"Ternyata aku ... istri kedua?"
Mendapatkan sosok suami yang nyaris sempurna seperti Azzam Naufal Ardana membuat Azra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia, terlebih mengingat masa lalunya yang kelam. Namun, delapan tahun menikah dan dikaruniai dua anak, Azzam tetap menyembunyikannya dari dunia luar dan enggan mengenalkannya pada keluarga besar.
Azra memilih patuh dan bungkam, sampai sebuah fakta pahit mengoyak paksa kesabarannya.
"Ini kesakitan paling hebat yang pernah kurasakan seumur hidupku. Kamu menipuku, Mas!"
"Lampiaskan amarahmu, Azra. Asal jangan pernah meminta cerai."
Azra didera bimbang. Di satu sisi, anak-anaknya butuh sosok ayah. Di sisi lain, ia enggan menjadi orang ketiga. Namun, Hana ... istri pertama Azzam justru melontarkan kalimat yang membuat Azra tercengang.
"Aku tahu semua tentangmu, Azra. Tetaplah menjadi istri Mas Azzam."
"Kau gila?"
Saat cinta berubah menjadi penipuan yang rumit, haruskah Azra bertahan demi kebahagiaan anak-anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Hana
Zaki menatap putrinya yang tengah melahap makan malam dengan gerakan lambat dan sama sekali tidak bersemangat. Pria paruh baya itu menghela napas pelan. Keheningan yang mencekat di ruang makan membuat atmosfer terasa begitu berat. Perlahan, Zaki meletakkan kedua sendoknya di atas piring, menciptakan dentingan halus yang memecah kesunyian.
"Hana, apa tadi kamu pergi lagi ke rumah sakit untuk menemui istri kedua Azzam?" tanya Zaki dengan nada suara yang serius, menatap lekat putri kesayangannya.
"Iya, Ayah," balas Hana lirih, nyaris berupa bisikan. Kepalanya tetap tertunduk, enggan bersitatap dengan sang ayah.
"Lalu bagaimana? Apa hasil dari obrolan kalian berdua?" tanya Zaki lagi, mencoba mengorek kejelasan dari benang kusut rumah tangga putrinya.
Hana terdiam seketika. Potongan makanan yang baru saja ia telan mendadak terasa begitu seret dan sukar melewati tenggorokannya. Untuk beberapa saat wanita itu hanya membisu, mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya sebelum akhirnya mengangkat pandangan untuk menatap langsung ke arah sang ayah.
"Aku ... aku tidak ingin berpisah dengan Mas Azzam, Yah," ucap Hana dengan sepasang mata yang mulai berkaca-kaca.
Tatapan matanya memancarkan keputusasaan yang teramat dalam, sebuah sinyal kuat bahwa ia benar-benar takut kehilangan sosok Azzam dari hidupnya. Zaki tertegun. Sebagai seorang ayah, dadanya terasa seperti dihantam sesuatu yang sangat berat melihat luka dan kerapuhan yang sedang dirasakan oleh putrinya sendiri.
"Apalagi kalau sampai Bunda tahu aku dan Mas Azzam berpisah, kondisi kesehatan Bunda pasti akan langsung turun drastis," tambah Hana dengan suara bergetar.
Zaki kembali bungkam. Kalimat putrinya ada benarnya. Saat ini, istrinya sedang menjalani perawatan intensif untuk penyakit jantungnya. Kondisi fisiknya harus dijaga agar tetap stabil dan terhindar dari stres. Berita perceraian anak mereka pasti akan menjadi kejutan luar biasa yang bisa membahayakan nyawanya.
"Tapi, Hana ... delapan tahun pernikahan kalian berjalan, dan kamu belum juga memberikan Azzam keturunan. Mungkin ... mungkin hal itulah yang menjadi alasan utama mengapa Azzam memutuskan untuk menikah lagi di luar sana," ucap Zaki hati-hati, mencoba memberikan sudut pandang realistis yang logis bagi seorang pria.
Namun, Hana langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, menolak asumsi ayahnya.
Hana kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan tetesan air mata yang mulai jatuh. "Bukan karena anak, Yah. Jauh sebelum kami menikah, Mas Azzam sudah menolak perjodohan ini secara terang-terangan. Ayah masih ingat saat acara kumpul keluarga besar delapan tahun lalu? Saat kita semua makan bersama di sebuah restoran, dan aku serta Mas Azzam diperkenankan untuk mengobrol berdua di luar untuk saling mengenal?" tanya Hana, memicu ingatan lama di kepala Zaki.
Zaki terdiam, memorinya ditarik mundur ke malam bersejarah itu. Ia mengingat dengan jelas bagaimana hangatnya suasana malam itu.
"Hana, Azzam ... kalian bicaralah dulu berdua di luar, anggap saja sebagai pendekatan," ucap Fathimah kala itu dengan senyuman bahagia yang mengembang lebar di wajahnya.
Azzam mengangguk sopan saat itu. Ia beranjak berdiri dari kursinya dan melangkah pergi menuju area luar restoran, diikuti oleh Hana di belakangnya. Keduanya kemudian berdiri bersisian di depan kolam restoran yang memantulkan sinar rembulan malam yang temaram. Hana melangkah perlahan mendekati Azzam, meremas jemarinya sendiri karena merasa gugup.
"Mas, menurutmu ... bagaimana dengan rencana perjodohan kita?" tanya Hana membuka obrolan dengan ragu.
"Hana, aku tidak bisa melanjutkan perjodohan ini," potong Azzam cepat dan lugas. Pria itu membalikkan badannya, menatap Hana yang seketika mematung karena terkejut.
"Maksud ... maksud Mas apa?" tanya Hana gagap.
