dapat mengacaukan sinyal lencana militer. Aturannya sederhana: setiap tim terdiri dari 3 orang, dan tim dengan perolehan poin perburuan tertinggi akan mendapatkan jatah beasiswa khusus serta hak istimewa untuk akses latihan di fasilitas high-end akademi selama sebulan penuh.
Arkan dan Sky baru saja melangkah masuk ke aula saat puluhan murid Kelas 1-A langsung mengepung mereka. Nama mereka kini telah menjadi magnet kesuksesan setelah insiden Sektor Liar Utara.
"Arkan! Sky! Satu slot tim kalian masih kosong, kan? Aku punya keahlian scouting sensorik, aku jamin kita bisa menyapu bersih rawa itu!" seorang murid bernama Vian berteriak antusias.
"Jangan dengarkan dia, Arkan! Masuklah ke timku, aku ahli dalam pertahanan perisai!" sahut murid lain.
Arkan hanya menyunggingkan senyuman tipis, matanya menyapu sekeliling aula yang penuh sesak. Dia tidak berniat membawa beban tambahan yang bisa menghambat pergerakan rahasia mereka. Sinergi antara petir putih Volt dan air purba Kroak adalah kartu as yang tidak boleh diketahui oleh orang awam.
"Kami sudah punya kandidat anggota ketiga," Sky memotong keriuhan tersebut dengan suara anggun namun tegas. Dia menunjuk ke arah seorang murid perempuan pendiam di pojok ruangan bernama Hana, yang dikenal memiliki kemampuan manipulasi medan lumpur—sebuah support pasif yang tidak akan mencolok namun sangat berguna untuk mobilitas.
Tepat saat mereka hendak mendaftarkan tim, sekelompok murid bertubuh atletis dengan seragam eksklusif Kelas 1-S melangkah membelah kerumunan. Itu adalah faksi komersial yang dipimpin oleh seorang murid bernama Julian, sekutu dekat dari keluarga Flamewing. Julian menatap Arkan dengan senyuman yang sarat akan kebencian terselubung.
"Ah, si juara turnamen," Julian berucap keras agar seluruh aula mendengarnya. Dia menempelkan sabak digitalnya ke mesin pendaftaran kelompok, melakukan manipulasi data secara ilegal menggunakan pengaruh faksi mereka. "Sayang sekali, sistem baru saja mengalokasikan tim kalian ke Sektor 9. Sektor paling dalam di Rawa Mangrove yang dipenuhi oleh monster tingkat tinggi dan gas korosif. Tapi tenang saja, sebagai perwakilan faksi elit, aku yakin kalian pasti bisa menanganinya, kan?"
Seluruh aula mendadak hening. Sektor 9 adalah zona yang biasanya hanya boleh dimasuki oleh tim tingkat senior, bukan murid baru. Apa yang dilakukan Julian adalah sabotase terang-terangan untuk memastikan Arkan dan Sky gagal atau setidaknya terluka parah di hari pertama.
Sky mengepalkan tangannya di balik jubah, namun Arkan menahannya. Pemuda itu melangkah maju, berdiri tepat di depan wajah Julian dengan ekspresi yang sangat santai.
"Terima kasih atas alokasinya, Julian," Arkan berucap dengan suara rendah yang dingin. "Sektor 9? Kurasa itu tempat yang cukup luas untuk menghancurkan monster-monster di sana tanpa perlu mendengar suara berisik dari tim-tim kecil seperti kalian."
Julian tertawa meremehkan, namun dia tidak berani menatap mata petir putih Arkan terlalu lama. "Kita lihat saja nanti, Arkan. Jika kalian tidak kembali dalam 24 jam, jangan salahkan kami jika namamu dicoret dari daftar murid akademi."
Setelah faksi Kelas 1-S itu pergi, Arkan dan Sky segera mendaftarkan tim mereka bersama Hana. Sky menatap Arkan dengan cemas begitu mereka melangkah keluar dari aula. "Itu jebakan gila, Arkan. Sektor 9 memiliki tingkat korosif air yang bisa menghancurkan kulit manusia tanpa perlindungan khusus."
"Bagus," Arkan menjawab pendek, mematikan gelang peredamnya sejenak untuk berkomunikasi dengan Volt dan Kroak di dalam saku jiwanya. "Justru air korosif itu adalah bahan bakar terbaik bagi Kroak. Semakin ekstrem lingkungan rawa itu, semakin besar peluang kita untuk menunjukkan hasil latihan malam bersama Guru Joshua tanpa dicurigai siapa pun."
Di malam sebelum keberangkatan, Arkan kembali menyelinap ke pondok Grandmaster Joshua. Dia menceritakan tentang sabotase Sektor 9 tersebut. Joshua tidak terlihat marah, justru dia tertawa keras hingga memicu percikan listrik di seluruh pondok kayu tuanya.
