NovelToon NovelToon
Realita Menikah

Realita Menikah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cattygril

Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.

Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.

Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.

Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 (Teror dalam Keheningan)

...HAPPY READING...

...🧸💕...

Sementara Elvara sedang menata hatinya untuk menghadapi persidangan, suasana di ruang perawatan VIP sebuah rumah sakit swasta justru terasa mencekam. Vivian terbaring di atas bangsal dengan dahi yang diperban dan selang infus yang menancap di tangannya. Dokter menyatakan bahwa ia mengalami kram rahim hebat akibat syok berat dari kecelakaan kemarin, beruntung nyawanya masih tertolong.

Namun, ketenangan yang seharusnya Vivian dapatkan di rumah sakit itu sirna seketika.

Suasana kamar VIP yang sepi mendadak terasa dingin saat malam merayap. Vivian baru saja terbangun dari tidurnya ketika matanya menangkap sesuatu yang janggal di atas meja nakas tepat di samping ranjangnya.

Sebuah kotak kado berbalut kain hitam legam dengan pita merah darah duduk manis di sana. "Siapa yang menaruh ini di sini?" gumam Vivian dengan suara parau. Ia melirik ke sekeliling kamar, namun ruangan itu kosong. Mengira itu adalah kiriman bunga atau buah dari Arsen yang akhirnya peduli, Vivian meraih kotak itu dengan tangan bergetar.

Dengan perlahan, Vivian membuka simpul pita merah tersebut dan mengangkat tutup kotaknya. Namun, begitu melihat isinya, Vivian memekik tertahan dan refleks melemparkan kotak itu hingga isinya berserakan di atas lantai marmer.

Brak!

Wajah Vivian seketika pucat pasi bagai mayat. Jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar.

Di atas lantai, berserakan belasan foto dirinya yang diambil secara diam-diam candid dari jarak dekat. Foto saat ia berada di apartemen, foto saat ia mengemudikan mobil sebelum kecelakaan, hingga foto dirinya yang sedang tidak sadarkan diri di dalam ambulans kemarin. Di atas foto-foto yang tercoreng noda merah menyerupai darah itu, terdapat sebuah boneka kain kecil yang bagian perutnya telah ditusuk oleh belasan jarum karat.

Tak hanya itu, sebuah secarik kertas putih dengan tulisan cetak komputer terjatuh di dekat kakinya. Dengan tubuh gemetar hebat, Vivian membaca untaian kalimat di kertas tersebut:

"Satu tetes air mata yang kau buat mengalir dari matanya, harus dibayar dengan seluruh ketenangan hidupmu. Kecelakaan kemarin hanyalah ketukan pintu pembuka. Nikmati sisa waktumu, jalang.*

"N-nggak... ini nggak mungkin..." bisik Vivian dengan napas yang memburu egois. Air mata ketakutan mulai mengalir membasahi pipinya.

Teror ini terlalu nyata dan terlalu terencana. Siapa pun dalang di balik semua ini, orang itu tahu persis apa yang terjadi pada dirinya dan memiliki akses untuk masuk ke kamar rawatnya tanpa ketahuan. Vivian meremas selimut rumah sakit dengan erat, rasa nyeri di perutnya kembali bereaksi akibat rasa takut yang luar biasa.

Vivian memandang liar ke arah pintu kamar rawatnya yang tertutup, merasa seolah-ofah ada sepasang mata tak terlihat yang sedang mengawasinya dari balik kegelapan malam, siap untuk melenyapkannya kapan saja.

Dengan tangan yang gemetar hebat karena sisa ketakutan dari teror boneka jarum itu, Vivian buru-buru menyambar ponselnya di atas ranjang. Air matanya mengalir kian deras. Di saat mencekam seperti ini, satu-satunya orang yang ada di pikirannya dan yang ia harapkan bisa melindunginya hanyalah Arsen.

Vivian menekan nomor Arsen, menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan napas yang memburu.

Tut... Tut... Tut...

"Angkat, Arsen... please, angkat... aku takut banget," isak Vivian, matanya terus melirik waspada ke arah pintu kamar rawatnya yang tertutup, takut jika sang peneror tiba-tiba muncul.

Namun, hingga nada sambung itu habis dan berganti menjadi suara operator, panggilan itu tetap tidak terjawab. Arsen sama sekali tidak mengangkatnya. Pria itu masih terlalu larut dalam kepusingannya sendiri akibat hancurnya kerja sama triliunan rupiah dengan Julian Vance Sterling tadi siang.

Vivian mencoba menelepon lagi untuk kedua kalinya, lalu ketiga kalinya, namun hasilnya tetap sama. Nihil. Arsen yang biasanya selalu ada untuknya, kini mendadak menghilang bak ditelan bumi di saat Vivian berada di titik paling rapuh.

"Sialan! Arsen, kamu di mana sih?!" teriak Vivian histeris, melemparkan ponselnya ke atas kasur dengan perasaan kesal dan kecewa yang mendalam. Rasa butuh yang teramat sangat kini berubah menjadi amarah yang membakar dadanya.

Di tengah rasa frustrasinya yang memuncak, Vivian mencengkeram selimut rumah sakit dengan kencang. Gurat wajahnya yang semula penuh ketakutan, kini perlahan berubah menjadi ekspresi penuh kebencian.

"Ini semua gara-gara Elvara... Sialan kau, Elvara!" desis Vivian dengan tatapan mata yang mendadak tajam dan penuh dendam.

