NovelToon NovelToon
Whispers Beneitah The Sajadah

Whispers Beneitah The Sajadah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”




Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.



Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.



Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6 - Ancaman Mama Diana

Keesokan paginya, suasana di rumah keluarga Mahendra bagaikan gunung berapi yang siap meletus.

Naura turun dari kamarnya dengan mata yang bengkak. Ia tidak tidur semalaman. Setiap kali memejamkan mata, bayangan komentar-komentar keji di media sosial itu berkelebat seperti hantu. Auratmu... haram... penghancur pesantren... tidak pantas...

Ia mengusap wajahnya, berusaha terlihat biasa saja. Berusaha terlihat kuat. Tapi langkahnya terhenti di tengah tangga saat mendengar suara ibunya yang meninggi dari ruang kerja ayahnya.

"Aku tidak setuju, Mahendra!"

Naura mengendap-endap menuruni sisa tangga, berdiri di balik dinding pemisah ruang kerja dan lorong. Jantungnya berdebar kencang.

Di dalam ruang kerja, Diana Mahendra berdiri menghadapi suaminya dengan wajah merah padam. Tangan sosialita itu mengepal di samping tubuhnya, berlian di jarinya memantulkan cahaya pagi yang menyilaukan.

"Diana, tolong tenang—"

"Tenang?!" Diana meninggikan suaranya lagi, membuat Mahendra mengusap pelipisnya stres. "Kamu tahu apa yang mereka lakukan terhadap anak kita, Mahendra? Mereka mengintip rumah kita! Mereka memotret Naura tanpa izin! Mereka menyebarkannya di internet dan membidiknya dengan kata-kata keji seperti dia sampah!"

Mahendra menarik napas panjang, duduk di kursi kulainya dengan bahu yang lunglai. "Aku tahu. Aku sudah melihatnya."

"Lalu?!" Diana menghentakkan kakinya. "Masih kah kamu ingin menikahkan anak kita dengan keluarga itu?! Keluarga pesantren yang santriwatinya bersikap seperti itu?! Mereka bicara soal aurat, tapi mereka sendiri mengambil foto orang tanpa izin! Itu juga pelanggaran privasi! Itu juga haram menurut agama mereka sendiri, kan?!"

Mahendra tidak menjawab. Ia menatap meja kerjanya dengan tatapan kosong. Beberapa dokumen tersebar di atasnya surat somasi dari pengacara Rangga Prasetyo, laporan keuangan yang merah, dan nota bank yang membuat kepalanya berdenyut.

"Kalau Naura masuk ke dunia itu, dia akan dimakan hidup-hidup!" suara Diana retak, kali ini bukan karena marah, tapi karena takut. Air mata menggenang di matanya yang biasanya arogan. "Dia bukan tipe perempuan pesantren, Mahendra. Dia gadis modern. Dia terbiasa bebas, terbiasa diespresikan diri. Kalau dia dipaksa mengubah semua itu, dia akan patah!"

"Diana..."

"Kubilang padamu, Mahendra Wijaya!" Diana menunjuk suaminya dengan jari berliannya. "Kalau kamu tetap memaksakan pernikahan ini, aku akan membawa Naura pergi! Aku akan memindahkan semua asetku, aku akan menceraikanmu, dan aku akan menjauhkan anakku dari keluarga yang mencoba menghancurkannya!"

Udara di ruang kerja itu membeku. Mahendra menatap istrinya dengan shock yang tak tersembunyi. Dua puluh tahun menikah, ia belum pernah mendengar Diana mengancam perceraian.

"Diana, kamu tidak bisa—"

"Aku bisa!" Diana membalas dengan mata merah. "Aku sudah kehilangan banyak hal karena bisnismu. Aku sudah mengorbankan kehidupan sosialku karena skandal Rangga. Aku tidak akan mengorbankan anak satu-satunya juga!"

Ruangan itu terdiam. Hanya ada suara detik jam dan napas tertahan.

Lalu, suara lain memecah keheningan.

"Mama."

Diana dan Mahendra menoleh serempak. Naura berdiri di ambang pintu, bahunya bersandar di kusen, dengan wajah yang pucat namun mata yang menantang.

"Naura..." Diana buru-buru mengusap air matanya, berusaha terlihat kuat. "Kamu mendengar semuanya?"

"Semuanya," jawab Naura datar. Ia berjalan masuk, berdiri di antara kedua orang tuanya seperti wasit di ring tinju. Lalu ia menatap ibunya.

"Mama, terima kasih sudah membela aku. Tapi Mama tidak perlu mengancam sampai bercerai."

Diana menggeleng cepat, meraih tangan Naura. "Tapi Nak, mereka menyakitimu! Komentar-komentar itu—"

"Aku sudah baca," Naura memotong, suaranya tenang namun ada kekerasan di dalamnya yang membuat Diana terkejut. "Aku sudah baca semuanya. Mereka bilang aku tidak pantas. Bilang aku haram. Bilang aku penghancur pesantren."

