Rian seorang pemuda yang bertahan hidup di kiamat zombie di khianati oleh temannya yang selalu dia percayai , ketika tiba-tiba dia kembali ke masalalu.
dengan kekuatan dan pengetahuan dari masa depan ,aku ,akan membalas perlakuan semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alu feed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEDAGANG LINTAS DIMENSI YANG LEBIH TINGGI!
Sementara itu, Rian dan yang lainnya akhirnya berhasil mencapai zona aman.
Begitu melewati batas area tersebut, seluruh tubuh mereka langsung terasa jauh lebih ringan.
Tidak ada lagi tekanan mengerikan dari zombie-zombie di luar.
Tidak ada lagi ancaman yang bisa menyerang mereka secara langsung.
Semua orang terengah-engah akibat kelelahan.
Budi bahkan langsung menjatuhkan dirinya ke lantai.
"Aku hampir mati..." keluhnya sambil menatap langit-langit.
"Kau mengatakannya seperti telah bertarung antara hidup dan mati," balas Ridho.
"Karena memang hampir mati!"
Untuk pertama kalinya sejak memasuki mall, suasana menjadi sedikit santai.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Dum...
Dum...
Dum...
Suara langkah berat kembali terdengar.
Semua orang refleks menoleh ke arah mall.
Ekspresi mereka langsung berubah.
Zombie raksasa itu muncul.
Tubuh besarnya perlahan keluar dari pintu utama mall yang hancur.
Lukanya masih terlihat jelas akibat pertarungan sebelumnya, tetapi auranya sama sekali tidak melemah.
Sebaliknya, monster itu justru tampak semakin ganas.
"Dia masih hidup..." bisik Nadia.
Keringat dingin langsung muncul di dahinya.
Monster tersebut berjalan perlahan mendekati mereka.
Dum...
Dum...
Dum...
Setiap langkahnya membuat tanah bergetar.
Namun Rian tidak bergerak.
Begitu pula yang lainnya.
Karena mereka tahu.
Di antara mereka dan zombie itu terdapat batas zona aman.
Selama monster tersebut tidak bisa memasuki area ini, mereka tidak perlu khawatir.
Benar saja.
Zombie raksasa itu berhenti tepat di garis batas.
Mata merahnya menatap kelompok Rian penuh kebencian.
Mulutnya mengeluarkan suara geraman rendah.
Grrrrrr...
Seolah ingin mencabik-cabik mereka saat itu juga.
Namun ada sesuatu yang lebih menarik perhatian monster tersebut.
Kepalanya perlahan menoleh ke samping.
Ke arah sebuah sudut yang sebelumnya tidak terlalu diperhatikan oleh siapa pun.
Di sana...
Duduk seorang pria tua berjubah hitam.
Di sampingnya terdapat sebuah gerobak kayu aneh yang dipenuhi berbagai barang misterius.
Lampu-lampu berwarna ungu menggantung di atas gerobak itu.
Memberikan kesan tidak nyata.
Pedagang Lintas Dimensi.
Rian langsung mengenalinya.
Pada kehidupan sebelumnya, sosok seperti inilah yang menjadi salah satu sumber kekuatan terbesar umat manusia.
Mereka muncul secara acak.
Menjual berbagai benda yang bahkan melampaui logika dunia.
Mulai dari senjata legendaris, skill book langka, hingga item yang mampu mengubah takdir seseorang.
Namun...
Mereka juga termasuk makhluk yang paling berbahaya untuk diprovokasi.
Zombie raksasa itu tampaknya tidak mengetahui hal tersebut.
Monster itu menatap sang pedagang.
Tatapan penuh naluri predator.
Seolah sedang menilai apakah sosok tua itu bisa dimakan atau tidak.
Lalu...
Sang pedagang perlahan mengangkat kepalanya.
Sepasang mata keemasan yang dalam menatap balik zombie tersebut.
Seketika.
Tubuh zombie raksasa membeku.
Seluruh bulu kuduk Rian berdiri.
