NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
​Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
​Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Teratai Salju yang Hancur

​Kata-kata Lin Chen yang begitu merendahkan bergema di seluruh alun-alun, membungkam puluhan ribu penonton. Bahkan Tuan Kota Liu Yuan nyaris tersedak ludahnya sendiri.

​Di atas arena, wajah cantik Wang Xue'er yang biasanya sedingin es kini memerah padam karena amarah yang tak tertahankan. Sebagai kebanggaan Kota Daun Musim Gugur, tidak pernah ada satu orang pun yang berani menyamakannya dengan debu!

​"Lin Chen! Karena kau sangat ingin mati, aku akan mengabulkannya!"

​Wang Xue'er menjerit marah. Ia tidak lagi menahan diri. Seluruh Qi dari Ranah Kondensasi Qi Tingkat 6 meledak keluar dari tubuhnya, menciptakan badai salju mini di atas arena. Suhu di sekitarnya anjlok drastis, membuat embun beku merambat dengan cepat menutupi lantai batu granit.

​Ia mengayunkan pedang kristalnya. Energi spiritual elemen es berkumpul di ujung pedang, membentuk lusinan bunga teratai es yang berputar tajam di udara.

​"Teknik Pedang Ilahi: Tarian Es Teratai Salju!"

​Mendengar nama teknik tersebut, langkah Lin Chen yang santai tiba-tiba terhenti. Senyum tipis yang meremehkan di wajahnya menghilang tak berbekas, digantikan oleh aura membunuh yang begitu pekat dan kelam hingga membuat langit sore terasa seperti malam hari.

​Teratai Salju.

​Nama itu adalah tabu terbesar di dalam lautan jiwanya. Itu adalah nama wanita yang telah menusuk jantungnya dari belakang lima ratus tahun yang lalu.

​"Kau..." Suara Lin Chen tiba-tiba terdengar sangat serak, menyerupai geraman naga purba yang terbangun dari tidurnya di dasar neraka. "Kau berani menggunakan nama itu di hadapanku?"

​Wang Xue'er tidak menyadari perubahan mematikan pada diri lawannya. Ia mengira Lin Chen ketakutan melihat teknik tingkat tinggi miliknya. Dengan senyum kejam, ia mengarahkan pedangnya.

​"Mati dan bekulah menjadi patung es, Sampah!"

​Lusinan teratai es itu melesat membelah udara dengan kecepatan luar biasa, meninggalkan jejak kabut beku di belakangnya. Setiap kelopak teratai itu memiliki ketajaman yang mampu memotong baja, mengunci semua jalan keluar Lin Chen.

​Lin Chen mengangkat wajahnya. Mata gelapnya kini memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan.

​"Hanya es rongsokan berani menyebut dirinya Teratai Salju? Akan kutunjukkan padamu apa arti kehancuran yang sesungguhnya!"

​Untuk pertama kalinya di hadapan publik, Lin Chen tidak hanya mengandalkan kekuatan fisiknya. Segel di dalam Dantian-nya terbuka, dan Qi murni dari Sutra Pedang Kehampaan mengalir deras, menyuntikkan energi yang menentang surga langsung ke dalam Pedang Berat Penelan Bintang di tangannya.

​WUNGGG!

​Pedang hitam raksasa itu merespons dengan dengungan yang mengguncang gendang telinga seluruh penonton. Rune emas darah di sepanjang bilah pedang itu menyala terang benderang.

​Lin Chen menggenggam gagang pedang dengan kedua tangannya, mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu menebaskannya ke depan dengan gerakan vertikal yang sangat sederhana namun membawa tekanan seberat gunung runtuh.

​"Satu Tebasan Membelah Kekosongan!"

​BZZZTTT!

​Saat bilah hitam raksasa itu mengayun turun, udara di depannya seolah terbelah menjadi dua. Sebuah gelombang pedang hitam berbentuk bulan sabit raksasa melesat keluar, menelan semua cahaya di sekitarnya.

​Lusinan teratai es mematikan milik Wang Xue'er bertabrakan dengan gelombang pedang hitam tersebut.

​Tidak ada ledakan besar, tidak ada suara benturan keras. Yang terjadi hanyalah pembantaian sepihak. Bunga-bunga teratai es itu hancur menjadi bubuk salju dalam sekejap begitu menyentuh aura Sutra Pedang Kehampaan, seolah salju yang dilemparkan ke dalam lahar mendidih!

​"Apa?!" Mata Wang Xue'er membelalak ngeri.

​Sebelum ia bisa bereaksi, sisa gelombang pedang hitam itu telah menghantam tubuhnya.

​PRANG!

​Pedang kristal es yang ia gunakan untuk menangkis langsung hancur berkeping-keping. Qi pelindung di tubuhnya terkoyak seketika.

​"AARGH!"

