Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.
Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.
"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."
Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
Bunda Ingin Aku Menikahi Vanya
"Kalau kamu tetap menolak menikah, jangan salahkan Bunda kalau jantung Bunda berhenti malam ini."
Arya meletakkan cangkir kopi tanpa suara.
Di seberang meja makan, Ratna menekan telapak tangan ke dada. Wajahnya pucat, napasnya dibuat pendek-pendek, tetapi matanya masih sempat mengintip reaksi putranya melalui sela jemari.
Akting yang kurang rapi.
Botol obat jantung di atas meja bahkan belum dibuka. Segelnya masih utuh.
"Kalau benar sesak, kita ke IGD," kata Arya. "Sekarang."
Ratna langsung menurunkan tangan. "Bunda sedang bicara soal pernikahanmu."
"Tadi soal jantung."
"Dua-duanya berhubungan. Kamu tidak menikah, jantung Bunda sakit."
Rumah tua di Bandung Utara itu biasanya sunyi. Malam ini, suara notifikasi WhatsApp berbunyi hampir setiap beberapa detik dari ponsel Ratna. Grup bernama Keluarga Besar sedang ramai. Foto perempuan, biodata anak teman, undangan pertemuan, dan pesan suara para tante memenuhi layar.
Arya baru pulang dari dinas sore tadi. Ia belum sempat tidur, tetapi ibunya sudah memanggilnya ke meja makan dengan alasan darurat keluarga.
Ternyata darurat itu bernama calon istri.
"Usiamu tidak berhenti," lanjut Ratna. "Setiap kali ada yang bertanya, Bunda harus menjawab apa? Anak saya terlalu sibuk pergi dinas sampai lupa membangun rumah tangga?"
"Jawab saja iya."
"Arya."
Nada itu biasanya cukup membuat orang lain menunduk. Arya hanya menyandarkan tubuh ke kursi.
Ratna menggeser sebuah foto ke arahnya. Perempuan dalam foto mengenakan kebaya lembut, tersenyum di sebuah acara keluarga. Wajah yang sudah lama tidak ingin Arya lihat.
Vanya.
"Dia masih menunggumu," kata Ratna. "Kalian saling mengenal sejak kuliah. Keluarganya jelas. Sikapnya halus. Dia juga tahu pekerjaanmu membuatmu sering tidak ada di rumah. Apa lagi yang kurang?"
"Kejujuran."
Jemari Ratna berhenti di atas meja.
"Masalah lama itu sudah selesai."
"Bagi Bunda."
"Vanya bilang dia sudah berubah."
"Orang yang berubah tidak perlu mengumumkannya kepada semua orang."
Ratna menarik napas. Kali ini bukan akting. "Kamu selalu melihat yang buruk darinya."
"Karena dia selalu menunjukkannya saat Bunda tidak melihat."
Hubungan singkat pada masa kuliah itu berakhir sebelum sempat menjadi sesuatu yang serius. Vanya menyukai nama baik, seragam, dan bayangan kehidupan yang ia pikir akan dimiliki bersama Arya. Ketika Arya menolak menjadikan hubungan mereka tontonan, Vanya mulai menciptakan cerita sendiri. Air mata, kecemburuan, pesan yang dipotong, dan kebohongan kecil yang dibungkus kelembutan.
Arya tidak memberi kesempatan kedua kepada kebohongan.
Ponsel Ratna berdering. Nama Eyang Menur muncul di layar.
Ratna segera menjawab panggilan video dan menyandarkan ponsel pada tempat tisu. Wajah seorang perempuan tua tampil di layar, dibingkai kerudung warna gading. Tatapannya masih tajam meski suaranya terdengar lelah.
"Sudah bicara dengan Arya?" tanya Eyang Menur.
"Sudah, Eyang. Dia tetap keras kepala."
"Berikan ponselnya."
Arya menggeser duduk sedikit agar terlihat kamera. "Assalamualaikum, Eyang."
"Waalaikumsalam. Kapan terakhir kali kamu pulang menjenguk Eyang?"
"Tiga minggu lalu."
"Terlalu lama."
"Saya sedang dinas."
"Kamu selalu dinas." Eyang Menur mendengus. "Kalau pekerjaanmu terus dijadikan alasan, nanti istrimu harus dikirim dengan paket ke depan pintu."
Ratna menahan senyum kemenangan.
Arya menatap dua perempuan yang paling sulit ia lawan tanpa melukai perasaan mereka. Di luar rumah, lampu kendaraan melewati jendela lalu lenyap. Ponselnya sendiri bergetar di saku, mungkin pesan pekerjaan yang belum selesai.