Mahendra menguatkan diri berdiri, wajahnya penuh rasa bersalah. "Naura, Papa minta maaf. Papa tidak menyangka—"

"Papa tidak usah minta maaf," Naura menatap ayahnya, matanya basah namun tidak menangis. Ia sudah terlalu banyak menangis semalaman. "Papa sudah punya banyak masalah. Aku tidak akan menambahnya."

Ruangan itu kembali sunyi. Naura menarik tangannya dari genggaman ibunya, lalu berjalan ke jendela ruang kerja yang menghadap ke taman depan. Bunga-bunga mawar putihnya terlihat basah oleh embun pagi.

"Aku masih tidak suka dengan perjodohan ini," ucap Naura pelan, membelakangi kedua orang tuanya. "Aku masih merasa hidupku dirampas. Tapi..."

Ia menoleh separuh badan, menatap ibunya.

"Mama tidak perlu melindungiku dengan cara menghancurkan keluarga kita sendiri. Kalau ada orang yang mengintimidasi aku, aku yang akan hadapi. Bukan dengan lari, dan bukan dengan menjadikan Mama korban juga."

Diana menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. Gadis kecilnya yang dulu menangis karena jatuh dari sepeda, kini berdiri di depannya dengan tulang punggung yang tegak. Kapan dia tumbuh sekuat ini?

"Tapi Naura, komentar-komentar itu—"

"Kata-kata," Naura memotong dengan suara tegas. "Mereka hanya kata-kata dari orang-orang yang tidak mengenalku. Mengapa aku harus hancur karena kata-kata orang yang bahkan tidak tahu warna bunga favoritku?"

'Warna bunga favoritmu adalah putih,' bisik suara lain di kepala Naura. Suara bariton yang tenang. 'Karena putih adalah warna yang bersih.' Naura menggelengkan kepala, mengusir suara Gus Azzam dari benaknya.

"Aku tidak bilang aku setuju menikah," lanjut Naura, menatap ayahnya. "Aku hanya bilang aku tidak akan lari. Dan Mama tidak boleh mengancam cerai dari Papa. Kita keluarga. Keluarga tidak menghancurkan satu sama lain."

Mahendra menunduk, menutup matanya. Rasa bersalah yang menimbun di dadanya bertambah berat. Anaknya yang paling diremehkan, justru yang paling dewasa di ruangan ini.

Diana menghela napas, melangkah maju dan memeluk Naura dari belakang. "Aku hanya tidak ingin kamu tersakiti, Sayang."

"Aku tahu, Mama." Naura memegang tangan ibunya yang melingkar di pinggangnya. "Tapi kadang, orang lain tidak bisa melindungi kita dari luka. Kita harus kuat sendiri."

Mereka berdiri di situ beberapa saat, saling berpelukan di bawah cahaya pagi yang mulai menerobos mendung.

.

.

.

Sore harinya, Naura duduk di ayunan taman belakang, mengayun pelan sambil memandangi terrarium sukulena di pangkuannya. Hujan sore sudah reda, meninggalkan udara yang segar dan bunga-bunga yang basah.

Ponselnya bergeta. Pesan dari Cipa.

Cipa: NAU! GUE LIAT FOTO LO! GILA SIAPA YG SPREAD ITU?!

Cipa: MEREKA NGGAK PUNYA HAK! LO MAU GUE ROAST BALIK MEREKA DI TWITTER?!

Naura: Nggak usah, Cip. Nggak worth it.

Cipa:.Lo oke?! Lo beneran oke?!

Naura: Oke. Lagi mikir aja.

Cipa tidak membalas, mungkin sibuk mempersiapkan serangan roastingnya sendiri. Naura tersenyum tipis. Setidaknya ada orang yang bisa membuatnya tertawa di tengah kekacauan ini.

Ia kembali menatap terrarium. Tanaman kecil itu tampak segar, daun-daun sukulennya hijau dan berisi, seolah tidak terpengaruh oleh badai di luar kacanya.

"Bahkan tanaman dalam kaca bisa bertahan hidup," batin Naura. "Mengapa aku tidak?"

Terdengar langkah kaki di halaman. Naura menoleh, dan terkejut saat melihat siapa yang datang.

Bukan Gus Azzam. Bukan ayahnya. Tapi Kyai Hanan Al-Farizi.

Pria tua itu berdiri di pinggir taman, mengenakan jubah hitam dan peci hitam, dengan tongkat kayu di tangannya. Wajahnya penuh kerutan yang menandakan kebijaksanaan bertahun-tahun, matanya tajam namun lembut. Ia datang sendirian, tanpa rombongan, tanpa Gus Azzam.

Naura buru-buru berdiri, terkejut. "Kyai Hanan?"

"Assalamu'alaikum, Naura," sapa Kyai Hanan, suaranya hangat seperti teh madu di musim dingin. "Boleh aku duduk sebentar?"

Naura bingung. Pria ini adalah pendiri pesantren besar, tokoh yang dihormati ribuan orang, dan ia meminta izin untuk duduk di taman belakang rumahnya?

"Silakan, Kyai," Naura menunjuk bangku taman di seberangnya.

Kyai Hanan duduk dengan gerakan lambat, meletakkan tongkatnya di pangkuan. Ia menatap taman itu dengan mata yang penuh apresiasi, lalu tersenyum.

