NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:18k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.

​Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!

​Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.

​"Welcome to the real hell."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Hukuman Petugas Kebersihan

​"Lembur cari angin, Bu Manajer?" Jace menurunkan tangannya perlahan, memasang senyum bodoh andalannya. Tangan kirinya dengan sangat cekatan menyelipkan alat peretas kecil kembali ke dalam saku celana tanpa mengundang kecurigaan sedikit pun.

​Riana menyesap kopi hitamnya dengan tenang. Asap tipis mengepul dari bibir cangkir kertasnya. Dia duduk bersilang kaki di atas tumpukan kardus berisi dokumen lama. Kacamata tebalnya memantulkan cahaya lampu neon yang sangat menyilaukan.

​"Lo mau mengepel lantai ruang arsip tanpa bawa alat pel dan ember?" tanya Riana datar. Matanya menatap lurus ke arah kedua tangan Jace yang kosong melompong.

​Jace tertawa canggung sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Pria itu melirik ke arah lorong kosong di belakangnya, berpura-pura sedang mencari keranjang alat kebersihannya.

​"Aduh, alat pel tertinggal di lorong ujung, Bu. Biasa, faktor lelah jadi gampang lupa," kilah Jace dengan suara riang yang sengaja dibuat-buat. "Tadi kulihat pintu ini lampunya hijau, jadi kupikir ada orang yang lupa mengunci. Niatnya murni cuma mau mengecek ke dalam."

​"Lampu panel pintu ini tidak pernah berubah hijau kecuali ada yang meretas sistem keamanannya pakai dekoder eksternal," potong Riana tanpa ampun. Suaranya menggema dingin di antara rak-rak besi berdebu. "Sistem keamanan level empat tidak pernah salah atau eror begitu saja."

​Senyum Jace sedikit kaku, tapi dia langsung menguasai keadaan. Pria tampan berseragam biru muda itu melangkah masuk satu tindak, mencoba memasang wajah polos paling meyakinkan.

​"Bu Riana bicara soal sistem apa ya? Aku kan cuma tamatan sekolah menengah, Bu. Mana ngerti urusan retas-meretas barang canggih begitu. Tugasku murni cuma bikin lantai gedung ini mengkilap sampai bisa dipakai bercermin," ucap Jace panjang lebar.

​Riana meletakkan cangkir kopinya di atas meja terdekat. Perempuan itu turun dari tumpukan kardus raksasa dengan gerakan seringan kucing, melangkah mendekati Jace. Aroma kopi hitam pekat bercampur wangi parfum Riana yang samar langsung menyapa penciuman Jace.

​Tanpa diduga sama sekali, Riana menarik kerah seragam Jace dengan cepat, menyeret pria itu masuk sepenuhnya ke dalam ruangan arsip. Tangan Riana yang bebas langsung menekan tombol merah menyala di panel pintu.

​Klik. Pintu besi tebal itu tertutup rapat dan terkunci kuat dari dalam.

​"Ibu mau ngapain?" Jace pura-pura panik, memeluk tubuhnya sendiri dengan gaya dramatis murahan. "Tolong jangan macam-macam di ruang arsip yang sepi begini. Aku belum mau dipecat."

​"Tutup mulut lo yang sangat berisik itu," desis Riana sangat tajam. Dia menunjuk dua gunung kardus super besar di sudut ruangan gelap itu. "Lo suka banget kelayapan di jam kerja divisi lain, kan? Bagus. Lo wajib lembur temani gue detik ini juga. Buka semua kardus kotor itu. Sortir dua ribu dokumen kontrak karyawan berdasarkan tahun masuk dan abjad. Pisahkan mana staf yang masih aktif bekerja dan mana yang sudah mengundurkan diri."

​Jace melotot menatap tumpukan kardus raksasa tersebut. Itu jelas bukan pekerjaan satu atau dua jam saja. Itu adalah penyiksaan fisik tingkat tinggi.

​"Bu, posisiku ini petugas kebersihan, bukan staf tata usaha HRD," protes Jace. "Lagi pula, kontrak kerja itu sifatnya sangat rahasia. Tidak ada wewenang buat petugas rendahan sepertiku untuk baca dokumen inti HRD."

​"Oh, jadi lo sekarang peduli banget soal wewenang?" Riana melipat tangannya di dada, menantang Jace dengan tatapan mata mematikan dari balik kacamatanya. "Lo punya dua pilihan sekarang, Jace. Pilihan pertama, lo duduk manis di lantai kotor itu dan mulai menyortir kertas usang itu sampai beres. Pilihan kedua, gue telepon polisi sekarang juga atas tuduhan tindakan percobaan pencurian data rahasia perusahaan dan lo mendekam membusuk di sel tahanan."

