NovelToon NovelToon
Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Sinar matahari pagi perlahan menyinari lahan perbukitan barat yang masih tertutup kabut embun tebal.

Sebuah mobil sedan mewah berwarna putih melaju kencang mendaki jalanan tanah bergelombang menuju gerbang kebun.

CIITTT.

Mobil itu mengerem mendadak tepat di depan tiga truk boks yang terparkir melintang menghalangi jalan akses utama.

Indah Sari melompat keluar dari kursi kemudi dengan wajah pucat pasi dan napas yang tersengal-sengal.

Ia berlari melewati celah di antara badan truk-truk itu sambil memanggil nama rekan bisnisnya dengan nada sangat panik.

"Rizky, kau di mana? Tolong jawab aku Rizky, kau masih hidup kan?"

Langkah kaki Indah mendadak terhenti kaku seolah sol sepatunya dipaku kuat ke dalam tanah berdebu.

Pandangan matanya disajikan pada sebuah pemandangan yang sama sekali tidak masuk akal sehat manusia normal.

Ratusan bongkahan es transparan berbentuk manusia tersebar memenuhi seluruh area depan gerbang kebun herbal.

Di dalam balok-balok es tersebut, wajah-wajah preman garang dengan ekspresi ketakutan yang luar biasa tercetak sangat jelas.

"Ya Tuhan, sihir mematikan apa yang sebenarnya terjadi di sini semalam?" gumam Indah menutup mulutnya yang menganga lebar.

"Selamat pagi Nona Indah, kau datang lebih awal dari jadwal perkiraanku hari ini."

Sebuah suara tenang dan sangat akrab menyapa Indah dari arah pos jaga kayu di dekat gerbang masuk.

Rizky berjalan santai menghampiri Indah sambil memegang secangkir teh panas yang uapnya masih mengepul.

Penampilan pemuda itu terlihat sangat rapi dan bersih tanpa ada sedikit pun noda darah kotor atau luka memar di tubuhnya.

"Rizky, kau benar-benar masih hidup dan utuh?" teriak Indah langsung berlari memeluk tubuh pemuda itu saking leganya.

Rizky tertawa pelan dan menepuk punggung apoteker cantik itu dengan sedikit canggung karena tidak terbiasa.

"Tentu saja aku masih hidup Nona Indah, aku kan sudah bilang padamu kalau aku punya karpet penyambutan khusus untuk mereka."

Indah segera melepaskan pelukannya dan menunjuk ke arah seratus patung es preman itu dengan jarinya yang gemetar.

"Apakah patung-patung es mengerikan ini adalah karya dari karpet penyambutan yang kau maksudkan itu?"

Rizky mengangguk pelan sambil menyeruput teh panasnya dengan gaya yang sangat santai dan tidak peduli.

"Mereka adalah seratus preman bayaran dari Sindikat Naga Hitam yang dikirim oleh Hendra semalam."

"Aku hanya mendinginkan kepala mereka sedikit agar mereka tidak jadi membakar kebun herbal kesayangan kita."

Indah menelan ludahnya dengan susah payah mencoba mencerna logika gila dari ucapan rekannya yang sangat mematikan itu.

"Lalu bagaimana cara kita membersihkan semua kekacauan ini sebelum warga desa sekitar melihatnya Rizky?"

"Kalau kita melapor pada polisi, kau pasti akan langsung ditangkap karena dicurigai menggunakan senjata biologis ilegal."

"Itulah alasan utama aku membiarkanmu datang kemari pagi ini Nona Indah," jawab Rizky tersenyum penuh arti.

"Tolong telepon Pak Darmawan Kusuma sekarang juga dan mintalah bantuan tim pembersih khusus miliknya."

Indah langsung paham maksud cerdas Rizky dan segera merogoh ponsel pintarnya dari saku dalam jasnya.

Konglomerat sebesar Darmawan Kusuma pasti memiliki koneksi bawah tanah yang kuat untuk mengurus masalah tanpa melibatkan media.

