NovelToon NovelToon
Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Teen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti

Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.

Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.

Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.

Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.

"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Pendaran lampu darurat berwarna merah darah memantul pada dinding-dinding kaca penthouse, menciptakan atmosfer yang suram dan terisolasi dari peradaban. Suara mekanisme pengunci baja yang melekat pada seluruh akses pintu utama masih bergema di ingatan Clara. Empat puluh delapan jam. Selama dua hari penuh, sistem pengamanan otomatis akan mengunci mereka berdua di dalam sangkar megah ini tanpa kemungkinan intervensi dari luar.

Di atas tempat tidur utama, Kenzo masih menghimpit tubuh Clara. Cengkeraman tangan pria itu pada pergelangan tangan Clara begitu kokoh, mengikat kedua lengan gadis itu di atas kepalanya. Napas Kenzo yang hangat dan memburu menyapu kulit leher Clara yang terbuka.

"Kau pikir merusak sensor itu akan memberimu jalan keluar, Dear?"

bisik Kenzo dengan suara rendah yang mengintimidasi.

Matanya yang gelap menatap lurus ke dalam manik mata Clara yang berair.

"Kau justru mengunci kita berdua di sini. Lebih baik dari yang kurencanakan."

"Lepaskan aku, Kenzo"

pinta Clara, suaranya bergetar antara amarah dan ketakutan yang menjalar ke seluruh sarafnya. "Jangan sentuh aku!"

"Kau yang memancing ini,"

balas Kenzo dingin.

Pria itu merendahkan wajahnya, mendaratkan bibirnya di leher Clara dengan tekanan yang beringas. Ia tidak lagi menahan diri. Sentuhan itu tidak lagi menyembunyikan maksud itu adalah klaim kepemilikan yang mutlak. Kenzo menyesap dan menggigit kulit halus di sepanjang garis rahang Clara, mengabaikan rintihan dan usaha tubuh Clara yang bergerak gelisah di bawah terkaman fisiknya.

Tangan bebas Kenzo merayap turun dari pinggang Clara, menyusup ke bawah kain gaun rajut krem yang dikenakan gadis itu. Kulit telapak tangan Kenzo yang hangat menyentuh paha mulus Clara, bergerak naik dengan dominasi yang membuat napas Clara tertahan seketika.

"Kenzo, stop! Aku mohon jangan!"

jerit Clara terengah-engah.

Sentuhan fisik yang kian berani dan melewati batas itu mengirimkan gelombang sengatan aneh yang membakar tubuhnya. Clara menolak kenyataan bahwa di balik rasa takutnya yang mendalam, dominasi fisik Kenzo mulai memicu reaksi alami pada tubuhnya, sebuah pengkhianatan biologis yang membuat rasa bersalahnya makin memuncak.

Kenzo menghentikan pergerakan tangannya sejenak di pangkal paha Clara, menatap wajah gadis itu yang memerah dengan bibir bengkak dan mata yang basah oleh air mata. Pria itu menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan kepuasan.

"Tubuhmu tidak pernah bisa berbohong padaku, Clara,"

bisik Kenzo tepat di depan bibir Clara.

"Kau membenciku, tapi kamu merasakannya. Setiap sentuhanku."

Kenzo mencium bibir Clara dengan dalamnya, sebuah ciuman yang memutus seluruh pasokan udara Clara, menuntut kepasrahan total. Namun, sebelum ciuman itu melangkah lebih jauh menuju batas akhir yang tak bisa diperbaiki, Clara menggunakan sisa tenaganya untuk memalingkan wajah dan memejamkan mata erat-erat, membiarkan tubuhnya sepenuhnya menjadi kaku dan dingin seperti patung tanpa nyawa.

Sikap dingin dan penyerahan diri yang hampa itu justru membuat Kenzo tertegun. Pria itu melepaskan ciumannya, menatap Clara yang tidak lagi bergerak atau merespons, hanya air mata yang terus mengalir menyusuri pelipisnya.

Kenzo menghela napas berat, melepaskan cengkeraman pada tangan Clara, lalu bangkit berdiri di samping tempat tidur. Pria itu merapikan kemejanya yang berantakan, menatap Clara dari atas dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Mulai detik ini, kau tidak boleh meninggalkan tempat tidur ini,"

ujar Kenzo datar, mengendalikan emosinya kembali.

"Sampai sistem pengunci darurat ini terbuka, kau adalah tahananku sepenuhnya."

