NovelToon NovelToon
Montir Hati Tuan Muda Arogan

Montir Hati Tuan Muda Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Cintamanis / Fantasi Wanita / Konflik etika / CEO
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.

Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.

Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.

Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Menyusup

Malam itu, langit gelap pekat hanya diterangi cahaya bulan separuh. Angin malam bertiup dingin membawa aroma tanah basah. Di balik rimbunan pohon besar di pinggir pagar tembok tinggi kediaman keluarga Adhitama, dua sosok bergerak lincah dan senyap.

Mereka mengenakan pakaian serba hitam. Kirana di depan, Arjuna mengikuti di belakang dengan rasa takjub yang tak bisa di sembunyikan. Dia menyaksikan sendiri bagaimana Kirana bergerak, memanfaatkan bayangan, memahami pola patroli penjaga, dan mencari celah yang tidak terpikirkan orang lain.

"Dari sini," bisik Kirana pelan sambil menunjuk sebuah lubang ventilasi besar yang tertutup jaring kawat karatan di bagian bawah tembok belakang. "Dulu diam-diam aku sering main di sini, saat berkunjung ke rumahmu bersama Ayah. Dan aku yakin kalau ini jalan rahasia kalau ada bahaya."

Dengan gerakan cepat dan terampil, Kirana mencongkel kawat itu menggunakan alat sederhana dari saku jaketnya. Tidak butuh waktu lama, jalan masuk terbuka. Mereka berdua merangkak masuk, menyusuri lorong sempit yang berdebu, hingga akhirnya sampai di bagian halaman belakang yang sepi dan gelap.

Rumah besar itu terlihat sunyi. Hanya ada beberapa lampu taman yang menyala redup. Kirana memimpin jalan menuju sisi timur bangunan, ke sebuah pintu besi kecil yang tersembunyi di balik tumpukan tanaman rambat tebal.

"Ini pintu masuk ke ruang arsip bawah tanah," bisik Kirana. Dia mendekati gembok besar yang kokoh. Arjuna hendak menawarkan kunci cadangan yang pernah dia miliki, tapi Kirana menghentikannya dengan gelengan kepala. Dia mengeluarkan sepasang kawat kecil dari sakunya.

"Jangan rusak kunci resmi. Nanti ketahuan ada yang masuk. Biar aku saja," kata Kirana santai.

Arjuna berdiri di sampingnya, berjaga sambil menahan tawa kagum. Gadisnya ini benar-benar paket komplit. Pintar, cantik, berani, dan ... jago membuka pintu terkunci.

Terdengar suara klik pelan. Gembok besar itu terbuka begitu saja. Kirana menyeringai bangga, lalu mendorong pintu besi itu perlahan.

Mereka masuk, menuruni tangga batu yang dingin dan lembap. Semakin ke bawah, udara semakin dingin dan berbau kertas tua serta debu. Di ujung tangga, ada ruangan luas berjejer rak-rak kayu tinggi yang penuh dengan kotak-kotak dokumen, buku besar, dan berkas-berkas yang tertutup debu tebal.

"Cari yang bertanda tahun ... 18 tahun lalu. Sekitar bulan kejatuhan perusahaan Wijaya," perintah Arjuna berbisik, langsung bertindak memeriksa rak-rak sebelah kanan.

Suasana hening. Hanya terdengar suara gesekan kertas dan napas mereka sendiri. Waktu terasa berjalan lambat. Mereka memeriksa satu per satu kotak, mencari petunjuk, mencari kebenaran.

Hingga akhirnya, tangan Kirana berhenti bergerak.

Di tumpukan paling bawah, terselip di balik kotak-kotak besar, ada sebuah kotak kayu kecil yang tidak tertutup rapat. Di atasnya tertulis tulisan tangan: "Pribadi - Arya Wijaya".

Jantung Kirana berdegup kencang sekali. Dia mengangkat kotak itu dengan tangan gemetar, seolah mengangkat benda paling berharga di dunia. Dia membukanya perlahan.

Di dalamnya ada buku harian kulit tua milik ayahnya, beberapa lembar surat pribadi, dan satu amplop besar tertutup lilin dengan cap lambang keluarga Wijaya.

Kirana mengeluarkan surat-surat itu. Matanya meneliti setiap baris tulisan ayahnya yang sangat dia kenal. Air mata mulai menggenang, tapi dia menahannya. Dia harus fokus.

"Arjuna ... baca ini ..." suaranya bergetar.

