"Aku Bahagia." Kata-kata itu selalu diucapkan Evelyne Rochie seperti sebuah mantra untuk menenangkan hatinya yang rapuh. Di dunia nyata, hidup Evelyne terasa datar dan sepi. Setiap kali berkumpul dengan lingkaran pertemanannya, ia justru merasa semakin terasing. Ia melihat Alice Sonya yang hidup bahagia dan penuh tawa bersama Matthias. Ia melihat Azyla Amira yang selalu populer, dicintai banyak orang, dan bersinar di mana pun berada. Ia juga menyaksikan betapa manisnya hubungan Annie dan Samuel yang saling mencintai tanpa cela. Di tengah gelak tawa mereka, Evelyne selalu bertanya-tanya dalam hati: Kapan giliran jiwaku yang mencicipi kebahagiaan? Mengapa bagi orang lain bahagia itu begitu mudah, sementara bagiku, mendapatkan satu kepingan kebahagiaan saja rasanya teramat sulit? Hingga suatu malam, di titik nadir keputusasaannya, sebuah celah dimensi terbuka dan membawanya masuk ke sebuah dunia fantasi yang asing, megah, sekaligus berbahaya. Di dunia baru ini, takdir mempertemukannya dengan Sylus Qinche, seorang pria yang memiliki sejuta misteri namun mampu memberikan kehangatan yang selama ini dicari Evelyne. Untuk pertama kalinya, Evelyne merasa "Aku Bahagia" bukan lagi sebuah kebohongan. Namun, kebahagiaan itu tidak gratis. Ketika takdir berniat memisahkan mereka dan merenggut Sylus kembali ke kedalaman dunia lain yang lebih gelap, Evelyne menolak untuk menyerah lagi pada nasib. Dengan dibantu oleh Kieran dan Luke—dua sosok tangguh di dunia tersebut—Evelyne membuang seluruh ketakutannya. Jika di dunia nyata ia adalah perempuan lemah yang hanya bisa memandang kebahagiaan orang lain, maka di dunia ini, ia siap menerjang badai sihir dan melintasi batas dimensi demi meraih kembali tangan Sylus Qinche. Kali ini, ia yang akan menjemput kebahagiaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang tanpa sihir
Mesin MPV sewaan berwarna hitam itu menderu keras saat memasuki Gerbang Tol Cikampek Utama menjelang dini hari. Di balik kemudi, Luke duduk dengan punggung tegak kaku, kedua tangannya mencengkeram lingkar setir begitu kuat hingga urat-urat di lengan besarnya menonjol. Baginya, kendaraan roda empat bermesin bensin ini adalah sejenis kereta perang mekanis yang harus dikendalikan dengan agresi penuh.
"Luke, kurangi kecepatanmu. Angka di panel itu menunjukkan seratus empat puluh kilometer per jam," ucap Evelyne dari kursi tengah, wajahnya agak pucat sambil berpegangan pada sabuk pengaman. Di sampingnya, Reza masih tertidur lelap akibat sisa pengaruh sihir pemurni.
"Nona Evelyne, kereta besi di depan kita mencoba memotong jalur logistik kita!" jawab Luke dengan ekspresi super serius, matanya melebar menatap sebuah truk kontainer besar yang menyalakan lampu sen di jalur kanan. "Mereka menantang Orde. Saya tidak akan membiarkan kereta bayangan kita diintimidasi oleh monster beroda sepuluh ini!"
VROOOM!
Luke menginjak gas lebih dalam, melakukan manuver zigzag ekstrem yang membuat mobil bergoyang hebat, menyalip truk tersebut dari sisi kiri dengan jarak hanya beberapa sentimeter. Suara klakson panjang yang marah dari sopir truk menggema di sepanjang jalan tol Trans-Java, namun Luke hanya mendengus bangga, merasa telah memenangkan satu pertempuran taktis udara-darat.
Di kursi penumpang depan, Sylus Qinche bersandar dengan tenang, sama sekali tidak terganggu oleh guncangan ekstrem tersebut. Sebagai mantan pria kelahiran 1996 yang kini harus membiasakan diri dengan teknologi fana, perhatiannya justru sepenuhnya terisap oleh benda kecil di dasbor: radio mobil.
"Evelyne," Sylus bersuara, nadanya datar namun penuh rasa ingin tahu yang mendalam. "Kenapa kotak suara ini terus-menerus memutarkan melodi tentang patah hati dan kesedihan? Apakah manusia di dimensi ini menggunakan frekuensi suara untuk melemahkan mental satu sama lain sebelum berperang?"
