Rara Wijaya, seorang perawat muda berbakat di RS Bunda, hidup dengan luka yang dalam akibat kehilangan kedua orang tuanya. Ibu yang berhati lembut meninggal karena penyakit langka, sementara ayahnya, seorang dokter, tewas dalam kecelakaan mobil saat menolong korban tabrakan. Meskipun penuh dendam, Rara tumbuh menjadi perawat yang sangat berdedikasi.
Namun, kehidupannya berubah total ketika RS Bunda mendatangkan dokter spesialis bedah baru, dr. Arkan Pratama. Dokter muda ini dikenal dingin dan perfeksionis, yang sering meremehkan perawat. Awalnya, Rara dan Arkan selalu bertikai, sampai suatu hari Rara mengetahui bahwa Arkan adalah putra dari dokter yang menyebabkan kematian ayahnya 15 tahun lalu.
Konflik mereka memuncak ketika mereka harus bekerja sama menangani pasien kritis. Di tengah badai, mereka terjebak di rumah sakit tua yang sudah tidak terpakai - tempat yang sama di mana ayah Rara terakhir kali bekerja. Di sana, rahasia keluarga mereka terbongkar satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Perjuangan Menghadapi Rintangan Baru
Arkan masuk tergesa-gesa ke dalam rumah sakit tua dengan jantung berdegup kencang. Rasa takut menghantuinya, namun tekadnya untuk menyelamatkan Rara begitu kuat. Dia datang sendirian sesuai permintaan dr. Hanif, tetapi menyimpan alat perekam kecil di sakunya.
"Dr. Hanif!" serunya ketika melangkah ke ruangan yang remang-remang hanya disinari lampu darurat. "Aku sudah di sini. Bebaskan Rara!"
"Masuklah, dr. Arkan," ujar dr. Hanif dari balik pintu kayu yang sudah tua. Saat Arkan melangkah masuk, ia melihat Rara duduk di kursi dengan tangan terikat. Wajahnya pucat, namun tampak lega ketika melihat Arkan.
Di sebelahnya, dr. Hanif berdiri sambil memasukkan tangan ke dalam saku. Sementara itu, pria besar yang menculik Rara berjaga di dekat pintu.
"Arkan menatap Rara, bertanya, "Kamu baik-baik saja?" Meski wajahnya tetap dingin, sorot matanya menunjukkan perhatian. Rara menjawab dengan anggukan pelan sambil berkata.
"Aku baik." Matanya terlihat berkaca-kaca namun dia berusaha tegar. Sementara itu, dr. Hanif menyambut Arkan dengan sopan yang tampak dibuat-buat.
"Silakan duduk, dr. Arkan." katanya sambil mengambil kertas dari mapnya. Dia melanjutkan, "Ada dokumen yang perlu kamu tandatangani.'"
"Apa ini?" Arkan menanyakan sambil mengambil dokumen tersebut, lalu langsung membacanya.
"Itu adalah pengakuan bahwa operasi Ny. Sumiati gagal akibat kesalahanmu," dr. Hanif menjelaskan dengan senyum di wajahnya. Selain itu, Rara akan bersaksi bahwa kamu memang melakukan kesalahan."
"Aku tidak akan tanda tangan," Arkan meletakkan dokumen itu dengan keras di meja. "Kamu tahu aku tidak salah."
"Kamu harus tanda tangan," sahut dr. Hanif dingin. Dia mengeluarkan pisau bedah lalu mendekati Rara. "Atau perawat mu ini yang jadi korban."
"Jangan!" Arkan berdiri. Wajahnya terlihat panik. "Jangan sakiti dia."
"Tanda tangani!" bentak dr. Hanif sambil menempelkan pisau di leher Rara.
"Baik," Arkan mengangguk cepat dan mengambil pena. "Aku tanda tangani."
"Arkan, jangan!" teriak Rara. Dia takut Arkan mengorbankan karirnya.
"Diam," peringat dr. Hanif. Dia menekan pisau lebih kuat hingga meninggalkan bekas garis tipis di leher Rara.
Arkan menandatangani dokumen itu dengan cepat. Namun, matanya yang tajam melihat bahwa dr. Hanif terlalu sibuk memperhatikan dokumen tersebut hingga tak sadar Arkan mengambil sesuatu dari sakunya.
"Bagus," kata dr. Hanif sambil tersenyum puas ketika menerima dokumen yang sudah ditandatangani itu. "Sekarang kamu akan..."
Arkan tiba-tiba melompat ke depan sebelum dr. Hanif bisa menyelesaikan kalimatnya dan menyemprotkan semprotan merica ke wajahnya. Dr. Hanif berteriak kesakitan dan pisau bedah yang dipegangnya terjatuh.
"Rara, cepat lari!" Arkan berteriak sambil menjatuhkan dr. Hanif yang sementara buta ke lantai.
Rara yang masih terikat mencoba bangkit, namun pria besar di pintu sudah mendekat. Arkan segera mengambil pisau bedah yang terjatuh dan menghadapi pria itu di ruangan sempit tersebut.
"Arkan!" Rara menjerit saat melihat pria besar itu memukul Arkan hingga jatuh. Tapi sebelum bisa bertindak lebih jauh, suara sirene polisi tiba-tiba terdengar dari luar.
"Polisi! Keluar dengan tangan di atas kepala!" suara dari luar begitu keras.
Pria besar itu sempat mengintip keluar jendela, lalu cepat-cepat kabur lewat pintu belakang. Dia tinggalkan dr. Hanif yang masih kesakitan tergeletak di lantai.
"Kok bisa...?" Rara bingung ketika melihat para polisi masuk ke dalam rumah.
"Sebelum datang, aku sudah mengaktifkan alat rekam dan mengirim lokasi ke kepala rumah sakit," kata Arkan sambil susah payah berdiri. Dia segera melepaskan ikatan Rara. "Aku tidak akan datang tanpa persiapan."
Rara langsung memeluknya erat. Rasa lega bercampur cemas melihat luka di wajah Arkan. "Arkan..."
Namun, Arkan membalas pelukannya sambil memandang dr. Hanif yang kini dibawa polisi. "Semuanya sudah berakhir."
Saat mereka berdiri di tengah keramaian, Arkan masih merasakan tangannya bergetar karena adrenalin. Ia memeluk Rara erat, yang menyembunyikan wajahnya di dadanya. Mereka berdua sadar akan sesuatu yang mendalam: sebuah pengakuan bahwa mereka telah menghadapi cobaan bersama dan keluar lebih kuat. Meskipun sirene polisi masih terdengar dan orang-orang panik berlalu-lalang, bagi mereka dunia terasa hening—hanya ada keduanya dan pelukan yang menguatkan hubungan mereka.
Ketika Arkan akhirnya menarik napas dalam-dalam lalu berbisik lembut, "Mari pulang," ke telinga Rara, ia mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memahami makna sebenarnya dari "pulang"—bukan sekadar tempat, tetapi seseorang yang bersedia mencarinya hingga ke ujung dunia demi memastikan keselamatannya.
Mereka berjalan menuju mobil. Mereka tidak lagi terikat oleh masa lalu, sekarang mereka bebas membuat cerita mereka sendiri. Sekarang saatnya bagi mereka untuk memulai babak baru. Waktu yang tepat untuk melangkah ke depan dan menciptakan kisah unik sesuai pilihan mereka. Sungguh momen yang luar biasa untuk memulai perjalanan baru bersama.
Bersambung...