​Wang Xue'er menjerit pilu. Tubuhnya yang terbalut gaun putih terpelanting ke belakang bagai daun layu yang tersapu badai. Ia memuntahkan seteguk darah segar yang menodai gaunnya sebelum akhirnya jatuh berguling-guling di lantai arena yang retak. Rambutnya yang diikat rapi kini terurai berantakan, menutupi wajahnya yang pucat pasi.

​Alun-alun kembali jatuh ke dalam keheningan yang mencekik.

​Dewi es kebanggaan kota, jenius tingkat 6 yang selalu memenangkan pertarungan dengan satu serangan... baru saja dikalahkan dengan satu tebasan kasar, senjatanya dihancurkan, dan terkapar tak berdaya di lantai!

​Lin Chen melangkah maju. Sepatu botnya menginjak lantai batu yang membeku dengan ritme yang mematikan. Ia berjalan hingga berdiri tepat di samping tubuh Wang Xue'er yang sedang gemetar menahan sakit.

​Pemuda itu menancapkan ujung Pedang Penelan Bintang ke lantai, tepat satu inci dari leher Wang Xue'er.

​Wang Xue'er mendongak dengan susah payah, menatap wajah Lin Chen yang dingin tanpa ekspresi dari balik rambutnya yang berantakan. Rasa takut, malu, dan keputusasaan bercampur aduk di dalam dadanya.

​"Inikah 'dunia yang berbeda' yang kau bicarakan, Nona Wang?" Lin Chen bertanya dengan nada datar, suaranya mengiris harga diri Wang Xue'er hingga ke akar-akarnya. "Kau mengira dirimu adalah angsa putih dari langit, namun pada akhirnya... kau tidak lebih kuat dari serangga di bawah kakiku."

​Air mata penghinaan mengalir dari sudut mata Wang Xue'er. Harga dirinya telah dihancurkan sehancur-hancurnya di depan puluhan ribu orang.

​Di tribun kehormatan, Patriark Wang Teng bangkit dari kursinya dengan mata merah menyala. Niat membunuh dari Ranah Kondensasi Qi Tingkat 8 miliknya meledak menutupi langit arena.

​"Binatang kecil! Jauhkan senjatamu dari putriku!"

​Wang Teng mengaum bak harimau gila. Ia tidak lagi peduli dengan aturan turnamen atau kehilangan muka. Ia melompat dari tribun tertinggi, melesat ke arah arena seperti kilat, telapak tangannya siap untuk meremukkan kepala Lin Chen menjadi bubur darah.

​Lin Zhentian, Patriark Keluarga Lin, langsung merespons. "Wang Teng, kau berani melanggar aturan di depan Tuan Kota?!" Ia juga melompat, berusaha mencegat Wang Teng di udara.

​Namun, Lin Chen yang berdiri di atas arena sama sekali tidak memandang panik. Ia tidak mencabut pedangnya atau mundur selangkah pun. Matanya hanya menyipit menatap Wang Teng yang melesat ke arahnya.

​Tepat ketika telapak tangan Wang Teng berjarak kurang dari sepuluh meter dari Lin Chen, sebuah suara tua namun mengandung tekanan yang menentang surga menggema dari atas awan, menelan semua keributan di alun-alun.

​"Lancang! Siapa yang berani mengganggu murid yang telah diperhatikan oleh Akademi Bintang Jatuh?!"

​BOOOOM!

​Sebuah tekanan spiritual raksasa yang jauh melampaui Ranah Pembentukan Fondasi jatuh dari langit, menimpa tubuh Wang Teng.

​Wang Teng yang berada di udara tiba-tiba memuntahkan darah. Tubuhnya terhempas ke tanah dengan keras bak nyamuk yang ditepuk, menghancurkan lantai batu di luar arena dan menciptakan kawah sedalam satu meter.

​Seluruh tubuh para Patriark dan Tuan Kota Liu Yuan bergetar hebat. Mereka serentak mendongak ke arah langit timur.

​Di sana, seekor elang raksasa dengan bulu keemasan yang menyilaukan turun menembus awan. Di atas punggung elang spiritual tersebut, berdiri seorang pria paruh baya berjubah perak dengan lambang bintang jatuh di dadanya. Tangannya diletakkan di belakang punggung, dan matanya memancarkan arogansi mutlak yang memandang semua orang di kota ini sebagai semut.

​Tuan Kota Liu Yuan langsung berlutut di tanah, wajahnya dipenuhi ketakutan dan rasa hormat yang mendalam.

​"S-Selamat datang, Utusan dari Akademi Bintang Jatuh!"

1
Eddy S
kecewa cerita tanpa kelanjutan episode nya
Anonim: sabar lah bos ya kali langsung tamat
total 1 replies
Eddy S
pasti cerita ga ada kelanjutan nya 🤣🤣🤣cape deh
Albiner Simaremare
lanjut thor
Zero_two
👍👍👍👍
Zero_two
Dewi teratai udah terpesona sama 'kekuatan' terpendam si naga hitam kayaknya/Doge//Doge//Doge//Blush/
Romansah Langgu
Mantap thor,,, bar bar..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!