NovelToon NovelToon
Nusantara Pysco

Nusantara Pysco

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / Sci-Fi / Time Travel / Tamat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Rei

Reiki Shield Eistein hanyalah anak SMA biasa yang pindah ke desa terpencil bersama pamannya. Hidupnya membosankan—sekolah, teman, rutinitas—sampai badai datang dan listrik di seluruh desa padam dalam sekejap. Bukan karena petir. Tapi karena Reiki. Tanpa sadar, ia menyerap energi listrik seluruh desa, dan matanya bersinar biru untuk pertama kalinya.

Di tengah kekacauan itu, ia bertemu Hime Hafitis—gadis misterius dengan perangkat canggih yang tiba-tiba muncul di desa dan menyewanya sebagai pemandu lokal. Hime membayar mahal, tapi tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia cari. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Dan semakin kuat kekuatan Reiki bangkit, semakin banyak perhatian yang tertarik—termasuk organisasi psikis yang dipimpin oleh Hubble Telesta, seorang pemimpin yang masih dihantui trauma masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Rei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 - Reruntuhan dan Penjaga

# Bab 11 — Reruntuhan dan Penjaga

**POV: Tim (Bergantian)**

---

## BAGIAN 1: HIME

Pesawat kecil itu mendarat di permukaan pulau yang tidak rata. Aku mematikan mesin dan diam sejenak, merasakan udara di sekitarku. Ada sesuatu di sini—sesuatu yang membuat perangkatku bergetar tanpa henti.

"Kita sudah sampai," kataku.

KSAN dan Reiki turun lebih dulu. Aku mengikuti mereka, membawa perangkatku. Udara di sini dingin—lebih dingin dari yang kuduga. Dan ada bau aneh, seperti logam terbakar bercampur garam laut.

Pulau ini kecil. Mungkin hanya selebar satu kilometer. Tapi di tengahnya, ada struktur yang menjulang—perpaduan antara batu hitam dan logam perak, seperti kuil kuno yang dilapisi teknologi modern. Kabut tipis menyelimuti bagian bawahnya, membuatnya terlihat seperti melayang.

"Ini... ini luar biasa," bisik KSAN.

"Aku belum pernah melihat sesuatu seperti ini," kata Reiki. Matanya menatap struktur itu dengan rasa ingin tahu yang intens.

Aku mengeluarkan perangkatku dan mulai memindai. Layarnya langsung dipenuhi data—grafik energi, spektrum frekuensi, pola resonansi. Semuanya melonjak di luar skala normal.

"Ada konsentrasi energi yang sangat besar di dalam sana," kataku. "Lebih besar dari apa pun yang pernah kucatat."

"Apa itu?" tanya Reiki.

"Mungkin sumber dari semua ini. Mungkin juga jawaban yang kucari."

Kami berjalan mendekat. Setiap langkah terasa berat, seperti melawan arus. Kabut mulai menebal di sekitar kami, tapi cahaya biru dari struktur itu menembusnya, memberi kami arah.

Pintu masuknya berbentuk lengkungan, tingginya sekitar lima meter. Permukaannya diukir dengan simbol-simbol yang tidak bisa kubaca—tapi aku mengenalinya. Simbol yang sama dengan yang ada di log mesin waktuku. Simbol yang sama dengan yang digunakan oleh Dewa Psikis.

Aku menahan napas. *Ini tempatnya.*

---

Kami masuk ke dalam struktur itu. Gelap. Hanya cahaya biru dari celah-celah dinding yang menerangi jalan. Aku bisa mendengar suara tetesan air di suatu tempat. Dan di kejauhan, suara seperti dengungan mesin—tapi lebih dalam, lebih berirama. Seperti detak jantung raksasa.

 "Di sini, " kataku, menunjuk ke sebuah lorong.

Kami mengikutinya. Lorong itu berkelok-kelok, turun ke bawah tanah. Udara semakin dingin. Dan cahaya biru semakin terang. Dinding-dindingnya diukir dengan gambar-gambar—pertempuran, sosok-sosok bercahaya, dan di tengahnya, sebuah gerbang besar yang terbuka.

