Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.
Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.
Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.
Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07 (Sebuah kebohongan)
...HAPPY READING...
...🧸💕...
“Arsen!”
Suara Elvara menggema keras di ruangan itu, pintu ruang kerja terbuka lebar saat wanita itu masuk dengan napas tidak beraturan dan mata yang sudah dipenuhi emosi. Arsen yang berdiri dekat meja kerja langsung menoleh kaget.
“Elvara?”
“Kamu ngapain berduaan sama Vivian?!” bentak Elvara dengan suara bergetar penuh amarah dan rasa sakit. “Kamu mau balikan sama dia hah?!”
Celine yang masih berdiri di luar langsung menegang panik, sementara di dalam ruangan, suasana berubah kacau dalam hitungan detik. Elvara melangkah cepat mendekat, namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat Vivian.
Wanita itu ternyata sedang menangis, matanya merah, makeup-nya sedikit berantakan, dan wajahnya terlihat penuh emosi yang ditahan. Arsen langsung mengernyit tajam.
“El, dengerin dulu—”
“Dengerin apa lagi?!” suara Elvara pecah. “Aku capek terus dibohongin!”
Vivian yang sejak tadi diam akhirnya tertawa kecil pahit sambil menghapus air matanya kasar, tatapannya langsung tertuju pada Elvara.
Dan untuk pertama kalinya…
Tidak ada lagi senyum lembut atau sikap tenang dalam dirinya, yang tersisa hanya rasa iri, kecewa, dan penyesalan yang bercampur jadi satu.
“Elvara…” suaranya bergetar. “Ini semua salah kamu.”
Elvara membeku, Vivian menatapnya dengan mata merah penuh emosi.
“Seharusnya…” air matanya jatuh lagi, “aku yang nikah sama Arsen. Bukan kamu.”
Ruangan langsung sunyi, jantung Elvara seperti berhenti berdetak sesaat.
Bahkan Arsen langsung menatap Vivian tajam. “Vivian, cukup.”
Namun wanita itu sudah terlalu emosional.
“Aku yang lebih dulu ada di hidup dia!” bentaknya sambil menangis. “Aku yang paling ngerti Arsen!”
“Vivian!” suara Arsen mulai meninggi.
Namun Vivian hanya tertawa kecil getir sambil terus menghapus air matanya. “Aku nyesel ninggalin dia…” bisiknya lirih. “Dan sekarang aku harus lihat orang lain jadi istrinya.”
Setelah mengatakan itu, Vivian langsung berjalan pergi melewati Elvara begitu saja, bahu mereka sempat bersenggolan pelan.
Dan beberapa detik kemudian…
Pintu ruang kerja tertutup keras, meninggalkan suasana yang terasa jauh lebih menyesakkan. Kini hanya tersisa Elvara dan Arsen di dalam ruangan.
“Arsen…” suara Elvara melemah setelah kepergian Vivian. “Kamu nggak balikan sama dia?” Tatapannya penuh rasa takut. takut mendengar jawaban yang akan menghancurkan dirinya sepenuhnya, Arsen langsung menghela napas panjang sambil menatap istrinya lekat-lekat.
“Elvara, kamu ngaco.” Suaranya terdengar lebih lembut dibanding biasanya. “Aku udah nikah sama kamu. Ngapain aku balikan sama dia?”
“Tapi dia cinta pertama kamu…”
Kalimat itu keluar lirih sekali, Arsen terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berjalan mendekat perlahan.
“Iya,” ucapnya jujur. “Dia memang cinta pertama aku.”
Mata Elvara langsung meredup, namun sebelum wanita itu sempat menjauh, Arsen kembali melanjutkan— “Tapi itu masa lalu.”
Suasana ruangan mendadak jauh lebih tenang, Arsen menatap Elvara dengan sorot mata yang selama ini jarang ia tunjukkan, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama pria itu terlihat benar-benar membuka dirinya.
“Aku akan melupakannya.” Elvara menahan napas pelan.
“Arsen…” Pria itu mengusap wajahnya kasar sebelum kembali bicara dengan suara rendah.
“Elvara, maaf.” Elvara langsung menatapnya.
“Maaf atas sifat aku beberapa bulan ini.” Tatapan Arsen perlahan melembut. “Aku terlalu sibuk sama masalah sendiri sampai nggak sadar kalau aku nyakitin kamu.”
Dadanya terasa sesak melihat mata Elvara yang masih memerah.
