Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.
Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.
Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.
Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Meja kantin
...
Langkah kaki Pamela yang anggun namun tegas menggema di sepanjang koridor lantai empat gedung VIP. Di kedua sisi tubuhnya, Ryan dan Riana berjalan setengah berlari, mencoba menyamakan langkah kecil mereka dengan sang ibu. Jemari mungil mereka mencengkeram erat pinggiran sweter krem yang dikenakan Pamela, seolah takut jika mereka lengah sedetik saja, sosok wanita yang teramat mereka rindukan itu akan kembali menguap ditiup angin.
Pamela terus berjalan lurus, mengabaikan tatapan mata beberapa perawat yang berpapasan dengannya. Wajahnya tetap tenang, sebuah topeng datar yang menyembunyikan badai emosi di dalam dadanya. Di balik punggungnya, dia bisa mendengar deru langkah kaki yang terburu-buru, disusul suara napas yang memburu.
"Pamela, tunggu!"
Suara bariton Zidan yang berat memecah kesunyian lorong. Pria itu berhasil menyusul, langkah lebarnya langsung memotong jalur berjalan Pamela tepat di depan pintu lift. Zidan berdiri tegak, napasnya sedikit naik-turun. Di dalam cengkeraman tangannya, terselip dompet kulit hitam dan ponselnya. Wajah tampannya yang biasa dipenuhi keangkuhan narsis kini tampak kacau, dipenuhi guratan rasa bersalah yang teramat pekat.
Pamela menghentikan langkahnya, menjaga jarak dua jengkal dari dada Zidan. Rambut panjangnya yang tergerai bebas sedikit berayun saat dia mendongak, menatap mantan suaminya dengan sepasang mata yang sedingin hamparan salju.
"Minggir, Zidan. Anak-anak lapar," ucap Pamela, suaranya terdengar begitu renyah namun sangat datar, tanpa ada sedikit pun intonasi kemarahan atau dendam. Justru ketiadaan emosi itulah yang membuat Zidan merasa ulu hatinya seperti diremas tak kasat mata.
"Kita makan sama-sama di bawah. Saya yang temani," kata Zidan cepat, suaranya merendah, kehilangan seluruh aura diktator yang biasa dia pamerkan di rumah atau di depan karyawannya. "Abaikan kata-kata Keysha dan Mama tadi. Saya yang akan urus mereka nanti."
Pamela tidak menyahut. Dia tidak menolak, tidak juga menyetujui. Dia hanya menekan tombol lift yang menyala merah, lalu melangkah masuk begitu pintu besi itu terbuka, membiarkan Zidan ikut menyelinap masuk ke dalam kabin lift yang sempit bersama mereka. Bagi Pamela, berdebat dengan Zidan di koridor rumah sakit hanya akan membuang energinya yang sudah terkuras habis sejak subuh.
Kantin yang terletak di lantai dasar rumah sakit pusat kota itu cukup luas, dipenuhi aroma kuah soto yang gurih dan uap kopi yang pekat. Karena jam makan siang hampir usai, suasana di sana tidak terlalu padat, hanya ada beberapa keluarga pasien yang duduk dengan wajah-wajah lelah.
Pamela memilih meja kayu di sudut ruangan, dekat dengan jendela kaca besar yang menghadap ke taman bagian dalam rumah sakit. Begitu duduk, Ryan dan Riana langsung berebut menempel di sisi kiri dan kanannya.
Zidan berdiri canggung sejenak di depan meja, sebelum akhirnya menarik kursi plastik di seberang Pamela. Pria dengan kemeja putih kusut itu melambaikan tangan pada seorang pelayan kantin, lalu memesan beberapa menu terbaik yang ada di sana nasi tim ayam untuk anak-anak, sepiring bakso urat panas, dan dua porsi nasi rames dengan lauk lengkap, serta beberapa botol air mineral dingin.
Selama menunggu makanan datang, keheningan yang mencekam kembali mengunci meja mereka. Alur lambat dari putaran kipas angin di langit-langit kantin seolah mempertegas jurang pemisah yang teramat lebar di antara dua manusia yang pernah berbagi ranjang selama tujuh tahun itu.
Zidan terus menatap Pamela yang sibuk merapikan rambut Riana yang berantakan, lalu menyeka keringat di dahi Ryan dengan selembar tisu kecil. Gerakan tangan Pamela begitu telaten, penuh dengan jiwa seorang ibu yang utuh.