"Aku sudah memiliki wanita yang sangat, sangat aku cintai. Aku berniat untuk segera menikahinya. Dan bagimu, kamu adalah wanita yang baik, kamu pasti bisa mencari pria lain yang jauh lebih pantas dan bisa mencintaimu dengan tulus," ucap Azzam dingin, lalu bersiap untuk melangkah pergi meninggalkannya.
Melihat Azzam yang hendak pergi, Hana yang panik secara refleks memegang lengan pria itu. Namun dengan gerakan cepat, Azzam langsung menepis kasar tangan Hana.
"Jaga batasanmu!" desis Azzam tajam, menatap Hana dengan pandangan tidak suka.
Mata Hana seketika berkaca-kaca. Ia menatap Azzam dengan ekspresi yang menyiratkan ketakutan dan keputusasaan yang teramat sangat. Azzam yang melihat sorot mata itu sempat tertegun sesaat, merasa heran mengapa wanita di hadapannya tampak begitu hancur hanya karena sebuah penolakan perjodohan.
"Tolong ... tolong terima perjodohan ini, Mas. Aku memohon kepadamu," ratih Hana dengan suara gemetar.
"Hana, bukankah aku baru saja mengatakannya padamu? Ada wanita lain yang sangat aku cintai dan—"
BRUK!
Hana tiba-tiba menjatuhkan dirinya, berlutut tepat di hadapan Azzam. Tindakan nekat itu sontak membuat Azzam terkejut setengah mati. Ia mundur selangkah, menatap Hana dengan pandangan tidak percaya.
"Apa-apaan ini?! Apa yang kamu lakukan? Bangun, Hana!" sentak Azzam dengan nada tajam dan berbisik, panik jika ada orang lain yang melihat mereka.
Hana menggelengkan kepalanya kuat-kuat, tangisnya pecah malam itu. "Aku bukan lagi wanita yang suci, Mas ... seseorang telah menodaiku secara keji. Dan jika Mas Azzam menolak pernikahan ini, lalu Bunda menjodohkanku dengan pria lain yang kelak akan membongkar rahasia ini, maka kehormatan keluargaku akan hancur seketika. Kedua orang tuaku akan menanggung malu seumur hidup mereka. Tolong aku, Mas ... tolong selamatkan aku," pinta Hana dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya.
Azzam berdiri terpaku dengan tubuh gemetar karena syok. Selama ini, ia melihat Hana sebagai sosok wanita terhormat yang terjaga dari kalangan keluarga baik-baik. Namun siapa sangka, di balik keanggunan itu, Hana menyimpan rahasia kelam yang begitu mengejutkan.
"Tapi aku sudah memberitahumu, Hana ... aku memiliki wanita yang aku cintai dan ingin kujadikan istri," ucap Azzam, suaranya melemah namun tetap bersikeras mempertahankan perasaannya pada Azra.
"Tidak masalah! Aku sama sekali tidak keberatan jika Mas ingin menikahinya juga! Aku hanya butuh status pernikahan ini untuk menyelamatkan kehormatan dan nama baik keluargaku. Aku tidak akan menuntut hak nafkah batin apa pun dari Mas Azzam setelah kita menikah nanti. Aku hanya meminta posisi sebagai istri pertamamu di depan keluarga kita. Mas ... jika Mas Azzam tidak mau membantuku malam ini ... aku benar-benar tidak memiliki harapan lagi untuk melanjutkan hidup," ucap Hana pasrah dengan tangisan yang kian pilu.
Hana menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, mencoba mengusir sesak di dadanya setelah ingatan kelam delapan tahun lalu itu berputar kembali di kepalanya. Ia mendongak, menatap sang ayah yang kini juga tengah menatapnya dengan raut wajah yang membeku.
"Mas Azzam sebenarnya sudah membatalkan perjodohan itu malam itu juga, Yah. Tapi aku yang berlutut memohon dan memintanya untuk tetap melanjutkannya. Aku yang mengizinkannya untuk menikahi Azra sebagai istri kedua. Aku tidak pernah meminta hakku sebagai seorang istri batiniah, dan aku membiarkan dia menghabiskan hampir seluruh waktunya bersama Azra di Bandung, asalkan aku tetap mempertahankan statusku sebagai istrinya di mata keluarga besar kita," ucap Hana membeberkan kenyataan pahit yang selama ini ia kunci rapat-rapat.
Zaki seketika menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang pelan, tak sanggup menahan rasa sesak yang luar biasa.
"Ya Allah, Hana ... kenapa kamu harus menyiksa dirimu sendiri sejauh itu? Kenapa kamu lakukan hal bodoh ini? Jika Azzam menolak saat itu, lebih baik kamu jujur kepada kami. Kami bisa menjodohkanmu dengan pria lain yang tulus, yang bisa menerima masa lalumu, mencintaimu, dan menghargaimu selayaknya seorang istri seutuhnya," ucap Zaki dengan suara serak menahan tangis, hatinya hancur mendapati penderitaan putrinya yang begitu sunyi.
Hana menggelengkan kepalanya perlahan, air matanya menetes jatuh di atas meja makan. "Aku hanya ingin Mas Azzam, Ayah. Hanya dia. Tolong bantu aku, Ayah ... bagaimanapun caranya, aku tidak akan pernah mau berpisah dengan Mas Azzam," ucap Hana dengan tatapan mata memohon, membuat Zaki hanya bisa menghela napas panjang tanpa mampu berkata-kata lagi.
__________________
nanti kamu jd duta istighfar buat ummahmu
ummah pilih kasih za Mai 🤣
dia akan jd garda terdepannya ummah
kirain Abi Farhan nyuruh supir ternyata malah datang sendiri,pasti Jid sudah kangen sama cucu2nya yg manis meskipun satunya sedikit suka bikin darting 🤣🤣🤣🤣