“Karena sekarang…” Arsen menggenggam tangan Elvara perlahan, “aku punya kamu sebagai istri aku.”
Jantung Elvara langsung berdegup cepat.
“Dan tentu aja…” lanjut Arsen pelan, “aku pengen bersama kamu sampai menua.”
Air mata Elvara akhirnya jatuh lagi, namun kali ini bukan karena marah.
“Kamu nggak bohong kan?” tanyanya lirih. “Atau cuma bermain kata sama aku?”
Arsen langsung menggeleng kecil. “Aku serius.”
Tangannya menggenggam tangan Elvara lebih erat seolah takut wanita itu pergi, untuk beberapa detik, Elvara hanya diam menatap pria di depannya.
Pria yang sudah membuatnya menangis, pria yang juga masih sangat ia cintai.
Lalu perlahan, Elvara melangkah maju dan memeluk Arsen tubuh Arsen sedikit menegang sesaat sebelum akhirnya membalas pelukan itu erat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka saling memeluk tanpa dinding dingin di antara keduanya.
“Oke…” bisik Elvara pelan di dadanya. “Aku kasih kamu kesempatan buat memperbaikinya.”
Arsen memejamkan matanya sejenak sambil mengeratkan pelukannya. “Terima kasih.”
Dan di tengah ruang kerja yang sejak tadi dipenuhi pertengkaran dan rasa curiga, Untuk sesaat, hubungan mereka terasa kembali hangat seperti dulu lagi.
“Ugh…” Tubuh Elvara tiba-tiba sedikit melemas di pelukan Arsen.
Wanita itu langsung memegang kepalanya pelan sambil menahan rasa mual yang mendadak muncul, Arsen langsung melepaskan pelukannya dengan wajah panik.
“Elvara, kamu kenapa?” tanyanya cepat dengan nada penuh khawatir, Elvara buru-buru menggeleng kecil.
“Aku nggak apa-apa…” jawabnya lirih sambil menekan perutnya pelan. “Aku cuma mual. Mungkin maag aku kambuh.”
Arsen langsung mengernyit. “Dari tadi kamu udah makan belum?”
Elvara terdiam sesaat, dan dari ekspresi itu saja, Arsen langsung tahu jawabannya.
“El…”
“Aku sibuk di butik tadi.”
Arsen menghela napas kasar namun jelas terdengar khawatir. “Ya udah sini, duduk dulu.”
Tangannya langsung menuntun Elvara duduk di sofa ruang kerja dengan hati-hati.
“Iyaa…” gumam Elvara pelan.
Arsen mengambil segelas air mineral lalu memberikannya pada sang istri. “Mau ke dokter?”
“Nggak usah.” Elvara menggeleng kecil sambil mencoba tersenyum. “Aku nggak apa-apa kok.”
Namun Arsen tetap terlihat tidak tenang, tatapannya terus memperhatikan wajah Elvara yang masih pucat.
“Oke…” ucapnya akhirnya setelah beberapa detik diam. “Sebaiknya kita pulang aja. Biar kamu istirahat di rumah.”
Elvara langsung menggeleng cepat. “Ih, aku bisa sendiri kok.”
Namun Arsen sudah mengambil kunci mobilnya dari atas meja.
“Nggak apa-apa. Sama aku aja.” Pria itu langsung memakai jasnya kembali. “Pekerjaan juga udah selesai.” Elvara menatapnya beberapa detik, dan entah kenapa, perhatian kecil seperti ini justru membuat dadanya terasa hangat lagi.
“Ya udah…” jawabnya pelan sambil berdiri perlahan. “Ayuk.”
Arsen langsung menggenggam tangan Elvara saat mereka berjalan keluar dari ruang kerja bersama.
Sementara di luar ruangan, Celine yang melihat itu akhirnya menghela napas lega kecil, Setidaknya untuk hari ini, hubungan mereka terlihat sedikit membaik.
…
Malam itu, suasana apartemen kembali tenang. Setelah makan malam sederhana bersama dan memastikan Elvara meminum obat maag miliknya, Arsen akhirnya menemani istrinya sampai tertidur, Lampu kamar dimatikan.
Hanya cahaya remang dari luar balkon yang masuk menembus tirai tipis, Elvara tidur membelakangi Arsen dengan napas yang perlahan mulai teratur.
Sementara pria itu…
Masih terjaga, tatapan Arsen kosong menatap langit-langit kamar cukup lama sebelum akhirnya ia menghela napas berat. Pelan-pelan, ia menyingkirkan tangan Elvara yang sejak tadi memegang ujung bajunya saat tidur, Arsen bangkit perlahan dari ranjang agar tidak membangunkan istrinya.