​Jace menelan ludah dengan susah payah. Identitas aslinya sebagai pewaris tunggal Diwantara Group benar-benar dalam bahaya besar jika dia sampai berurusan dengan polisi lokal. Dia tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah HRD gila kendali di depannya ini.

​"Oke, oke, biar aku kerjakan sekarang juga," gerutu Jace sambil menyeret kakinya menuju tumpukan kardus tersebut. Pria bertubuh tegap itu terpaksa duduk lesehan menempel pada lantai berdebu.

​Riana kembali melangkah ke tempat duduknya, mengambil tablet kerjanya, dan mulai fokus membaca deretan laporan auditnya. Perempuan berkacamata itu benar-benar mengabaikan Jace yang sedang membongkar kardus pertama dengan raut wajah kesal.

​Ruang arsip raksasa itu hanya dipenuhi suara kertas usang yang dibolak-balik dan ketukan jari Riana di atas layar tablet sentuhnya. Jace bekerja dengan kecepatan penuh, tapi menyortir dua ribu dokumen berdebu jelas bukanlah hal yang mudah. 

Debu pekat membuat hidungnya luar biasa gatal. Tangan Jace yang biasanya memegang gagang senapan runduk atau gelas anggur impor mahal, kini harus kotor terkena noda dari dokumen lama.

​"Ibu HRD," panggil Jace memecah kesunyian ruangan, mencoba memancing informasi lebih dalam. "Perusahaan ini isinya preman galak semua. Tadi sore saja jelas kelihatan Pak Gideon marah besar di area lobi depan. Kok Ibu betah banget kerja di tempat rawan konflik begini? Nggak takut tiba-tiba dicegat orang asing di jalan sepi?"

​"Tugas utama gue murni cuma mengurus dokumen absensi dan gaji karyawan," jawab Riana datar tanpa menoleh sedikitpun dari layarnya. "Selama gue pegang penuh kendali aturan mutlak perusahaan, preman divisi mana pun di gedung raksasa ini tidak ada bedanya dengan staf magang biasa yang butuh uang makan."

​"Jawaban yang sangat percaya diri," puji Jace dengan nada suara sangat menyindir. Tangannya sibuk mengelompokkan setumpuk kertas berawalan huruf A sampai huruf C. "Tapi dokumen di tumpukan sini aneh-aneh, Bu. Masa ada karyawan divisi logistik yang deskripsi pekerjaannya cuma membersihkan noda merah pekat di karpet gudang. Itu noda darah korban atau sekadar noda sirup stroberi?"

​"Fokus saja ke urutan abjadnya, Jace. Bukan baca isi kontrak rahasianya."

​"Cuma penasaran saja, Bu." Jace tertawa pelan. "Orang-orang Aegis Corp ini kerjanya misterius semua. Mirip banget gaya pembunuh bayaran kejam di film aksi."

​"Kalau lo terlalu banyak tanya, lidah lo bisa terpotong secara tidak sengaja oleh ujung tajam kertas yang sedang lo pegang itu," potong Riana sangat dingin, memberi sebuah peringatan keras yang mematikan.

​Jace langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi tanda menyerah total, lalu kembali fokus menatap tumpukan dokumen. Otak cerdasnya terus berputar mencari akal. 

Jace harus mencari celah lain secepatnya untuk menembus server utama perusahaan tanpa sepengetahuan Riana. Masalah terbesarnya, Manajer HRD culun satu ini bersikap seolah punya sepasang mata tambahan di belakang kepalanya. Kewaspadaan tingkat tinggi Riana sama sekali tidak menurun walau sedetik pun.

​Jam digital berbentuk kotak di dinding ruang arsip terus berdetak konstan tanpa ampun sedikit pun. Udara dari celah ventilasi mesin pendingin ruangan terasa semakin menusuk tulang Jace. Pria itu meregangkan otot bahu dan punggungnya yang terasa sangat kaku serta pegal luar biasa. Ujung jari tangannya sudah terasa kebas membolak-balik ribuan kertas yang baunya sangat apek dan berjamur.

​Jace mendongak menatap layar jam digital tersebut. Angka merah menyala di dinding jelas menunjukkan pukul lima nol nol.

​Tiga jam penuh sudah dia duduk menyiksa diri di lantai hanya untuk menyortir ribuan kertas bodoh ini. Hebatnya, Riana bahkan sama sekali tidak terlihat mengantuk atau berencana tertidur pulas. Perempuan berkacamata tebal itu masih sangat sibuk mengetik dengan tabletnya, bertingkah seolah matanya tidak butuh istirahat malam sama sekali.

​"Tinggal satu kardus lagi di sudut sana," tegur Riana saat ekor matanya melihat Jace berhenti bergerak mengelompokkan dokumen.