Malam berganti pagi dalam kegelapan penthouse yang masih diterangi pendaran lampu darurat. Clara tidak berpindah posisi sedikit pun dari atas tempat tidur. Gaun rajutnya yang agak kusut masih melekat di tubuhnya. Ia menolak untuk bicara, menolak untuk menangis lagi, dan yang paling utama, ia menolak untuk menyentuh apa pun yang diberikan Kenzo.

Pukul delapan pagi, Kenzo berjalan masuk membawa nampan berisi sup hangat, roti, dan secangkir air putih. Pria itu meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di samping tempat tidur.

"Makan,"

perintah Kenzo singkat.

Clara tidak bergeming. Ia membelakangi Kenzo, menatap kosong ke arah dinding kamar.

"Aku tidak suka mengulang kalimatku, Clara. Kau butuh nutrisi,"

kata Kenzo lagi, suaranya mulai menajam.

"Aku lebih baik mati kelaparan daripada harus memakan makanan dari tangan seorang iblis sepertimu,"

sahut Clara pelan, namun setiap kata dipenuhi oleh keteguhan perlawanan yang pekat.

Ini adalah satu-satunya senjata yang tersisa padanya, kontrol atas tubuh dan nyawanya sendiri. Kenzo menyandarkan tangannya di tepi kasur, membungkuk mendekati telinga Clara.

"Mogok makan tidak akan mengubah apa pun. Kau hanya menyiksa dirimu sendiri."

"Memang,"

balas Clara seraya menoleh, menatap mata Kenzo dengan pandangan dingin tanpa rasa takut lagi.

"Tapi setidaknya, kau tidak bisa memiliki tubuh yang sudah menjadi mayat."

Kata-kata itu menghantam ego Kenzo dengan keras. Rahang pria itu mengeras tajam. Tatapannya mendadak membara oleh amarah yang pekat. Kenzo meraih piring sup di atas nampan, lalu tanpa ragu meletakkannya kembali dengan suara dentingan keras.

"Kau pikir kau bisa mengancamku dengan nyawamu sendiri?"

bisik Kenzo dengan nada suara yang teramat berbahaya.

Pria itu menarik tubuh Clara secara kasar hingga terduduk di atas kasur, menggenggam kedua bahunya dengan erat. Wajah Kenzo berada hanya beberapa sentimeter dari wajah Clara.

"Jika kau menolak makan dengan cara biasa, maka aku sendiri yang akan memasukkannya ke dalam mulutmu,"

ancam Kenzo.

Pria itu meraih cangkir air minum, meminum sebagian airnya, lalu menangkup rahang Clara dengan paksa dan menempelkan bibirnya di atas bibir Clara. Kenzo memaksa air putih itu berpindah dari mulutnya ke dalam mulut Clara, menekan tenggorokan gadis itu secara halus hingga Clara terbatuk dan terpaksa menelannya.

Eskalasi fisik di antara mereka makin liar dan tak terkontrol. Kenzo mendorong Clara kembali ke atas kasur, menindih tubuhnya, dan menyapu pakaian Clara dengan gerakan yang makin tidak sabar. Sentuhan-sentuhan intim yang memanaskan suhu udara di dalam kamar meluncur tanpa jeda, sebuah perpaduan antara hukuman atas mogok makan Clara dan pemenuhan obsesi gila Kenzo yang sudah di ambang batas ketahanan.

Jemari Kenzo bergerak makin jauh di balik pakaian Clara, memanjakan dominasinya di atas kulit mulus gadis itu, sementara bibirnya mengunci rapat setiap jeritan dan penolakan Clara. Ketegangan diantara mereka mencapai titik tertinggi di dalam kamar yang terkunci rapat tersebut.

Di tengah gejolak intrik fisik yang makin intens dan membakar akal sehat itu, tawa pelan Kenzo terdengar di sela-sela ciumannya di leher Clara.

"Mogok makanlah sesukamu, Clara,"

gumam Kenzo dengan suara berat terengah-engah di atas kulit leher Clara yang kini dipenuhi tanda keunguan baru.

"Setiap kali kau menolak makanan, aku akan mengambil porsi tubuhmu sebagai gantinya."

Clara memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram seprai sutra di bawah tubuhnya seraya menahan guncangan emosi dan sensasi fisik yang meremukkan seluruh pertahanannya. Ia menyadari bahwa perlawanan mogok makannya tidak menghentikan Kenzo, melainkan justru menjadi pemicu bagi Kenzo untuk mengklaim tubuhnya secara lebih dalam dan beringas setiap harinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!