Kurang dari satu jam kemudian, lima buah truk kargo tertutup berukuran raksasa tiba di lokasi kebun perbukitan.

Darmawan Kusuma sendiri turun dari mobil SUV hitam yang mengawal iring-iringan truk kargo tersebut.

Pria paruh baya yang sangat berpengaruh itu berjalan mendekati Rizky dengan dikawal oleh belasan pengawal berjas hitam.

Langkah tegap Darmawan sedikit melambat saat matanya melihat seratus patung es manusia yang berserakan di atas tanah.

"Nak Rizky, apakah semua pembekuan massal ini benar-benar hasil perbuatanmu sendirian semalam?" tanya Darmawan dengan suara bergetar menahan takjub.

"Bisa dibilang begitu Pak Darmawan, saya terpaksa membela diri karena mereka nekat berniat membakar kebun saya," jawab Rizky merendah.

Darmawan menatap patung es Bos Naga yang membeku dengan ekspresi memohon ampun di barisan paling depan.

"Ini adalah Bos Naga dari Sindikat Naga Hitam, salah satu kelompok kriminal pembunuh paling ditakuti di kota ini."

"Kau bukan hanya membela dirimu sendiri Nak Rizky, kau baru saja menyapu bersih sebuah sindikat kejahatan besar dalam semalam."

Rasa hormat dan segan Darmawan pada pemuda lusuh di depannya ini langsung meningkat hingga berkali-kali lipat.

Rizky bukanlah sekadar pembuat racikan obat yang jenius, melainkan sosok sangat berbahaya yang kekuatannya tidak bisa diukur akal sehat.

"Tolong bantu saya memindahkan barang-barang rongsokan ini ke tempat yang jauh lebih aman Pak Darmawan," pinta Rizky dengan nada sopan.

"Jangan khawatir Nak Rizky, tim pembersihku akan mengangkut semuanya ke ruang pendingin rahasia milikku di luar kota dengan rapi."

Darmawan memberi isyarat dua jari dan puluhan pekerja berjas hazmat tebal langsung turun dari truk kargo untuk bekerja.

Mereka mengangkat patung-patung es itu dengan sangat hati-hati dan memasukkannya ke dalam boks belakang truk satu per satu.

Sementara tim pembersih konglomerat itu sibuk bekerja, Rizky berjalan ke sudut kebun dan membuka sebuah peti baja kecil.

Di dalam peti insulasi itu, Bunga Teratai Es Kematian terlihat sedikit layu dan cahaya kristal birunya mulai meredup.

TING.

Kotak teks holografis berwarna peringatan muncul dari sistem memberikan informasi terbaru pada Rizky.

[Teratai Es Kematian. Kondisi: Kekurangan energi racun es murni.]

[Catatan: Bunga ini akan memasuki fase hibernasi paksa dalam waktu dua jam jika tidak dikembalikan ke habitat limbah asalnya.]

"Sepertinya tugas beratmu di sini sudah selesai bunga kecil yang manis," batin Rizky sambil menutup kembali penutup peti baja itu rapat-rapat.

Ia memanggil Bang Jali yang baru saja tiba di kebun bersama para anak buahnya dengan wajah kebingungan melihat keramaian tersebut.

"Bang Jali, tolong bawa peti baja ini kembali ke pabrik kimia tua di pelabuhan utara sekarang juga tanpa banyak tanya."

"Buang peti ini beserta seluruh isinya ke dalam kolam limbah hitam di belakang pabrik dan jangan pernah berniat membukanya," perintah Rizky sangat tegas.

Bang Jali mengangguk patuh dan langsung membawa peti berat itu masuk ke dalam kabin mobil pikap tanpa berani bertanya macam-macam.

Setelah urusan bunga mematikan itu selesai dikendalikan, Rizky menghampiri Indah dan Darmawan yang sedang asyik mengobrol.

"Pak Darmawan, apakah koneksi intelijen Bapak bisa melacak keberadaan pasti dari Hendra Kusuma pagi ini?"

Darmawan mengangguk pelan dan mengambil sebuah tablet digital kecil dari tangan asisten pribadinya yang sigap.

