Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.
Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Jejak Kuantum Sang Tetua
Hitung mundur digital berwarna merah darah pada layar jam tangan berlian di pergelangan tangan kiri Haena terus bergerak mundur dengan kejam: 71:58:14. Tiga jam setelah pengesahan merger megaproyek Smart Port di Teluk, kabin kerja utama di kediaman privat Kaelen Arkananta telah berubah menjadi pusat komando taktis yang sunyi. Angin pesisir yang menerpa dinding kaca tidak mampu mencairkan atmosfer dingin yang membeku di dalam ruangan.
Haena duduk dengan posisi tegap yang teramat anggun di balik meja kerja mahoni. Setelan blazer formal desainer berwarna hitam pekat yang dipadukan dengan kemeja sutra putih murni masih melekat sempurna pada siluet tubuhnya yang tinggi dengan hourglass figure. Dari balik kacamata dengan bingkai transparan yang bertumpu di hidung mancungnya, sepasang matanya yang jernih menatap barisan enkripsi yang terpampang di layar holografik. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk pelan tahi lalat kecil di bawah dagunya dengan ritme yang sangat konstan sebuah gestur refleks yang menandakan komputasi taktis di dalam otak jeniusnya sedang bekerja memetakan kekuatan musuh baru.
"Protokol enkripsi yang dikirimkan oleh The First Elder menggunakan sistem kriptografi kuantum berbasis kisi (lattice-based cryptography)," suara Haena yang jernih dan sarat akan otoritas memecah kesunyian.
"Mereka sengaja menyuntikkan hitung mundur ini ke dalam arsitektur jam tanganku untuk memberikan tekanan psikologis. Mereka mengira aku akan panik menghadapi ancaman eliminasi global."
Kaelen Arkananta yang berdiri bersandar pada pilar baja di dekat jendela terkekeh rendah, sebuah tawa karismatik yang pemuda itu tunjukkan demi memancarkan kepuasan mutlak atas keberanian aliansinya. Sepasang mata elangnya berkilat penuh murka yang luar biasa masif terhadap organisasi bayangan yang berani mengusik wilayahnya. Pemuda itu melangkah maju, meletakkan sebilah pisau komando taktis di atas meja dengan sentakan pelan yang penuh penekanan.
"Mereka terbiasa mendikte jalannya sejarah ekonomi dunia melalui ketakutan, Haena. Namun, mereka lupa bahwa wilayah laut timur ini berada di bawah pengawasan dari jaringan komando bayangan Arkananta," ucap Kaelen, suara baritonnya yang berat terdengar sangat rendah dan intim saat dia menatap lekat-lekat ke dalam mata jernih gadis itu.
Clarissa yang duduk di depan superkomputer portabel langsung menyela, jemarinya bergerak secepat kilat membelah barisan kode biner.
"Nona Haena, Tuan Kaelen... koordinat geografis yang tertera di bawah hitung mundur tersebut mengarah tepat pada sebuah atol buatan terisolasi di Kepulauan Spratly, Laut Cina Selatan. Berdasarkan data sekunder, tempat itu terdaftar sebagai stasiun riset kelautan komersial, namun aktivitas satelit menunjukkan adanya anomali pertahanan udara militer tingkat tinggi."
"Itu adalah markas operasional dari The First Elder," Tuan Bramasta membuka suara dari atas kursi pemulihannya di sudut ruangan. Mantan penguasa Dirgantara Corp itu mendesah berat dengan wajah yang masih dipenuhi sisa memar akibat penyiksaan taktis di kapal tangker.
"Dulu, saat Nyonya Rosalind pertama kali memperkenalkanku pada jaringan finansial Swiss, mereka meminta jaminan berupa hak eksklusif navigasi di sektor tersebut. Aku menolaknya, dan itulah alasan mengapa mereka mendanai faksi Nyonya Rosalind untuk menggulingkanku."
"Dan sekarang, karena faksi Nyonya Rosalind dan Vanya telah runtuh sepenuhnya ke dalam sel isolasi Jakarta, sang tetua terpaksa turun tangan sendiri," balas Haena dengan seulas senyuman sinis yang teramat menawan namun mematikan di bibir cantiknya yang berkilau sehat dengan riasan Douyin glass skin. Mental bajanya menolak untuk mundur satu milimeter pun.
Haena berdiri dari kursinya, merapikan blazernya yang elegan.
"Pak Baskara, bagaimana dengan pergerakan pasar saham Dirgantara Corp setelah pengumuman merger pagi ini?"
Pak Baskara yang memegang dokumen legalisasi darurat langsung membungkuk hormat.
"Lapor Nona Haena, saham kita sempat melonjak lima belas persen. Namun, tiga puluh menit yang lalu, terjadi aksi penjualan massal secara tidak wajar (short-selling) dari beberapa akun institusi hantu yang berbasis di bursa efek Singapura. Ini adalah agresi finansial awal dari The Seven Elders untuk membekukan likuiditas kita."
