NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:576
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^26

Terus berpikir akan hal yang belum pernah terjadi, yang entah kenapa semakin membuat jiwa merasa takut sendiri jika itu menjadi nyata. Karena kekelaman hidupnya di masa lalu akan sangat mudah menghancurkan masa depan seseorang. Dan ia tidak ingin itu terjadi.

"Jika kau merasa gelisah, tidak seharusnya kau ada disini. Karena, kau akan mendapat masalah. Apa kau tidak takut?" Cetus seorang wanita dewasa yang kini duduk di samping kanan Anna. Diam menikmati minumannya itu.

"Berhentilah mengunjungi ku, itu akan membuat semua orang tahu jika kau senang sekali datang ke tempat seperti ini. Manfaatkan apa yang kau miliki saat ini. Kenapa kau selalu menyia-nyiakannya? Dan menyesal setelah merasa kehilangan." Sambung sang wanita penuh peringatan dan saran. Karena wanita itu juga merasa menyesal saat ini. Telah memilih jalan yang salah.

"Bagaimana bisa aku tidak mengunjungi mu, karena kau teman satu-satunya yang ku miliki." Sahut Anna sembari meletakkan gelas di atas meja. Menatap sang lawan bicara dengan raut wajah sedihnya di bawah cahaya lentera yang sangat redup.

"Kau akan mendapat teman jika kau menempatkan dirimu di tempat yang seharusnya kau ada di sana." Tanggapnya dengan sangat geram.

"Bagaimana dengan mu sendiri?" Diam, Anna menelan ludahnya. "Di sini juga bukan tempat mu. Tapi kau ada di sini. Seharusnya kau ada di rumah besar itu, mengurus suami dan anak mu."

Wanita itu diam membisu, membuang napasnya sembari melihat ke sembarang arah. Karena merasa kalah telak dengan kalimat yang baru saja ia dengar.

"Kau selalu mengatakan padaku, jika harus manfaatkan kehidupan yang telah aku dapatkan. Tapi kau tidak pernah memberi contoh padaku. Kau malah ada disini. Jadi, bukankah kita ini sama? Sama-sama munafik." Imbuhnya dengan senyum masam.

"Masalah mu dengan masalahku itu berbeda. Suami dan keluarganya menerima mu dengan baik, tanpa mengungkit siapa dirimu di masa lalu. Tapi, bagaimana dengan ku? Kau tidak pernah menanyakan hal itu bukan?" Sangat rendah wanita itu memberi tanggapan.

Anna terdian, tidak langsung membalas. "Apa, itu alasan mu kembali kesini?"

"Putraku harus memiliki masa depan yang lebih bagus, karena aku tidak ingin dia seperti ku." Tidak begitu cepat sang wanita mulai mengungkapkan isi hatinya.

"Tapi, bagaimana jika itu sebaliknya?" Diam sejenak, kini Anna melanjutkan perkataannya. "Putramu hanya menginginkan mu ada di sampingnya."

"Apa yang kau katakan?" Entah paham atau tidak, wanita itu terlihat sedikit bingung dengan kalimat dari Anna yang terdengar ambigu di pendengaran nya.

Bukannya tidak sanggup memberi balasan, kini mulut Anna terkatup rapat saat kedua mata tak sengaja melihat ke arah dua sosok pria dewasa yang sangat familiar di indera penglihatannya. Spontan menarik tangan wanita di sampingnya, berjalan pergi dari tempat itu. Dan ampuh membuat sang wanita kewalahan saat menyeimbangi langkah kaki milik Anna.

"Ada apa dengan mu? Kenapa kau menarik ku seperti ini?" Tanya sang wanita yang masih saja ditarik oleh Anna.

"Dua pria bajingan itu ada di sini?" Nada bicara Anna terdengar sangat berubah, begitu kesal dan menyimpan sebuah dendam.

Perlahan tapi pasti sang wanita menoleh ke belakang, dan mendapati dua sosok pria dewasa yang sangat familiar di penglihatannya. "Bagaimana bisa mereka ada di sini?"

"Kita harus pergi secepatnya dari sini. Karena aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. Apalagi aku sempat bertatapan langsung dengan istrinya." Sahut Anna yang kini mulai menormalkan napasnya, saat tiba di belakang bangunan itu. Di mana mobilnya terpakir.

