Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.
Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.
Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.
Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.
Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.
Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
"Oh Caterina, apa kabar? Kau semakin cantik saja, tidak pernah berubah sejak zaman kita besekolah"
"Hohoho, Isabella, mulut manismu juga masih sama seperti dulu. Pandai sekali memuji, ya."
Kedua wanita yang kini sama-sama menginjak usia hampir kepala lima itu saling tertawa kecil, melepas rindu yang telah mengendap selama bertahun-tahun. Pelukan hangat, mata yang berkaca-kaca karena pertemuan kembali, dan gelak tawa kecil yang terselip di antara obrolan ringan mereka menciptakan suasana yang intim dan penuh kehangatan.
Mereka begitu larut dalam kebahagiaan hingga hampir mengabaikan kehadiran satu sosok muda yang sejak tadi duduk diam di samping Caterina. Seorang lelaki dengan postur tegap, wajah tampan, namun pancaran dingin yang sulit untuk diabaikan.
Isabella akhirnya yang pertama kali menyadari kehadiran pemuda itu. Ia berdeham pelan, menyadarkan sahabat lamanya dari nostalgia.
Caterina sontak menoleh dan tersenyum kikuk. Pipinya sedikit bersemu merah karena malu. "Hohoho... maafkan aku. Sampai lupa mengenalkan. Isabella, ini putraku satu-satunya, Kaiden. Dan Kaiden, ini Tante Isabella. Sahabat Mamah saat sekolah."
"...Tante Isabella," ucap Kaiden singkat dengan anggukan kecil yang nyaris tak terlihat. Matanya bahkan tak benar-benar menatap ke arah wanita itu. Nada suaranya datar, dingin, seperti tak menyisakan ruang untuk kehangatan.
Delikan tajam segera dilayangkan Caterina ke arah putranya. Ekspresinya menegang, dagunya sedikit mengeras. Dalam hati dia sudah bersiap menambah satu lagi daftar panjang 'pembinaan etika' untuk anak semata wayangnya. Kaiden memang anak baik. Tapi sikap dinginnya ini, apalagi terhadap orang dewasa selalu berhasil membuat Caterina ingin menghela napas panjang.
Tidakkah anak ini sadar siapa yang sedang diperkenalkan padanya? Ini sahabat lamanya, satu dari sedikit orang yang benar-benar berarti dalam hidupnya.
Namun sebelum sempat menegur lebih lanjut, Isabella tersenyum maklum, anggun seperti biasanya. "Tidak apa-apa, Caterina. Mungkin Kaiden hanya sedang lelah," ujarnya lembut, mencoba mencairkan suasana.
"Oh ya," ucap Caterina tiba-tiba, matanya menyapu ke sekeliling. "Ngomong-ngomong, di mana putrimu? Bukankah kau bilang ingin mengajaknya juga?"
Wajah Isabella sontak berubah lembut. Dia bisa menangkap betapa penasaran sahabatnya terhadap Alma, apalagi mengingat betapa sering dia menyebut nama putrinya dalam percakapan mereka. "Tenanglah, Caterina," ucap Isabella sambil tertawa kecil. "Alma sedang ke toilet tadi."
Baru saja kalimat itu selesai, langkah ringan terdengar mendekat. Isabella menoleh dan mendapati Alma berjalan perlahan ke arah mereka. Gadis itu tampak manis dengan gaun biru pastel yang sederhana namun elegan. Wajahnya bersih, anggun, dan tenang.
Isabella tersenyum lebar dan memberi kode halus pada putrinya. Alma pun membalas senyum itu, lalu duduk di sisi sang mamah. Duduknya anggun, sikap tubuhnya menunjukkan tata krama yang mendarah daging.
"Nah, Caterina, perkenalkan. Inilah putriku, Alma." Isabella merengkuh Alma dengan penuh kasih sayang. "Dan, sayang, ini Bibi Caterina. Teman Mamah semasa sekolah dulu."
Alma membungkukkan sedikit badannya dengan sopan. "Selamat siang, Tante Caterina. Perkenalkan, namaku Alma."
"Oh my...!" Mata Caterina langsung berbinar. "Putrimu sangat cantik dan juga sopan, Isabella."
Sorot matanya seketika melembut. Semakin lama ia menatap Alma, semakin hatinya tersentuh. Ada sesuatu yang berbeda dari gadis ini. Bukan hanya penampilan, tapi aura tenang dan dewasa yang terpancar dari caranya berbicara, caranya duduk, hingga cara menatap. Tidak agresif, tidak sok kenal, tidak pula sok cantik seperti gadis-gadis yang selama ini pernah dikenalkan padanya.
