"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!
...
Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.
Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 05 //MBKCM
Sore itu, riuh rendah suara klakson kendaraan dan kepulan asap knalpot menyambut Kiana saat melangkah keluar dari lobi mall. Kiana selesai sif di jam empat sore. Dia sudah berganti pakaian santai, sebuah kaus longgar dan legging yang nyaman berjalan menuju halte bus bersama Saskia. Sepanjang jalan, Saskia tidak membiarkan suasana menjadi sunyi. Gadis berambut sebahu itu terus mencoba menghiburnya dengan merekomendasikan makanan kaki lima yang enak yang belum mereka coba berdua di dekat kosan mereka.
"Kia, pokoknya kamu harus coba seblak ceker di dekat pertigaan gang kos kita. Itu pedasnya nampol banget, dijamin bisa bikin semua stres dan emosi kamu meluap keluar lewat keringat!" seru Saskia sambil merangkul lengan Kiana, mencoba memancing senyum di wajah sahabatnya.
Kiana tersenyum tipis, menghargai usaha keras Saskia. "Iya, Sas. Nanti kita beli dibungkus saja, ya. Badanku masih agak lemas kalau makan di tempat."
"Siap, Tuan Putri! Apa pun buat kamu hari ini," sahut Saskia riang.
Namun, kedamaian mereka terhenti seketika begitu mereka sampai di area halte. Bukan bus yang datang menjemput mereka, tapi sesosok pria yang sangat familier muncul dari balik tiang beton halte.
Pria itu adalah Dafa. Dengan penampilan yang berantakan, baju kemeja yang sedikit bernoda dan lingkaran hitam di bawah mata, sepertinya dia memang sedang berusaha lari dari pak Adnan si rentenir itu selama belasan jam terakhir. Begitu melihat Kiana, mata Dafa langsung berbinar lega. Dia langsung melangkah cepat, mencoba merayu Kiana dengan raut wajahnya yang seolah tidak ada rasa bersalah sama sekali atas kebiadaban yang dia lakukan semalam.
"Kiana! Sayang, akhirnya aku nemuin kamu di sini," panggil Dafa dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Dia mengulurkan tangan, hendak menyentuh jemari Kiana. "Baby, aku senang kamu baik-baik saja. Aku khawatir banget sama kamu seharian ini."
Melihat wajah pria yang telah menghancurkan hidupnya dalam semalam, sekujur tubuh Kiana mendadak gemetar hebat. Rasa takut, jijik, dan amarah yang luar biasa bergejolak di dalam dadanya. Namun, Kiana tahu halte bus ini sedang ramai oleh pekerja kantoran yang hendak pulang. Dia tidak ingin menjadi tontonan.
Dengan sentakan kasar, Kiana menepis tangan Dafa. "Jangan sentuh aku! Ikut aku sekarang."
Kiana membawa Dafa menuju ke tempat yang lebih sepi, di area taman kecil yang agak tersembunyi di samping halte, agar pertengkaran mereka tidak menjadi pusat perhatian umum. Saskia mengikuti dari belakang dengan langkah lebar, melipat kedua tangannya di dada sambil memasang wajah super galak untuk berjaga-jaga jika Dafa macam-macam.
Begitu sampai di area yang cukup sepi, Kiana langsung menghempaskan tangan Dafa dengan penuh rasa muak. Air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Kamu gila, Daf! Kamu tega menyerahkan aku pada pria tua bangka itu!" bentak Kiana, suaranya bergetar menahan ledakan emosi yang mahadahsyat.
Dafa langsung memasang wajah memelas, seolah-olah dia adalah korban paling menderita di dunia. "Maafkan aku, baby. Aku bersumpah, aku tidak berniat seperti itu. Aku benar-benar terdesak semalam!"
"Tidak berniat apanya?!" potong Kiana berang, air matanya akhirnya luruh. "Kamu jelas menaruh obat dalam minumanku semalam! Kamu menjebakku, Daf! Kamu membuatku lemas sampai tidak bisa berjalan demi membiarkan rentenir tua itu menyentuhku!"