Karena untuk pertama kalinya sejak kiamat dimulai...
Ia melihat rasa takut muncul pada wajah monster itu.
Zombie level 2 puncak yang sebelumnya mengamuk tanpa rasa takut kini justru gemetar.
Sang pedagang tersenyum.
Namun senyum itu sama sekali tidak hangat.
Justru menyeramkan.
Seolah seekor naga sedang menatap semut yang tidak sengaja menginjak ekornya.
"Makhluk yang menjijikkan..."
Suara sang pedagang terdengar tenang.
Tetapi membuat udara di sekitar menjadi dingin.
"Berani sekali menatapku."
Boom!
Tekanan tak kasatmata meledak dari tubuhnya.
Mata semua orang membelalak.
Zombie raksasa itu langsung terpental seperti terkena hantaman palu raksasa.
DUARRR!
Tubuhnya menghantam pintu mall.
Kemudian berguling berkali-kali hingga masuk kembali ke dalam gedung.
Seluruh area menjadi sunyi.
Tidak ada yang berani berbicara.
Ridho bahkan lupa menutup mulutnya.
"Apa... aku tidak salah lihat?" gumamnya.
"Itu monster yang hampir membunuh kita..." tambah Rahma pelan.
"Dan dia dilempar begitu saja?" lanjut Nadia.
Budi menelan ludah.
"Aku tiba-tiba merasa hidup ini sangat rapuh."
Pedagang tua itu kembali duduk santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Ia mengambil sebuah cangkir teh dari atas meja.
Lalu menyeruputnya perlahan.
Benar-benar tidak peduli pada zombie raksasa yang baru saja diterbangkan.
Rian mempersempit matanya.
Dalam kehidupan sebelumnya, ia pernah mendengar rumor.
Para Pedagang Lintas Dimensi bukanlah manusia.
Mereka berasal dari dunia yang jauh lebih tinggi.
Dunia yang bahkan tidak mampu dibayangkan oleh penghuni Bumi.
Karena itu mereka bisa memperdagangkan barang-barang mustahil.
Dan karena itu pula...
Hampir tidak ada yang berani mencari masalah dengan mereka.
Tiba-tiba.
Sang pedagang menoleh.
Tatapannya langsung jatuh pada Rian.
Jantung Rian berdetak lebih cepat.
Untuk sesaat, ia merasa seluruh rahasianya sedang dibaca tanpa sisa.
Termasuk fakta bahwa dirinya adalah seorang regresor.
Namun perasaan itu menghilang secepat kemunculannya.
Sang pedagang tersenyum tipis.
"Hm?"
"Hanya manusia yang menarik rupanya."
Lalu ia melambaikan tangannya.
Seketika sebuah lonceng kecil di atas gerobaknya berbunyi.
Ting...
"Pedagang Lintas Dimensi membuka dagangannya."
"Selamat datang para pelanggan."
Begitu suara itu terdengar.
Sebuah panel transparan tiba-tiba muncul di depan seluruh anggota kelompok.
TOKO LINTAS DIMENSI
Selamat datang.
Kristal dapat digunakan sebagai mata uang.
Pilih barang yang ingin dibeli.
Mata semua orang langsung membelalak.
"Ini..." gumam Indah.
"Jendela status yang berbeda ?" tanya Nadia.
"Tidak," jawab Rian pelan.
Tatapannya tertuju pada daftar barang yang perlahan muncul.
Dan saat melihat salah satu item di bagian paling atas...
Pupil matanya mengecil.
Karena benda itu seharusnya belum muncul pada tahap awal kiamat.
Sebuah item yang pada kehidupan sebelumnya pernah memicu pertumpahan darah besar antar guild.
Sebuah item yang nilainya tidak terukur.
Di samping nama item itu hanya tertulis dua kalimat sederhana.
Kartu teleportasi.
Harga: 10 Kristal Evolusi Level 2
Napas Rian menjadi berat.
Lalu tanpa sadar...
Cincin di tangan kirinya kembali terasa panas.