"Pam..." Zidan membuka suara, memajukan sedikit tubuhnya ke arah meja. Sifat narsismu yang dulu selalu menuntut perhatian kini berubah menjadi sebuah permohonan yang cemas. "Soal rumah... kalau kamu mau pulang, saya bisa minta Keysha dan Mama untuk pindah ke rumah lama. Kamu tidak akan terganggu oleh mereka lagi. Saya bisa atur semuanya."
Pria itu menggunakan kekuasaan finansial dan posisinya sebagai kepala keluarga untuk membujuk, berpikir bahwa menyingkirkan sumber masalah utama akan membuat Pamela luluh. Dia masih berharap, sisa-sisa cinta sepihak yang dulu Pamela agungkan bisa bangkit kembali dari balik abu perceraian mereka.
Namun, Pamela bahkan tidak menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengusap pipi Ryan. Dia merapikan helai rambutnya sendiri yang jatuh ke depan bahu, lalu mendongak perlahan, menatap tepat ke manik mata Zidan dengan pandangan yang teramat kosong.
"Zidan," panggil Pamela, suaranya begitu lembut, namun setiap suku kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti sebilah pisau es yang menusuk langsung ke ego terdalam Zidan. "Sepertinya kamu masih belum paham juga dengan apa yang terjadi di pengadilan. Hubungan kita sudah selesai. Kamu adalah mantan suami saya. Tidak kurang, tidak lebih."
Zidan tercekat, rahangnya mengencang menahan emosi yang bergolak di dadanya. "Tapi anak-anak butuh ibunya, Pam! Kamu lihat sendiri bagaimana mereka menangis mencarimu!" Zidan mencoba menggunakan tameng anak-anak, sebuah kekerasan psikologis halus yang biasa dia gunakan dulu untuk membuat Pamela merasa bersalah.
Pamela tersenyum tipis sebuah senyuman hambar yang tidak mencapai matanya. "Benar, anak-anak butuh ibunya. Dan saya tidak akan pernah menelantarkan Ryan dan Riana. Saya akan selalu ada untuk mereka sebagai ibu mereka. Tapi untuk kembali ke rumah besarmu? Menjadi istrimu lagi? Maaf, Zidan... wanita yang dulu mengemis perhatianmu di teras rumah malam-malam sambil memegang piring makanan dingin, sudah mati. Dia sudah kamu bunuh bersama keluargamu lewat setiap makian dan pengabaian yang kalian lakukan selama tujuh tahun ini."
Mendengar kalimat yang sarat akan kesedihan mendalam dan ketegasan mutlak itu, Zidan merasakan dadanya mendadak sesak, seolah pasokan oksigen di kantin itu lenyap seketika. Penyesalan yang lambat kini benar-benar telah menjelma menjadi sebuah racun yang membakar batinnya. Dia dipaksa melihat kenyataan bahwa status 'mantan' yang diucapkan Pamela bukan sekadar gertakan sambal, melainkan sebuah keputusan final yang telah dikunci mati dari dalam jiwa wanita itu.
Tak lama kemudian, pelayan datang membawa pesanan mereka. Begitu makanan diletakkan di atas meja, Pamela langsung mengambil mangkuk nasi tim ayam, mendinginkannya dengan sendok sebelum menyuapkannya ke mulut Riana dan Ryan bergantian.
"Buka mulutnya, Sayang... Aam. Pintar anak Mama," ucap Pamela manis, wajah kuyunya seketika berubah cerah dan penuh kehangatan hanya saat menatap kedua buah hatinya.
Zidan hanya bisa duduk mematung, menatap piring nasi rames di depannya yang mendadak kehilangan semua selera rasanya. Dia mengambil sendok dengan tangan yang sedikit bergetar. Sepanjang makan siang itu, dia dipaksa menjadi penonton asing di dalam lingkaran kebahagiaan kecil Pamela dan anak-anaknya.
Setiap kali Zidan mencoba menuangkan air ke gelas Pamela atau menyodorkan tisu, Pamela akan menerimanya dengan ucapan "Terima kasih" yang teramat formal dan berjarak seperti cara seseorang berterima kasih pada pelayan toko atau orang asing di jalanan. Sikap dingin Pamela yang sangat konsisten ini justru jauh lebih menyakitkan bagi Zidan daripada jika Pamela memaki atau melempar piring ke wajahnya.