Evelyne menghela napas, mencoba meredakan detak jantungnya akibat cara menyetir Luke. "Itu namanya musik pop, Sylus. Di Bumi, orang-orang mendengarkannya untuk mengekspresikan perasaan, bukan untuk strategi militer."
Sylus menekan tombol pencari gelombang. Suara statis berdesis sebelum berganti menjadi lagu dangdut koplo dengan ketukan kendang yang sangat cepat dan menghentak. Sylus menyipitkan matanya, mengetukkan jari manusianya di atas lutut, mencoba menganalisis struktur ritme tersebut.
"Ritme ini..." gumam Sylus dengan wajah sangat serius, seolah sedang memecahkan kode sandi kuno klan musuh. "Ketukannya memiliki frekuensi yang mirip dengan drum perang Klan Orc di perbatasan selatan Aetheria. Ia memicu adrenalin, namun memiliki getaran yang... membuat tubuh ingin bergerak tanpa kendali. Ini adalah sihir hipnotis tingkat rendah."
"Itu namanya gendang, Sylus. Tolong jangan menganalisis lagu koplo seolah itu adalah mantra pemanggil naga," sahut Evelyne sambil tersenyum geli. Rasa tegangnya sedikit mencair melihat bagaimana sang mantan penguasa kegelapan mencoba beradaptasi dengan budaya lokal Jawa di tengah pelarian mereka.
Di kursi belakang, Mephisto mengeluarkan suara "Kaww" pendek dari dalam kotak kainnya. Burung gagak itu tampaknya ikut mabuk perjalanan akibat manuver ekstrem Luke, memilih untuk menyembunyikan kepalanya di balik sayapnya sendiri yang kini terasa berat.
Setelah hampir tujuh jam menempuh perjalanan darat yang menegangkan, mobil sewaan mereka akhirnya keluar dari jalur tol utama dan mulai menanjak membelah perbukitan lebat di daerah pedalaman Jawa Tengah. Jalanan aspal berganti menjadi jalan setapak berbatu yang dipenuhi lumut, dikelilingi oleh pohon-pohon jati raksasa dan kabut pegunungan yang tebal.
Sesuai dengan koordinat pada peta kuno milik "Si Penjahit Takdir", mereka menghentikan mobil di tepi hutan yang sepi. Udara di sini terasa sangat berbeda dengan Jakarta. Tidak ada bau knalpot; yang ada hanyalah aroma tanah basah, pinus, dan... sesuatu yang membuat bulu kuduk Sylus berdiri.
"Bau ini," Sylus melangkah keluar dari mobil, matanya yang hitam kelam menatap tajam ke dalam kelebatan hutan. "Ini bukan sekadar aroma bumi kuno. Ada distorsi rasa asin dan terbakar... Kaelen mungkin sudah hancur, tapi aroma Void dari faksi The Silent Hand telah menodai tempat ini."
Evelyne turun sambil membawa ransel berisi komunikator sihir Kieran. Statusnya sebagai Grand Catalyst membuatnya langsung merasakan getaran spiritual yang kuat dari dalam hutan. "Garis energi Ley Line di bawah tanah ini sangat besar, Sylus. Seperti ada jantung raksasa yang berdetak di bawah kaki kita. Tapi energinya sedang ditekan secara paksa."
Mereka bergerak mengendap-endap menembus semak belukar. Setelah berjalan selama tiga puluh menit, di balik tirai pohon-pohon liar kuno, berdirilah sebuah struktur megah yang tidak tercatat dalam peta wisata mana pun: sebuah candi batu hitam purba yang sebagian besar strukturnya telah runtuh dan tertutup akar pohon raksasa.
Namun, pemandangan di sekitar candi membuat Luke langsung meraba pinggangnya yang kosong.
Setidaknya ada delapan orang agen The Silent Hand yang berjaga di sekeliling pelataran batu candi. Mereka tidak lagi mengenakan pakaian taktis manusia; mereka mengenakan jubah hitam semi-magis yang mampu membiaskan cahaya, dan di tangan mereka terdapat busur panah mekanis serta belati yang dialiri sisa energi kegelapan yang tipis.
"Mereka menggunakan sisa energi di candi ini untuk melacak keberadaan kita," bisik Luke dari balik pohon besar. "Jumlah mereka terlalu banyak untuk dihadapi secara frontal tanpa senjata, Tuan Silas."