Bagi Vivian, Elvara-lah akar dari segala kesialan yang menimpanya saat ini. Jika saja wanita itu tidak membuat drama gugatan cerai konyol yang memicu kehebohan media, Arsen pasti tidak akan sesibuk ini dan akan selalu berada di sisinya untuk menjaganya dari teror-teror mengerikan ini. Vivian bersumpah tidak akan melepaskan Elvara begitu saja atas rasa sakit dan ketakutan yang harus ia tanggung hari ini.

Suara gagang pintu kamar rawat yang bergerak pelan seketika menghentikan sumpah serapah Vivian. Napas wanita itu tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak lebar menatap ke arah pintu yang perlahan-lahan terbuka, menampakkan celah kegelapan dari koridor rumah sakit yang entah sejak kapan menjadi begitu sepi.

Dari balik bayang-bayang pintu, muncul sepasang sepatu pantofel mewah yang melangkah masuk tanpa suara.

Bukan Arsen.

Sosok tinggi tegap dalam balutan setelan jas hitam mahal berdiri tegak di ujung ranjang Vivian. Wajah tampan oriental-kaukasian miliknya tersenyum sangat tipis—sebuah senyuman dingin yang tidak sampai ke mata hazelnya yang tajam menembus sukma.

"J-Julian...?" bisik Vivian dengan suara tercekat, mengenali sosok investor asing yang belakangan ini kerap muncul di berita bisnis bersama Arsen. 

"K-kamu... mau apa di sini?"

Julian tidak menjawab. Pria itu hanya melangkah mendekati meja nakas, menatap boneka kain penuh jarum dan foto-foto berserakan di lantai dengan pandangan puas, seolah dialah sang sutradara di balik semua dekorasi mengerikan itu. Julian kemudian mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening dari saku jasnya, lalu meletakkannya tepat di samping ponsel Vivian yang mati.

"Aku sudah memperingatkanmu melalui truk kemarin, tapi sepertinya kamu terlalu bebal untuk mengerti, Vivian," ucap Julian dalam bahasa Indonesia yang sangat fasih, dingin, dan sarat akan racun.

Vivian gemetar hebat, tangannya reflek mundur menjauhi Julian. "Jadi... semua teror ini... kamu?!"

Julian terkekeh rendah, sebuah suara bariton yang terdengar seperti malaikat pencabut nyawa di keheningan malam. Ia memajukan tubuhnya, berbisik tepat di telinga Vivian yang sudah menangis histeris tanpa suara. "Elvara akan pergi ke pengadilan agama besok. Dan aku memastikan... tidak akan ada satu pun pengganggu yang bisa menghentikannya. Termasuk kamu, dan bayi yang sedang kamu kandung itu."

Mata Vivian melebar sempurna mendengar rahasia terbesarnya disebut. Sebelum ia sempat berteriak meminta pertolongan medis, Julian sudah berbalik dengan anggun, melangkah keluar ruangan dan menutup pintu rapat-rapat, meninggalkan Vivian dalam jeratan takdir yang mencekam.

Sementara itu, di tempat lain...

Keesokan paginya, matahari terbit menyinari koridor Pengadilan Agama yang dingin. Elvara berdiri di depan pintu ruang sidang utama dengan anggun, mengenakan pakaian terbaiknya. Surat-surat perceraian sudah berada di dalam dekapannya.

Langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah belakang. Elvara menoleh dan mendapati Arsen berjalan ke arahnya dengan wajah kacau, mata merah, dan napas terengah-engah.

"Elvara, tunggu!" panggil Arsen dengan suara serak, mencoba meraih tangan wanita yang selama ini ia sia-siakan. 

"Jangan lakukan ini, aku mohon... kita perbaiki semuanya—"

"Semuanya sudah selesai, Arsen," potong Elvara dengan senyuman paling tulus sekaligus paling dingin yang pernah Arsen lihat. Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi binar cinta di mata wanita itu.

Tepat di saat Elvara berbalik untuk mendorong pintu ruang sidang, ponsel di saku jas Arsen bergetar hebat. Sebuah panggilan darurat dari rumah sakit memunculkan nama Vivian di layarnya, membawa kabar yang akan mengubah hidup Arsen selamanya.

Arsen terpaku di tempatnya berdiri, terjebak di antara pintu ruang sidang tempat istrinya akan pergi meninggalkannya selamanya, dan layar ponsel yang membawa kabar kehancuran dari selingkuhannya.

Dan di ujung koridor yang sepi, Julian Vance Sterling berdiri bersandarkan dinding dengan kemeja katun Mesir premium buatan butik Elvara, menyaksikan runtuhnya kerajaan seorang Arsen Mahardhika dengan senyuman kemenangan yang mutlak—

Pintu ruang sidang tertutup rapat.

...END—...

1
Aquarius1276 Nonamolek
tidak bertele²...bahasa yg mudah dimengerti
Aquarius1276 Nonamolek
kapan thor season 2 nya ...plus judul nya donk😍
Cattygril
okee
mba mawar34
oh noo gw pikir bakalan sama kael
Cattygril: haha, tidak kk
total 1 replies
mba mawar34
Next💪😍
mba mawar34
ceritanya bgus, dan oke di baca
Cattygril: terimakasih☺
total 1 replies
mba mawar34
semangat thir💪😍
Cattygril: iya dongg👌☺
total 1 replies
cynth
Everyone biggest nightmare.
Cattygril: heee☺
total 1 replies
Amelia
Next😍
Amelia
iya Thor gak papa, semangat trus update ya💪😍
Cattygril: terimakasih yaa😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!