Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Cahaya berbentuk mahkota retak menyala samar di balik dadanya.
Sistem berbicara.
[Orang yang berada di bawah bayangan Tuan telah disentuh.]
Raka mengangkat wajah.
Matanya perlahan berubah dingin.
“Siapa?”
[Harun.]
[Lokasi: warung kopi.]
Untuk beberapa detik, Raka diam.
Sangat diam.
Angin malam bergerak pelan di sekitarnya, tetapi daun-daun di pinggir jalan mulai berhenti satu per satu.
Sistem melanjutkan dengan nada lebih rendah.
[Mereka menggunakan orang biasa sebagai umpan.]
Raka menatap ke arah warung Pak Harun.
Tidak ada amarah meledak di wajahnya.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada kepanikan.
Justru ketenangan yang muncul di wajahnya membuat udara di sekitar terasa lebih berat.
“Kalau mereka menyentuhku, aku bisa menahan diri,” ucap Raka pelan.
Langkahnya mulai bergerak.
“Tapi mereka menyentuh orang yang tidak bersalah.”
Setiap langkah Raka membuat genangan air kecil di jalan beriak tanpa angin.
Sistem berbisik.
[Tuan.]
[Apakah penghakiman diperlukan?]
Raka tidak langsung menjawab.
Ia hanya berjalan lebih cepat.
Cahaya emas tipis muncul di matanya.
“Tidak.”
Sistem diam.
Raka melanjutkan dengan suara dingin.
“Belum penghakiman.”
Udara di atas jalan terasa menekan turun.
Lampu jalan berkedip satu per satu saat ia lewat.
“Malam ini aku hanya akan memberi mereka pelajaran.”
Sistem menjawab dengan nada tenang.
[Pelajaran seperti apa yang Tuan maksud?]
Raka berhenti di mulut jalan yang mengarah ke warung Pak Harun.
Dari kejauhan, ia bisa melihat meja-meja terbalik. Pecahan gelas di lantai. Orang-orang ketakutan. Dan Pak Harun yang berdiri sambil memegang bibir berdarah.
Mata Raka menjadi lebih dingin.
“Pelajaran yang membuat mereka berharap aku langsung membunuh mereka.”
Di dalam jiwanya, sistem terdiam sesaat.
Lalu suara wanita itu terdengar lebih dalam.
[Watak Tuan mulai kembali.]
Raka berjalan menuju warung.
Di depan warung, salah satu preman baru saja hendak menendang meja lain ketika udara tiba-tiba berubah berat.
Kakinya berhenti di udara.
Bukan karena ia mau.
Tubuhnya membeku.
Semua orang menoleh.
Dari ujung jalan, Raka datang dengan langkah tenang.
Tidak cepat.
Tidak terburu-buru.
Namun setiap langkahnya membuat lampu warung berkedip, seolah cahaya pun takut menyala terlalu terang.
Pak Harun menatapnya dengan mata melebar.
“Raka…”
Raka melihat darah di sudut bibir Pak Harun.
Sesuatu di dalam dirinya menjadi sangat dingin.
Preman yang tadi memukul Pak Harun mencoba tersenyum.
“Nah, akhirnya datang juga.”
Raka tidak menatapnya.
Ia masih menatap Pak Harun.
“Pak,” ucapnya pelan, “duduk dulu.”
Pak Harun ingin mengatakan sesuatu, tapi suara Raka membuatnya tanpa sadar menurut. Pria tua itu duduk perlahan di kursi yang masih utuh.
Barulah Raka mengalihkan pandangan kepada para preman.
Ada lima orang.
Aura merah gelap menyelimuti tubuh mereka. Di balik aura itu, Raka bisa melihat niat mereka dengan jelas.
Memancing.
Mengintimidasi.
Menculik.
Menyakiti jika perlu.
Di belakang mereka, ada bayangan Bram.
Di atasnya lagi, ada bayangan Reza.
Dan lebih jauh, ada sesuatu yang gelap dan asing.
Raka tersenyum tipis.
Senyum itu tidak hangat.
Tidak ramah.
Hanya lengkung kecil yang membuat kelima preman itu tiba-tiba merasa salah datang.
Preman pemimpin mengangkat tongkat pendek.
“Raka Pratama, ikut kami baik-baik kalau tidak mau orang tua ini—”
Suaranya berhenti.
Bukan karena Raka memukulnya.
Bukan karena ada yang membungkam mulutnya.