"Maaf, aku tidak punya pilihan lain, baby," ratap Dafa, mencoba maju selangkah untuk meraih pundak Kiana, namun langsung dihadang oleh tatapan tajam Saskia. "Anak buah Pak Adnan sudah mengancam mau memotong jariku kalau utang seratus juta itu tidak lunas semalam. Aku terpaksa melakukan itu. Tapi aku menyesal, Kiana. Begitu aku sadar, aku langsung merasa bersalah. Aku tidak akan mengulanginya lagi, aku bersumpah! Aku mencintaimu, Kiana."
"Hah? Cinta katamu?!" Kiana tertawa getir di sela tangisnya, merasa kata cinta yang keluar dari mulut Dafa adalah lelucon paling menjijikkan yang pernah dia dengar. "Cinta itu melindungi, Daf! Cinta itu tidak menjualku ke pria hidung belang sebagai jaminan hutangmu! Kamu menukar harga diriku demi judi yang selalu kamu tutupi dengan kata bisnis sialanmu itu!"
Dafa menggeleng panik. "Enggak, Sayang. Aku janji bakal tebus kesalahan ini. Aku bakal cari uang buat gantiin semuanya. Jangan kayak gini, please..."
Kiana menghapus air matanya dengan kasar, memantapkan hatinya yang sudah telanjur patah menjadi serpihan tak berbentuk. "Cukup, Daf. Mulai hari ini kita putus! Hubungan kita selesai sampai di sini. Dan aku mau kamu kembalikan semua uang yang sudah kamu pinjam dariku selama tiga tahun ini!"
Dafa terkejut mendengarnya. Kehilangan Kiana berarti dia kehilangan sumber bantuan finansialnya selama ini. Dia masih mencoba merayu, meraih ujung baju Kiana dengan memelas. "Aku akan kembalikan, Kiana. Aku janji bakal cicil semua uang kamu. Tapi tolong, jangan putus. Aku gak bisa hidup tanpa kamu..."
Saskia yang sejak tadi menahan diri, akhirnya habis kesabaran melihat akting murahan Dafa. "Heh, lelaki kardus! Banyak bacot banget ya kamu!"
Saskia yang tidak sabaran langsung maju dan menginjak kakinya Dafa dengan sepatu kets nya yang berhak tinggi dengan sekuat tenaga.
"AGHHH!" Dafa menjerit kesakitan, langsung bertelut di tanah sambil memegangi kakinya yang berdenyut nyeri akibat injakan maut Saskia.
"Rasain itu, pria biadab!" maki Saskia puas. Lalu tanpa membuang waktu lagi, dia menarik Kiana pergi dari taman tersebut, kebetulan bus di depan halte sudah datang dan membuka pintunya. "Yuk, Kia, masuk! Biarin si sampah ini membusuk di sini!"
Kiana melangkah cepat mengikuti Saskia naik ke dalam bus, meninggalkan Dafa yang masih mengerang kesakitan di atas tanah. Di dalam bus yang mulai berjalan, Kiana bersandar di bahu Saskia, menatap kosong ke luar jendela dengan sisa rasa sesak yang masih memenuhi dadanya.
***
Sementara itu, beberapa kilometer dari sana, di lantai teratas gedung pencakar langit Arkatama Group, atmosfer yang dingin dan kaku menyelimuti ruangan kerja sang CEO.
Di kantornya, Ardan sedang berkutat dengan pekerjaan kantornya yang menumpuk. Tumpukan dokumen laporan keuangan dan berkas proyek kuartal pertama menjadi pelariannya yang paling efektif untuk melupakan kekacauan batin yang dia alami sejak subuh tadi.
Tok, tok, tok.
Pintu ruangan terbuka setelah ketukan pelan. Bimo masuk ke dalam ruangannya membawa berkas baru yang harus diperiksa Ardan. Langkah kakinya terdengar ringan saat mendekati meja kerja besar berbahan kayu mahoni tersebut.
"Pak Ardan, ini berkas revisi untuk akuisisi lahan di Jakarta Barat. Perlu tanda tangan Anda sekarang untuk diajukan ke rapat komisaris besok," kata Bimo sambil meletakkan dokumen itu dengan rapi.
Ardan tidak menyahut, dia langsung meraih pena fountain miliknya dan mulai meneliti lembar demi lembar berkas tersebut dengan jeli.