Menjauhkan cekalannya dari tangan sang wanita, untuk mengambil kunci dari dalam tas. "Masuklah aku akan mengantarkan mu pulang."

Tanpa basa-basi lebih lama lagi, kedua wanita dewasa itu mulai masuk ke dalam mobil yang kini melesat dari tempat itu dengan kecepatan tidak begitu tinggi. Karena Anna sang pengemudi juga masih ingin hidup.

"Bukankah mereka sungguh keterlaluan? Kenapa mereka muncul lagi? Itu sangat mengganggu." Kesal sang wanita, sebentar menoleh ke belakang. Hanya ingin memastikan jika tidak ada siapapun yang mengikuti mereka.

"Dan parahnya lagi, putraku berada di satu sekolah dengan anaknya." Anna tersenyum masam, tanpa mengalihkan pandangannya yang fokus ke depan.

"Tidak hanya putramu, putriku juga ada di sana." Rendah sang wanita, sembari menyandarkan punggungnya.

"Semoga mereka tidak saling mengenal." Gumam Anna yang sangat pelan.

Sedangkan di lain sisi, di mana dua pria dewasa yang tengah berjalan lebih masuk lagi ke dalam tempat itu. Dengan pandangan meliar untuk mencari seseorang yang mereka kenal. Akan tetapi, mereka tidak menemukannya.

"Kau yakin dia ada di sini?" Tanya sang pria yang terus saja mengedarkan pandangannya.

"Sekretaris ku memberitahu ku, jika dia bersama istriku." Balasnya yang entah kenapa merasa gelisah sendiri. Apalagi, orang yang mereka cari tidak ada sama sekali.

"Kau masih menganggapnya ternyata." Sangat pelan, tapi masih begitu jelas di pendengaran sang lawan bicara.

"Aku belum mengajukannya ke pengadilan." Tak kalah pelannya pria satunya itu memberi tanggapan.

Reza menghela napas sebelum bersuara. "Kau tidak akan pernah mengajukannya, karena kau tahu, jika putramu tengah berjuang untuk membawanya kembali."

Sebentar menepuk pundak temannya itu, dan kembali menimbulkan perkataannya. "Dia memang kecewa, tapi dia tidak akan pernah membenci seorang ibu." Tersenyum simpul untuk menguatkan batin temannya.

"Bagaimana dengan mu sendiri? Kenapa kau mencarinya, di saat kau sudah mempunyai keluarga? Bukankah itu sangat keterlaluan? Bagaiman jika putri mu tahu? Apa dia akan diam saja?" Timpalnya dengan rasa penasaran.

"Aku hanya ingin tahu," diam sejenak, kepala itu mengangguk sebentar. "Kebenarannya."

"Seharusnya kau tidak perlu tahu kebenarannya seperti apa, karena itu akan membuatmu berpaling dari keluargamu."

"Itu tidak akan pernah terjadi." Cepat Reza. Meniup udara dengan rasa gelisah yang entah dari mana datangnya. "Aku hanya, ingin meminta maaf padanya. Hanya itu."

"Jika dia membencimu, jika dia belum memanfaatkan mu, kau tidak akan berdiri di hadapanku seperti ini. Dia pasti sudah membunuh mu saat dia tahu kau memilih istrimu yang saat ini ketimbang dia, mantan kekasihmu."

"Benarkah?" Reza bukannya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Hanya saja, hal itu belum membuat batinnya merasa tenang. Karena, tidur malamnya selalu di hantui rasa bersalah. Telah meninggalkan wanita itu demi permohonan keluarganya.

"Jauhkan pikiran buruk mu, itu akan mengganggumu. Apalagi saat ini kau harus benar-benar fokus pada putri mu, agar dia tidak tahu siapa wanita yang telah kau campakkan di masa lalu."

"Yuna tidak akan mencari tahu hal tentang itu. Karena dia selalu fokus pada belajarnya. Walau, dia tahu, jika aku dengan Rani bersatu karena perjodohan." Rendahnya yang berusaha menyakinkan diri. Jika putrinya tidak akan melakukan hal yang sangat konyol. Karena itu bisa menghancurkan hidup Yuna. Ia tidak ingin itu terjadi.

Yuna harus hidup dengan kedamaian. Tanpa siapapun yang mengusik kehidupannya.

1
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!