Dan yang terpenting, status keluarga mereka setara. Ia dan Isabella sama-sama berasal dari kalangan elite, menjadikan potensi hubungan lebih dari sekadar pertemanan anak-anak mereka terasa mungkin dan... layak diperjuangkan.
Apakah ini pertanda baik...?
Caterina melirik Kaiden sesaat. Putranya itu masih diam, tapi tak seketus tadi. Ia menatap Alma sejenak, tapi cepat-cepat mengalihkan pandangan. Wajahnya tidak berubah, tetap tenang-atau mungkin datar. Namun Caterina cukup mengenal putranya untuk tahu, diamnya bukan berarti tidak tertarik. Justru sebaliknya, Kaiden akan diam kalau sedang mencoba mencerna sesuatu.
"Biarkan tante Caterina memperkenalkan. Yang di samping tante ini adalah putra tante, Kaiden," ucap Caterina dengan nada hangat, matanya menyorot Alma dengan penuh harap.
Alma memandang Kaiden. Dan saat matanya bersirobok dengan wajah tampan lelaki itu, sesuatu dalam dirinya berkedut. Ada keterkejutan yang tak ia sembunyikan. Bukan karena ketampanannya, Alma sudah sering melihat wajah rupawan. Melainkan karena wajah itu... tidak asing. Terlalu tidak asing.
Seketika, tatapannya melembut. Alisnya sedikit berkerut.
Ekspresi wajahnya sontak membuat Caterina heran. "Alma... apa kau mengenal Kaiden?"
Alma mengangguk pelan, ragu. "Ya... kita berada di sekolah yang sama."
Mata Caterina membulat. "Kau juga sekolah di Athena?"
Alma mengangguk sekali lagi, kali ini lebih yakin. "Iya, Tante."
Wajah Caterina langsung bersinar. Ia menoleh ke Isabella dengan penuh semangat seperti anak kecil menemukan mainan baru. "Ya ampun! Lihatlah, Isabella. Sudah kubilang, ini pasti takdir. Kita bertemu lagi setelah sekian lama, dan sekarang-anak-anak kita bahkan berada di sekolah yang sama!"
Caterina hampir berdiri karena terlalu bersemangat. Tapi sebelum euforia itu membuncah lebih jauh, suara dingin yang penuh nada tajam memotong antusiasmenya seperti bilah es yang menebas udara.
"Aku tidak mengenalnya. Takdir dari mana?"
Suara Kaiden. Tenang, rendah, tapi menusuk.
Hening sejenak. Caterina menoleh perlahan ke arah putranya. Tatapan membunuh sudah terpatri jelas di wajahnya. Dalam hatinya, sudah terukir jadwal tambahan untuk pelatihan adab minggu ini.
Astaga, Kaiden. Setidaknya berpura-puralah sedikit.
🥀🥀🥀
"Kau bilang, kau mengenalku?" Kaiden masih mengamati Alma dengan mata tajamnya penuh perhitungan. Tatapannya menelisik, seolah mencoba menembus dinding dalam diri Alma yang belum sepenuhnya ia pahami.
Saat ini keduanya telah berpindah meja. Mereka berada di bagian barat restoran, duduk di dekat jendela besar yang memperlihatkan taman luas di luar sana. Sementara Caterina dan Isabella memilih untuk berada di ruangan khusus, beralasan untuk melepas rindu yang sudah lama dipendam.
Padahal itu hanya akal-akalan dari Caterina untuk mendekatkan Alma dan Kaiden.
Alma yang ditatap begitu intens dan tajam, tidak gugup. Tatapannya tenang, bahkan ada kelembutan yang tak biasa di balik matanya. Dia mengangguk lembut menjawab pertanyaan Kaiden dengan jujur, tanpa ragu.
"Mn, kalian begitu terkenal seantero Athena. Siapa yang tidak mengenal Kaiden dan dua temannya yang lain?" Nada suaranya tenang, namun ada kehangatan yang menggantung di setiap katanya, seperti seseorang yang tengah berbicara pada tokoh dalam kisah yang telah lama ia dengar.
Respon Alma membuat Kaiden benar-benar ingin tertawa. Bukan karena lucu, melainkan karena ada selintas pemikiran yang menyelusup masuk ke dalam benaknya, penuh kewaspadaan dan ironi. Apakah gadis ini sedang memainkan peran tertentu? Atau... dia memang benar-benar seperti ini?