Aku berhenti di depan salah satu ukiran. Itu menggambarkan seorang pria dengan mata bercahaya, berdiri di atas medan perang yang dipenuhi mayat. Di tangannya, ada bola energi hitam. Dan di sekelilingnya, orang-orang berlari ketakutan.

 "Itu dia, " bisikku.  "Dewa Psikis. "

Reiki menatap ukiran itu dengan tatapan kosong.  "Aku... aku tidak ingat. "

 "Kau tidak harus ingat. Tapi ini adalah masa lalumu. "

Ia mengangguk pelan. Tapi aku bisa melihat kegelisahan di matanya.

Kami melanjutkan perjalanan. Lorong itu akhirnya membuka ke sebuah ruangan besar. Di tengahnya, ada kristal raksasa—tingginya sekitar tiga meter—yang berdenyut dengan cahaya biru. Di sekelilingnya, cincin-cincin logam melayang, berputar pelan seperti planet mengelilingi matahari.

 "Ini... ini pusatnya, " bisikku.  "Sumber energi. "

Aku mengeluarkan perangkatku dan mulai memindai. Data mengalir deras—grafik energi, spektrum frekuensi, pola resonansi. Dan semakin banyak data yang kukumpulkan, semakin aku yakin.

Kristal ini adalah kunci. Kunci untuk membuka gerbang.

Tapi juga kunci untuk memahami siapa Reiki sebenarnya.

Aku membuka log mesin waktuku dan membandingkan data dari kristal ini dengan data yang kumiliki. Polanya cocok—sempurna.

*Ini dia. Ini sumber dari semua lompatan waktuku.*

Selama 38 tahun, aku melompat ke masa depan tanpa benar-benar tahu apa yang menarikku. Aku pikir itu adalah kehendakku sendiri. Tapi sekarang aku tahu: ada sesuatu di pulau ini yang memanggilku. Sesuatu yang ingin aku temukan.

Dan sesuatu itu adalah Reiki.

Aku menatapnya. Ia sedang berdiri di depan kristal, matanya memantulkan cahaya biru. Wajahnya tenang—lebih tenang dari yang pernah kulihat.

 "Hime, " katanya tanpa menoleh.  "Ada sesuatu yang harus kau tahu. "

 "Apa? "

 "Aku bisa merasakannya. Kristal ini... ia berbicara padaku. "

 "Berbicara? "

 "Ia mengatakan bahwa aku pernah di sini sebelumnya. Bahwa aku adalah bagian dari ini. "

Aku diam. Kata-kata itu menggema di kepalaku.

*Ia mulai ingat.*

 "Reiki, " kataku pelan.  "Ada sesuatu yang harus kujelaskan padamu. "

Ia menoleh. Matanya—ungu itu—menatapku dengan rasa ingin tahu.

 "Apa? "

Aku membuka mulut. Tapi sebelum aku sempat bicara, suara langkah kaki menggema dari lorong.

Kami bukan satu-satunya yang ada di sini.

---

## BAGIAN 2: REIKI

Dari kegelapan lorong, muncul tiga sosok. Mereka berpakaian jubah hitam, wajahnya tertutup topeng perak. Di dada mereka, ada simbol yang sama dengan yang ada di dinding.

 "Kalian tidak diizinkan berada di sini, " kata salah satu dari mereka. Suaranya dingin, tanpa emosi.

Aku melangkah maju, melindungi Hime dan KSAN.  "Siapa kalian? "

 "Kami adalah Penjaga Gerbang. Penjaga keseimbangan antara dunia. "

 "Kami hanya mencari jawaban, " kata Hime.

 "Jawaban tidak selalu baik untuk diketahui. "

 "Aku tidak peduli. Aku sudah mencari selama 38 tahun. Aku tidak akan berhenti sekarang. "

Sosok itu menatap Hime, lalu menatapku. Matanya—yang samar-samar terlihat di balik topeng—menyipit.

 "Kau, " katanya.  "Kau adalah anak yang disebut-sebut. "

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap mereka dengan tatapan kosong.