"Orang-orangku sudah memantau pergerakan Direktur Medika Raya itu sejak acara televisi memalukannya selesai kemarin siang."

"Hendra saat ini sedang berada di landasan pacu helikopter darurat yang terletak di atap gedung utama perusahaannya."

"Dia rupanya sudah memindahkan semua sisa uang kas perusahaan ke rekening luar negerinya dan bersiap untuk kabur ke Singapura."

Indah langsung mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat untuk menahan amarah yang meledak di dadanya.

"Pengecut gemuk itu mau lari membawa kabur uang setelah menyebabkan begitu banyak kekacauan di kota ini?"

Rizky tersenyum dingin dan menatap jam tangan digital usang yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

"Dia tidak akan bisa pergi ke mana-mana pagi ini Nona Indah, langit kota ini sedang tidak bersahabat untuk jadwal penerbangan seorang buronan."

"Pak Darmawan, bisakah Bapak meminjamkan satu unit mobil SUV dan sopir Bapak untuk mengantarku ke gedung Medika Raya sekarang juga?"

"Tentu saja bisa Nak Rizky, kau bisa menggunakan mobil pribadiku ini beserta seluruh pengawal tempur terbaikku sekalian," tawar Darmawan tanpa ragu sedetik pun.

"Tidak perlu membawa banyak pengawal Pak, kehadiran saya sendirian di atap gedung itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Hendra jantungan."

Rizky berjalan pasti masuk ke dalam kabin mobil SUV hitam mewah itu dan duduk di kursi belakang dengan gaya sangat santai.

"Indah, kau tunggu saja kabar baik dariku di klinik sambil menyiapkan semua dokumen hukum untuk proses akuisisi perusahaan."

"Kau mau mengakuisisi PT Medika Raya yang sedang berada di ambang batas kebangkrutan itu Rizky? Untuk apa?" tanya Indah dari luar jendela mobil.

"Untuk mengubah pabrik pembuat racun pencahar mereka menjadi fasilitas produksi suplemen herbal terbesar milik kita tentu saja."

Rizky menekan tombol dan kaca jendela mobil yang berwarna sangat gelap itu tertutup perlahan, menyembunyikan senyum liciknya dari pandangan dunia luar.

BRUM.

Mesin mobil SUV hitam itu meraung kencang melaju meninggalkan area perbukitan tanah spiritual menuju jantung kota metropolitan.

Rizky menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kulit yang empuk dan memejamkan matanya untuk mengistirahatkan pikiran sejenak.

Pertarungan akhir dari rangkaian konflik panjang memperebutkan pasar ini sudah berada tepat di depan matanya.

Hendra Kusuma mungkin berpikir ia bisa dengan mudah kabur dari hukum negara menggunakan kekuatan uang dan helikopter pribadinya.

Namun sang mantan direktur yang sombong itu lupa satu fakta penting bahwa ia sedang berhadapan dengan aturan main mutlak dari Raja Obat.

Di dalam dunia medis Rizky, tidak ada satu pun musuh serakah yang diizinkan pergi meninggalkan meja sebelum membayar lunas semua utang nyawa dan kerugian yang telah mereka buat.

1
Abady Ehm
cerita sampah, seharusnya dia obati dulu ibunya yg sakit2an, habis beli lahan, carilah pekerja untuk dibersihkan dan dipagar keliling, lalu dibuatkan pondok untuk preman penjaga lahan tuh, jgn ngsal gitu ceritanya, baru bab 11 udah bosan bacanya,.....
Nissa Safira: Terima kasih atas kritiknya kak😅
Saya paham concern-nya soal ibu Rizky dan pengelolaan lahan.
Semua itu sengaja belum dieksekusi sekarang karena ada konflik dan konsekuensi yang mau saya bangun di bab-bab selanjutnya.
Kalau Rizky langsung "sempurna" dari awal, cerita dan pertumbuhannya jadi kurang greget.
Mohon bersabar ya, saya janji bakal dijawab semua di bab bab berikutnya 🙏😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!