Tapi karena Raka mengangkat satu jari ke bibirnya.
“Diam.”
Satu kata.
Seluruh warung langsung hening.
Suara kendaraan di jalan menghilang.
Suara angin hilang.
Bahkan suara napas para preman seolah ditarik keluar dari dunia.
Preman itu membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Matanya membesar.
Ia mencoba berteriak.
Tetap tidak ada suara.
Empat temannya panik. Mereka juga mencoba bicara, tetapi mulut mereka hanya bergerak tanpa menghasilkan bunyi.
Para pelanggan yang masih tersisa menatap dengan wajah pucat.
Raka melangkah masuk ke warung.
Sistem berbicara pelan di dalam jiwanya.
[Sabda Absolut merespons.]
[Area kecil telah dibungkam.]
Raka berhenti di depan preman pemimpin.
Pria itu mencoba mengayunkan tongkatnya.
Namun sebelum tongkat itu bergerak, Raka menatapnya.
Tubuh pria itu jatuh berlutut.
DUK.
Lututnya menghantam lantai keras. Wajahnya berubah kesakitan, tetapi ia tetap tidak bisa bersuara.
Raka menunduk menatapnya.
“Kau memukul Pak Harun dengan tangan kanan?”
Pria itu gemetar.
Ia tidak bisa menjawab.
Raka mengangguk kecil.
“Baik.”
Raka mengangkat tangan, lalu menyentuh bahu kanan pria itu dengan dua jari.
Tidak ada suara patah.
Tidak ada darah.
Namun mata pria itu langsung membesar.
Tubuhnya melengkung.
Rasa sakit luar biasa menjalar dari bahu sampai ujung jarinya, seolah semua saraf di lengannya dibakar satu per satu.
Ia ingin berteriak.
Tapi suara masih hilang.
Air mata keluar dari matanya.
Raka berbisik dekat telinganya.
“Aku tidak mematahkan tanganmu.”
Mata pria itu bergetar.
Raka melanjutkan dengan suara dingin.
“Aku hanya mengajarinya mengingat rasa sakit setiap kali kau ingin memukul orang tua yang tidak bersalah.”
Pria itu gemetar hebat.
Raka melepaskan tangannya, lalu menatap empat preman lain.
Mereka mundur panik.
Namun area warung sudah terkunci oleh tekanan tak terlihat. Tubuh mereka tidak bisa keluar dari batas cahaya lampu kuning yang menggantung di depan warung.
Salah satu dari mereka jatuh tersandung kursi.
Raka berjalan ke arahnya.
Pria itu menggeleng cepat, memohon tanpa suara.
Raka menatap pecahan gelas di lantai, meja yang rusak, dan wajah Pak Harun yang berdarah.
“Kalian datang untuk menghancurkan tempat ini.”
Pria itu semakin gemetar.
“Kalau begitu, kalian akan memperbaikinya.”
Raka menjentikkan jarinya pelan.
Suara kembali ke area warung.
Namun bukan semua suara.
Hanya suara para preman.
Seketika, mereka menjerit kesakitan dan ketakutan yang sejak tadi tertahan.
“Aaakh!”
“Tolong!”
“Ampun!”
Raka menatap mereka tanpa belas kasihan.
Pelanggan yang melihat kejadian itu menggigil.
Biasanya, ketika seseorang memohon, orang lain akan luluh.
Tapi wajah Raka tidak berubah sedikit pun.
Ia bukan pahlawan yang datang untuk memberi ceramah tentang kebaikan.
Malam itu, ia datang sebagai hukuman.
Preman pemimpin bersujud di lantai.
“Ampun, Bang Raka! Kami cuma disuruh!”
Raka menatapnya.
“Saat Pak Harun meminta kalian berhenti, apa kalian berhenti?”
Pria itu membeku.
Raka melanjutkan, “Saat pedagang kecil memohon, apa kalian peduli?”
Tidak ada jawaban.
Raka berjongkok di depannya.
Suaranya pelan, tapi menusuk sampai ke tulang.
“Jadi kenapa saat giliranmu memohon, aku harus menjadi orang baik?”
Pria itu menangis.
Raka berdiri kembali.
Ia menunjuk meja yang rusak.
“Bereskan.”
Kelima preman itu langsung bergerak. Mereka memunguti pecahan gelas dengan tangan gemetar, mengangkat meja, menyusun kursi, dan membersihkan kopi yang tumpah. Tidak ada yang berani melawan.