Hella Adelia menjalani hidupnya dalam diam, memikul peran sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi putra semata wayangnya. Dengan tekad sederhana—melihat anaknya agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMK—ia rela menyingkirkan lelah dan gengsi, menerima pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang CEO ternama.
Di balik kemewahan rumah itu, Dave Julian Alexander hidup dalam kesunyian. Seorang duda tanpa anak, dengan hati yang masih terikat pada kenangan akan mendiang istrinya. Dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Kesederhanaan Hella, ketulusannya sebagai seorang ibu, dan harapan kecil yang ia genggam untuk masa depan anaknya, menghadirkan kehangatan yang lama hilang dalam hidup Dave.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endel_Bagong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERJERAT CINTA SANG BOSS
Setelah kembali ke dalam rumah, Hella membawa makanannya ke dapur. Ia duduk di kursi kecil di dekat meja, lalu mulai makan dengan lahap. Rasa lapar yang sejak tadi ia tahan akhirnya terbayar. Nasi hangat, ayam goreng, sambal—semuanya terasa begitu nikmat.
Untuk sesaat, ia lupa di mana ia berada.
Setelah selesai, Hella merapikan bekas makanannya, lalu berdiri mengambil segelas air minum. Ia meneguknya perlahan, mencoba menenangkan tubuhnya yang mulai terasa lelah.
Namun tiba-tiba—
“Berapa harga makanan yang kamu pesan tadi?”
Suara berat itu muncul dari belakangnya.
“Uhuk—!”
Hella tersedak. Air yang ia minum hampir saja membuatnya terbatuk cukup keras. Ia buru-buru menutup mulutnya, mencoba mengendalikan diri.
Dengan jantung yang berdegup cepat, Hella menoleh.
Dan benar saja—Dave sudah berdiri di sana, di seberang meja dapur yang membatasi mereka.
Hella langsung menunduk. Ia tidak berani menatap wajah majikannya itu.
“Maaf, Tuan…” ucapnya pelan, masih sedikit batuk.
Dave tidak menjawab permintaan maaf itu. Tatapannya tetap datar.
“Berapa harganya?” ulangnya.
Hella menggenggam gelas di tangannya erat-erat.
“Murah, Tuan…” jawabnya lirih.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Dave mengeluarkan uang dari sakunya. Ia mengambil dua lembar seratus ribuan, lalu meletakkannya di atas meja, tepat di antara mereka.
“Ini sebagai ganti uang mu.” ucapnya singkat.
Bagi Dave, itu hanyalah jumlah kecil yang tidak berarti.
Namun bagi Hella, itu terlalu banyak.
Hella menatap uang itu sekilas, lalu kembali menunduk. Perasaannya campur aduk—tidak enak, sungkan, dan sedikit tertekan.
“Tidak perlu, Tuan…” ucapnya pelan, hampir seperti berbisik, tapi masih bisa terdengar.
Dave diam.
Alisnya sedikit mengerut, menatap Hella yang bahkan tidak berani mengangkat wajahnya.
Tapi Hella tidak menyadari tatapan itu.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Dave berbalik.
Langkahnya menjauh, meninggalkan dapur begitu saja.
Uang itu… tetap berada di atas meja.
Hella sedikit panik. Ia mencoba memberanikan diri.
“Tuan…,” panggilnya pelan.
Tidak ada respon.
“Tuan…” coba lagi, sedikit lebih jelas.
Namun Dave tetap berjalan, seolah tidak mendengar. Atau mungkin—tidak peduli.
Beberapa detik kemudian, suara langkah itu menghilang. Dave sudah kembali ke ruang kerjanya.
Menyisakan Hella seorang diri di dapur.
Hella menatap uang di atas meja itu lama. Ia tidak segera mengambilnya.
Pikirannya dipenuhi banyak hal.
Tentang sikap Dave yang sulit ditebak.
Tentang aturan-aturan yang harus ia patuhi.
Dan tentang posisinya… di rumah ini.
Perlahan, ia menghela napas panjang.
Dengan ragu, akhirnya Hella meraih uang itu. Tangannya sempat terdiam sejenak sebelum benar-benar menggenggamnya.
Perasaan tidak nyaman masih tersisa, tapi ia tahu—menolak pun tidak akan mengubah apa-apa.
Perlahan, ia melangkah meninggalkan dapur menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar kecilnya, Hella langsung duduk di tepi tempat tidur. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu menatap layar beberapa detik, seolah mengumpulkan rasa rindu yang sejak tadi ia tahan.
Jarinya mulai mengetik.
Ia mengirim pesan kepada Dimas.
“Kamu sudah makan belum, Nak?”
“Hari ini di sekolah gimana?”
“Jangan lupa belajar ya.”
Pesan-pesan sederhana, tapi penuh perhatian.
Tidak butuh waktu lama, balasan dari Dimas masuk.
Anaknya menjawab dengan ceria—ia sudah makan, harinya di sekolah berjalan baik, tidak ada masalah. Bahkan Dimas sempat bercerita sedikit tentang pelajaran hari ini.
Membaca itu, hati Hella terasa hangat.
“Ya sudah, sekarang istirahat ya. Jangan tidur terlalu malam,” tulis Hella lagi.
“Iya, Ma. Mama juga ya,” balas Dimas.
Senyum kecil terukir di wajah Hella.
Ia memandangi layar ponselnya beberapa saat lebih lama, seakan belum ingin mengakhiri momen itu.
Namun perlahan, rasa kantuk mulai mengambil alih.
Perjalanan jauh hari ini, ditambah banyak hal baru yang harus ia hadapi, membuat matanya tidak lagi kuat menahan.
Hella merebahkan diri di tempat tidur.
Ponselnya masih berada di tangannya, hingga akhirnya ia meletakkannya di samping bantal, sebelum itu ia sudah menyalakan alarm untuk besok pagi.
Matanya mulai terpejam.
Dalam keheningan kamar itu, Hella tertidur.
Malam pertama di rumah majikan barunya berakhir dengan lelah…
namun setidaknya, ia tahu—
anaknya baik-baik saja.
Dan itu sudah cukup untuk membuatnya sedikit tenang.
*Johan, Marcel and Dave 😁
biar gak tua-tua amat...kurang seru soalnya kalau ketuaan pemain nya 👍😁