Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .
Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.
Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Sania tersentak hebat mendengar tuduhan itu. Ia tidak menyangka Yogie akan bicara setajam itu, akan membongkar semuanya di depan orang tuanya sendiri. Hatinya terbakar api kemarahan yang besar. Ia merasa dikhianati, merasa dituduh sembarangan.
"Kau keterlaluan, Mas Yogie! Kau keterlaluan sekali!" seru Sania histeris, suaranya meninggi di dalam mobil yang bergerak kencang itu. "Siapa yang tidak mencintai?! Aku yang selalu ada buatmu! Aku yang selalu mendukungmu! Aku yang menemani saat kau susah maupun senang! Sedangkan dia?! Salwa itu?! Dia apa?! Dia cuma gadis sombong yang dari awal tidak pernah menganggap mu ada! Dia yang menolakmu berkali-kali! Dia yang tidak pernah menghargai mu! Dulu kau sendiri yang bilang dia jahat! Kau sendiri yang benci padanya! Kenapa sekarang semua salah aku?! Kenapa sekarang kau seolah-olah korban?! Dan kalau aku cuma mengejar harta... lho, siapa yang tadi lari menghampiri dia dengan wajah memelas?! Siapa yang tadi menatap dia dengan mata berbinar-binar begitu tahu dia kaya raya dan berkuasa?! Itu kau, Mas! Itu kau sendiri! Kau yang malah terlihat paling memalukan malam ini, bukan aku!"
Kata-kata Sania itu menohok tepat ke ulu hati Yogie. Kebenaran yang pahit itu terasa begitu menyakitkan. Ia terdiam, wajahnya merah padam menahan rasa malu yang kembali datang. Ia sadar, apa yang dikatakan Sania itu benar adanya. Ada rasa kecewa pada dirinya sendiri karena ketertarikannya kembali pada Salwa memang sangat dipengaruhi oleh kekayaan dan kekuasaan wanita itu.
Di kursi depan, Bapak dan Ibu Pratama hanya mendengarkan pertengkaran pedas itu dengan wajah semakin masam dan penuh kekecewaan. Bapak Pratama akhirnya tidak tahan lagi. Ia menggebrak setir mobil dengan keras, membuat suara klakson terdengar nyaring seketika.
"SUDAH! DIAM SEMUA! CUKUP!!" teriak Bapak Pratama menggelegar, suaranya menguasai seluruh ruang mobil. "Kalian mau bertengkar sampai kapan?! Mau saling menyalahkan sampai kapan?! Apa dengan saling maki semua masalah selesai?! Apa dengan saling tuduh nama baik keluarga kita kembali bersih?! Hah?!"
Suasana seketika hening kembali, namun amarah di dada masing-masing masih menyala hebat.
Bapak Pratama melanjutkan bicaranya dengan napas berat dan penuh kepahitan.
"Dengar baik-baik kalian berdua... Malam ini adalah malam kehancuran bagi kita semua. Kalian sudah melihat betapa hebatnya Ardiansyah Laksana. Kalian sudah melihat betapa tingginya kedudukan Salwa. Dan kalian juga sudah melihat betapa rendahnya posisi kita sekarang di mata mereka. Kita bukan lagi sekutu atau kerabat jauh... kita adalah musuh mereka. Kita adalah orang-orang yang pernah menyakiti dan menghancurkan hidup putri kesayangan mereka."
Bapak Pratama menoleh sedikit ke belakang, menatap keduanya bergantian dengan pandangan yang suram.
"Dan kalian harus sadar satu hal paling penting: Nasib perusahaan kita, nasib usaha kita, nasib hidup kita semua mulai hari ini ada di tangan Salwa Azzahra. Dia bisa membuat kita bangkit kembali dalam sekejap, tapi dia juga bisa menghancurkan dan menenggelamkan kita sampai ke dasar bumi dalam sekejap yang sama. Dan melihat sikapnya tadi... aku rasa dia tidak akan memaafkan kita semudah itu. Dia tidak akan memaafkan kalian berdua, dan juga keluargamu, Sania."
Ibu Pratama ikut menyahut dengan nada yang penuh ketakutan dan kekhawatiran.
"Betul kata Ayahmu, Yogie. Kita sudah jatuh ke dalam lubang besar. Dan penyebab utamanya adalah keserakahan, kebohongan, dan kejahatan yang dilakukan oleh keluarga ini... oleh keluarga Joko dan istrinya. Dulu kami kira keputusanmu menikahi atau menjalin hubungan dengan Sania adalah keputusan bagus, menguntungkan. Ternyata... itu adalah keputusan terburuk yang pernah kau buat. Keputusan yang menghancurkan segalanya."