Melihat bosnya yang tampak begitu tegang dan kaku sejak makan bersama paman Arya di rumah utama tadi pagi, Bimo berdehem kecil. Tapi seperti biasa, Bimo selalu mencoba mencairkan suasana dengan sifatnya yang agak cerewet dan sok tahu. Dia menyandarkan tangannya di tepi meja, menatap Ardan dengan senyum usil.
"Oh iya, Pak Ardan. Ngomong-ngomong soal sarapan heboh tadi pagi... saya diam-diam sudah melihat foto Dania Abraham di berkas keluarga yang dikirim Pak Arya," buka Bimo memancing obrolan. "Wah, dia cantik banget, Pak. Persis seperti yang Pak Arya katakan. Elegan, modis, dan sepertinya tipe wanita berkelas yang biasanya mendampingi pria-pria sukses."
Ardan tetap diam, menggoreskan tanda tangannya di lembar pertama tanpa mengalihkan pandangan.
Bimo tidak menyerah, dia melanjutkan dengan nada membujuk. "Dan bukannya jadwal Anda juga banyak yang luang minggu ini, Pak? Kebetulan beberapa rapat eksternal diundur ke bulan depan. Anda yakin tidak ingin menemuinya, Pak? Sekadar minum kopi atau makan malam formal. Siapa tahu ada kecocokan."
Mendengar desakan halus itu, gerakan pena Ardan mendadak terhenti. Dia menegakkan tubuhnya, menyandarkan punggungnya pada kursi kerja kulitnya yang empuk, lalu menatap Bimo dengan tatapan mata elangnya yang dingin dan menusuk.
"Untuk apa, Bimo?" tanya Ardan, suaranya rendah namun sarat akan intimidasi. "Kau tahu sendiri ujungnya nanti bagaimana kalau aku menemui wanita mana pun yang mereka sodorkan."
Bimo menelan ludahnya kelat, senyum di wajahnya langsung memudar melihat keseriusan sang bos.
"Menikah pun percuma. Aku ini... kamu tahu sendiri bagaimana kondisinya," lanjut Ardan dengan nada getir yang disembunyikan di balik ketegasannya. Kata mandul sengaja tidak dia ucapkan dengan lantang, namun gema dari fakta medis itu terasa begitu nyata di antara mereka berdua. "Mereka menuntut pewaris, bukan sekadar istri pajangan. Dan aku tidak bisa memberikan itu."
Bimo menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena telah salah melangkah dan menyentuh luka batin terbesar atasannya. "Maaf, Pak Ardan. Saya tidak bermaksud..."
"Jangan bahas itu lagi. Bahas pekerjaan saja," potong Ardan mutlak, melempar kembali berkas yang sudah ditandatanganinya ke arah Bimo.
"Baik, Pak. Saya minta maaf atas kelancangan saya," ujar Bimo dengan nada menyesal yang tulus. Dia segera merapikan berkas-berkas tersebut ke dalam pelukannya. Untuk mengalihkan suasana yang canggung, Bimo buru-buru mengecek jadwal harian di tabletnya.
"Ini untuk agenda resmi Anda selanjutnya, Pak. Jadwal Anda akhir minggu ini adalah kunjungan di mall Royal Plaza. Pihak manajemen mall sudah mempersiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan Anda sebagai pemilik baru," lapor Bimo profesional.
Ardan mengangguk samar, memijat pelipisnya yang mendadak pening. "Sampaikan pada mereka, aku tidak suka penyambutan yang berlebihan. Lakukan inspeksi seperti biasa saja."
"Baik, dimengerti, Pak. Saya akan koordinasikan dengan pihak operasional mall," jawab Bimo sebelum akhirnya berbalik dan berjalan keluar dari ruangan kerja Ardan.
Ardan kembali menatap jendela besar di belakang mejanya, menatap pemandangan kota Jakarta yang mulai dihiasi lampu-lampu malam. Di dalam hatinya, sebuah perasaan asing yang mengganggu kembali muncul. Sebuah bayangan tentang tatapan mata ketakutan milik Kiana saat melangkah tertatih meninggalkan jembatan waktu subuh tadi. Ardan memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengusir wajah gadis itu dari pikirannya yang sudah telanjur rumit.