"Mereka memberikan kalian Sektor 9? Mereka tidak tahu bahwa mereka baru saja memberikan sebuah panggung eksekusi bagi musuh-musuh kalian," Joshua berkata, melemparkan sebuah gulungan kertas kuno ke arah Arkan. "Di dalam Sektor 9, terdapat aliran mata air rawa yang kaya akan mineral logam. Gunakan Resonansi Kapiler yang kita latih kemarin. Kroak tidak perlu muncul ke permukaan, cukup biarkan dia terendam di bawah lumpur dan alirkan petir putih Volt melalui media air rawa tersebut."
"Mengerti, Guru," Arkan menerima gulungan itu.
Latihan malam itu berlangsung lebih intens dari biasanya. Arkan fokus pada pengendalian output energi Volt agar tetap stabil di bawah Level 21, sementara dia melatih Kroak untuk membagi konsentrasi air purbanya agar bisa merambat melalui lumpur pekat Sektor 9 yang sangat tebal.
[ STATUS ASTRA: VOLT ]
Level: [ LEVEL 21 ]
Atribut: Petir Murni
[ STATUS ASTRA: KROAK ]
Level: [ LEVEL 13 ]
Atribut: Air Purba
Di Hari ke-14, fajar menyingsing di depan gerbang akademi. Ratusan murid telah berkumpul dengan peralatan ekspedisi lengkap. Saat nama tim Arkan dipanggil untuk menuju Sektor 9, banyak murid lain yang menatap mereka dengan pandangan kasihan, menganggap tim Arkan sebagai "orang mati yang berjalan".
Namun, saat Arkan melangkah melewati garis batas masuk Rawa Mangrove Purba yang berkabut tebal, dia tidak merasakan ketakutan sedikit pun. Dia justru merasa seperti predator yang akhirnya dilepaskan kembali ke habitat aslinya.
"Hana, tetaplah di belakang kami dan jaga koordinat sensorik," perintah Arkan tenang. "Sky, siap dengan angin vakummu. Kita akan melakukan perburuan yang akan membuat Julian menyesal telah menyentuh tim kita."
Begitu mereka masuk ke kedalaman Sektor 9, tanah rawa di bawah mereka mulai bergetar. Sesosok monster raksasa berwujud reptil berkulit keras dengan tanduk kristal muncul dari balik lumpur hitam yang mendidih.
[ TARGET LIAR: REPTIL LUMPUR ES ]
Level: [ LEVEL 23 ]
Monster itu melesat dengan kecepatan tinggi, mengabaikan Hana dan Sky, langsung mengincar Arkan. Tanpa memanggil Kroak ke permukaan, Arkan menyentuhkan telapak tangannya ke permukaan lumpur yang basah. Di bawah tanah, Kroak yang sedang bermeditasi di dalam saku jiwa kedua melepaskan gelombang air purba yang merembes ke seluruh pori-pori lumpur rawa di bawah reptil tersebut.
Arkan menarik napas panjang. Volt melepaskan aliran petir putih dengan frekuensi yang sangat rendah, namun stabil. Listrik itu tidak merambat di udara, melainkan merambat langsung melalui media air purba Kroak yang kini membasahi seluruh kaki dan tubuh bagian bawah reptil itu di dalam lumpur.
ZZZTTT—!!!!!
Tanpa ada suara ledakan yang mencolok, reptil Level 23 itu mendadak kejang hebat. Arus listrik yang merambat melalui media air rawa itu langsung melumpuhkan sistem saraf pusat sang monster, membuatnya roboh ke dalam lumpur dengan busa putih keluar dari mulutnya dalam waktu kurang dari 3 detik.
Arkan berdiri tegak di tengah kabut Sektor 9, menatap lurus ke arah kamera pengawas militer yang tersembunyi di pepohonan. Dia tahu tim pengawas dari faksi elit sedang memantau mereka lewat monitor.
"Ini baru permulaan, Julian," Arkan berucap pelan, suaranya seolah menembus lensa kamera pengawas di kejauhan.
Di ruang kontrol utama akademi, Julian yang sedang menyesap kopi hampir tersedak saat melihat monitor menunjukkan bahwa tim Arkan baru saja menghabisi monster Level 23 tanpa terlihat melakukan serangan fisik apa pun. Wajahnya berubah pucat pasi, menyadari bahwa Sektor 9 yang seharusnya menjadi kuburan bagi Arkan, kini justru menjadi panggung dominasi mutlak bagi dua anak Kelas 1-A yang paling berbahaya di seluruh Nusantara.
pukul 12.00 Wib dan 15.00 Wib. Saran dan dukunganmu sangat membantu karya ini menjadi lebih baik!