Sylus menatap formasi musuh dengan ketenangan seorang panglima perang yang telah memenangkan ratusan pertempuran asimetris. "Mereka memiliki senjata, tapi mereka tidak mengenal medan ini. Mereka mengira hutan di Bumi sama dengan hutan mati di Aetheria. Itu adalah kesalahan pertama mereka."
Malam pun jatuh sepenuhnya di atas hutan purba Jawa Tengah. Bulan purnama naik ke puncak langit, menyinari reruntuhan candi dengan cahaya perak yang mistis. Di bawah bayang-bayang pohon jati, pertempuran gerilya dimulai.
Sylus tidak membutuhkan api atau bayangan untuk membunuh; ia menggunakan kegelapan alami hutan dan hukum fisika Bumi. Ia dan Luke bergerak memisahkan diri, menyatu dengan keheningan malam.
Seorang agen The Silent Hand berjalan perlahan di antara semak-semak, busur panahnya dalam posisi siap tembak. Langkah kakinya sangat halus, namun ia tidak menyadari bahwa di tanah yang ia pijak, seutas akar pohon telah dimodifikasi oleh Sylus menjadi jebakan simpul tarik.
SNAP!
Akar itu mencengkeram pergelangan kakinya, menariknya ke atas hingga ia tergantung terbalik di dahan pohon yang tinggi. Sebelum agen itu sempat berteriak, Sylus muncul dari kegelapan di belakangnya. Tanpa suara, ia menghantamkan pangkal telapak manusianya ke titik saraf di belakang leher agen tersebut, membuatnya pingsan seketika. Sylus dengan cepat merebut belati magis redup milik agen itu.
Di bagian lain hutan, Luke menggunakan kekuatan fisik murninya dengan sangat efisien. Ia merayap di balik tumpukan batu candi yang runtuh. Saat dua orang agen berjalan melewatinya, Luke menjatuhkan sebuah balok batu purba seberat ratusan kilogram menggunakan tuas kayu tersembunyi yang telah ia siapkan.
CRASH!
Balok batu itu tidak membunuh mereka, namun menjebak kaki kedua agen tersebut di bawah reruntuhan, membuat mereka tidak bisa bergerak. Luke muncul dari bayang-bayang, memberikan dua pukulan pendek yang tepat sasaran ke arah rahang mereka hingga mereka kehilangan kesadaran.
Pemimpin regu The Silent Hand menyadari bahwa anak buahnya menghilang satu per satu tanpa suara ledakan sihir. "Kumpul! Bentuk formasi melingkar! Target menggunakan taktik fana!" teriaknya panik.
Namun, Sylus sudah berdiri di atas salah satu stupa candi yang rusak, siluet tegapnya membelakangi cahaya bulan purnama. Di sampingnya, Evelyne berdiri dengan tangan yang sudah diselimuti pendaran ungu Katalis murni.
"Kalian datang ke duniaku untuk memburu pria yang telah mengorbankan segalanya demi kedamaian," ucap Evelyne, suaranya menggema di antara dinding batu candi. "Dan di tanah ini, akulah yang memegang kendali!"
Evelyne menghentakkan kakinya ke lantai batu candi. Gelombang kejut Katalis murni—memanfaatkan aliran Ley Line bawah tanah yang sangat besar—meledak keluar dari retakan batu. Energi spiritual Bumi yang selama ini tertidur bangkit, menciptakan tekanan gravitasi yang luar biasa di sekitar pelataran candi. Para agen musuh yang tersisa mendadak berlutut, tubuh mereka terasa seberat timah, tidak mampu mengangkat senjata mereka.
Sylus melompat turun dari stupa dengan belati di tangannya. Dalam gerakan yang begitu cepat dan presisi, ia melumpuhkan tiga agen terakhir dengan sapuan kaki dan hantaman siku yang mematikan, menyisakan pemimpin regu yang kini gemetar di bawah tekanan energi Bumi.
Sylus menekan ujung belati ke leher sang pemimpin regu. "Siapa yang mengirimmu?"
"T-The Silent Hand... Orde telah runtuh tanpa keberadaanmu, Qinche..." bisik agen itu dengan ketakutan sebelum akhirnya jatuh pingsan akibat tekanan energi Katalis Evelyne yang mengunci sistem sarafnya.
Dengan seluruh area candi yang kini telah aman, malam mencapai puncaknya. Bulan purnama berada tepat di titik zenit, memancarkan seberkas cahaya perak vertikal yang jatuh tepat di atas altar batu utama di tengah candi.
"Sekarang, Evelyne," ucap Sylus, meletakkan perangkat komunikator sihir Kieran yang retak tepat di tengah altar.