"Biarkan mereka menjualnya," sahut Haena dingin, matanya berkilat penuh kecerdasan mutlak.
"Mereka mengira bisa menjatuhkan nilai perusahaan dengan modal tak terbatas. Mereka tidak tahu bahwa hukum perdagangan internasional mengenai manipulasi pasar terstruktur dapat digunakan untuk membekukan seluruh aset akun hantu tersebut di yurisdiksi Asia Tenggara. Clarissa, siapkan draf gugatan darurat untuk Pengadilan Arbitrase Internasional sekarang juga."
Sementara itu, di dalam sel tahanan darurat Polda Metro Jaya, Nyonya Rosalind duduk bersandar pada dinding beton yang dingin dengan tatapan kosong. Rantai besi yang mengikat pergelangan tangannya bergemerincing pelan saat dia mencoba menggerakkan tubuhnya yang lemas.
Di seberang selnya, Vanya yang terus memeluk jaket denim longgarnya tampak gemetar hebat menahan rasa syok yang luar biasa masif.
"Ibu... tim hukum Papa baru saja mengirimkan surat pemberitahuan bahwa seluruh nama kita telah dihapus dari kartu keluarga Dirgantara. Kita... kita benar-benar tidak punya apa-apa lagi."
Nyonya Rosalind mendadak tertawa melengking tinggi, sebuah tawa penuh kegilaan yang menggema mengerikan di sepanjang lorong penjara.
"Hapus saja! Bramasta dan jalang kecil berkacamata itu mengira mereka sudah menang! Mereka tidak tahu bahwa laporan Tuan Agharna telah mengaktifkan protokol eliminasi global dari The Seven Elders! Jam tangan Haena sekarang adalah jam kematiannya sendiri! Hahaha! Kita hanya perlu menunggu di sini sampai tubuhnya hancur menjadi abu di lautan utara!"
Kembali ke markas komando taktis Arkananta di Kupang, Gavin masuk dengan langkah yang terburu-buru, membawa sebuah koper hitam berisi perangkat komunikasi satelit militer yang baru didekripsi.
"Tuan Kaelen, Nona Haena, ada interupsi darurat dari jaringan intelijen kita di Singapura," ucap Gavin, wajahnya tegang.
"Konsorsium hukum yang dikendalikan oleh The Seven Elders baru saja mendaftarkan gugatan pembekuan total terhadap seluruh aset maritim Dirgantara Corp di Selat melalui pengadilan arbitrase. Mereka menuduh aliansi kita melakukan praktik monopoli ilegal dan spionase industri maritim."
Mendengar laporan tersebut, Kaelen Arkananta melangkah mendekati Haena, memancarkan aura protektif yang kian kental di antara mereka.
"Taktik jepitan ganda, Haena. Mereka menyerang fisikmu dengan hitung mundur bom siber, sementara pengacara mereka mencekik leher korporasimu di Singapura."
Haena menoleh sedikit, menatap Kaelen dari balik kacamata transparannya dengan kilatan mata yang penuh ketenangan ekstrem.
"Ini adalah panggung yang sangat indah, Kaelen. Mereka mengira seorang mahasiswi hukum dari Universitas Argiran akan gentar menghadapi pengacara papan atas dunia di Singapura. Mereka lupa bahwa hukum bukan tentang seberapa besar uang yang kamu miliki, melainkan tentang siapa yang paling presisi dalam menaruh jebakan di dalam teks regulasi."
Haena mengetuk tahi lalat di bawah dagunya untuk terakhir kali sebelum mengambil keputusan mutlak.
"Gavin, siapkan jet pribadi untuk bertolak menuju Singapura malam ini. Kita tidak akan bersembunyi di bunker. Kita akan menghancurkan legitimasi hukum mereka di ruang sidang arbitrase terlebih dahulu, sebelum kita membawa armada taktis kita menuju pulau buatan The First Elder."
Dengan langkah yang mantap dan punggung yang tegak, Haena berjalan keluar dari ruang komando melewati kerumunan pengawal taktis yang menatapnya dengan rasa segan dan takjub yang teramat luar biasa. Sang putri sejati yang dulu sempat dibuang, kini tidak sekadar mempertahankan takhtanya dia siap mendeklarasikan perang terbuka melawan para penguasa bayangan dunia yang mencoba mengusik kedamaian imperiumnya.
(Cliffhanger)
"Tepat saat jet pribadi Arkananta Group bersiap melakukan lepas landas dari Bandara menuju Singapura, seluruh layar kendali kokpit mendadak mati total selama tiga detik. Ketika sistem menyala kembali, hitung mundur di jam tangan Haena mendadak melompat maju, memotong waktu dari 71 jam menjadi hanya tersisa 24:00:00 jam, bersamaan dengan munculnya sebuah transmisi suara dingin dari frekuensi satelit tak dikenal: "Waktu kalian telah dipotong, Nona Haena. Pengadilan Singapura akan menjadi tempat pemakaman legal pertama bagi Dirgantara Corp."