Kata-kata itu membuat Sania merasa sangat tersinggung dan sakit hati. Ia merasa dirinya dan keluarganya dituduh sebagai sumber segala bencana. Ia merasa tidak adil. padahal mereka juga tidak pernah menyukai Salwa . Yang dianggap sebagai wanita yang tidak sepadan dengan keluarga Pratama . Kenapa sekarang mereka menyalahkan keluarga Sania .
"Pak... Bu... tolong jangan begitu... Bapak dan Ibu jangan menjelekkan keluarga kami begitu..." rengek Sania, air matanya semakin deras mengalir. "Kami juga korban... kami juga tidak tahu... Lagian, kalau saja Salwa tidak datang mengganggu, kalau saja dia diam saja di tempat asalnya... semuanya pasti baik-baik saja. Dia yang datang merusak kebahagiaan kami. Dia yang membuat semua jadi berantakan. Dia yang jahat, bukan kami!"
"Kau masih saja tidak sadar, Sania?!" potong Yogie dengan dingin dan penuh rasa jijik. "Kau masih saja menyalahkan dia? Kau tidak pernah merasa bersalah sedikit pun ? Kau tidak pernah merasa menyesal telah menyakiti dia yang tidak bersalah itu? Kau wanita yang benar-benar tidak punya hati nurani, ya? Aku bersyukur kita belum terikat janji suci malam ini. Kalau sudah terlanjur... aku tidak tahu harus berbuat apa."
Kalimat terakhir Yogie itu terasa seperti kiamat bagi Sania. Ia menatap Yogie dengan mata terbelalak kaget sekaligus penuh amarah yang meluap tak terkendali.
"Maksudmu apa, Mas?! Kau mau buang aku juga?! Sama seperti kau membuang dia?! Dasar laki-laki tidak tahu diri! Dulu kau buang dia demi aku, sekarang kau mau buang aku demi dia?! Kau sama saja! Kalian semua sama saja! Dasar keluarga yang sama jahatnya, sama serakahnya, sama munafiknya!"
Sania pun tidak mau kalah. Ia kembali melontarkan makian dan penghinaan. Yogie pun membalas dengan kata-kata yang lebih tajam lagi. Orang tua Yogie hanya bisa diam dan menahan kepala mereka yang terasa mau pecah karena pusing dan marah.
Di dalam mobil yang melaju kencang menuju kegelapan malam itu, tidak ada lagi kehangatan, tidak ada lagi harapan indah, tidak ada lagi rencana masa depan yang gemilang. Yang ada hanyalah kebencian yang saling menumbuk, rasa malu yang mendalam, rasa takut akan masa depan yang suram, dan kepahitan yang begitu pekat.
Mereka semua sadar, meski ada yang mengakuinya dan ada yang tidak: bahwa kebahagiaan, kemewahan, dan kehormatan yang dulu mereka nikmati dengan cara curang itu, telah lenyap sepenuhnya digantikan oleh ketakutan dan penyesalan yang abadi.
Dan perjalanan pulang malam itu bukan sekadar perjalanan menuju rumah... melainkan perjalanan panjang menuju neraka yang sesungguhnya, neraka yang mereka bangun sendiri dengan tangan mereka sendiri, dan kini harus mereka tinggali selamanya.
mobil keluarga Pratama sudah sampai depan rumah Sania . Sania turun dengan wajah marah , karena keluarga Pratama selalu saja memojokkan keluarganya . padahal keluarga Pratama juga ikut andil dalam masalah Ini .
melihat Sania keluar tanpa pamit , membuat kedua orang tua Yogie sangat geram ." Yogie, sudah lihat kan kelakuan Sania seperti apa ? ayah nggak mau kalian melanjutkan hubungan lagi ." ucap pak Pratama dengan nada kesal .
" benar Yogie , ibu juga nggak setuju kalau kamu melanjutkan hubungan dengan Sania , gara-gara keluarga mereka baru kita jadi dicap jelek ." timpal Bu Pratama .
Yogie hanya menghela nafas panjang , pikirannya hanya terpusat pada Salwa yang sudah berubah . dia menyesal sudah menalak Salwa . Apa lagi talak yang diucapkan Yogie talak tiga . sehingga Yogie susah untuk kembali padanya .
Bersambung,,,,