"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 12
Sudah tiga hari Dinda menetap di rumah orang tuanya. Dan selama tiga hari itu pula, Ervin nyaris kehilangan kewarasannya sendiri.
Rumah mereka berubah begitu asing tanpa keberadaan sang istri. Tak ada aroma masakan hangat setiap pagi. Tak ada suara televisi yang biasanya menyala saat Dinda melipat pakaian.
Bahkan, sandal mungil milik wanita itu masih berada di dekat rak sepatu. Hal kecil seperti itu mampu membuat dada Ervin terasa sesak.
Pagi itu, pria tersebut duduk sendirian di meja makan dengan secangkir kopi yang sudah dingin sejak setengah jam lalu.
Tatapannya kosong. Lurus ke arah kursi di hadapannya. Kursi tempat Dinda biasa duduk sambil mengomel karena dirinya sering melewatkan sarapan.
“Mas, jangan kebanyakan kopi. Lambung kamu nanti kambuh lagi.”
Suara lembut itu seakan kembali terdengar jelas di telinganya. Sialnya, justru hal kecil seperti itulah yang semakin menghancurkan hati Ervin sekarang.
"Aarghh!..." pria itu menjatuhkan kepalanya di atas meja dengan frustrasi. “Aku bodoh...” lirihnya serak.
Sangat bodoh, karena menyia-nyiakan wanita sebaik Dinda demi kesalahan sesaat yang kini menghancurkan segalanya.
Ponselnya kembali bergetar di atas meja. Nama Jenita muncul di layar. Namun Ervin hanya menatapnya datar selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
“Halo.”
“Kak...” suara Jenita terdengar pelan dari seberang sana. “Aku boleh pulang hari ini?”
Ervin memijat pelipisnya perlahan. “Dokternya gimana?”
“Katanya udah boleh.” Jenita menjawab ragu, sehingga membuat keadaan hening sejenak.
“Ya udah, nanti aku jemput.” Putusnya final.
“Sendirian?” tanya gadis itu hati-hati.
“Iya.” Jawaban singkat tersebut sukses membuat Jenita terdiam.
Sejak kejadian di rumah sakit, hubungan mereka memang berubah menjadi sangat canggung. Ervin tak lagi bersikap lembut seperti sebelumnya. Bahkan pria itu lebih banyak diam dan menghindari percakapan panjang.
Jenita tahu alasannya. Karena sekarang, hati Ervin sepenuhnya dipenuhi rasa penyesalan terhadap Dinda.
“Kak...” panggil gadis itu lagi. “Kak Dinda masih marah banget ya sama aku?”
Pertanyaan itu langsung membuat Ervin memejamkan matanya. Marah? Kalau dirinya berada di posisi Dinda, mungkin bukan hanya marah yang akan ia rasakan.
“Dinda lagi hancur sekarang,” jawabnya lirih.
Dan kalimat itu cukup membuat Jenita merasa dadanya ikut sesak. Ia tahu, sangat tahu. Bahwa dirinya adalah alasan rumah tangga orang lain runtuh.
*****
Di sisi lain, Dinda sedang membantu ibunya menjemur pakaian di halaman belakang rumah. Meski tubuhnya bergerak seperti biasa, pikirannya tetap terasa kosong.
Sudah tiga hari ini ia mencoba menyibukkan diri agar tak terus memikirkan Ervin. Namun hasilnya nihil. Karena setiap sudut pikirannya masih dipenuhi pria itu.
“Kamu nggak masuk kerja hari ini?” tanya sang ibu sembari menyerahkan keranjang pakaian lainnya.
Dinda menggeleng pelan. “Bu Indri nyuruh aku istirahat dulu beberapa hari.”
Mendengar nama atasannya membuat Dinda kembali teringat kejadian di rumah sakit.
Bagaimana wajah Bu Indri terlihat sangat malu dan bersalah padanya. Bahkan wanita itu sempat datang ke rumah kemarin malam untuk meminta maaf atas perbuatan putrinya.
“Maafin anak saya, Din. Saya gagal mendidik dia.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Dinda sampai sekarang.
“Lamun lagi.” Sang ibu menepuk pelan pundak putrinya. Sontak Dinda tersenyum tipis.
“Maaf, Buk.”
“Kalau memang masih sayang sama Ervin, jangan dipendam sendiri.”
Tubuh Dinda langsung menegang. Sayang? Tentu saja ia masih sayang—sangat sayang. Itulah yang membuat semuanya terasa jauh lebih menyakitkan.
Karena pengkhianatan paling besar memang datang dari orang yang paling dicintai.
