Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap yang Berubah
Di kejauhan, Beatrix van Amgard berdiri di dekat pilar marmer, menggoyang-goyangkan gelas sampanyenya dengan gerakan ritmis. Matanya yang biru pucat berkilat puas menyaksikan pemandangan di tengah lantai dansa. Ia melihat bagaimana Helen bersandar pada Ario, bagaimana gadis itu memejamkan mata seolah dunia adalah tempat yang paling aman selama ia berada dalam pelukan pria itu.
Beatrix menyesap sampanyenya, membiarkan cairan dingin itu membasahi tenggorokannya yang baru saja lelah tertawa histeris di ruang kerja tadi sore.
"Bodoh," desis Beatrix dalam bahasa Belanda, suaranya sangat rendah. "Zo voorspelbaar." (Begitu mudah ditebak.)
Ia melihat Ario. Pria itu tampak kaku, ekspresi wajahnya sulit dibaca. Ada sesuatu yang janggal dalam sorot mata Ario—sebuah keraguan yang tidak seharusnya ada di sana. Beatrix tahu persis apa itu. Ia telah menanamkan benih yang tepat pada orang yang tepat.
"Nikmatilah saat-saat ini, Helen sayang," bisik Beatrix sambil tersenyum sinis. "Biarkan hatimu mekar sejenak, karena besok, aku sendiri yang akan mematahkan tangkainya."
Beatrix tahu, kelemahan terbesar Helen adalah hatinya yang terlalu lembut. Dengan membuat Helen jatuh cinta pada Ario, Beatrix tidak hanya melumpuhkan keinginan Helen untuk membalas dendam, tetapi juga menciptakan senjata baru yang bisa ia gunakan untuk menghancurkan Helen dari dalam. Cinta adalah racun paling lambat, namun paling mematikan yang pernah Beatrix kenal.
****
Ario Diangga merasakan kegelisahan yang luar biasa. Tubuh Helen yang mungil terasa pas di dalam pelukannya, namun setiap kali Helen menatapnya dengan penuh pemujaan, dada Ario terasa sesak. Ini bukan bagian dari rencana. Harusnya mereka naik ke atas panggung saat musik berhenti, mengambil mikrofon, dan mempermalukan Beatrix dengan data yang mereka miliki.
Namun, saat melihat betapa rapuhnya Helen, dan bagaimana gadis itu seolah menggantungkan seluruh hidupnya padanya malam ini, Ario kehilangan keberaniannya untuk merusak momen tersebut. Ia merasa seperti seorang algojo yang sedang memberikan jamuan terakhir bagi terpidana mati.
Musik perlahan berhenti. Tepuk tangan penonton mengembalikan kesadaran Helen. Ia tersentak, sedikit menjauh dari Ario dengan wajah yang merah padam.
"Maaf... aku... aku terbawa suasana," kata Helen gugup, merapikan gaun merahnya yang sedikit berkerut.
Ario hanya mengangguk kecil. Wajahnya kembali dingin, seperti topeng marmer yang tak tertembus. "Acara sudah selesai. Mari kita pulang."
"Tapi... rekaman itu? Bukti-bukti yang kita bawa?" tanya Helen, akal sehatnya mulai kembali meski masih samar.
Ario memutar tubuhnya, berjalan mendahului Helen tanpa menoleh. "Belum saatnya. Beatrix sudah menyiapkan pengamanan yang terlalu ketat malam ini. Jika kita menyerang sekarang, kita yang akan hancur. Kita pulang."
Helen terpaku. Ada nada dingin yang berbeda dalam suara Ario. Nada yang tidak ada saat mereka berlatih sore tadi. Dengan perasaan bingung, Helen mengikuti langkah lebar Ario keluar dari gedung hotel.
****
Mobil Mercedes hitam milik Ario membelah jalanan Jakarta yang masih basah sisa hujan. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, kesunyian terasa begitu menyesakkan. Hanya suara deru mesin dan gesekan ban di atas aspal yang terdengar.
Helen duduk di kursi penumpang, menatap ke luar jendela. Bayangan lampu jalanan yang kuning melintas cepat di wajahnya. Ia berkali-kali melirik Ario melalui ekor matanya. Pria itu mencengkeram kemudi dengan sangat kuat, hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras, dan tatapannya lurus ke depan seolah ada musuh yang tak terlihat di balik kaca depan.
"Ario?" panggil Helen lembut.
Tidak ada jawaban.
"Apa ada yang salah? Kenapa kita mendadak membatalkan rencana itu? Aku siap tadi, Ario. Aku sudah menyiapkan mentalku untuk menghadapi Tante Beatrix."
