Sarti gadis cantik berasal dari Desa Lengi, di saat usia nya yang baru saja lima belas tahun, ia terpaksa merantau ke ibu kota untuk mengadu nasib,
" ibu neng berangkat dulu ya, Ibu sama Bapak jangan khawatir neng pasti baik baik saja." ucap Sarti seraya memeluk wanita paruh baya dan berpakaian lusuh bahkan kain jarik nya pun sudah robek.
" lya neng Hati Hati ya, maaf kan Ibu belum mampu membahagiakan kamu nak."
" tidak apa apa Ibu neng akan kerja ke kota, untuk masa depan kita Ibu." ucap Sarti seraya menyeka bawah mata nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenvyy27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kuntilanak Beda Server
Pak tarjo mulai terusik dengan teror kuntilanak itu, bukan nya ikut tahlilan buk jumi justru pak tarjo menemui dukun nya,
" Ada apa kau ke mari.? " Tanya wanita tua itu.
" Mak tolong aku, aku sedang di teror kuntilanak, gara gara kuntilanak itu istri pertama dan istri ke dua ku meninggal, Salah mu sendiri bukan kah aku sudah mengingat kan mu, jangan serakah tarjo tidak semua wanita yang kau paksa untuk jadi istri mu mereka ikhlas, mungkin kuntilanak itu salah satu istri mu yang mati terus mereka dendam dengan mu."
" Tapi nia di bunuh oleh kuntilanak merah, yang teror aku saat ini kuntilanak putih." ucap pak tarjo,
" Terus tujuan mu sekarang mau apa tarjo.?"
" Aku ingin ilmu kebal oleh Serangan apa pun termasuk serangan dari demi." ucap pak tarjo.
" Wanita tua itu hanya menyeringai penuh arti. "
" Tapi mahal harga nya tarjo.!."
" Berapa pun akan ku bayar mak, asal kan aku punya ilmu itu."
" Aku tidak minta di bayar dengan uang tapi aku minta di bayar dengan !!! ." wanita itu membisikan sesuatu kepada pak tarjo.
Pak tarjo terdiam sesaat setelah mendengar apa yang baru saja di bisikan oleh dukun nya itu."
" Bagai mana kau setuju..! dan tidak hanya itu saja kau harus menikah dengan tuan ku, setiap malam tertentu kamu harus melayani tuan ku, dan kau harus punya kamar khusus untuk tuan ku, jika kau setuju malam ini juga kita mulai ritual."
" Baik mak aku setuju." ucap pak tarjo.
" Hehehe nenek itu ketawa nyaring."
" Ayah benar benar tidak punya akal sehat ini adalah hari ke tujuh ibu, tapi ia tidak pulang juga." gumam fani kesal.
" Kamu kenapa fani kok seperti kesal begitu bagai mana kaki sama lengan mu sudah baikan belum." tanya ica.
" Belum aku, aku juga belum bisa berdiri kokoh, aku sedang berpikir ke mana ayah pergi nanti malam tahlilan ibu yang ke tujuh hari, tapi ayah belum juga pulang." ucap fani.
" Mungkin paman ada di rumah salah satu istri nya."
" Ayah tidak ada di sana aku sudah Suruh pak darso cari ayah ke rumah istri nya tapi kata pak darso ayah tidak ada di sana, mana yang kerja sudah pada nagih minta bayaran, aku tidak tau ayah simpan uang nya di mana, Mungkin di kamar nya coba kamu cari." ucap ica.
" Mungkin juga aku coba cari dulu." ucap fani seraya meraih tongkat nya
" Ya sudah aku mau bantu bantu dulu di dapur." ucap ica.
Fani pun sudah ada di kamar pak tarjo, jujur saja fani merasa tidak nyaman berada di kamar itu, ia pun buru buru mencari uang di salah satu lemari pakaian pak tarjo.
" Mungkin di laci ini, tapi kok di kunci sih." gumam fani, sesekali ia mengelus tengkuk nya,
Bruk !!!!
tiba tiba pintu kamar pak tarjo tertutup dengan sendiri nya, Tentu saja membuat fani terkejut, tapi fani buru buru membuka jendela kamar pak terjo,
" Masa siang siang ada hantu, lagi pula di dapur banyak orang." ucap fani kali ini ia memberikan diri, fani mencari akal untuk membuka laci karena ia yakin pasti di laci itu ada uang nya, Setelah berusaha mencongkel laci itu, tapi tetap saja laci itu tidak bisa di buka, fani pun memilih keluar dari jendela, karena ia merasa ada yang memperhatikan nya.