Langkahnya sunyi saat berjalan keluar kamar.
Klik— Pintu tertutup pelan.
Begitu berada di ruang tamu apartemen yang gelap, Arsen langsung mengambil ponselnya dari saku celana. Layar ponsel itu sudah dipenuhi beberapa pesan dari satu nama: Vivian.
Arsen memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya menekan tombol panggil.
Tak butuh waktu lama sampai suara wanita itu terdengar dari seberang sana.
“Kamu akhirnya nelpon juga.”
Arsen berdiri diam dekat jendela besar apartemen sambil menatap gemerlap lampu kota malam hari.
“Elvara udah tidur,” ucapnya pelan.
Vivian terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bertanya lirih— “Kamu yakin soal ini?”
Rahang Arsen mengeras pelan, pikirannya langsung teringat kejadian di kantor tadi siang.
Tangisan Vivian, Pertengkaran dengan Elvara.
Dan sandiwara yang mereka buat di depan istrinya, Karena kenyataannya…
Arsen memang tidak pernah benar-benar menolak Vivian kembali, bahkan setelah semua yang terjadi, ia masih menerima wanita itu diam-diam di hidupnya.
Dan hubungan mereka sekarang…
Disembunyikan rapat di belakang Elvara.
“Aku cuma butuh waktu,” jawab Arsen akhirnya dengan suara rendah.
“Tapi kamu tadi bilang mau berubah buat dia.”
Arsen memejamkan matanya sejenak. “Aku nggak bisa langsung ninggalin Elvara.”
Jawaban itu membuat Vivian tertawa kecil pahit di seberang telepon. “Tapi kamu juga nggak bisa ninggalin aku.”
Sunyi, dan diamnya Arsen kali ini sudah cukup menjadi jawaban.
Vivian menghela napas pelan sebelum berkata lirih— “Aku gak mau kita harus, diam-diam!.”
Tatapan Arsen berubah rumit.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ia mulai terjebak di antara dua wanita yang sama-sama tidak bisa ia lepaskan.
“Vivian, tolong ngertiin posisi aku saat ini,” ucap Arsen pelan sambil menekan pelipisnya.
Suara Vivian terdengar lirih di seberang telepon. “Oke… aku bisa ngerti posisi kamu.”
Arsen menghela napas kecil lega, namun beberapa detik kemudian, wanita itu kembali berkata— “Tapi aku mau kamu ceraiin dia.”
Tatapan Arsen langsung berubah tajam. “Vivian—”
“Aku serius.” Suasana mendadak terasa semakin berat.
Arsen memejamkan matanya sejenak sambil menyandarkan tubuh ke jendela apartemen. “Vivian, tunggu aku cari waktu yang pas.”
“Gak bisa.”
Nada suara Vivian kali ini terdengar jauh lebih tegas dibanding sebelumnya. “Aku kasih kamu waktu satu bulan.”— Arsen langsung mengernyit.
“Itu udah batas kesabaran aku,” lanjut Vivian dengan suara mulai bergetar menahan emosi. “Aku nggak mau dipandang perebut suami orang kalau hubungan sembunyi-sembunyi kita berdua sampai terbongkar.”
Rahang Arsen mengeras pelan. “Jangan paksa aku.”
“Aku bukan maksa.” Vivian tertawa kecil pahit. “Aku cuma capek jadi orang kedua di hidup kamu.”
Sunyi, Lampu kota di luar jendela terlihat samar dalam tatapan kosong Arsen.
Pikirannya kacau, di satu sisi ada Elvara—istrinya yang selama ini selalu bertahan untuknya.
Namun di sisi lain, Ada Vivian, cinta pertama yang ternyata belum benar-benar bisa ia lepaskan.
“Arsen…” suara Vivian melemah. “Kamu bilang masih cinta sama aku.”
Pria itu terdiam, Karena memang benar, dan justru itulah yang membuat semuanya menjadi lebih rumit.
“Aku tunggu jawaban kamu,” bisik Vivian pelan sebelum panggilan itu akhirnya terputus.
Tut.
Ruangan kembali sunyi, Arsen menurunkan ponselnya perlahan sambil mengusap wajah kasar.
Untuk pertama kalinya, Ia mulai sadar kalau kebohongan yang sedang ia bangun perlahan akan menghancurkan semuanya.
Bersambung…..