 "Ikut kami, " kata sosok itu.  "Atau kami akan memaksamu. "

Aku merasakan energi di sekitarku berubah. Mereka bersiap untuk menyerang. Tapi sesuatu di dalam diriku—sesuatu yang baru bangun—berkata bahwa aku tidak boleh takut.

 "Kalian mau aku? " kataku.  "Ambil aku. Tapi biarkan mereka pergi. "

 "Reiki! " Hime meraih lenganku.  "Kau tidak bisa— "

 "Ini satu-satunya cara. "

Aku menatap Hime. Matanya berkaca-kaca. Tapi ia mengerti.

 "Baik, " kata sosok itu.  "Kau ikut kami. Mereka boleh pergi. "

Aku menatap Hime dan KSAN untuk terakhir kalinya.  "Pergilah. "

 "Tapi— "

 "Pergilah! "

Hime menggigit bibirnya. Lalu ia menarik lengan KSAN.  "Ayo. "

Dan mereka pergi, meninggalkanku di ruangan kristal itu, bersama tiga sosok berjubah hitam.

---

## BAGIAN 3: HIME

Penerbangan pulang terasa berat. Tidak ada yang bicara. Aku duduk di kursi depan, memegang kemudi, tapi pikiranku ada di ruangan kristal itu—bersama Reiki.

*Ia mengorbankan dirinya untuk kami.*

Aku mengepalkan kemudi. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Aku harus melakukan sesuatu.

 "Kita tidak bisa meninggalkannya di sana, " kata KSAN dari kursi belakang, seolah membaca pikiranku.

 "Aku tahu. Tapi kita butuh rencana. "

 "Rencana apa? Kita bahkan tidak tahu siapa mereka. "

 "Tapi aku tahu di mana mereka membawanya. "

 "Di mana? "

 "Ke markas Penjaga Gerbang. Dan aku tahu cara masuknya. "

KSAN diam. Lalu ia berkata,  "Kau punya rencana? "

 "Belum. Tapi aku akan menyusunnya. "

Aku menatap ke luar jendela. Laut di bawah kami gelap, tak berujung. Tapi di suatu tempat di balik cakrawala, ada Reiki—yang mungkin sedang dipenjara, diinterogasi, atau lebih buruk.

*Aku tidak akan kehilanganmu lagi.*

Pintu masuknya berbentuk lengkungan, tingginya sekitar lima meter. Permukaannya diukir dengan simbol-simbol yang tidak bisa kubaca—tapi aku mengenalinya. Simbol yang sama dengan yang ada di log mesin waktuku. Simbol yang sama dengan yang digunakan oleh Dewa Psikis.

Aku menahan napas. *Ini tempatnya.*

---

## BAGIAN 2: REIKI

Kami masuk ke dalam struktur itu. Gelap. Hanya cahaya biru dari celah-celah dinding yang menerangi jalan. Aku bisa mendengar suara tetesan air di suatu tempat. Dan di kejauhan, suara seperti dengungan mesin—tapi lebih dalam, lebih berirama. Seperti detak jantung raksasa.

"Di sini," kata Hime, menunjuk ke sebuah lorong.

Kami mengikutinya. Lorong itu berkelok-kelok, turun ke bawah tanah. Udara semakin dingin. Dan cahaya biru semakin terang. Dinding-dindingnya diukir dengan gambar-gambar—pertempuran, sosok-sosok bercahaya, dan di tengahnya, sebuah gerbang besar yang terbuka.

Aku berhenti. Sesuatu tentang gambar itu terasa familiar. Seperti aku pernah melihatnya sebelumnya.

"Kau baik-baik saja?" tanya KSAN.

"Aku... aku tidak tahu." Aku menyentuh dinding batu itu. Dan untuk sesaat, aku merasakan sesuatu—seperti sambaran listrik kecil yang menjalar dari ujung jariku ke dadaku.

*Kau pernah di sini sebelumnya.*

Suara itu. Bukan suara yang bisa kudengar, tapi suara yang bisa kurasakan. Dari dalam diriku.

*Kau ingat.*

Aku menarik tanganku dengan cepat. "Ada sesuatu di sini. Sesuatu yang mengenaliku."