​Jace menghela napas sangat pasrah. Dia merangkak pelan menuju kardus terakhir yang bentuknya sudah sedikit rusak dan penyok di ujungnya. Jace merobek selotip kardus cokelat itu dengan gerakan kasar. Tangannya langsung merogoh ke bagian dasar kardus, menarik keluar tumpukan dokumen paling bawah yang terlihat jauh berbeda dari ribuan dokumen lainnya.

​Di antara tumpukan kertas putih kontrak kerja standar Aegis Corp, mata tajam Jace mendadak menangkap wujud sebuah map cokelat tua yang bagian ujungnya sudah robek parah. Jace menahan napasnya sejenak, lalu menarik map lusuh itu pelan-pelan agar suara gesekannya tidak menarik perhatian Riana yang duduk di atasnya.

​Jace membuka lipatan map cokelat itu sedikit demi sedikit menggunakan ujung ibu jarinya. Bola matanya langsung membesar sempurna melihat isi dokumen di dalamnya. Itu jelas bukan sekadar lembar dokumen kontrak kerja karyawan biasa.

​Di dalam map tersebut, terdapat sebuah lembaran kertas tebal berwarna buram kotor dengan stempel merah jambu menyala terang di bagian sudut kanan atasnya. Stempel itu memiliki cetakan lambang tengkorak dengan dua pedang menyilang tegas, sebuah logo rahasia khas pasar gelap persenjataan internasional yang sangat ditakuti.

​Dada Jace berdegup kencang seketika. Tanda stempel merah jambu ini adalah tanda bukti pengiriman bahan peledak tingkat tinggi tipe C4.

​Jari telunjuknya meraba permukaan kasar kertas tersebut secara perlahan. Tepat di bagian bawah stempel tengkorak merah jambu itu, terdapat satu baris tulisan tangan yang sangat rapi namun warna tintanya sudah sedikit luntur termakan usia penyimpanan.

​Operasi Pembersihan. Target: Kara. Status: Sukses.

​Pandangan mata Jace langsung terpaku mati pada kata Kara. Nama sang algojo legendaris Aegis Syndicate yang sangat ditakuti dunia bawah tanah dan dikabarkan tewas meledak mengenaskan enam bulan lalu itu kini ada di tangannya, terselip kotor di antara ribuan kontrak karyawan biasa.

1
Susilawati
mantap Riana 👍👍👍
Susilawati
hati2 Riana, kayaknya si Gideon sengaja mau menjebak
This Is Me
Yeyyyy....ditunggu up nya
Savana Liora: okeee
total 1 replies
This Is Me
Ini pancingan aja seprtinya
Maya Ratnasari
gilaa keren abiiiissss kau thor
Savana Liora
Halo. kontrak novel riana dan jace sudah othor terima hari ini. jadi, udah bisa crazy up ya. tp ga tiap hari juga crazy-nya. ntar malah othor yg setres 🤭 happy reading
Susilawati: semangat Thor, selalu di tunggu kelanjutannya 👍
total 6 replies
Muft Smoker
aduuuuh ,, bahayaaa tingkat tingkat niih ,,
semoga aj mereka gx ketahuan ,,


lanjuut kak
Muft Smoker
gx pernah gagal deeh cerita kak Savana 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Susilawati
penasaran, apa yg bakalan terjadi.
lanjut lagi thor 👍
Savana Liora: besok ya. mau tidur dulu 🙏🙏
total 1 replies
This Is Me
Waduh..bahaya menanti
Savana Liora: iyaa 😄😄
total 1 replies
This Is Me
Suka banget ceritanya.
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪
Savana Liora: Aamiin. semoga dalam beberapa hari ini. sudah lolos 2 tahapan review. tinggal 1 tahap lg.
total 1 replies
Eli Rahma
ketahuan gk yaaaaccchhh
Savana Liora: kita liat besok pagi ya
total 1 replies
Septi Lahat
lanjut kan kak thor,, 💪💪💪
FHR
Makin menegangkan 😍
This Is Me
Proyek bersih² yang berhasil
Septi Lahat
hukumannya nggk maen2 ya🤔,,penggelapan dana lgsung dicincang😁
Savana Liora: iya. nggak bisa macam2 emang
total 1 replies
Rizky Manik
lanjut thor🤗🤗
Susilawati
hiii sadis banget perintahnya, digiling sampai habis semua badan nya si Frans.
Savana Liora: iyak. jadi pakan ikan
total 1 replies
Susilawati
wah senangnya author up lagi 👍👍👍
FHR
Apakah Bramantyo akan curiga siapa Riana sebenarnya?
Savana Liora: suatu saat akan curiga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!