"Bungamu cantik," ucapnya. "Azzam benar, kamu memang mencintai bunga."

Naura terkesima. "Azzam membicarakan aku dengan ayahnya?"

"Kyai... maaf, tapi apa maksud kedatangan Kyai ke sini?"

Kyai Hanan menatap Naura dengan tatapan yang menembus jiwa. Tidak menghakimi, tidak menilai, hanya memahami.

"Aku datang untuk meminta maaf," ucap Kyai Hanan, membuat Naura terdiam.

"M-minta maaf?"

"Ya. Atas apa yang terjadi di media sosial. Atas santriwatiku yang mengambil fotomu tanpa izin. Atas kata-kata keji yang mereka lancarkan padamu." Kyai Hanan menundukkan kepalanya sedikit, sebuah gestur yang luar biasa dari seorang Kyai besar. "Itu bukan ajaran yang kami tanamkan di pesantren dan itu bukan kesalahanmu, Naura. Itu kegagalan kami sebagai pendidik."

Naura tertegun. Ia tidak menyangka pria sebesar ini akan datang langsung untuk meminta maaf atas kesalahan orang lain. Di dunianya, orang saling melempar kesalahan. Tidak ada yang mau mengakui, apalagi meminta maaf.

"Terima kasih, Kyai," bisik Naura tulus. "Aku... aku menghargainya."

Kyai Hanan mengangguk, lalu menatap Naura dengan mata yang lebih serius. "Naura, aku tahu kamu merasa terpaksa. Aku tahu kamu merasa hidupmu dirampas. Dan aku tahu kau tidak mengenal Azzam, atau kami, atau dunia pesantren."

Naura menelan ludah, tidak tahu harus berkata apa.

"Tapi izinkan aku bercerita sebentar," lanjut Kyai Hanan. "Bukan untuk mengubah keputusanmu, tapi agar kamu mengerti mengapa wasiat itu ada."

Naura mengangguk pelan, rasa penasaran mengalahkan keberaniannya.

Kyai Hanan menatap ke langit, matanya menerawang jauh. "Azzam bukan anak yang keras. Dia lembut. Terlalu lembut. Saat uminya meninggal saat dia masih kecil, dia tidak menangis. Dia hanya duduk di sajadah dan mengaji seharian. Saat teman-temannya bermain, dia belajar. Saat remajanya menuntut kebebasan, dia memilih tanggung jawab."

Naura mendengarkan, dadanya sesak mendengar potret yang sangat berbeda dari "kulkas berjalan" yang ia bayangkan.

"Selama ini, semua orang melihat Azzam sebagai Gus yang sempurna. Gus yang taat, Gus yang tampan, Gus yang berwibawa. Tidak ada yang bertanya apakah dia lelah. Tidak ada yang bertanya apakah dia ingin hidup lain." Suara Kyai Hanan bergetar pelan. "Kecuali kakeknya."

Naura memegang terrarium di pangkuannya lebih erat.

"Kakeknya tahu, Azzam hidup dalam kehitam putihan. Semuanya seragam, semuanya teratur, semuanya... sepi. Kakekmu berkata padaku sebelum wafat, 'Han, dunia pesantren itu putih bersih, tapi kadang anak butuh warna untuk tahu bahwa hidup itu indah. Naura itu warnanya.'

Naira menahan napas. Matanya terasa perih. "Ladangan yang sepi. Aku adalah warnanya?"

"Aku tidak memintamu untuk langsung menerimanya, Naura," Kyai Hanan menatap gadis itu dengan kelembutan seorang ayah. "Aku hanya memintamu untuk tidak menutup pintu hatimu sebelum kamu benar-benar mengenalnya. Azzam bukan monster yang akan merampas kebebasanmu. Dia hanya anak yang butuh teman di ujung sajadahnya."

Kyai Hanan berdiri perlahan, menepuk tongkatnya ke lantai dua kali. Ia mengulurkan tangan, dan Naura dengan ragu membisikannya.

"Terima kasih sudah mendengarkanku, Naura. Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita semua."

Lalu pria tua itu perlahan berjalan meninggalkan taman, meninggalkan Naura sendirian dengan perasaan yang kini hancur berkeping-keping dan menyusun ulang dirinya sendiri.

Naura menatap terrarium di pangkuannya. Tangannya membelai kaca yang dingin.

"Warna," batinnya. "Kamu mengangggap warna, Kakek?"

Ia memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya sejak wasiat itu dibacakan, Naura tidak memikirkan penolakan.

Ia memikirkan seorang anak laki-laki yang duduk sendirian di sajadah, memilih tanggung jawab daripada kebebasan, hidup dalam dunia yang hitam-putih sementara semua orang menganggapnya sempurna.

'Gus Azzam,' bisik hati Naura. "Siapa kamu sebenarnya?" Dan untuk pertama kalinya, Naura merasa... ia ingin tahu jawabannya.

.

.

.

1
Nina Utami
novelnya baru ya kak?
jlianty: Iyaa, ikutin terus ya. Aku update tiap hari kok🤭
total 1 replies
Nina Utami
Gus Azzam kata katamu bikin nangiss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!