" Bagai mana fani ada tidak uang nya." tanya ica saat melihat fani masuk dari pintu depan,
" Tidak, justru hampir saja aku terjebak di kamar itu." ucap fani.
" Terus bagai mana dong tuh di saung sudah banyak warga yang mau nagih." ucap ica di samping rumah pak tarjo memang ada saung kecil, biasa nya saung itu untuk kumpul para warga nunggu pak tarjo kasih gaji, Fani pun buru buru keluar seraya tertatih,
" Bapak bapak ayah saya tidak ada bagai mana kalau kopi cengkeh dan karet nya kita jual saja, hasil nya untuk bayar kalian." ucap fani,
" Baik lah neng fani kalau begini kan kami jadi lega." ucap salah satu warga.
" Terima kasih ya pak atas kerja sama nya." ucap fani lega Oh iya pak mulai sekarang jangan kerja dulu ya, tunggu sampai ayah saya pulang, sambung fani.
Walau pun sedikit kecewa warga pun mau tidak mau berhenti kerja, dari pada kerja tapi tidak di gaji untuk apa,
Tidak terasa Doni sudah hampir dua bulan tinggal di rumah sukma, dan selama dua bulan ini belum ada kabar juga soal Sarti, tapi Doni yakin jika Sarti masih hidup, karena ia pernah melihat wajah kuntilanak yang masih meneror Desa Lengi bukan lah wajah Sarti, Awal nya ia berpikir jika kuntilanak itu adalah hantu nya Sarti karena kuntilanak itu selalu membawa bayi, Tidak hanya Desa Lengi saja yang di teror kuntilanak itu, tapi ada dua Desa di teror oleh kuntilanak itu, korban yang tewas ulah kuntilanak itu sudah ada enam orang dan semua nya wanita.
" Apa kamu masih memikirkan Sarti." tanya Zia seraya duduk di samping Doni, jujur saja Doni terkejut karena Zia tiba tiba saja muncul.
" Tentu saja aku masih memikirkan Sarti dia istri ku, sampai kapan pun aku tetap memikirkan Sarti dan berharap Sarti pulang." ucap Doni, Zia hanya menarik nafas nya.
" Zia..! "
" Iya bang." sahut Zia.
" Kamu berasal dari Desa mana.?."
" Tempat tinggal ku sangat jauh dari sini, memang nya kenapa ??."
"Tidak apa apa aku pikir kamu dari kamu sini atau Desa sebelah."
" Bukan, Desa ku sangat jauh dari sini, ini sudah malam kenapa belum kembali ke rumah."
" Aku masih betah di sini, hawa sini sejuk,
Bagai mana tidak sejuk di sini bukit." sahut Zea.
" Di mana ada Zia pasti ada Zea." ucap Doni.
" Lah dia majikan ku, Tentu saja aku selalu ada, Zia rumah pak tarjo di teror lagi tuh, tolongin fani kasian dia."
"Bukan nya aku tidak mau nolong, tapi sukma sangat tidak suka dengan pak tarjo."
" Tapi fani dan ica tidak salah apa apa, tolong mereka lah Zia, kasian tahu."
" Lah kenapa kamu tidak menolong mereka." ucap Doni,
" Emoh takut aku sama kuntilanak itu."
" Lah sama sama kuntilanak kok takut sih." ucap Doni,
" Ya takut lah nanti kalau dia cekik gua bagai mana, walau pun kami sama sama kuntilanak tapi beda sever, dia jahat gua baik. "
" atria belum pulang ya.? " Tanya Zia.
" Belum kata nya lusa baru pulang maka nya aku kesepian gak ada teman ngobrol, kenapa kamu tidak mau jadi guru ku, aku kan mau punya ilmu juga."
" Aku memang punya kekuatan tapi tidak kepikiran punya murid." ucap Zia.
" Lihat itu.." teriak Zea.
" Ada tiga cahaya merah seperti api, dan cahaya itu menuju Desa Lengi."
" Itu teluh siapa yang mengirim sihir itu, dan untuk siapa ? " Tanya Zia.
" Kamu tanya gua, terus gua tanya siapa, masa tanya sama Doni, dia kan bodoh." sahut Zea, Doni pun melirik Zea,
" Napa gak suka luh, elu kan emang bodoh." ucap Zea.
" Suka suka mu lah Zea." ucap Doni seraya bangkit berdiri,
" Zia ayo pulang aku lapar. " ucap Doni.