Kekerasan emosional yang dulu sering Zidan lakukan dengan cara mendiamkan Pamela berhari-hari di rumah mewah mereka, kini berbalik arah memukulnya tanpa ampun dengan skala yang jauh lebih menghancurkan.
Setelah anak-anak selesai makan dan perut mereka kenyang, Ryan mulai bersandar manja di bahu Pamela, sementara Riana memegangi jemari tangan ibunya sambil sesekali menguap karena kantuk yang kembali menyerang.
Pamela menyeka sisa makanan di sudut bibir Riana dengan tisu, lalu melirik jam dinding kantin yang menunjukkan pukul dua siang. Dia tahu, kewajibannya untuk memastikan Papa mertuanya melewati masa kritis sudah terpenuhi, dan kerinduannya pada anak-anak sudah sedikit terobati.
"Zidan," panggil Pamela, kembali memasang wajah datarnya saat menatap pria di seberangnya. "Saya sudah berjanji pada Papa untuk memastikan beliau mau dirawat, dan itu sudah selesai. Sekarang, saya harus kembali ke pantai. Bus sore akan segera berangkat dari terminal satu jam lagi."
Zidan langsung meletakkan sendoknya dengan sentakan kasar, matanya membelalak kaku. "Kamu mau pergi lagi? Pam, Papa baru saja sadar! Anak-anak juga baru ketemu kamu beberapa jam! Bagaimana bisa kamu sekejam ini meninggalkan mereka lagi?!" Emosi pria itu kembali tersulut, tembok gengsinya yang terluka membuatnya bicara tanpa berpikir panjang.
Pamela tidak terpancing. Sifat dinginnya justru semakin menguat menghadapi kepanikan Zidan. Dia merapikan rambut panjangnya yang tergerai, lalu bangkit berdiri perlahan sambil menuntun kedua anaknya untuk ikut berdiri.
"Yang kejam itu bukan saya, Zidan, tapi ingatanmu yang terlalu pendek," jawab Pamela, suaranya terdengar sangat tenang namun bergetar dengan jiwa ketegasan yang luar biasa, membuat beberapa orang di meja sebelah sempat menoleh sejenak. "Selama tujuh tahun saya bertahan di dalam neraka yang kamu buat, tidak ada satu pun dari kalian yang menganggap kehadiran saya berharga. Sekarang, setelah saya memilih pergi untuk menyelamatkan sisa harga diri saya yang hancur, kamu menyebut saya kejam?"
Pamela menunduk, mengecup puncak kepala Ryan dan Riana bergantian dengan penuh kasih sayang. "Mama pergi sebentar ya, Sayang. Ingat pesan Mama, harus jadi anak yang kuat dan pintar. Jangan nakal sama Papa dan Kakek."
"Mama... ikut..." tangis Riana kembali pecah, mencengkeram erat ujung baju Pamela.
Pamela menahan sesak di dadanya, memaksakan senyum tegar di depan buah hatinya. Dia mendongak, menatap Zidan untuk terakhir kalinya siang itu. "Jaga anak-anakmu dengan baik, Zidan. Jika saya mendengar mereka terlantar atau menangis lagi karena kelakuan adikmu atau ibumu, saya bersumpah demi almarhum kedua orang tua saya... saya akan membawa hak asuh mereka ke pengadilan, tidak peduli seberapa banyak uang yang kamu miliki untuk menyuap hukum."
Setelah mengucapkan kalimat ancaman yang teramat dingin dan sarat akan emosi pekat itu, Pamela melepaskan cengkeraman tangan anak-anaknya dengan lembut, lalu berbalik dan melangkah lebar meninggalkan area kantin tanpa menoleh lagi ke belakang.
Zidan berdiri terpaku di samping meja, kedua tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara tangisan histeris Ryan dan Riana kembali menggema memecah kesunyian kantin rumah sakit. Badai penyesalan yang lambat kini telah resmi mengunci kebebasan batin sang CEO narsis, meninggalkannya dalam kehampaan yang teramat pekat di tengah sisa-sisa makan siang yang mendingin.
...
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
saling support sabi kali ya😉