Dia mengangkat satu alisnya, wajahnya sudah menunjukkan ekspresi tidak ramah. Ada aura dingin yang perlahan muncul menggantikan kekagumannya sesaat tadi.
"Jadi karena kau mengenalku... apa kau yang merencanakan pertemuan ini?" Nadanya terdengar tajam, curiga, seperti sedang memojokkan Alma dalam ruang sempit tanpa celah keluar.
Alma terkejut. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan Kaiden tentangnya. Tapi apapun itu, semua yang ada di kepala lelaki itu pasti salah. Dia bukan orang seperti yang mungkin dibayangkan Kaiden.
"Untuk apa?" gumamnya pelan, matanya memantulkan bayangan langit yang terlihat dari balik jendela.
"Karena kau ingin masuk ke keluarga Harrington."
Nada itu membuat suasana di antara mereka seketika menjadi lebih berat. Dingin. Seperti kabut musim gugur yang perlahan menyesaki ruang tanpa suara.
Alma menunduk, bibirnya bergerak sangat pelan, seperti sedang menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. "Bahkan sebelum datang ke sini... aku tidak tahu bahwa kau putra dari Tante Caterina," bisiknya lirih. Namun meski lembut, suaranya tetap bisa didengar jelas oleh Kaiden. Ucapan itu tidak terdengar sebagai pembelaan, melainkan sebuah pengakuan yang nyaris menyakitkan.
Kaiden nyaris membuka mulut untuk menimpali, tetapi belum sempat ia berkata kembali, pramusaji datang membawa minuman yang mereka pesan.
Meletakkannya dengan hati-hati satu per satu di atas meja. Namun saat gelas yang akan diletakkan di samping Alma hampir menyentuh permukaan, tangan pramusaji itu bergetar tak terkendali. Gelas jatuh, menghantam meja dengan bunyi nyaring, lalu terguling, menumpahkan cairan berwarna merah pekat yang langsung mengotori sebagian ujung gaun yang dikenakan Alma.
Semua terkejut.
Pramusaji itu gelagapan dan ketakutan, wajahnya pucat pasi. Dengan tangan yang masih bergetar, ia segera meraih kain lap dan berjongkok. Membersihkan gaun milik Alma dengan rasa penuh rasa bersalah, seolah dunia akan runtuh dalam hitungan detik.
"Nona... nona, maafkan aku," suaranya bergetar, nyaris menangis. "Aku tidak sengaja... ini hari pertamaku bekerja, aku..."
Restoran ini bukan tempat biasa. Ini adalah restoran mewah, tempat berkumpulnya para keluarga konglomerat, tempat nama dan reputasi bisa hancur hanya karena satu tatapan dingin. Tidak sembarang orang bisa masuk, apalagi berbuat salah.
Bagaimana jika dia telah menyinggung seseorang yang tak bisa disinggung? Tamat sudah riwayatnya.
Namun saat itulah Alma bergerak. Dia segera menghentikan gerakan pramusaji itu yang masih membersihkan ujung gaunnya dengan panik. Tatapannya lembut, nada suaranya hangat dan penuh pengertian.
"Tidak apa-apa," ucap Alma lembut, "Ini hanya noda kecil. Kau tidak perlu khawatir, kau bisa kembali bekerja." Tangannya yang terulur menyentuh ringan bahu si pramusaji, bukan sebagai penegasan status, tapi sebagai sesama manusia yang memahami rasa takut dan tekanan.
Pramusaji itu menatapnya, seolah tidak percaya dengan telinganya sendiri. "Terima kasih... terima kasih banyak, nona..." Ia buru-buru berdiri dan membungkuk beberapa kali sebelum pergi dengan langkah tergesa, masih bergetar, namun sedikit lebih lega.
Semua gerak-gerik dan respon Alma tidak luput dari perhatian Kaiden yang sejak tadi hanya mengamati.
Gerakan dan ucapan itu tidak palsu dan dibuat-buat. Terlihat alami, apa adanya. Ada sesuatu yang kontras dengan citra gadis dari keluarga terpandang-tidak ada kesombongan, tidak ada drama.
Kaiden tak sengaja menyuguhkan senyuman. Tipis, namun cukup untuk memperlihatkan bahwa benteng curiganya mulai retak.
Ada sesuatu yang berbeda dari gadis yang dia temui kali ini. Dan perasaan itu, untuk pertama kalinya, mengusik keheningan di dalam hatinya.
atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?