“Aku nggak tahu harus gimana sekarang,” lirih Dinda pelan. “Aku sakit banget tiap ingat dia.”
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Apalagi kalau inget anak itu...” lanjutnya dengan suara yang mulai bergetar. “Aku iri, Buk.”
Sang ibu langsung menatap putrinya lekat.
“Iri?” Ulang ibunya tak percaya. Dinda tertawa kecil dengan wajah yang menyedihkan.
“Aku yang jadi istrinya selama empat tahun.” Air matanya mulai jatuh satu per satu. “Tapi perempuan lain yang malah ngasih dia anak.”
Hati sang ibu terasa nyeri mendengar ucapan tersebut. Tanpa berkata apa-apa, wanita paruh baya itu langsung memeluk tubuh putrinya erat.
“Nggak ada yang salah sama kamu, Nak.”
Namun Dinda tetap menangis dalam pelukan ibunya. Karena jauh di dalam hatinya—Ia mulai mempertanyakan harga dirinya sendiri sebagai seorang perempuan.
*****
Siang harinya, Ervin tiba di rumah sakit untuk menjemput Jenita dan bayinya.
Pria itu berjalan memasuki ruang rawat inap dengan wajah datar. Sedangkan Jenita yang melihat kedatangannya, langsung tersenyum kecil meski matanya masih sembab.
“Kak...” Ervin mengangguk singkat.
Tatapannya justru tertuju pada bayi kecil yang sedang tertidur di box transparan dekat ranjang.
Untuk beberapa saat, pria itu terdiam. Wajah bayi perempuan tersebut terlihat begitu mungil. Dan anehnya, ada sedikit kemiripan dengannya.
“Dia lucu ya...” lirih Jenita pelan.
Namun Ervin tidak menjawab. Pria itu justru merasa dadanya semakin berat sekarang. Karena setiap kali melihat bayi itu—yang muncul di kepalanya justru wajah Dinda.
Bagaimana istrinya menangis sambil berkata, bahwa dirinya gagal memberinya keturunan.
“Namanya udah dipikirin?” tanya Bu Indri yang baru masuk ke ruangan.
Jenita langsung menoleh ke arah Ervin dengan tatapan penuh harap. Namun pria itu hanya diam cukup lama sebelum akhirnya membuka suara.
“Terserah kalian aja.”
Deg.
Seketika senyum Jenita memudar. Kalimat itu terdengar dingin—sangat dingin.
Dan untuk pertama kalinya, gadis itu sadar bahwa Ervin benar-benar mulai menjauh darinya.
“Kak...” suaranya melemah. “Kakak nyesel ya sama semua ini?” Hening. Ervin memejamkan matanya beberapa detik, lalu tertawa kecil.
Tawa yang terdengar begitu pahit.
“Kalau waktu bisa diputar ulang,” gumamnya lirih, “aku bakal pilih pulang ke rumah malam itu.”
Mata Jenita langsung memanas mendengar jawaban tersebut. Sedangkan Bu Indri hanya mampu menghela napas panjang.
Tak ada satupun dari mereka yang benar-benar bahagia sekarang. Semuanya sama-sama terluka.
*****
Malam harinya, Dinda duduk sendirian di teras rumah sambil menatap jalanan yang mulai sepi. Angin malam berhembus pelan menerbangkan beberapa helai rambutnya.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, wanita itu membuka kembali galeri ponselnya.
Dan seperti yang ia duga—sebagian besar isinya adalah foto dirinya bersama Ervin.
Foto saat mereka liburan, foto saat memasak bersama, dan juga foto ketika Ervin tertidur sambil memeluknya.
Air mata Dinda langsung jatuh begitu saja. “Kenapa harus jadi kayak gini...” lirihnya hancur.
Padahal dulu mereka terlihat sangat bahagia. Bahkan Dinda selalu percaya bahwa suaminya tak mungkin menyakitinya seperti pria-pria lain.
Namun nyatanya—Ervin tetap sama saja.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Nama “Mas Ervin” muncul lagi di layar. Jantung Dinda langsung berdegup kencang. Untuk beberapa saat, wanita itu hanya menatap panggilan tersebut tanpa berkedip.
Sampai akhirnya—Ia memberanikan diri mengangkatnya.
“Halo...”
Di seberang sana, Ervin langsung menutup matanya lega begitu mendengar suara istrinya setelah berhari-hari.
“Din...”
Hanya satu panggilan itu saja sudah cukup membuat suasana menjadi hening. Keduanya sama-sama diam. Sama-sama menahan sesak.
“Aku kangen kamu,” lirih Ervin akhirnya.
Dan sialnya—Kalimat sederhana itu masih mampu membuat hati Dinda terasa runtuh.