Evelyne melangkah maju. Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan matanya, dan melakukan resonansi spiritual total dengan jalur energi Ley Line yang mengalir di bawah candi kuno ini. Pendaran ungu di tubuhnya berubah menjadi warna lavender yang teramat terang, menyatu dengan cahaya perak bulan purnama.
Ia menempelkan kedua telapak tangannya di atas altar batu.
HUMMMMM!!!
Seluruh kompleks candi kuno itu bergetar hebat. Aliran energi murni dari perut bumi melonjak naik, merambat melalui relief-relief batu purba sebelum akhirnya berpusat dan menembus perangkat komunikator sihir di atas altar. Kristal di dalam alat tersebut, yang sebelumnya mati total, mendadak berpendar dengan cahaya ungu-merah yang sangat pekat, mengeluarkan suara dengungan magis yang memekahkan telinga.
Detik berikutnya, sebuah proyeksi visual holografik tiga dimensi berukuran raksasa meledak keluar dari komunikator, membubung ke langit malam di atas hutan.
Proyeksi itu memperlihatkan pemandangan yang membuat jantung Sylus dan Luke berhenti berdetak sejenak.
Itu adalah Kastil Obsidian—markas besar Orde Bayangan di Aetheria. Namun, tempat yang dulu begitu megah kini dipenuhi oleh kobaran api hitam dan kepulan asap tebal. Gerbang utama kastil yang terbuat dari baja Obsidian telah runtuh, hancur berkeping-keping. Di langit Aetheria yang merah darah, ratusan kapal perang udara milik faksi gabungan pembangkang terbang berputar-putar, menghujani kastil dengan tembakan meriam energi.
Di tengah-tengah kekacauan proyeksi tersebut, sosok Kieran muncul. Jubah penyihirnya telah robek, dan darah mengalir dari pelipisnya. Ia sedang berdiri di dalam ruang kendali inti yang mulai runtuh, tangannya terus merapalkan mantra pelindung yang kian menipis.
"Panglima! Jika Anda melihat ini... jangan pernah mencoba untuk kembali!" suara Kieran terdengar bergemuruh, bersaing dengan suara ledakan di latar belakang. "Faksi dewan pengkhianat dan 'The Silent Hand' telah menyatukan kekuatan. Mereka menggunakan hilangnya inti keabadian Anda sebagai bukti bahwa Orde telah melemah! Sisa pasukan kita... mereka bertahan sampai titik darah terakhir di pelataran dalam... tapi kita tidak akan bisa menahan serangan gelombang ketiga..."
Sebuah ledakan besar menghantam dinding di belakang Kieran dalam proyeksi tersebut, membuat visualnya berkedip-kedip tidak stabil.
"Panglima... hiduplah sebagai manusia di sana... jaga Nona Evelyne... ini adalah perintah terakhir dari... bzzzt... Orde..."
CRACK!
Proyeksi raksasa itu pecah menjadi ribuan partikel cahaya perak dan lenyap, meninggalkan perangkat komunikator di atas altar meleleh menjadi cairan logam panas yang tidak bisa digunakan lagi.
Hutan kembali sunyi. Hanya suara desis angin malam dan napas berat dari mereka yang tersisa di pelataran candi.
Luke perlahan berlutut di atas lantai batu, kepalanya tertunduk dalam-dalam, tinjunya menghantam lantai hingga retak. Kesetiaannya terpukul hebat melihat rumah dan kawan-kawannya sedang dibantai di seberang dimensi tanpa dirinya bisa melakukan apa-apa.
Sylus Qinche berdiri diam menatap altar yang kini kosong. Matanya yang hitam kelam tidak lagi mencerminkan ketenangan manusia biasa; ada sebuah api kemarahan kuno yang kembali tersulut di dalamnya—sebuah api dari seorang Panglima yang melihat kerajaannya di ambang kehancuran. Ia tidak lagi memiliki sihir keabadian, tubuhnya bisa terluka dan berdarah, namun jiwa kepemimpinannya tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh hukum dimensi mana pun.
Ia menoleh ke arah Evelyne yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca, memegang erat tangannya.
"Perang ini belum berakhir," ucap Sylus, suaranya begitu dingin hingga membuat udara malam terasa membeku. "Mereka mengira hilangnya keabadianku adalah akhir dari Orde Bayangan. Aku akan menunjukkan pada mereka... bahwa seorang manusia dari Bumi pun bisa meruntuhkan tahta para dewa pengkhianat."
Bersambung