Hime menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kubaca. "Apa yang kau rasakan?"

"Seperti... ada yang memanggilku."

Ia tidak menjawab. Tapi aku bisa melihat kekhawatiran di matanya.

Kami melanjutkan perjalanan. Lorong itu akhirnya membuka ke sebuah ruangan besar. Di tengahnya, ada kristal raksasa—tingginya sekitar tiga meter—yang berdenyut dengan cahaya biru. Di sekelilingnya, cincin-cincin logam melayang, berputar pelan seperti planet mengelilingi matahari.

"Ini... ini pusatnya," bisik Hime. "Sumber energi."

Aku berjalan mendekati kristal itu. Cahayanya hangat, seperti api yang tidak membakar. Aku bisa merasakan energinya—kuat, stabil, seperti lautan yang tenang di permukaan tapi bergelora di dalam.

Tanganku terulur, hampir menyentuh permukaannya.

"Jangan!" Hime meraih tanganku. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi."

Tapi aku menatapnya. "Aku mengenali ini. Aku sudah pernah melihatnya sebelumnya."

"Kapan?"

"Aku tidak tahu. Tapi aku yakin."

---

## BAGIAN 3: KSAN

Saat itulah kami mendengar langkah kaki.

Dari kegelapan lorong di seberang ruangan, muncul tiga sosok. Mereka berpakaian jubah hitam, wajahnya tertutup topeng perak. Di dada mereka, ada simbol yang sama dengan yang ada di medali warisan ayahku.

"Kalian tidak diizinkan berada di sini," kata salah satu dari mereka. Suaranya dingin, tanpa emosi—seperti robot yang berbicara.

Aku mundur selangkah, tanganku meraih medali di sakuku. "Siapa kalian?"

"Kami adalah Penjaga Gerbang. Penjaga keseimbangan antara dunia."

Hime melangkah maju, melindungi aku dan Reiki. "Kami hanya mencari jawaban."

"Jawaban tidak selalu baik untuk diketahui."

"Aku tidak peduli. Aku sudah mencari selama 38 tahun. Aku tidak akan berhenti sekarang."

Sosok itu menatap Hime, lalu menatap Reiki. Matanya—yang samar-samar terlihat di balik topeng—menyipit.

"Kau," katanya. "Kau adalah anak yang disebut-sebut."

Reiki tidak menjawab. Ia hanya menatap mereka dengan tatapan kosong.

"Ikut kami," kata sosok itu. "Atau kami akan memaksamu."

Aku merasakan dadaku berdebar. Ini tidak baik. Kami bertiga melawan tiga psikis misterius. Kemungkinan menang? Tipis.

Tapi sebelum aku sempat berpikir, Reiki melangkah maju.

"Kalian mau aku?" katanya. "Ambil aku. Tapi biarkan mereka pergi."

"Reiki!" Hime meraih lengannya. "Kau tidak bisa—"

"Ini satu-satunya cara."

Aku menatap Reiki. Anak yang selama ini kukira hanya anak SMA biasa ini, kini berdiri tegap, siap mengorbankan dirinya untuk kami.

*Dia bukan anak biasa. Dia tidak pernah biasa.*

"Baik," kata sosok itu. "Kau ikut kami. Mereka boleh pergi."

Reiki menatapku dan Hime. "Pergilah."

"Tapi—"

"Pergilah!"

Hime menggigit bibirnya. Lalu ia menarik lenganku. "Ayo."

"Tapi Hime—"

"Dia sudah memutuskan. Kita tidak bisa berbuat apa-apa di sini."

Aku menatap Reiki untuk terakhir kalinya. Ia tersenyum tipis.

"Sampai jumpa," katanya.

Dan kami pergi, meninggalkannya di ruangan kristal itu, bersama tiga sosok berjubah hitam.

---

## BAGIAN 4: HIME

Penerbangan pulang terasa berat. Tidak ada yang bicara. Aku duduk di kursi depan, memegang kemudi, tapi pikiranku ada di ruangan kristal itu—bersama Reiki.

*Ia mengorbankan dirinya untuk kami.*

Aku mengepalkan kemudi. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Aku harus melakukan sesuatu.