Arjuna mendekat, membaca pelan tulisan tangan Arya Wijaya yang tertulis di lembar terakhir buku harian itu:

"Aku tahu rencana mereka. Ratna, wanita yang baru saja masuk ke lingkaran Haryo, dia bukan orang biasa. Dia mendekat bukan karena cinta, tapi karena ambisi. Dia yang meracuni pikiran Haryo, dia yang mengubah data kontrak, dia yang menjual rahasia kita pada pesaing, lalu menuduh aku pelakunya. Aku tahu nyawaku tidak akan lama lagi. Aku menyimpan bukti asli perjanjian kerja sama ini di tempat aman. Jika aku tiada, dan ada yang membaca ini ... tolong bersihkan nama baikku. Kirana ... anakku ... maafkan Ayah yang meninggalkanmu. Jangan dendam, tapi carilah kebenaran ..."

Arjuna mengangkat wajahnya, matanya penuh kemarahan dan kesedihan.

"Benar ... semua dugaan kita benar. Ratna dalang dari semua ini. Dia merencanakan semuanya dari awal. Dia mendekati Ayahku, menghancurkan ayahmu, mengambil harta, mengambil kekuasaan ... semua demi ambisinya sendiri."

Kirana kemudian membuka amplop besar yang disegel itu. Di dalamnya ada salinan asli kontrak, bukti transfer uang yang dipalsukan, dan ada foto hitam putih kecil. Foto Ratna muda, berdiri berdua dengan seorang pria asing yang wajahnya terlihat kejam, di depan gedung perusahaan pesaing yang dulu menjadi musuh bebuyutan Adhitama dan Wijaya.

"Ini buktinya, Arjuna ..." bisik Kirana parau sambil meremas kertas itu erat di tangannya. "Ini bukti kalau dia bersekongkol dengan musuh. Ini bukti kalau ayahku tidak bersalah. Akhirnya ... akhirnya aku memegang kebenaran ini."

Tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama.

Tiba-tiba, lampu-lampu di ruang bawah tanah itu menyala terang benderang sekaligus. Suara langkah kaki berat terdengar turun dari tangga, diikuti suara tawa dingin yang sangat mereka kenal.

"Bagus sekali ... kalian memang lebih cerdas dari yang aku duga. Berani sekali masuk ke sarang harimau, hanya demi mencari sampah lama seperti ini."

Di ujung tangga, berdiri Ratna. Di belakangnya ada lima pria berbadan besar berwajah garang, orang-orang bayaran yang selalu dia gunakan untuk pekerjaan kotor. Ratna tersenyum sinis, matanya menatap tajam ke arah kotak kayu di tangan Kirana.

"Berikan itu padaku, Kirana. Itu bukan untukmu. Itu barang bukti kesalahan Ayahmu ... bukti kalau dia memang pengkhianat. Dan kamu, Arjuna ... sayang sekali. Kamu memilih jalan yang salah. Kamu melepas kemewahan, melepas kekuasaan, demi gadis pembawa sial ini. Dan sekarang ... kamu akan kehilangan nyawamu juga."

Arjuna melangkah maju, berdiri di depan Kirana, melindungi gadis itu di belakang punggungnya. Wajahnya tidak takut sedikit pun. Dia menatap tajam ke arah Ratna.

"Permainanmu selesai, Ibu Tiri. Kami sudah tahu segalanya. Kami punya bukti. Kamu tidak akan bisa lari lagi."

Ratna tertawa keras, tawanya bergema mengerikan di ruangan sempit itu.

"Sayang sekali ... kalian tidak akan hidup sampai besok pagi. Di ruangan ini, tidak ada jendela, tidak ada jalan keluar lain. Dan tidak ada orang yang akan mendengar teriakan kalian. Malam ini ... dua gangguan terbesarku akan hilang selamanya. Dan dokumen sampah itu akan terbakar habis bersama kalian."

Ratna memberi isyarat pada anak buahnya.

"Tangkap mereka. Ambil dokumen itu. Dan bereskan mereka ... buat seolah-olah kecelakaan lama, kebakaran karena hubungan arus pendek. Sejarah akan terulang lagi."

Para pria berbadan besar itu maju perlahan, mengelilingi mereka berdua. Jarak makin dekat. Situasi genting.

Kirana menggenggam tangan Arjuna erat. Dia menatap mata Arjuna, dan di mata itu tidak ada rasa takut. Justru ada senyum menantang yang sama persis dengan senyumnya.

"Siap berpetualangan lagi, Tuan Muda?" bisik Kirana pelan.

Arjuna tersenyum lebar, meremas tangan Kirana sebagai jawaban.

"Kapan saja, Nona Elang. Tapi ingat rencanaku ... di lorong ventilasi samping rak nomor tujuh. Aku sudah perhatikan tadi."

Pertarungan pun dimulai.

Arjuna yang selama ini terlatih bela diri demi keamanan pribadi, kini menggunakan kekuatannya sepenuh hati demi melindungi nyawa wanitanya. Dia bertarung gagah berani, memukul, menangkis, menahan serangan dua orang sekaligus.