Ario tetap diam. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun. Sikapnya benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi sentuhan hangat di pinggang, tidak ada lagi tatapan pelindung yang tadi Helen rasakan di lantai dansa.
"Ario, bicaralah padaku!" Helen meninggikan suaranya, rasa frustrasi mulai muncul. "Kau yang membawaku keluar dari emperan toko itu. Kau yang bilang akan membantuku mencari keadilan. Tapi sekarang kau bersikap seolah aku tidak ada di sini!"
Ario tiba-tiba menginjak rem dengan mendadak saat lampu merah menyala. Tubuh Helen terdorong ke depan. Ario menghela napas panjang, kepalanya tertunduk di atas kemudi sebentar sebelum ia kembali tegak.
"Jangan terlalu banyak berharap padaku, Helen," ucap Ario, suaranya sangat dingin, nyaris kejam. "Aku menyelamatkanmu karena sebuah kepentingan. Jangan pernah lupa akan hal itu."
Helen merasa seperti disiram air es. "Kepentingan? Maksudmu... apa yang terjadi di lantai dansa tadi hanya bagian dari kepentinganmu?"
Ario menoleh, menatap Helen dengan mata yang kosong. "Aku bilang jangan jatuh cinta padaku, bukan? Kau melanggar aturan pertama, Helen. Dan itu membuat pekerjaan ini menjadi sangat sulit."
"Aku tidak bilang aku jatuh cinta padamu!" bantah Helen, meskipun hatinya menjerit karena malu dan sakit hati.
"Matamu tidak bisa berbohong," balas Ario. "Kau menatapku seolah aku adalah duniamu. Padahal duniamu adalah ayahmu yang dibunuh, dan perusahaanmu yang dirampas. Fokuslah pada hal itu, bukan padaku."
Lampu berubah hijau. Ario kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Helen terdiam, tenggorokannya terasa tersumbat. Rasa hangat yang tadi memenuhi dadanya kini berubah menjadi duri-duri tajam yang menusuk ke dalam.
****
Mereka sampai di apartemen Ario. Begitu masuk, Ario langsung berjalan menuju ruang kerjanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia menutup pintu dengan debuman keras, meninggalkan Helen berdiri sendirian di ruang tengah yang luas dan sunyi.
Helen berdiri mematung. Ia menatap gaun merah mahalnya di cermin ruang tamu. Beberapa jam yang lalu, ia merasa seperti ratu. Sekarang, ia merasa seperti badut.
Sikap Ario sangat janggal. Ada sesuatu yang pria itu sembunyikan. Sesuatu yang lebih besar dari sekadar "strategi yang tertunda". Helen teringat bagaimana Beatrix menatap Ario di pesta tadi—sebuah tatapan yang penuh rahasia, seolah mereka memiliki sebuah kesepakatan yang tidak diketahui Helen.
Apakah Ario mengkhianatiku?
Pikiran itu muncul seperti kilat di tengah badai. Helen menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tidak, tidak mungkin. Dia menyelamatkanku saat aku pingsan. Dia memberiku tempat berteduh.
Namun, keraguan itu sudah mulai tumbuh. Helen berjalan menuju jendela besar, menatap cakrawala Jakarta yang gelap. Di suatu tempat di kota ini, Beatrix mungkin sedang tertawa sambil merayakan kemenangannya. Dan di sini, di tempat yang ia kira aman, Helen justru merasa lebih sendirian dari sebelumnya.
Di dalam ruang kerjanya, Ario menyandarkan punggung ke pintu. Ia merogoh saku blazer-nya dan mengeluarkan sebuah foto lama yang sudah kusam. Foto seorang pria paruh baya yang memiliki wajah sangat mirip dengannya, bersalaman dengan Aditya Kusuma di masa muda. Di belakang foto itu tertulis: "Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa. Hutang harta harus dibayar dengan kehancuran."
Ario meremas foto itu. Ia teringat janji yang ia buat di atas makam ayahnya sendiri. Ia datang untuk membalas dendam pada keluarga Kusuma—pada Aditya. Namun, kehadiran Helen yang tulus dan rapuh mulai mengoyak rencana besarnya.
Ia harus menjauhkan Helen. Ia harus membuat Helen membencinya. Karena jika tidak, ia tidak akan sanggup menghancurkan kerajaan Kusuma yang kini dikuasai Beatrix, karena menghancurkan kerajaan itu berarti juga menghancurkan masa depan wanita yang kini diam-diam mulai mencuri hatinya.
Di malam yang sunyi itu, dua jiwa berada di bawah satu atap, namun dipisahkan oleh jurang rahasia dan dendam yang tak berujung.