"Kita tidak bisa meninggalkannya di sana," kata KSAN dari kursi belakang, seolah membaca pikiranku.

"Aku tahu. Tapi kita butuh rencana."

"Rencana apa? Kita bahkan tidak tahu siapa mereka."

"Tapi aku tahu di mana mereka membawanya."

"Di mana?"

"Ke markas Penjaga Gerbang. Dan aku tahu cara masuknya."

KSAN diam. Lalu ia berkata, "Kau punya rencana?"

"Belum. Tapi aku akan menyusunnya."

Aku menatap ke luar jendela. Laut di bawah kami gelap, tak berujung. Tapi di suatu tempat di balik cakrawala, ada Reiki—yang mungkin sedang dipenjara, diinterogasi, atau lebih buruk.

*Aku tidak akan kehilanganmu lagi.*

---

## BAGIAN 5: REIKI

Mereka membawaku melalui lorong-lorong yang lebih dalam. Tidak ada yang bicara. Aku hanya mengikuti, merasakan energi mereka di sekitarku—kuat, stabil, tapi tidak mengancam.

Anehnya, aku tidak takut.

Kami sampai di sebuah ruangan kecil. Di tengahnya, ada kursi batu yang diukir dengan simbol-simbol yang sama. Salah satu dari mereka menunjuk ke kursi itu.

"Duduk."

Aku duduk. Kursi itu dingin, tapi tidak tidak nyaman.

 "Kau tahu siapa dirimu? " tanya pemimpin mereka.

 "Reiki Shield Eistein. Anak SMA. "

 "Bukan itu. Kau tahu siapa dirimu sebenarnya? "

Aku diam. Pertanyaan itu mengingatkanku pada kata-kata Hime di pesawat. *Kau adalah reinkarnasi Dewa Psikis.*

 "Mungkin, " jawabku.  "Tapi aku tidak yakin. "

 "Kau ragu? "

 "Karena aku tidak ingat apa-apa. Jika aku benar-benar dewa, seharusnya aku ingat, kan? "

Pemimpin itu diam. Lalu ia berkata,  "Ingatan bukanlah satu-satunya cara untuk mengetahui siapa dirimu. Terkadang, tindakanmu yang berbicara. "

 "Apa maksudmu? "

 "Kau mengorbankan dirimu untuk teman-temanmu. Itu bukan tindakan seorang dewa yang sombong. Itu tindakan seorang manusia. "

Aku menatapnya.  "Apa kau mencoba menghiburku? "

Ia tidak menjawab. Tapi untuk sesaat, aku merasa bahwa di balik topeng itu, ada senyuman.

 "Kau akan tinggal di sini untuk sementara, " katanya.  "Sampai kami memutuskan apa yang harus dilakukan denganmu. "

 "Dan teman-temanku? "

 "Mereka aman. Kami tidak akan menyakiti mereka. "

Aku menghela napas lega.  "Baik. Aku akan menunggu. "

Pemimpin itu mengangguk. Lalu ia dan dua sosok lainnya menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkanku sendirian di ruangan batu itu.

Aku duduk di kursi itu, menatap dinding batu yang diukir dengan simbol-simbol aneh. Pikiranku melayang pada Hime, pada KSAN, pada Dila yang baru bergabung.

*Mereka pasti akan menjemputku.*

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa aku tidak sendirian.

"Kau ragu?"

"Karena aku tidak ingat apa-apa. Jika aku benar-benar dewa, seharusnya aku ingat, kan?"

Pemimpin itu diam. Lalu ia berkata, "Ingatan bukanlah satu-satunya cara untuk mengetahui siapa dirimu. Terkadang, tindakanmu yang berbicara."

"Apa maksudmu?"

"Kau mengorbankan dirimu untuk teman-temanmu. Itu bukan tindakan seorang dewa yang sombong. Itu tindakan seorang manusia."

Aku menatapnya. "Apa kau mencoba menghiburku?"

Ia tidak menjawab. Tapi untuk sesaat, aku merasa bahwa di balik topeng itu, ada senyuman.

---

**— Bersambung —**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!