Dan Kirana ... dia bergerak seperti bayangan. Gerakan lincah, cepat, dan mematikan. Menggunakan apa saja yang ada di dekatnya: tumpukan buku tebal, potongan besi tua, bahkan debu kertas yang dia lempar ke mata musuh. Dia bukan sekadar montir, dia adalah pejuang yang terlatih keras di jalanan.

Ratna di belakang menonton dengan wajah merah padam karena marah. Dia tidak menyangka dua orang yang dia anggap lemah ini bisa bertahan sekuat itu.

"Jangan biarkan mereka lari!" teriak Ratna histeris.

"Kita lari, sekarang!" teriak Arjuna.

Dengan satu gerakan cepat, Kirana merobohkan rak besar berisi kotak-kotak dokumen, membuat hamburan berkas di lantai dan menimpa beberapa pengejar. Di tengah kekacauan itu, mereka berlari menuju lorong kecil yang sudah diamati Arjuna, ventilasi udara tua yang tersembunyi di balik tumpukan berkas.

Mereka masuk, merangkak secepat mungkin melewati lorong sempit yang panjang dan gelap, sementara di belakang terdengar suara teriakan dan benturan pintu yang diobrak-abrik.

Suara amukan Ratna menggema hingga tertutup dinding:

"LARI SAJA! TAPI INGAT! KE MANA PUN KALIAN PERGI! AKU OASTI AKAN MENEMUKAN KALIAN! RAHASIA ITU AKAN TETAP MILIKKU SELAMANYA!"

Akhirnya, cahaya bulan malam terlihat di ujung lorong. Mereka jatuh terguling ke semak-semak di luar pagar belakang rumah besar itu, napas terengah, badan penuh debu dan kotoran, tapi senyum kemenangan mengembang di bibir mereka.

Mereka berhasil lolos. Dan yang paling penting ... Kirana masih menggenggam erat kotak kayu kecil itu. Bukti kebenaran.

Arjuna berbaring terlentang di tanah, menatap langit malam yang luas, lalu tertawa lepas meski napasnya masih tersengal.

"Gila ... benar-benar gila. Tapi ... seru sekali."

Kirana tertawa renyah di sampingnya, meski ada luka lecet di pipinya dan bajunya robek sedikit. Dia memeluk kotak kayu itu di dada, lalu menoleh menatap Arjuna dengan mata berbinar.

"Kita punya buktinya, Arjuna. Kita punya senjatanya. Sekarang ... tinggal kita pilih cara untuk menggunakannya."

Arjuna memutar badannya, menatap wajah Kirana lekat-lekat. Dia mengusap luka lecet kecil itu dengan lembut, penuh rasa sayang dan rasa bangga.

"Kita sudah lewati gerbang neraka malam ini, Kirana. Dan kita keluar sebagai pemenang. Ratna membuka topengnya sepenuhnya. Dia tidak lagi berpura-pura. Perang sudah resmi dimulai."

Bersambung ...

1
sunshine wings
Mantap.. gak rugi bacanya.. alur ceritanya hebat..
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️
Teh Fufah
seruuuu nihhhh ceritanya...
riniandara: terima kasih kak atas review nya ya
total 1 replies
riniandara
Assalamualaikum semua! semoga sehat selalu ya. oh ya kalau kalian suka jangan lupa tinggalkan Jejak serta like ya teman-teman. happy reading/Kiss//Heart/
azela
wah makin penasaran apakah mereka akan berhasil. lanjut up Thor kalau bisa doubel ya he he/Applaud//Applaud//Applaud/
riniandara: siap kakak
total 1 replies
riniandara
pasti lanjut baca ya kak happy reading
azela
lanjut author semangat semakin seru aj/Applaud//Applaud//Applaud/
azela
jangan menyerah Kirana ada tuan dingin yang akan mendukungmu
Muft Smoker
ad rahasia apa niih di antara mereka ,, 🤭🤭🤭🤭
azela
akhirnya terbongkar juga, ternyata Kirana itu bukan gadis biasa keluarga mereka juga sangat dekat dulu.
azela
lanjut Thor semakin penasaran aja
Ita Xiaomi
Semangat Kirana.
Ita Xiaomi
Tenang Kirana, Arjuna akan menyayangi dan mencintaimu dgn setulus hati.
Lisa
Ceritanya menarik jg nih 👍
Lisa: Sama² Kak..oke Kak nanti aq review ya
total 2 replies
Lisa
Aku mampir Kak
azela
siapa Kirana? dari percakapan mereka yang penuh teka bisa di pastikan jika Kirana ini bukan gadis biasa/Right Bah!/
azela
lanjut kak semakin penasaran deh
azela
jangan-jangan Kirana ketua mafia/CoolGuy/
azela
/CoolGuy//Grin//Grin//Grin//Grin//Grin//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
azela
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ita Xiaomi
Menguasai martial arts.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!