"Saya akan menikah kalau menemukan orang yang tepat," katanya.
"Kapan? Setelah rambut Eyang putih semua?"
"Rambut Eyang sudah putih."
"Dasar cucu tidak tahu cara membujuk perempuan."
Ratna tertawa kecil. Ketegangan di meja sempat melonggar, tetapi foto Vanya masih tergeletak di antara mereka.
Eyang Menur mencondongkan wajah ke kamera. "Eyang tidak memaksamu memilih Vanya. Tapi bawalah seseorang. Perempuan yang kamu pilih sendiri. Kenalkan baik-baik kepada keluarga. Kalau tidak ada, jangan marah kalau Bunda memilihkan."
Itu bukan perintah langsung. Justru lebih berbahaya.
Ratna segera menyambut, "Bunda beri waktu satu bulan. Kalau tidak ada siapa-siapa, kamu temui Vanya."
"Tidak."
"Dua minggu."
"Bunda baru saja menawar waktu ke arah yang salah."
"Karena kamu menjawab terlalu cepat."
Arya menatap ibunya lama. Ratna balas menatap tanpa berkedip. Perempuan itu mungkin tidak benar-benar sakit malam ini, tetapi Arya tahu tekanan dari keluarga besar, pertanyaan yang tak pernah berhenti, dan kekhawatirannya bukan sepenuhnya dibuat-buat.
Masalahnya, menyerah kepada Vanya bukan solusi. Itu hanya mengundang bencana masuk melalui pintu depan.
"Satu bulan," putus Eyang Menur dari layar. "Bawa perempuan pilihanmu. Kalau tidak, dengarkan Bunda."
Panggilan berakhir setelah Arya berjanji akan datang menjenguk. Ratna menyandarkan tubuh dengan puas, lalu menyelipkan foto Vanya kembali ke dalam tas.
"Bunda akan meminta Vanya datang akhir pekan depan."
"Batalkan."
"Bawa calonmu lebih dulu."
Arya berdiri. "Saya lelah."
"Bunda juga lelah menunggumu menikah."
Ia meninggalkan ruang makan sebelum percakapan kembali berputar. Lorong menuju kamarnya gelap, hanya diterangi lampu dinding kekuningan. Langkah Arya tetap tenang sampai pintu tertutup di belakangnya.
Barulah ia mengembuskan napas panjang.
Ponselnya penuh pesan. Ada laporan yang harus dibaca, jadwal dinas berikutnya, dan puluhan pesan di grup keluarga. Salah seorang tante bahkan sudah mengirim desain undangan dengan nama Arya dan Vanya berdampingan.
Ia menghapus gambar itu tanpa membuka penuh.
Ketika hendak mengunci layar, ibu jarinya berhenti pada galeri.
Foto terakhir memenuhi layar.
Sebuah kartu identitas rumah sakit tergantung di dada perempuan berwajah mungil. Keisha Kusumo. RSUD Bandung. Di tepi foto, tampak sedikit jas putih kusut dan jemari yang sedang berusaha menutupi kartu itu.
Arya memperbesar tulisan di bawah namanya.
Kemarin perempuan itu menyuruhnya membuka celana dengan wajah setenang dokter yang meminta pasien membuka mulut. Ia salah, tertangkap, memerah sampai telinga, lalu masih sempat berdebat bahwa harga dirinya tidak benar-benar terluka karena tidak ada tindakan invasif.
Lancang. Ceroboh. Berisik.
Namun saat kesalahannya terbukti, Keisha tidak bersembunyi di belakang suster atau sistem rumah sakit. Ia berdiri tegak dan mengaku lalai.
Kalau memang saya salah, saya yang akan bertanggung jawab.
Sudut bibir Arya bergerak tipis.
Ia membutuhkan seorang perempuan yang cukup meyakinkan untuk membuat Ratna berhenti membawa Vanya ke rumah. Seseorang yang tidak berasal dari lingkaran keluarga, tidak mudah dikendalikan, dan berani membantahnya di depan wajahnya.
Seseorang yang sudah berutang tanggung jawab kepadanya.
Gagasan itu tidak masuk akal.
Justru karena itu, ibunya mungkin akan percaya.
Arya membuka mesin pencari kontak rumah sakit, menemukan nomor pusat RSUD Bandung, lalu menekan tombol panggil.
Kali ini ia tidak berniat mengajukan komplain. Ia membawa permintaan yang jauh lebih gila, cukup gila untuk membuat dokter itu menyesali setiap kata tentang tanggung jawab.
Sebelum sambungan masuk, ia menatap foto Keisha sekali lagi.
"Katanya mau bertanggung jawab, ya?"